NovelToon NovelToon
Savage Royalty

Savage Royalty

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Bad Boy / Diam-Diam Cinta
Popularitas:216
Nilai: 5
Nama Author: SeraphinSky

SMA Pertiwi dan STM Rajawali bagaikan langit dan bumi yang dipaksa berdampingan. Hanya terpisah oleh satu tembok tinggi, Pertiwi adalah istana bagi putri-putri konglomerat yang dipimpin oleh Roseanna Vallerian, sang Ratu Es yang perfeksionis. Sementara di sebelahnya, Rajawali adalah medan perang bagi Fattah Maverick, legenda jalanan yang memimpin pasukannya dengan kepalan tangan dan loyalitas tanpa batas.

​Selama tiga tahun, "Perjanjian Batas" menjaga gencatan senjata di antara mereka: Jangan sentuh wilayah kami, dan kami tidak akan menyentuh kalian.
​Namun, kedamaian itu hancur dalam semalam. Serangkaian teror misterius menghantam kedua sekolah. Mobil-mobil mewah siswi Pertiwi dirusak dengan lambang Rajawali, dan markas Rajawali dibakar oleh sosok berseragam Pertiwi. Fitnah menyebar lebih cepat dari api. Tawuran pecah di perbatasan, dan kedua sekolah terancam ditutup permanen oleh Dinas Pendidikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SeraphinSky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: UPACARA CHIPMUNK DAN DANGDUT KOPLO

Senin Pagi, Pukul 06.55 WIB

Lapangan Utama SMA Pertiwi

​Matahari pagi bersinar terik, tapi tidak ada satu pun siswi SMA Pertiwi yang berani mengeluh. Di bawah tatapan Roseanna Vallerian, keringat pun takut untuk menetes.

​Barisan upacara tersusun dengan presisi militer. Seragam putih abu-abu licin, topi dan dasi lengkap, sepatu hitam mengkilap. Tidak ada yang mengobrol. Tidak ada yang main HP. Keheningan yang "mahal" menyelimuti lapangan hijau itu.

​Roseanna berdiri di barisan paling depan, di samping tiang bendera. Sebagai Ketua OSIS, hari ini dia bertugas membacakan Ikrar Pelajar.

​"Naura, sound system aman?" bisik Roseanna tanpa menoleh, bibirnya nyaris tak bergerak.

​Naura Louviera yang berdiri di belakang mixer audio di pinggir lapangan mengacungkan jempol. "Aman, Rose. Mic baru, kabel baru, speaker JBL original. Suara lo bakal kedengeran jernih sampe ke neraka sebelah."

​"Bagus," Roseanna tersenyum tipis. "Gue mau mereka denger betapa berkelasnya sekolah kita."

​Di barisan kelas 11 IPS, Lia berdiri dengan wajah bosan. Dia menyelipkan Airpods di balik rambut panjangnya yang digerai (pelanggaran aturan, tapi dia Lia). Lagu Doja Cat mengalun pelan di telinganya.

​"Lia, copot Airpods lo," tegur Raisa yang berdiri tegap di sebelahnya. "Rose bisa liat."

​"Biarin. Upacara itu membosankan. Cuma berdiri dijemur kayak ikan asin," gumam Lia, tapi akhirnya dia mematikan lagunya (walau Airpods-nya tetap nempel).

​Di barisan lain, Aqeela sibuk mengipasi dirinya dengan kipas tangan elektrik berlapis emas. "Duh, panas banget... kulit aku bisa tan kalau lama-lama."

​Sementara itu, di Balik Tembok (Wilayah Rajawali)

Pukul 07.00 WIB

​Berbeda dengan ketertiban di sebelah, suasana di markas Vanguards (pojok tembok perbatasan) sangat sibuk dan... konyol.

​Fattah Maverick jongkok di atas tumpukan ban bekas, memegang teropong mainan (yang dia rampas dari adiknya).

