Selama lebih dari tiga dekade, persahabatan antara Keluarga Lenoir dan Hadinata telah menjadi tonggak dalam kehidupan kedua keluarga. Dari berbagi suka duka hingga merencanakan masa depan bersama, ikatan mereka semakin mengakar dalam setiap aspek kehidupan. Untuk memperkokoh hubungan yang sudah terjalin erat itu, kedua kepala keluarga memutuskan untuk mengikatkan anak-anak mereka melalui perjodohan—suatu langkah yang dianggap akan menyatukan kedua keluarga menjadi satu kesatuan yang lebih kuat.
Aslan Noah Lenoir 28 tahun Pewaris Lenoir Group Dari Paris dan Alana Hadinata 20 tahun berdarah Campuran dari sang ibu ( Helena dubois ) terpaksa harus menjalani rencana perjodohan yang tidak mereka inginkan, gaya hidup mereka yang berbeda sering kali membuat Alana merasa terjebak dalam permainan Aslan yang vulgar dan penuh tantangan.
____
Bisakah dua hati yang terpaksa bertemu menemukan kedekatan yang tulus?
Ataukah perjodohan ini hanya akan menjadi beban dan merusak persahabatan keluarga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna ceriya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6. PANGGILAN DARI EROPA
Suasana hangat di teras rumah Yogyakarta itu masih terasa menyenangkan, Namun takdir sering kali berputar di saat yang tidak terduga. Beberapa hari setelah keputusan Alana untuk pergi ke Bali, pagi itu ia sedang duduk di meja belajarnya, merapikan buku-buku kedokteran dan bersiap untuk mengemasi barang-barangnya. Pikirannya masih melayang-layang membayangkan pemandangan Ubud dan pertemuan dengan Aslan, meskipun rasa gugup masih sering menyelinap di hatinya.
Tiba-tiba, telepon genggamnya yang terletak di samping buku tebal kedokteran berdering dengan nada yang khas untuk panggilan internasional. Layar ponselnya menunjukkan nama kontak yang membuat jantung Alana berdegup kencang seketika: Rumah Sakit Lausanne, Swiss.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Alana segera mengangkat panggilan itu. “Halo, selamat pagi. Ini Alana Hadinata berbicara,” ucapnya dengan suara yang berusaha ia tenangkan.
Dari ujung saluran, terdengar suara seorang wanita dengan logat Eropa yang jelas dan tegas. “Selamat pagi, Nona Hadinata. Saya Dr. Elara Dubois dari bagian administrasi magang di Rumah Sakit Universitas Lausanne. Saya menelepon untuk memberitahu bahwa ada perubahan mendadak pada jadwal program magang Anda. Karena salah satu dokter senior kami yang akan membimbing Anda mengalami kecelakaan kecil dan harus segera menjalani operasi, kami membutuhkan Anda untuk hadir lebih awal dari rencana yang telah disepakati. Kami berharap Anda bisa berada di sini paling lambat tiga hari dari sekarang untuk memulai orientasi dan mengambil alih beberapa tanggung jawab yang mendesak.”
Alana terdiam sejenak, kakinya terasa lemas seketika mendengar berita itu. “Tiga hari dari sekarang? Dokter, apakah tidak ada cara untuk menundanya sedikit saja? Saya memiliki rencana penting keluarga yang sudah disusun jauh hari dan sulit untuk dibatalkan,” tanyanya dengan nada memohon.
“Saya sangat mengerti, Nona Hadinata,” jawab Dr. Dubois dengan nada yang sedikit bersimpati namun tetap tegas. “Namun dalam dunia medis, situasi darurat sering kali tidak bisa ditunda. Kesempatan ini sangat berharga dan langka, dan jika Anda tidak bisa hadir sesuai waktu baru ini, kami khawatir kami harus memberikan kesempatan ini kepada kandidat lain yang sudah menunggu di daftar tunggu. Keputusan ada di tangan Anda.”
Panggilan itu diakhiri, dan Alana menurunkan ponselnya perlahan. Ia duduk terpaku di kursinya, matanya menatap kosong ke arah jendela. Di satu sisi, kesempatan magang di Lausanne adalah impiannya sejak lama—bukti dari kerja kerasnya selama bertahun-tahun di bangku kuliah dan praktik. Namun di sisi lain, ia telah berjanji pada orang tuanya dan pada dirinya sendiri untuk pergi ke Bali dan mengenal Aslan. Sekarang, ia harus memilih antara cita-citanya dan rencana keluarga yang sudah disiapkan dengan begitu indah.
Tanpa membuang waktu, Alana segera berlari menuju ruang kerja ayahnya di lantai bawah. Samuel sedang memeriksa beberapa dokumen bisnis ketika melihat putrinya masuk dengan wajah pucat dan mata yang penuh kebingungan.
“Ayah...” panggil Alana dengan suara lembut namun bergetar. “Ada sesuatu yang terjadi. Sesuatu yang sangat penting dan mendesak.”
Samuel segera menyisihkan dokumennya dan menunjuk kursi di hadapannya. “Duduklah, nak. Ceritakan apa yang terjadi. Kenapa wajahmu begitu pucat?”
