NovelToon NovelToon
Balas Dendam Nyonya Cha

Balas Dendam Nyonya Cha

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mayraa Ibnurafa

Han Ji-an rela dicap "mandul" dan dihina mertua demi menutupi aib suaminya, Kang Min-woo, yang tidak subur. Namun, ketulusannya dikhianati. Min-woo berselingkuh dengan sahabat sekaligus dokter kandungan Ji-an, memalsukan rekam medisnya, lalu mendepaknya tanpa sepeser uang pun.

​Di titik hancur, Ji-an dinikahi Cha Jin-wook, CEO nomor satu di Korea. Tiga tahun berlalu, Ji-an membuktikan kebohongannya dengan melahirkan dua anak. Kini, ia kembali ke Seoul sebagai Nyonya Besar Cha Group yang elegan, siap menghancurkan karier, rumah tangga, dan harga diri orang-orang yang telah membuangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayraa Ibnurafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: Rasa Pahit di Ujung Lidah ​

​Gelas kaca berisi jus delima merah pekat itu sudah berada beberapa sentimeter di depan bibir Han Ji-an. Aroma buah yang segar menguar, menyamarkan dengan sempurna senyawa arsenik dosis rendah yang baru saja dilarutkan di dalamnya. Di seberang meja, Cha Jin-wook masih sibuk membenahi dasi Hyun-woo yang sedikit miring sembari mendengarkan celotehan putra sulungnya tentang rencana karya wisata sekolah.

​Namun, tepat saat pinggiran gelas menyentuh bibir bawah Ji-an, sebuah gelombang mual yang luar biasa mendadak menghantam ulu hatinya. Itu bukan karena racun—melainkan reaksi penolakan biologis alami (morning sickness) dari janin trimester pertamanya yang tiba-tiba bergejolak hebat terhadap aroma tajam jus delima yang biasanya ia sukai.

​Ugh.

​Ji-an mengernyitkan dahi, menjauhkan gelas itu dengan cepat, dan membekap mulutnya sendiri. Tubuhnya sedikit bergetar menahan gejolak di perutnya.

​"Ji-an? Ada apa?" Atensi Jin-wook langsung beralih sepenuhnya. Sepasang mata elangnya menangkap perubahan drastis pada wajah istrinya yang mendadak pucat. Ia meletakkan tablet bisnisnya, berdiri dari kursi, dan langsung berpindah ke samping Ji-an, mengusap punggung wanita itu dengan penuh kepanikan.

​"Entahlah... mendadak aromanya membuatku sangat mual," bisik Ji-an dengan napas yang agak terengah-engah, menunjuk gelas jus delima di atas meja. "Padahal kemarin aku sangat menyukainya."

​Jin-wook menarik gelas itu menjauh dari jangkauan Ji-an. Sebagai seorang suami yang protektif dan perfeksionis, ia selalu memastikan segala sesuatu yang dikonsumsi istrinya berada dalam kondisi terbaik. Ia mengangkat gelas tersebut, mendekatkannya ke hidungnya sendiri untuk memeriksa apakah buah yang digunakan sudah tidak segar.

​Secara visual, warnanya sempurna. Aromanya pun murni buah delima. Namun, ketajaman insting Jin-wook yang terlatih menghadapi berbagai sabotase korporasi menangkap sesuatu yang ganjil: ada pendar minyak tipis—hampir tak kasat mata—yang mengapung di permukaan cairan jika terkena pantulan lampu gantung marmer. Jus buah segar murni seharusnya tidak meninggalkan lapisan kimia seperti itu.

​"Koki Kim!" suara berat Jin-wook menggema di ruang makan, dingin dan penuh penekanan yang membuat atmosfer ruangan seketika menegang.

​Koki pribadi yang sedang merapikan konter dapur bergegas berlari masuk dengan wajah cemas. "Ya, Presdir? Ada yang bisa saya bantu?"

​"Siapa yang mengantarkan pasokan buah delima ini pagi ini?" tanya Jin-wook, matanya menatap tajam sang koki tanpa berkedip.

​"A-itu... petugas dari Logistik Organik Green, Presdir. Seperti biasa," jawab koki dengan gugup, bingung melihat reaksi sang majikan.

​"Apakah kau mengawasi pengantarannya dari awal hingga akhir tanpa pengalihan?"

​Koki Kim menelan ludah, dahinya mulai berkeringat dingin saat ingatan beberapa menit lalu melintas. "Saat... saat saya berbalik untuk mengambil slip tanda terima di meja seberang, petugas itu berdiri di dekat konter tempat teko jus diletakkan. Tapi itu hanya berlangsung beberapa detik, Presdir..."

​Mendengar hal itu, rahang tegas Jin-wook mengencang hingga urat-urat di lehernya menegang. Aura membunuh yang pekat seketika menguar dari tubuh tegapnya. Ia tidak butuh penjelasan lebih lanjut untuk mengetahui bahwa benteng keamanannya telah ditembus.

​"Sekretaris Kim! Kunci seluruh akses keluar kompleks Hannam-dong sekarang juga!" perintah Jin-wook barau melalui jam tangan pintarnya yang terhubung langsung ke pos komando keamanan internal. "Tahan mobil boks logistik yang baru saja keluar dari lift barang!"

​Sementara itu, di basemen parkir khusus logistik blok B.

​Pria bertato ular yang menyamar sebagai petugas pengantar barang melangkah dengan terburu-buru menuju mobil boks biru yang mesinnya masih menyala. Di dalam kabin kemudi, rekannya sudah bersiap dengan tangan yang mencengkeram kemudi.