​"Target terkunci," lapor Fattah. "Tuan Putri udah di posisi. Mukanya songong banget, minta dikerjain."

​Di bawahnya, Oliver Sagara duduk bersila menghadap laptop butut yang penuh kabel semrawut. Kabel itu tersambung ke sebuah antena rakitan yang diarahkan lurus ke receiver nirkabel sound system SMA Pertiwi.

​"Sistem wireless mereka pake frekuensi standar 2.4 GHz," jelas Oliver sambil mengetik cepat. "Enkripsinya lemah. Gue udah berhasil masuk ke jalur input mik utama."

​"Mantap, Profesor!" Harry menepuk punggung Oliver. "Sekarang masukin payload-nya."

​Ilham Mahendra berdiri di samping mereka, wajahnya menyeringai jahat. Dia masih dendam kesumat soal uang dua ratus ribu dari Lia kemarin.

​"Bikin suaranya ancur, Ver," perintah Ilham. "Bikin si Cewek Headphone itu budek sekalian."

​Mohan sedang makan lontong sayur di pinggir, ikut nonton. "Jangan jahat-jahat, Ham. Nanti kualat."

​"Diem lo, Gajah. Ini perang," Ilham fokus ke layar laptop Oliver.

​"Oke, Voice Changer aktif," kata Oliver. "Mode: Helium Chipmunk. Backsound: Cikini Gondangdia Remix."

​Fattah mengangkat tangannya. Dia melihat dari celah tembok. Upacara dimulai. Pembina upacara sudah naik podium. Roseanna berjalan tegap menuju mic utama untuk membacakan Ikrar.

​"Tunggu..." Fattah menahan napas. "Tunggu sampe dia buka mulut..."

​Roseanna memegang tiang mik dengan anggun. Dia menarik napas panjang, siap mengeluarkan suara emasnya yang berwibawa.

​"Satu... dua... TIGA! SIKAT!" teriak Fattah.

​Oliver menekan tombol ENTER dengan dramatis.

​Lapangan SMA Pertiwi

​Roseanna mendekatkan bibirnya ke mik. Seluruh sekolah hening, menunggu suara sang Ratu.

​"ASSALAMUALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH!"

​SQUEAK SQUEAK SQUEAK!

​Suara yang keluar dari speaker besar di seluruh penjuru sekolah BUKAN suara Roseanna yang merdu dan tegas.

​Melainkan suara cempreng, tinggi, dan melengking seperti tupai kejepit pintu (efek Chipmunk).

​"Hah?!" Roseanna kaget sendiri. Dia mundur selangkah.

​Satu lapangan hening sedetik. Lalu...

​PFFFTTTT!

​Terdengar suara tawa tertahan dari ratusan murid. Beberapa adik kelas di barisan belakang sudah menutup mulut menahan ngakak.

​"Cek! Cek! Satu dua!" kata Roseanna panik ke mik.

​CUIT! CUIT! CIT CIT CUIT! (Suaranya makin cempreng dan lucu).

​Wajah Roseanna yang putih mulus langsung memerah padam. Dia menoleh tajam ke arah Naura di meja operator.

​"Naura! Benerin!" teriak Roseanna (tanpa mik), tapi Naura juga panik.

​"Gue nggak bisa, Rose! Sistemnya dikunci dari luar! Slider-nya gerak sendiri!" Naura mengutak-atik mixer dengan keringat dingin bercucuran.

​"Mohon tenang!" Roseanna mencoba tetap berwibawa, mendekat ke mik lagi. "ADA KESALAHAN TEKNIS!"

​KWIKK KWIKK KWIKK! (Suara chipmunk lagi).

​Tawa di lapangan meledak. Wibawa Roseanna hancur lebur jadi butiran debu. Raisa yang berdiri di barisan depan mengepalkan tangan, wajahnya merah menahan malu dan marah.

​Tapi mimpi buruk belum selesai.

