Rain dan Ayyara adalah definisi manusia modern yang mandiri. Di usia kepala tiga, keduanya telah mencapai titik nyaman: karier yang stabil, gaya hidup childfree, dan prinsip teguh anti-pernikahan. Bagi mereka, cinta hanyalah distraksi yang mengancam kebebasan yang telah mereka bangun dengan susah payah.
Namun, semesta memiliki rencana lain.
Dalam perjalanan bisnis menggunakan kereta cepat, sebuah cahaya putih seterang kilat menghantam dan melemparkan kesadaran mereka ke masa tujuh belas tahun yang lalu.
Di tengah pencarian cara untuk kembali ke masa depan, sebuah pertanyaan mulai menghantui: Jika mereka berhasil memperbaiki masa lalu, apakah "kebebasan" di masa depan masih menjadi hal yang mereka inginkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaRo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan 25 hari
Satu bulan itu terasa seperti operasi intelijen tingkat tinggi bagi keluarga kami. Sesuai kesepakatan rahasia, Bapak dan Ibu dilarang keras menginjakkan kaki di lahan baru selama proses pembangunan berlangsung. Aku dan Bian ingin ini menjadi sebuah kejutan besar—sebuah "pendaratan" yang sempurna di hari mereka pindah nanti.
"Pak, Bu, percayakan saja sama temen Bian. Kalau Bapak ke sana sekarang, nanti malah tukangnya sungkan atau Bapak malah kepikiran lihat material berantakan. Fokus ke ladang saja dulu," itu adalah kalimat sakti yang diucapkan Bian setiap pagi.
Benar saja, Bapak dan Ibu justru semakin giat ke ladang sayur mereka. Seolah-olah rasa cemas dan penasaran mereka dialihkan menjadi energi untuk mencangkul dan merawat tanaman. Ladang itu menjadi pelarian yang sempurna. Mereka tetap menjalani rutinitas lama, membiarkan keluarga besar mengira hidup mereka masih datar-datar saja, terjebak dalam kesederhanaan yang sering dicibir.
Namun, setiap malam setelah membersihkan diri dari tanah ladang, ritual wajib dimulai.
Bapak akan duduk di kursi kayu ruang tengah, mengenakan kaos dalam putih favoritnya, sementara Ibu merapat dengan wajah penuh harap. Bian akan membuka ponselnya, menampilkan kiriman video terbaru dari tim kontraktor temannya.
"Nah, lihat Pak... ini hari ketujuh. Dindingnya bukan pakai bata merah biasa, ini panel prefabrikasi. Makanya cepat sekali berdirinya," jelas Bian sambil menunjukkan video timelapse pemasangan dinding.
Mata Bapak membelalak. "Lho, kok kayak mainan bongkar pasang, Bi? Apa kuat itu kena angin kencang?"
"Kuat, Pak! Ini teknologinya sudah dihitung ahli. Malah lebih tahan gempa," sahut Bian meyakinkan.
Ibu, di sisi lain, lebih fokus pada detail kecil. "Itu... yang di pojok itu dapur ya, Bi? Kok jendelanya besar sekali? Nanti kalau Ibu masak sambal, asapnya langsung keluar ya?" tanyanya dengan binar mata yang tak bisa disembunyikan.
"Iya, Bu. Sesuai sketsa Mbak Ara. Sirkulasi udaranya nomor satu," jawab Bian bangga.
Minggu kedua, video menunjukkan atap yang sudah terpasang. Minggu ketiga, lantai granit berwarna krem yang elegan mulai menutupi permukaan semen. Bapak sering kali terdiam setelah melihat video-video itu. Ia akan menghela napas panjang, bukan karena sesak, tapi karena rasa haru yang mulai membuncah.
Selama puluhan tahun memanen sayur, baru kali ini ia melihat hasil keringatnya mewujud secepat kilat dalam bentuk dinding pelindung bagi keluarganya.
Ibu terkadang sampai meneteskan air mata. "Ibu masih nggak percaya, Ra," ucapnya lewat panggilan video suatu malam. "Rasanya kayak mimpi. Kita tetap ke ladang tiap hari, pulang-pulang cuma lihat video, tapi di sana rumah kita beneran tumbuh."
Di sela kesibukan mereka di ladang, sesekali ada saudara atau tetangga yang bertanya sinis, "Kok Bian sering pergi bawa map? Mau daftar kerja di mana lagi dia?" atau "Itu tanah di ujung sana katanya ada proyek, kalian nggak tahu itu punya siapa?"
