Arkan Xavier adalah definisi dari kekejaman. Sebagai pemimpin sindikat mafia paling ditakuti, dunianya hanya dipenuhi dengan pengkhianatan dan genangan darah. Namun, satu malam yang fatal mengubah segalanya. Dalam kondisi sekarat akibat penyergapan, Arkan diselamatkan oleh Aisyah, seorang wanita bercadar yang hatinya sedalam samudera dan imannya sekokoh karang.
Bagi Arkan, Aisyah adalah anomali—cahaya yang seharusnya tidak pernah bersentuhan dengan kegelapannya. Terobsesi dengan ketenangan yang dimiliki Aisyah, Arkan mulai masuk ke kehidupan wanita itu, menyeretnya ke dalam pusaran bahaya yang belum pernah Aisyah bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Pisau Bedah dan Penghakiman
Lantai keramik laboratorium anatomi yang dingin dan beraroma formalin tajam menjadi saksi bisu kembalinya Arkan Xavier ke dunia medis.
Mengenakan jas lab putih yang kontras dengan kulitnya yang kecokelatan, Arkan berdiri di depan meja bedah logam. Di atasnya, sebuah cadaver—jenazah yang diawetkan untuk penelitian—terbujur kaku.
Arkan menarik napas panjang. Baginya, melihat tubuh tak bernyawa bukanlah hal baru. Namun, kali ini tujuannya berbeda. Ia tidak sedang mencari titik mematikan untuk mengakhiri hidup seseorang; ia sedang mempelajari sirkulasi vaskular untuk memahami cara mempertahankannya.
Suasana di laboratorium mendadak tegang ketika sekelompok mahasiswa tingkat akhir masuk. Di antara mereka ada Bimo, putra seorang komisaris polisi yang tewas dalam baku tembak di pelabuhan tiga tahun lalu—peristiwa yang melibatkan klan Xavier.
Bimo berjalan mendekati meja Arkan, matanya merah karena kebencian yang dipendam bertahun-tahun. "Lihat siapa yang ada di sini," suaranya menggema, memecah konsentrasi mahasiswa lain. "Sang jagal sedang mencoba belajar anatomi. Apa kau sedang mencari letak jantung agar nanti bisa menikam orang dengan lebih presisi, Arkan?"
Arkan tidak menoleh. Jemarinya yang stabil memegang pinset, memisahkan lapisan fasia dengan sangat hati-hati. "Aku di sini untuk belajar, Bimo. Sama seperti yang lain."
"Belajar?!" Bimo tertawa sinis, langkahnya semakin dekat hingga ia berdiri tepat di depan Arkan, hanya terhalang meja bedah. "Kau adalah alasan ayahku tidak pernah pulang ke rumah.
Kau adalah alasan ibuku harus membesarkan kami sendirian. Dan sekarang kau berdiri di sini, memakai jas putih yang suci ini seolah-olah tanganmu tidak berlumuran darah?"
Arkan menghentikan gerakannya. Ia mendongak, menatap mata Bimo yang penuh luka. "Aku menyesal atas apa yang terjadi pada ayahmu, Bimo. Sungguh. Tapi memprovokasiku di sini tidak akan menghidupkannya kembali."
"Jangan berani-berani menyebut namanya dengan mulut kotor itu!" Bimo meledak. Ia meraih pisau bedah cadangan di meja dan membantingnya ke arah tangan Arkan.
Refleks Arkan bekerja secara otomatis. Dalam hitungan milidetik, ia menangkap pergelangan tangan Bimo, memutarnya dengan teknik kuncian yang ia pelajari di sel isolasi, dan menekan titik saraf di siku Bimo hingga pisau itu terjatuh ke lantai dengan bunyi denting yang nyaring.
Seluruh ruangan terpaku. Profesor Darmono, yang sedang mengawasi dari sudut ruangan, melangkah maju dengan wajah kaku.
"Arkan! Lepaskan dia!" bentak Darmono.
Arkan segera melepaskan kunciannya. Ia bernapas memburu, insting "serigala"-nya baru saja bangkit dan hampir saja ia mematahkan lengan Bimo di depan semua orang. "Dia yang menyerang duluan, Prof," ucap Arkan, suaranya rendah namun bergetar oleh amarah yang tertahan.
"Aku tidak peduli siapa yang memulai!" Darmono menunjuk ke arah pintu. "Keluar dari lab saya sekarang. Kita akan bicarakan ini di ruang Dekanat."
Arkan menatap Bimo yang sedang meringis memegang lengannya, lalu menatap teman-teman mahasiswa lainnya yang menatapnya dengan pandangan jijik dan takut.
Tanpa sepatah kata pun, Arkan melepas jas labnya, melipatnya dengan rapi, dan melangkah keluar.
Di saat yang sama, di Panti Asuhan Kasih Bunda, Aisyah sedang melakukan pemeriksaan rutin pada anak-anak panti. Tiba-tiba, sebuah mobil van butut berhenti di depan klinik kecil mereka.
Dua pria bertubuh kekar turun sambil menggotong seorang pria lain yang berlumuran darah di bagian perut.
"Tolong! Dokter, tolong teman kami!" teriak salah satu dari mereka.
Aisyah segera mengarahkan mereka ke ruang tindakan. "Letakkan dia di sini! Apa yang terjadi?"
"Luka tembak, Dok. Tolong, jangan panggil polisi. Kami... kami tidak punya banyak waktu," ucap pria itu dengan napas tersengal.
Aisyah ragu sejenak. Namun, sumpah kedokterannya mengalahkan kecurigaannya. Ia segera menyiapkan peralatan bedah darurat.