​Tiba-tiba, dari speaker utama, terdengar intro musik yang sangat tidak asing. Dentuman bass yang bouncy dan suara gendang yang asyik.

​DUNG DUNG TAK! DUNG DUNG TAK!

​Lagu Cikini Gondangdia (versi Remix Koplo) memecah keheningan upacara yang sakral. Volumenya maksimal.

​"Cikini... ke Gondangdia...

Kujadi begini... gara-gara dia..."

​Suasana kacau balau.

​Aqeela, yang polos banget, malah refleks goyang dikit. "Ih, lagunya enak..."

​"AQEELA! DIEM!" bentak Raisa.

​Guru-guru berlarian panik. Kepala Sekolah (yang botak dan galak) melotot ke arah Roseanna.

​"ROSEANNA! MATIKAN ITU!"

​"SAYA LAGI USAHA PAK!" teriak Roseanna (suaranya masih chipmunk di mik). SQUEAK!

​Di barisan IPS, Lia melepas Airpods-nya dengan wajah bingung.

​"Ini... flashmob?" tanya Lia datar.

L "Norak banget selera musiknya."

​Di Balik Tembok Rajawali

​"BWAHAHAHAHAHA!!"

​Tawa pecah membahana. Fattah guling-guling di atas ban bekas saking ngakaknya. Harry memukul-mukul tanah. Ilham tertawa puas sampai matanya berair.

​"Liat muka dia! Liat muka Tuan Putri!" tunjuk Fattah sambil mengusap air mata tawa. "Merah banget kayak kepiting rebus! Sumpah ini mahakarya!"

​"Rasain lo!" teriak Ilham ke arah tembok. "Makan tuh lagu dangdut! Biar goyang tuh istana!"

​Mohan ikutan goyang jempol. "Asik lagunya, Bos. Joget dulu lah."

​Mereka berlima joget-joget nggak jelas di balik tembok, merayakan kemenangan telak atas harga diri Pertiwi.

​10 Menit Kemudian - Gerbang Perbatasan

​Upacara dibubarkan paksa. Sound system akhirnya mati setelah Naura nekat mencabut kabel utama sampai putus.

​Roseanna Vallerian berjalan keluar dari gerbang sekolahnya dengan langkah lebar dan cepat. Napasnya memburu. Matanya berkaca-kaca karena marah yang sudah di ubun-ubun.

​Dia tidak peduli panas matahari. Dia tidak peduli tatapan murid-muridnya yang masih cekikikan. Dia menuju satu tujuan: Fattah Maverick.

​Di seberang jalan, anak-anak Vanguards sudah menunggu dengan senyum kemenangan. Mereka duduk-duduk santai di atas motor, seolah habis menang lotre.

​Roseanna menyeberang jalan tanpa liat kiri-kanan. Sebuah mobil hampir menabraknya. TIIIN!

​"Rose! Awas!" Raisa menarik lengan Roseanna.

​Roseanna menepis tangan Raisa. Dia berhenti tepat di depan Fattah.

​Fattah sedang menghisap rokoknya dengan gaya paling menyebalkan sedunia. Dia menurunkan kacamata hitamnya, menatap Roseanna yang berantakan (rambutnya keluar sedikit, mukanya merah).

​"Gimana konsernya, Tuan Putri?" tanya Fattah lembut, tapi tajam. "Suara lo bagus juga. High pitch banget. Bakat terpendam?"

​Roseanna menatap Fattah. Dadanya naik turun. Dia ingin menampar cowok itu. Dia ingin memaki. Tapi suaranya tercekat.

​Ini pertama kalinya Roseanna merasa benar-benar dipermalukan secara massal.

​"Lo..." suara Roseanna bergetar. "Lo bener-bener sampah."

​"Sampah yang baru aja bikin lo jadi badut satu sekolah," balas Fattah tenang. Dia berdiri, mendekatkan wajahnya ke Roseanna. "Inget kata gue kemarin? Semakin tinggi lo terbang, semakin sakit jatohnya. Gimana rasanya nyium aspal, Rose?"