Alana menceritakan semua isi percakapan teleponnya tadi kepada ayahnya, mulai dari permintaan rumah sakit untuk datang lebih awal hingga ancaman kehilangan kesempatan magang itu jika ia menolak. Air matanya mulai menetes saat ia selesai berbicara. “Aku tidak tahu harus melakukan apa, Ayah. Aku sudah berjanji untuk pergi ke Bali, tapi ini adalah impianku sejak lama. Aku tidak bisa membiarkannya hilang begitu saja.”
Samuel terdiam sejenak, merenungi situasi yang sulit ini. Wajahnya tampak serius, namun kemudian ia menghela nafas panjang dan menatap putrinya dengan penuh pengertian. “Aku mengerti, Alana. Dan sebagai ayahmu, aku tidak akan pernah memintamu untuk mengorbankan impian dan masa depanmu demi rencana liburan ini. Meskipun ini sangat disayangkan karena Marcell dan keluarganya sudah bersiap untuk terbang ke Indonesia, tapi aku yakin mereka juga akan mengerti jika kita jelaskan situasinya. Karirmu dan pendidikanmu adalah prioritas yang paling utama.”
Samuel kemudian meraih tangan putrinya. “Kamu harus pergi ke Eropa, Alana. Kamu harus mengejar kesempatan itu. Liburan di Bali bisa kita jadwalkan ulang di lain waktu, tapi kesempatan magang seperti ini mungkin tidak akan datang dua kali. Aku akan berbicara dengan Marcell sekarang juga dan menjelaskan semuanya.”
...****************...
Di sebuah apartemen mewah di distrik Le Marais, Paris, Aslan Lenoir sedang duduk di sofa sambil memutar-mutar ponselnya dengan wajah yang sedikit cemas. Ia sedang memikirkan perjalanannya ke Bali yang tinggal beberapa hari lagi. Jujur saja, meskipun ia sudah setuju untuk mengenal Alana, perasaan canggung dan takut terjebak masih sering menghantuinya. Ia lebih suka menghabiskan waktunya untuk menggambar desain gedung-gedung impiannya atau sekadar berjalan-jalan di kota Paris yang ia cintai daripada harus berlibur dengan orang asing di pulau jauh.
Tiba-tiba, ponselnya berdering. Nama ayahnya, Marcell, muncul di layar. Aslan mengangkatnya dengan malas. “Halo, Pa. Apa ada kabar baru tentang persiapan ke Bali?”
Di ujung saluran, suara Marcell terdengar sedikit kecewa namun juga lega. “Aslan, dengar. Sepertinya rencana liburan kita di Bali harus dibatalkan untuk saat ini. Samuel baru saja meneleponku. Putrinya, Alana, mendapat panggilan mendesak dari rumah sakit di Swiss tempatnya akan magang. Dia harus pergi ke sana dalam tiga hari untuk menangani situasi darurat medis. Jadi, dia tidak bisa datang ke Bali.”
Mendengar kata-kata itu, seolah-olah beban berat terangkat dari bahu Aslan. Wajahnya yang tadinya cemas langsung berubah menjadi lebih cerah, meskipun ia berusaha menyembunyikan rasa senangnya itu agar tidak terdengar tidak sopan. “Oh, begitu ya? Itu... itu sangat disayangkan sekali, Pa. Aku sudah sangat berharap bisa bertemu dengannya dan menikmati Bali. Tapi aku mengerti, kan? Urusan medis itu penting dan tidak bisa ditunda. Semoga dia selamat sampai di sana dan sukses dengan magangnya.”
“Ya, benar sekali,” jawab Marcell. “Kita akan merencanakan pertemuan lain nanti ketika kalian berdua sudah memiliki waktu yang lebih luang dan situasi sudah lebih kondusif. Untuk sekarang, kamu bisa melanjutkan rutinitasmu di Paris seperti biasa.”
“Baiklah, Pa. Terima kasih sudah memberitahuku,” ucap Aslan sebelum menutup panggilan itu.
Begitu panggilan terputus, Aslan melempar ponselnya ke bantal sofa dan tersenyum lebar. Ia melompat berdiri dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke kota Paris yang indah. Angin sejuk dari luar masuk menerpa wajahnya. “Bali bisa menunggu,” gumamnya pelan dengan nada lega. “Dan Alana... mungkin kita memang belum siap untuk bertemu. Setidaknya sekarang aku punya lebih banyak waktu untuk diriku sendiri dan duniaku.”senyum simpul tampak jelas di sudut bibirnya.
...----------------...
Sementara itu, di Yogyakarta, Alana sedang sibuk mengemasi koper-kopernya dengan bantuan ibunya. Meskipun ia merasa bersalah karena membatalkan rencana liburan itu, namun di dalam hatinya ia juga merasa siap untuk menghadapi tantangan baru di Eropa. Ia tahu bahwa perjalanannya ini akan mengubah hidupnya, entah itu dalam karirnya sebagai dokter atau dalam kisah cintanya yang masih belum tertulis jelas.