Bapak hanya akan tersenyum tipis, sangat tenang. "Wah, kurang tahu saya. Mungkin punya orang kota yang mau investasi. Kami mah fokus ke sawi sama cabai saja dulu, mumpung harga lagi bagus."
Jawaban itu adalah tameng terbaik. Tak ada yang curiga bahwa di balik ketenangan pasutri petani itu, sebuah revolusi hidup sedang terjadi.
Memasuki minggu keempat, video yang dikirim Bian sudah menampilkan proses pengecatan dan pemasangan lampu-lampu downlight yang hangat. Rumah itu sudah bernapas. Ia berdiri tegak, cantik, dan yang paling penting: sepenuhnya milik mereka.
"Satu minggu lagi, Pak. Satu minggu lagi kita bawa baju-baju Bapak sama Ibu ke sana," bisik Bian di akhir video malam itu.
Bapak hanya mengangguk mantap, tangannya yang kasar bekas bekerja di ladang menggenggam erat tangan Ibu. Mereka siap untuk meninggalkan masa lalu dan memulai hidup di istana kecil yang tumbuh dari kebisuan dan doa-doa panjang.
Hari ke-25. Angka yang awalnya terdengar mustahil, kini berdiri tegak di depan mata.
Pagi itu, suasana di lahan baru masih menyisakan aroma cat yang segar dan wangi kayu dari kusen jendela yang baru terpasang. Di layar ponsel Bian, notifikasi terus meledak tanpa henti. Video timelapse bertajuk "Membangun Istana untuk Petani: Rumah Minimalis 25 Hari Jadi" yang diunggah temannya semalam, telah menembus angka 450.000 penonton hanya dalam waktu enam jam.
Kolom komentarnya banjir kekaguman. Ada yang memuji desain efisien Ayyara, ada yang bertanya soal biaya, namun mayoritas terharu melihat potongan klip Bapak dan Ibu yang tetap setia mencangkul di ladang sementara rumah mereka "tumbuh" dengan sendirinya di latar belakang.
"Mbak, ini gila!" Bian meneleponku dengan suara yang gemetar karena antusias.
"Temanku sampai ditelepon tiga perusahaan material buat kontrak iklan gara-gara video ini viral. Dan tebak apa? Dia baru saja kirim truk paket ke lokasi. Hadiah buat Bapak dan Ibu karena sudah jadi inspirasi banyak orang!"
Aku tertegun di meja kantorku. "Hadiah apa, Bi?"
"Dua set spring bed kualitas premium, Mbak! Lengkap dengan bantal gulingnya. Katanya, supaya punggung Bapak sama Ibu nggak pegal lagi setelah seharian di ladang. Langsung dipasang di kamar utama dan kamar belakang hari ini juga!"
Sore harinya, operasi "Pindahan Kilat" dimulai. Sesuai rencana, Bapak dan Ibu diminta datang ke lahan dengan alasan ada "urusan administratif" yang harus ditandatangani di lokasi proyek kantor Bian. Mereka datang masih dengan baju kerja ladang yang sederhana, sepatu bot yang sedikit berlumpur mereka lepas di pinggir jalan aspal.
Saat mereka melangkah masuk melewati pagar tanaman yang baru ditanam, langkah Bapak terhenti. Ibu menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Rumah itu sudah bersih. Cat putih tulang dipadu dengan aksen abu-abu gelap memberikan kesan modern namun tetap hangat. Lampu-lampu teras yang mungil sudah menyala, membiaskan cahaya keemasan di sore yang mulai redup.
"Ini... ini sudah jadi, Bi?" suara Bapak serak, nyaris tak terdengar.
"Sudah, Pak. Ayo masuk, lihat hadiah dari teman Bian di dalam," Bian menuntun mereka masuk.
Saat pintu utama dibuka, aroma pengharum ruangan yang lembut menyambut.
Mereka melangkah di atas lantai granit yang begitu mengilat hingga Ibu ragu untuk memijaknya. Namun, saat mereka sampai di kamar utama dan melihat sebuah spring bed besar nan empuk dengan sprei berwarna biru laut yang rapi, pertahanan Ibu runtuh.
"Ini buat Ibu, Bi? Empuk sekali..." Ibu menyentuh permukaan kasur itu dengan ujung jarinya, lalu ia terduduk dan mulai menangis sesenggukan. "Ya Allah, Bapak... kita punya rumah sebagus ini."