​Roseanna menggigit bibir bawahnya sampai berdarah.

​"Gue nggak bakal maafin lo," bisik Roseanna. "Gue bakal bikin hidup lo di sekolah ini neraka."

​"Udah biasa," Fattah mengangkat bahu. "Neraka emang rumah gue."

​Di belakang Roseanna, Lia berdiri dengan wajah datar (lagi). Dia sedang membersihkan kukunya yang patah sedikit.

​Ilham melihat Lia. Momen balas dendam.

​"Heh! Cewek Budek!" panggil Ilham lantang.

​Lia menoleh pelan. "Apa lagi?"

​Ilham merogoh sakunya. Dia mengeluarkan uang dua ratus ribu (yang dikasih Lia kemarin). Dia meremas uang itu jadi bola kertas, lalu melemparnya ke arah Lia.

​Pluk.

​Uang itu jatuh di kaki Lia.

​"Ambil duit lo," kata Ilham dingin. "Pake buat beli cotton bud. Telinga lo kayaknya kotor banget sampe nggak bisa bedain lagu kebangsaan sama dangdut koplo."

​Lia menatap uang di tanah itu. Lalu menatap Ilham.

​Bukannya marah, sudut bibir Lia terangkat sedikit. Senyum meremehkan.

​"Simpen aja," kata Lia. "Anggap aja saweran buat lo yang udah ngehibur gue pagi ini. Joget lo tadi di balik tembok... lumayan lentur. Sering jadi biduan ya?"

​SKAKMAT.

​Ilham melongo.

​Darimana Lia tau dia joget? Temboknya kan tinggi?

​Lia menunjuk CCTV kecil di tiang listrik perbatasan yang mengarah ke halaman Rajawali.

​"Sekolah gue elit, Mas. CCTV kita zoom-nya sampe ke lubang idung lo," kata Lia santai. "Dan btw, celana dalem lo warna merah ya? Kelihatan pas lo nungging ketawa tadi."

​Wajah Ilham langsung merah padam. Lebih merah dari Roseanna.

​"ANJIIING!!" Ilham refleks nutupin celananya. Teman-teman Vanguards langsung ngakak guling-guling.

​"Wah, Ilham pake CD merah membara!" ledek Harry.

​Lia berbalik badan, mengibaskan rambutnya. "Rose, ayo balik. Hiburannya udah selesai. Gue mau jajan."

​Roseanna menatap Fattah satu kali lagi dengan tatapan perang abadi, lalu berbalik mengikuti Lia.

​"Awas lo, Fattah," gumam Raisa sambil menunjuk muka Fattah sebelum pergi.

​"Dah, Raisa! Jangan lupa makan siang!" teriak Mohan sambil dadah-dadah.

​Fattah melihat punggung Roseanna yang menjauh. Kemenangan ini manis, tapi ada rasa aneh di dadanya. Roseanna tidak menangis. Cewek itu kuat juga.

​"Bos, si Ilham beneran pake CD merah?" tanya Harry polos.

​"BANGSAT LO SEMUA!" Ilham lari masuk ke dalam sekolah sambil nutupin pantat, dikejar anak-anak yang ngakak.

​Perang Pagi ini dimenangkan oleh Rajawali. Skor sementara: 1-1.

​Tapi Roseanna Vallerian bukan tipe yang menerima kekalahan. Di dalam kepalanya, sebuah rencana pembalasan yang jauh lebih kejam sudah mulai disusun. Sebuah rencana yang melibatkan satu hal yang paling dibenci anak STM: Razia Atribut & Rambut.

1
anggita
ikut ng👍like, iklan☝aja. moga novelnya lancar.
Yel
LANJUT SAMPAI TAMAT KAAAKKK 😍 pengen nabung bab nya karna bab 1 aja sdh rame. semangat thor 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!