Setelah 8 tahun mendekam dalam penjara, selama
8 tahun juga tidak pernah ada yang datang menjenguknya. Arlan, pria penuh kuasa yang haus akan balas dendam, tiba-tiba datang menjemputnya.
Bukan untuk menyelamatkan, melainkan untuk menjadikan Adira tawanan dalam ikatan suci pernikahan.
Arlan bersumpah akan menghancurkan hidup Adira hingga ayahnya muncul untuk menyerahkan diri. Dalam istana kemegahan yang dingin, Adira menyadari bahwa "Mahar Kebebasan" yang diberikan Arlan hanyalah awal dari hukuman mati yang berjalan perlahan.
Apakah cinta bisa tumbuh di atas tanah yang disirami kebencian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebebasan yang menyesakkan
"Hei! Apa-apaan ka—" bentak Teo, namun suaranya langsung terhenti saat melihat sosok laki-laki yang baru saja menghantam wajahnya.
Pria itu berdiri tegak, memancarkan aura dingin yang mengintimidasi. Begitu menyadari siapa yang menyerangnya, Teo segera merapikan jas putih yang melekat di tubuhnya. Teo memang bekerja di rumah sakit itu sebagai dokter spesialis.
"Maaf, Tuan Zo, kalau boleh saya tahu... kenapa Anda tiba-tiba memukul saya? Padahal saya tidak melakukan kesalahan apa pun, bukan?" tanya Teo lagi, suaranya bergetar menahan amarah.
"Sebagai orang yang terhormat, Anda tidak pantas melakukan hal semacam itu," tambah Teo dengan raut wajah kaku. Meski sangat marah, ia tidak berani berbuat lebih jauh karena tahu betapa berkuasanya sosok yang berdiri di hadapannya itu.
Pria itu sama sekali tidak menanggapi. Ia tetap membisu, tak mengeluarkan sepatah kata pun, lalu berbalik seolah hendak pergi begitu saja.
Sementara itu, Adira masih berdiri tercengang menatap sosok tampan tersebut. Dalam hatinya ia berbisik penuh keraguan. Kenapa? Mengapa aku merasa sangat familiar dengan pria ini? Matanya, bentuk tubuhnya... semua yang ada padanya terasa begitu dekat. Aku merasa mengenalnya...
Adira terus menatap punggung pria itu yang perlahan menjauh. Namun, tiba-tiba langkah pria itu terhenti.
"Apalagi yang kau tunggu?" Suara dingin itu keluar dari bibir si pria tanpa menoleh ke belakang.
Adira tersentak bingung. Apa maksudnya? Siapa yang dimaksud oleh pria itu? Apakah ucapan itu ditujukan untuk dirinya? Karena tidak mengerti, akhirnya Adira menoleh dan bertanya pada Teo, "Siapa dia?"
Teo menatap Adira penuh selidik. "Seharusnya aku yang bertanya, apa hubunganmu dengannya? Apa kau keluar penjara gara-gara dia?"
Adira balas bertanya dengan bingung, "Maksudnya apa? Aku tidak mengerti. Aku bahkan tidak mengenali pria itu." Gadis itu mengerutkan alisnya.
"Dia itu sepupu Tuan Arlan. Dialah yang mengurus semua perusahaan semenjak Tuan Arlan cacat dan tidak pernah menampakkan diri," jelas Teo.
"Sepupu?" Adira tertegun.
"Iya, dia adalah sepupu Tuan Arlan yang paling berkuasa. Dialah yang mengendalikan seluruh kekuasaan Tuan Arlan semenjak Tuan Arlan jatuh sakit. Bahkan, dia bisa mengendalikan rumah sakit ini meskipun dia bukan pemilik, tapi sahamnya dirumah sakit ini jauh lebih besar daripada pemilik."
Benarkah? Adira terdiam sejenak. Ternyata aku yang dia maksud? batinnya menyadari bahwa pria itu sedang menunggunya.
"Aku tidak akan menjelaskan apa pun sekarang, tapi nanti... jika kita bisa bertemu lagi, aku akan menjelaskannya," ujar Adira datar. Ia memberikan senyum yang sangat tipis, lalu berbalik pergi mengikuti punggung laki-laki yang baru saja disebut sebagai Tuan Zo itu.
Adira memperhatikan punggung tegap Zo dari kejauhan. Sambil melangkah pelan, ia berbisik dalam hati, Pantas saja aku merasa seperti mengenalinya. Ternyata dia adalah sepupu Tuan Arlan. Pantas saja bentuk tubuh mereka sangat mirip.