Bapak hanya bisa terdiam di ambang pintu kamar, matanya berkaca-kaca menatap setiap sudut ruangan. Tidak ada lagi atap bocor, tidak ada lagi dinding kayu yang lapuk, dan yang paling penting: tidak ada lagi rasa was-was akan sindiran keluarga besar.
Di sela haru itu, Bian menunjukkan layar ponselnya kepada mereka. "Lihat ini, Pak, Bu. Ratusan ribu orang mendoakan Bapak dan Ibu di internet. Mereka bilang Bapak dan Ibu pantas mendapatkan ini semua."
Bapak mengusap matanya dengan punggung tangan yang kasar. "Bapak tidak butuh ditonton orang banyak, Bi. Bapak cuma bersyukur... akhirnya anak-anak Bapak bisa pulang ke rumah yang layak."
Aku, yang menyaksikan momen itu melalui video call, hanya bisa tersenyum lebar dengan air mata yang ikut mengalir. Rencana "membuat keluarga sibuk" ini ternyata berakhir menjadi kado terindah yang pernah kubayangkan.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun, Bapak dan Ibu tidur di atas kasur yang empuk, di bawah atap milik sendiri, di dalam sebuah rahasia yang kini telah menjadi kenyataan yang paling indah.
Kabar kepindahan Bapak dan Ibu yang mendadak meledak seperti bom di tengah ketenangan keluarga besar. Rahasia yang selama ini dijaga rapat-rapat oleh Bian akhirnya tersingkap saat sebuah truk pindahan kecil berhenti di depan rumah lama, mengangkut sisa barang-barang pribadi yang paling berharga.
Reaksi yang muncul pun beragam, membelah keluarga besar menjadi beberapa kubu yang kontras.
Tante Ratna, adik bungsu Ibu yang selama ini paling tulus, datang berlari sambil menyeka air mata saat melihat bangunan rumah baru itu berdiri megah.
"Ya Allah, Mbak... Bapak..." suaranya bergetar saat memeluk Ibu di teras yang bersih. "Aku ikut senang. Akhirnya doa-doa kalian di ladang dijawab kontan. Rumahnya cantik sekali, modern kayak di TV!"
Beberapa sepupu sebaya juga mengirimkan pesan penuh kekaguman. Mereka bangga melihat saudara nya sanggup mengangkat derajat orang tua mereka tanpa harus memohon bantuan siapa pun.
Namun, di sudut lain, suasana terasa jauh lebih dingin. Tante Lastri, yang dulu paling sering menyindir soal "keluarga pengejar dunia fana", berdiri di depan pagar dengan tangan bersedekap. Matanya menyisir setiap inci bangunan dari bawah ke atas dengan tatapan menyelidik.
"Wah, hebat ya. Katanya miskin, katanya cuma petani sayur, kok tiba-tiba bisa bangun rumah secepat kilat?" celetuknya saat Ibu menyapa dengan ramah. "Pakai uang siapa ini? Jangan-jangan pinjam bank besar ya? Hati-hati lho, nanti kalau nggak sanggup bayar, malah disita.
Hidup itu jangan terlalu maksa mau kelihatan gaya."
Ibu hanya tersenyum tenang, teringat pesan Bian. "Alhamdulillah, Las. Ini rezeki anak-anak dan hasil tabungan sayur bertahun-tahun. Doakan saja barokah."
Keadaan semakin panas ketika video teman Bian yang viral itu sampai ke telinga keluarga besar. Di grup WhatsApp keluarga, bukannya ucapan selamat yang memenuhi layar, melainkan spekulasi-spekulasi liar.
"Oalah, pantesan bisa cepat, ternyata dijual ke konten ya? Jadi tontonan orang seluruh negeri. Kok tega ya Bian sama Ara, orang tua sendiri dijadiin bahan video demi dapat hadiah spring bed."
"Halah, paling itu cuma promo kontraktornya aja. Rumahnya kelihatannya aja bagus, paling dalamnya kopong. Mana ada bangun rumah cuma 25 hari kalau nggak pakai bahan murahan?"
Puncaknya terjadi saat acara syukuran kecil-kecilan. Beberapa kerabat datang dengan wajah masam, sibuk mengetuk-ngetuk dinding untuk memastikan apakah itu benar-benar semen atau hanya papan.
Mereka mencari celah untuk mencela, mulai dari luas tanah yang dianggap "kurang lebar" hingga lokasi yang dianggap "terlalu masuk".
