Setelah 8 tahun mendekam dalam penjara, selama
8 tahun juga tidak pernah ada yang datang menjenguknya. Arlan, pria penuh kuasa yang haus akan balas dendam, tiba-tiba datang menjemputnya.
Bukan untuk menyelamatkan, melainkan untuk menjadikan Adira tawanan dalam ikatan suci pernikahan.
Arlan bersumpah akan menghancurkan hidup Adira hingga ayahnya muncul untuk menyerahkan diri. Dalam istana kemegahan yang dingin, Adira menyadari bahwa "Mahar Kebebasan" yang diberikan Arlan hanyalah awal dari hukuman mati yang berjalan perlahan.
Apakah cinta bisa tumbuh di atas tanah yang disirami kebencian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nekat
Adira tidak bisa melanjutkan perkataannya tadi karena otaknya masih berusaha mencerna apa yang ia lihat. Jam tangan Arlan itu... sangat mirip dengan jam tangan Zo malam itu.
Wanita itu menatap dalam ke arah Arlan yang masih tampak sibuk dengan tumpukan pekerjaannya, seolah kehadirannya di sana tidak lebih dari sekadar pajangan.
Tatapan Adira kemudian melirik ke arah bahu Arlan. Ia berusaha memastikan, apakah pria itu memiliki luka di bahunya? Luka tembakan yang ia balut semalam?
Namun, bagaimana cara membuktikannya? Sementara Adira tahu betul, ia tidak mungkin berani berbuat lancang dengan tiba-tiba membuka baju pria sedingin dan sekasar Arlan.
Glek.
Ia menelan salivanya dengan susah payah.
Apa? Dia adalah orang yang sama? batin Adira terus bekerja keras, berusaha menerka-nerka.
Drr... drr... drr...
Tiba-tiba ponsel Arlan yang tergeletak di atas meja berdering. Di layarnya tertulis dengan jelas nama pemanggil: Kenzo.
Adira yang berdiri sedikit dekat refleks melihat nama itu. Ia terperanjat, lalu buru-buru menjaga jarak dan menunduk.
Sepertinya aku yang terlalu banyak pikiran. Itu jelas-jelas Tuan Zo yang menelepon, batin Adira dalam hati, mencoba menepis kecurigaannya sendiri.
"Halo," sahut Arlan setelah menggeser tombol jawab.
"Kak, aku harus kembali ke luar negeri sekarang. Ada masalah perusahaan di sana," suara Kenzo terdengar dari seberang telepon. "Apa ada yang Kak Arlan butuhkan sebelum aku berangkat?"
"Tidak perlu. Kau kembali saja ke sana," jawab Arlan singkat.
Tanpa menunggu balasan lagi, Arlan langsung mematikan ponselnya. Keheningan kembali menyelimuti ruang kerja itu.
Arlan melirik sekilas ke arah Adira yang masih menunduk kaku di hadapannya.
"Apa yang ingin kau bicarakan? Bicaralah, aku masih banyak pekerjaan," ucap pria itu dengan nada datar tidak sabar.
Adira meremas ujung bajunya, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya. Ia mendongak sedikit.
"Sebenarnya... saya ingin bertanya kepada Tuan tentang..." Ia menggantung ucapannya karena ragu pria itu akan marah lagi seperti biasa. Apalagi yang ingin dia bahas adalah tentang Teo dan juga Cindy.
"Tentang apa?" desak Arlan, suaranya sedikit meninggi karena Adira tak kunjung melanjutkan bicaranya.
"Tentang Dokter Teo dan Dokter Cindy," ujarnya cepat sembari menggenggam erat ujung bajunya, menunggu respons dari pria itu.
Seketika, tangan Arlan yang tadinya sibuk langsung terhenti. Ia mengangkat pandangannya, menatap tajam ke arah Adira. Tatapan itu membuat Adira semakin tegang dan merasa terintimidasi.
"Ada apa dengan kedua dokter itu?" tanya Arlan dingin, berpura-pura tidak tahu apa yang ingin dibicarakan oleh wanita di hadapannya.
Adira memberanikan diri mengangkat pandangannya, menatap langsung ke mata pria itu.
"Saya rasa Anda tidak perlu berpura-pura tidak tahu. Mengingat prosedur kehamilan yang saya jalani itu gagal, Anda pasti sudah tahu, kan? Dan mengingat keputusan Anda memecat Dokter Teo dengan cara tidak hormat... apakah Dokter Cindy juga akan mendapat perlakuan yang sama akibat kegagalan ini?" tanya Adira dengan suara bergetar namun penuh penekanan.
Akhirnya, wanita itu benar-benar meluapkan apa yang mengganjal di hatinya.
"Dokter Cindy tidak dipecat dari rumah sakit. Dia hanya diskors karena tidak becus bekerja sampai membuatmu gagal hamil!" ujar Arlan tanpa merasa bersalah.
"Dan tentang Dokter Teo... kenapa kau begitu peduli? Kau sebegitu sukanya pada pria itu sampai-sampai berani menemuiku hanya untuk membelanya?" tanya Arlan sembari menggenggam erat pinggiran meja kerjanya dengan mata menatap tajam.
Adira gemetar menahan amarah karena Arlan menuduhnya tanpa dasar. Pikirannya sudah bulat. Sudah terlanjur basah, ya sudah, mandi sekalian! pikirnya nekat. Jika dia harus menghadapi kemarahan Arlan malam ini, maka dia akan menghadapinya sampai akhir.