Saat ia menggunting kemeja hitam pria yang terluka itu untuk membersihkan lukanya, jantung Aisyah seakan berhenti berdetak.
Di punggung pria itu, tepat di bawah tulang belikat, terdapat tato kecil namun sangat detail: sebuah bayangan hitam yang memegang sabit perak dengan tulisan latin 'UMBRA' di bawahnya.
The Ghost.
Ini adalah unit rahasia yang diceritakan Arkan semalam. Aisyah mencoba tetap tenang, meskipun tangannya sedikit bergetar saat ia menyuntikkan anestesi lokal. "Luka ini dalam.
Pelurunya masih di dalam," ujar Aisyah datar.
"Lakukan saja tugasmu, Dokter," bisik pria bertato itu, matanya yang tajam menatap Aisyah seolah-olah ia tahu persis siapa wanita di depannya. "Jika kau menyelamatkanku, mungkin Arkan tidak perlu membayar hutang ayahnya malam ini."
Aisyah tertegun. "Siapa kalian sebenarnya?"
Pria itu hanya tersenyum tipis sebelum akhirnya pingsan karena kehilangan terlalu banyak darah.
Aisyah bekerja dengan sangat cepat, mengeluarkan peluru kaliber 9mm dari perut pria itu dan menjahit pembuluh darahnya yang robek. Sepanjang prosedur, kedua teman pria itu berjaga di depan pintu dengan tangan yang selalu siaga di balik jaket mereka.
Arkan tiba di panti dengan perasaan hancur setelah sidang disiplin di Dekanat. Ia melihat mobil van asing dan langsung merasakan aura bahaya. Ia berlari menuju klinik dan menemukan Leo sedang berdiri di koridor dengan wajah tegang.
"Arkan, jangan masuk. Aisyah sedang mengoperasi salah satu dari mereka," bisik Leo sambil menahan bahu Arkan.
"The Ghost?" tanya Arkan, suaranya penuh tekanan.
Leo mengangguk. "Mereka terluka dalam sebuah penyergapan di pelabuhan. Sepertinya ada perpecahan di internal klan Xavier setelah ayahmu dan pamanmu pergi. Mereka datang ke sini karena mereka tahu Aisyah adalah dokter terbaik yang tidak akan melaporkan mereka ke polisi... untuk saat ini."
Arkan menerobos masuk ke ruang tindakan tepat saat Aisyah sedang mencuci tangannya yang berlumuran darah. Mata mereka bertemu. Aisyah tampak pucat, namun tatapannya tetap kuat.
"Dia selamat," ucap Aisyah pelan.
Arkan mendekati pria yang pingsan itu, melihat tato di punggungnya, lalu beralih ke dua pria penjaga di pintu. "Keluar dari sini sekarang. Bawa temanmu. Kalian sudah mendapatkan apa yang kalian mau."
"Belum, Arkan," salah satu penjaga itu maju, membuka jaketnya untuk memperlihatkan sepucuk senjata yang terselip di pinggang. "Kami punya pesan dari 'The Ghost'. Ada pengkhianatan di tubuh kepolisian yang ingin menghabisi sisa-sisa Xavier, termasuk kau dan istrimu. Kejadian di kampus tadi? Itu bukan kebetulan. Bimo diprovokasi oleh seseorang untuk menyerangmu agar kau dikeluarkan dari kampus dan kehilangan perlindungan hukummu sebagai mahasiswa."
Arkan terbelalak. "Siapa yang melakukannya?"
"Seseorang yang lebih tinggi dari Hakim Agung Baskara. Seseorang yang ingin menguasai basis data 'The Ghost' yang kau miliki," jawab pria itu.
"Kami melindungimu malam ini dengan datang ke sini, karena bagi kami, kau masih 'Pangeran' kami. Tapi besok, semua tergantung padamu."
Para pria itu menggotong teman mereka yang terluka, masuk ke dalam van, dan menghilang dalam kegelapan malam Jakarta.
Arkan dan Aisyah duduk di beranda belakang rumah mereka, dikelilingi oleh keharuman mawar yang kontras dengan sisa bau darah dan formalin yang masih menempel di ingatan mereka.
"Mereka tidak akan pernah membiarkan kita tenang, kan?" tanya Aisyah, menyandarkan kepalanya di bahu Arkan.
Arkan menggenggam tangan Aisyah, merasakan kunci brankas kuno yang ia kantongi di saku celananya. "Mereka pikir mereka bisa menyeret kita kembali ke kegelapan dengan menggunakan masa lalu kita. Tapi mereka lupa, Aisyah... serigala yang paling berbahaya adalah ia yang sedang berjuang melindungi rumahnya."
"Apa yang akan kau lakukan tentang Bimo?
Dekan pasti akan memberimu sanksi berat," ucap Aisyah cemas.
"Aku akan menghadapi Bimo, tapi bukan dengan kekerasan. Aku akan memberinya apa yang ia inginkan: kebenaran tentang siapa sebenarnya yang menembak ayahnya di pelabuhan malam itu. Karena aku tahu, bukan aku pelakunya," Arkan menatap langit malam yang mendung. "Malam ini kita tidak hanya menyelamatkan nyawa seorang pembunuh, Aisyah. Kita baru saja membuka kotak Pandora yang akan mengubah segalanya."
Di kejauhan, petir menyambar, menandakan badai besar akan segera datang. Dan di sebuah kantor mewah di jantung kota, seorang pria dengan seragam bintang dua menutup berkas bertuliskan 'PROYEK UMBRA: ELIMINASI ARKAN XAVIER'.