Namun, Bapak kini berbeda. Ia tidak lagi menunduk saat disindir.
Sambil menuangkan teh untuk para tamu, Bapak berujar dengan nada rendah namun mantap, "Rumah ini mungkin nggak luas buat kalian, tapi buat saya dan istri, ini istana paling aman. Kami nggak perlu takut lagi kehujanan, dan yang paling penting, kami nggak perlu lagi nunggu izin siapa pun untuk sekadar ganti warna cat dinding."
Melihat ketegasan Bapak, suara-suara sumbang itu perlahan mengecil.
Aku, yang memantau semuanya dari kejauhan, merasa puas. Biarlah mereka iri, biarlah mereka julid. Justru rasa iri mereka adalah bukti bahwa kami telah berhasil melangkah jauh meninggalkan zona nyaman yang selama ini mereka gunakan untuk menindas kami.
Di bawah atap baru itu, untuk pertama kalinya, Bapak dan Ibu bisa tertidur pulas tanpa perlu memikirkan apa yang akan dikatakan orang besok pagi.
Di kamar kosku yang kini terasa lebih hangat, aku terduduk di tepi ranjang sembari memandangi layar ponsel yang masih menampilkan foto-foto rumah baru Bapak dan Ibu. Sebuah senyum lebar yang tak sanggup kubendung merekah di wajahku. Dadaku membuncah oleh rasa haru yang mendesak-desak, membuat mataku berkaca-kaca—kali ini bukan karena sedih, melainkan karena kemenangan yang mutlak.
Aku menyandarkan kepala ke dinding, menghela napas panjang yang terasa begitu ringan. "Berhasil," bisikku pelan pada kesunyian kamar.
Pikiranku melayang kembali ke masa depan yang pernah kujalani, ke tahun 2029 di mana aku melihat punggung Bapak yang semakin membungkuk dan mata Ibu yang seringkali meredup karena lelah menghadapi intrik keluarga besar di rumah warisan itu.
Di garis waktu yang lama, mereka harus menunggu belasan tahun hanya untuk membetulkan atap yang bocor, selalu mendahulukan kebutuhan anak-anaknya hingga melupakan impian mereka sendiri.
Namun sekarang, berkat "intervensi" dari perjalanan waktu ini, aku telah memangkas penderitaan mereka selama sepuluh tahun lebih awal.
Aku tertawa kecil saat mengingat wajah Tante Lastri yang masam di video kiriman Bian. Rasa puas yang nakal sedikit menyelinap di hati. Biarlah mereka menggunjing, biarlah mereka menghitung-hitung biaya pembangunan kami. Bagiku, setiap sen cicilan yang kini berjalan adalah harga yang sangat murah untuk membayar ketenangan masa tua orang tuaku.
"Terima kasih, sistem Chronos," gumamku sinis namun bersyukur. Meskipun mesin itu mengirimku ke pendaratan yang salah dan membuat kepalaku hampir pecah karena sinkronisasi jiwa, setidaknya ia memberiku kesempatan untuk menjadi "malaikat pelindung" bagi keluargaku sendiri.
Aku meraih buku diari panduanku, lalu mengambil sebuah pena. Di halaman yang berisi sketsa rumah itu, aku membubuhkan tanda centang besar dengan tinta merah.
Proyek Istana Bapak & Ibu: SELESAI.
Kini, setiap kali aku merasa lelah dengan tumpukan pekerjaan di Natural & Balance atau pusing memikirkan anomali waktu bersama Rain, aku hanya perlu mengingat satu hal: di sebuah sudut desa yang tenang, ada sebuah rumah dengan lantai granit krem dan dapur tanpa asap yang menjadi bukti bahwa kehadiranku di tahun 2019 ini bukanlah sebuah kesalahan.
Aku telah mengubah takdir mereka. Dan jika aku bisa mengubah hidup orang tuaku menjadi sedahsyat ini, aku semakin yakin bahwa aku juga bisa mengubah masa depanku sendiri—menjadi wanita yang tidak hanya bertahan hidup, tapi benar-benar berkuasa atas jalannya waktu.
Malam itu, aku tertidur dengan sangat lelap. Tanpa mimpi buruk, tanpa trauma dengingan frekuensi tinggi yang suka usil dipikiranku.
Hanya ada kedamaian seorang anak yang tahu bahwa orang tuanya kini sudah tidur di atas kasur yang empuk, di bawah atap yang tak akan lagi membiarkan air hujan menyentuh lantai mereka.