"Saya tidak suka padanya! Tapi cara Anda memperlakukan orang lain itu yang salah! Anda itu egois tanpa memikirkan orang lain! Jangan mentang-mentang Anda banyak uang, Anda memperlakukan orang lain seperti bin*tang!" balas Adira. Terlihat jelas ia juga marah pada pria egois di hadapannya.
Meski dadanya berdegup kencang karena khawatir sewaktu-waktu pria itu akan menyakitinya, ia tetap berdiri tegak demi keadilan kedua dokter itu.
"Dan tentang kegagalan prosedur kehamilan itu, itu bukan sepenuhnya kesalahan Dokter Cindy! Namanya juga usaha, di dalamnya ada kemungkinan berhasil atau tidak. Dia itu manusia, bukan Tuhan yang bisa menentukan segalanya!" seru Adira dengan suara yang semakin bergetar namun penuh penekanan.
Ia menatap Arlan dengan mata yang mulai berkaca-kaca, namun ada kilatan perlawanan di sana.
"Anda tidak bisa menghukum orang lain hanya karena ekspektasi Anda tidak terpenuhi secepat yang Anda mau!" lanjutnya lagi.
Arlan terdiam, namun rahangnya mengeras mendengar ceramah dari wanita yang seharusnya tunduk padanya itu.
"Kau bicara seolah-olah kau yang paling mengerti tentang takdir," desis Arlan dingin. "Tapi bagiku, dalam kamusku tidak ada kata 'mencoba'. Yang ada hanyalah 'berhasil'. Dan siapa pun yang menghalangi keberhasilan itu, harus menanggung akibatnya," ucap Arlan semakin menatap dalam ke arah Adira, seolah siap untuk membunuhnya.
"Anda menyuruh orang lain untuk mencoba, sementara Anda sendiri tidak bisa melakukannya? Kenapa bukan Anda sendiri yang melakukannya?! Kenapa bukan Anda yang menyentuhku?!" teriak Adira yang sudah benar-benar muak dan tidak bisa lagi membendung rasa benci dan sesak di dadanya.
Suara Adira menggema di ruang kerja yang tadinya sunyi itu. Napasnya memburu, matanya menatap tajam ke arah Arlan dengan emosi yang meluap-luap.
"Apakah Anda takut kalau saya seorang wanita yang sudah ternoda? Atau saya seorang wanita yang menjijikkan? Atau mungkin saya penyakitan atau bagaimana pikiran Anda?!" cecar Adira lagi, suaranya melengking menembus keheningan ruang kerja itu.
"Anda tidak perlu khawatir! Saya masih suci, saya masih murni, bahkan tidak pernah ada seorangpun laki-laki yang menyentuh saya!" Adira menekan setiap kata, seolah ingin menancapkannya ke dalam hati Arlan.
"Saya masih suci... atau mungkin Anda yang bermasalah!" lanjutnya dengan nada menghina yang sangat kental.
Adira menumpahkan segala unek-unek yang selama ini menyumbat dadanya. Rasa terhina karena disuruh menjalani prosedur medis, sementara suaminya sendiri seolah enggan menyentuhnya.
Napas Adira memburu, matanya yang basah menantang tatapan Arlan yang kini berubah menjadi sangat gelap dan pekat. Pria itu masih terdiam, namun aura di sekitarnya terasa begitu mencekam.
Adira justru melangkah maju, menantang Arlan.
"Kalau Anda mau anak, kenapa bukan Anda langsung yang mencobanya? Kenapa harus menggunakan prosedur kehamilan konyol yang melibatkan orang lain, dan bahkan merugikan orang lain atas kegagalannya?!" teriaknya lagi, menumpahkan segala kehinaan yang ia rasakan selama ini karena diperlakukan seperti objek eksperimen.
Seketika keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan itu. Rahang Arlan mengeras, urat-urat di lehernya menonjol, dan tatapannya berubah menjadi sangat gelap. Udara di sekitar mereka terasa semakin berat, seolah oksigen tiba-tiba menghilang.
Adira semakin berani. Ia melangkah maju hingga jarak di antara mereka benar-benar hilang. Dengan gerakan nekat yang tak terduga, ia membuka bajunya sendiri, dan dengan kasar menarik salah satu tangan Arlan kemudian langsung meletakkannya tepat di atas salah satu dadanya yang hanya tinggal d*laman.
"Ayo! Bukankah Anda ingin punya anak?" tantang Adira dengan suara serak, matanya menatap tajam langsung ke manik mata Arlan.
Telapak tangan Arlan yang besar kini menempel di sana, merasakan detak jantung Adira yang liar dan napas wanita itu yang memburu di depan wajahnya. Suasana di ruang kerja itu seketika berubah menjadi sangat panas dan menyesakkan.
"Kenapa diam saja? Jika Anda laki-laki normal, lakukan sendiri! Jangan gunakan orang lain sebagai tameng atas ketidakmampuan Anda!"
ahhh ga berani dia Cemen 🤣🤣
ko aku jadi negatif thinking sana ayah nya dira jangan" ayah lucknat dia" kalau pengorbanan mu Dira kalau ayahmu ayah' durhakim
i hope sih beda orang buka satu orang