Sepanjang perjalanan pulang, Adira hanya diam membisu. Zo sendiri yang mengemudikan mobil tersebut, matanya lurus menatap jalanan di depan. Suasana di dalam mobil terasa sangat menyesakkan, seolah membeku karena keheningan yang tebal. Adira merasa seperti sedang duduk di dalam sebuah kulkas besar karena aura dingin yang memancar kuat dari pria di sampingnya itu.
Dalam hati ia berbisik, Sepertinya bertambah satu lagi orang yang sangat membenciku. Karena ternyata dia adalah sepupu Tuan Arlan, yang artinya dia juga sepupu dari almarhumah Anisa.
Sesampainya di mansion megah milik Arlan, pria bernama Zo itu hanya diam mematung di dalam mobil, seolah menunggu Adira segera turun.
Adira perlahan membuka pintu dan melangkah keluar. "Terima kasih," ucap Adira pelan.
Namun, pria itu tetap tidak bergeming. Tanpa membalas sepatah kata pun atau sekadar menoleh, ia langsung menginjak pedal gas dalam-dalam dan melesat pergi meninggalkan area mansion.
"Lebih dingin daripada Tuan Arlan," gumam Adira.
Saat melangkah masuk, Adira heran melihat para pelayan berjejer rapi. Beberapa di antaranya bahkan terlihat kalang kabut dan sangat gelisah.
"Maaf, ada apa ini?" tanya Adira penasaran.
Salah seorang pelayan menjawab dengan suara gemetar, "Hari ini Tuan Zo datang, Nyonya. Kami semua tidak ada yang berani macam-macam jika beliau ada di sini. Tuan Zo itu sepupu Tuan Arlan, tapi dia jauh lebih kejam. Kami tidak berani membuat kesalahan sedikit pun."
Pelayan itu menatap Adira dengan cemas. "Tapi, apakah Nyonya pulang sendirian?"
"Tidak. Tuan Zo yang mengantar saya pulang tadi, tapi dia langsung pergi lagi," jawab Adira tenang.
Mendengar hal itu, sang pelayan mengembuskan napas lega. "Syukurlah kalau beliau tidak mampir ke rumah ini. Kami semua merasa bagaikan berada di lembah yang mengerikan jika ada beliau. Tuan Zo sangat kejam dan tidak akan sungkan menyakiti siapa saja yang menjadi incarannya."
Adira terdiam membisu. Ia tidak menyangka bahwa laki-laki bernama Zo yang tampak tampan bak Dewa Yunani itu ternyata memiliki sisi begitu bengis, bahkan melampaui kekejaman Arlan.
Sesampainya di lantai atas, Adira langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk. Ia menatap kosong ke arah langit-langit kamar yang luas. Berada di penjara memang melelahkan secara fisik, namun jauh lebih melelahkan secara batin saat berada di kediaman Arlan. Tekanan di rumah mewah ini terasa lebih menyesakkan daripada jeruji besi yang pernah mengurungnya.
"Ibu, andai saja Ibu tidak pergi lebih dulu saat usiaku masih sebelas tahun, pasti Ibu masih menemaniku di sini. Pasti aku tidak akan mengalami semua ini. Ibu... ini sangat melelahkan," bisik Adira pedih.
Ia menyandarkan kepala pada bantal, air mata mulai menggenang. Adira benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang membuat ayahnya berubah drastis. Dulu, ayahnya adalah sosok yang sangat menyayanginya, bahkan rela tidak menikah lagi demi menjaga perasaan Adira.
Ayahnya juga sudah menganggap Anisa seperti anak kandung sendiri. Terbukti, apa pun yang Sutra belikan untuk Adira, Sutra juga membelikannya untuk Anisa. Anisa diperlakukan adil layaknya anak kandung, meskipun Sutra tahu Anisa tidak kekurangan apa pun.
Kenangan pahit di mana Adira melihat sendiri ayahnya membunuh Anisa benar-benar di luar nalar. Kejadian itu sangat jauh dari gambaran ayah yang selama ini ia kenal.
"Ibu... Adira sangat lelah," ucapnya di sela isak tangis yang mulai pecah.
Adira tersedu-sedu membayangkan nasibnya. Ia tidak tahu di mana ujung penderitaan yang harus ia jalani. Gadis itu sadar betul bahwa apa yang dialaminya saat ini hanyalah permulaan dari sebuah badai penderitaan yang entah kapan akan berakhir.
***
Malam harinya di kediaman Arlan, terlihat seorang pelayan berjalan cepat menuju kamar Adira. Wanita paruh baya itu tampak sangat terburu-buru.
"Nyonya! Nyonya Adira!" panggil Bibi dengan raut wajah yang tampak gelisah.
ahhh ga berani dia Cemen 🤣🤣
ko aku jadi negatif thinking sana ayah nya dira jangan" ayah lucknat dia" kalau pengorbanan mu Dira kalau ayahmu ayah' durhakim
i hope sih beda orang buka satu orang