​"Bagaimana? Sudah kau lakukan?" tanya pria di kursi kemudi dengan tidak sabar.

​"Sudah. Cairannya sudah masuk ke dalam tekonya. Wanita itu pasti sudah meminumnya sekarang. Ayo cepat pergi dari tempat terkutuk ini sebelum—"

​BEEP! BEEP! BEEP!

​Bel alarm darurat basemen tiba-tiba berbunyi dengan nyaring. Gerbang besi hidrolik otomatis di ujung jalur keluar basemen mulai bergerak turun dengan cepat, menutup satu-satunya jalan keluar menuju jalan raya.

​"Sial! Kita ketahuan! Terobos gerbangnya!" teriak pria bertato ular itu panik.

​Supir mobil boks itu menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil melaju kencang, mencoba melewati celah gerbang yang semakin menyempit. Namun, sebelum bumper depan mobil sempat menyentuh gerbang, dua mobil SUV hitam besar milik tim keamanan Cha Group meluncur dari arah samping, sengaja menabrakkan diri untuk memblokade jalur dan menghantam sisi kiri mobil boks hingga ringsek.

​DUARRR!

​Benturan keras itu membuat mobil boks terhenti seketika dengan kepulan asap yang keluar dari kap mesin. Sebelum kedua preman di dalamnya sempat memulihkan diri dari syok, pintu mobil boks digedor kasar dari luar. Enam pengawal berjas hitam dengan senjata taktis yang terlatih langsung menyeret mereka keluar, menjatuhkan mereka ke atas lantai beton dingin basemen dengan tangan yang diborgol kuat ke belakang.

​Sepuluh menit kemudian, di ruang interogasi basemen pribadi penthouse.

​Cha Jin-wook melangkah masuk dengan langkah kaki yang berat dan penuh wibawa. Jas formalnya sudah ditanggalkan, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku, menampilkan otot-otot lengannya yang menegang penuh amarah. Di belakangnya, Sekretaris Kim membawa botol kaca kecil berisi sisa cairan arsenik yang baru saja ditemukan di dalam saku jaket petugas logistik gadungan tersebut.

​Kedua preman itu terduduk di kursi besi dengan wajah yang sudah lebam akibat "interogasi awal" oleh tim keamanan.

​Jin-wook berhenti tepat di depan pria bertato ular yang meneteskan racun tadi. Ia tidak mengatakan sepatah kata pun, melainkan langsung mencengkeram rahang pria itu dengan tangan besarnya, menekannya dengan kekuatan yang begitu besar hingga pria itu mengerang kesakitan.

​"Siapa yang mengirimmu?" suara Jin-wook terdengar sangat rendah, namun memiliki daya tekan psikologis yang sanggup membuat nyali siapa pun menciut. "Katakan... sebelum aku memastikan tangan yang kau gunakan untuk menyentuh jus istriku tidak akan pernah bisa berfungsi lagi seumur hidupmu."

​Pria bertato itu menatap sepasang mata elang Jin-wook yang pekat oleh kegelapan murni. Ia sadar, pria di hadapannya ini bukan sekadar pengusaha kaya—dia adalah penguasa tertinggi kekaisaran bisnis yang bisa membuat seseorang lenyap dari muka bumi tanpa jejak hukum.

​"K-Kang Min-woo..." rintih pria itu dengan bibir yang berdarah. "Tuan Kang Min-woo yang membayar kami! Dia... dia bersembunyi di gudang tua dekat Dermaga 4 Pelabuhan Incheon! Dia yang memberikan racun itu!"

​Jin-wook melepaskan cencangannya dengan kasar, membuat kepala pria itu terhentak ke belakang. Ia mengambil saputangan dari kantong celananya, menyeka tangannya yang kotor, lalu melempar saputangan itu ke lantai.

​"Sekretaris Kim, serahkan kedua orang ini ke unit kejahatan khusus kepolisian atas dakwaan percobaan pembunuhan berencana terhadap keluarga inti Cha Group," perintah Jin-wook dingin sembari berbalik menuju pintu. "Dan siapkan tim pemukul komando pusat. Kita berangkat ke Incheon sekarang juga."

​"Presdir..." Sekretaris Kim menahan langkahnya sejenak. "Bagaimana dengan Nyonya Besar?"

​"Katakan padanya aku ada urusan bisnis mendesak di luar. Pastikan tim medis pribadi memeriksa kondisinya dan janin di perutnya setiap jam hingga aku kembali," Jin-wook menjeda kalimatnya, matanya berkilat penuh racun dendam yang siap diledakkan. "Kali ini... aku sendiri yang akan mencabut sisa napas Kang Min-woo dari dunia ini."

​Perburuan terakhir di Pelabuhan Incheon telah dimulai! Cha Jin-wook bergerak dengan amarah penuh untuk menghabisi Kang Min-woo demi melindungi kehamilan Nyonya Cha.

1
Mutia Kim🍑
Seneng banget deh Ji-An dapat pengganti yg jauh lebih baik🥰
Mutia Kim🍑
Memang lebih baik kamu pergi saja dari keluarga toxic itu Ji-an😌
Mayraa_Tapaa: makasih ka udah mampir
total 1 replies
Mayraa_Tapaa
Mampir ya readers readers yg baik dan keren-keren, udah up banyak episode loh jadi enak bacanya...setiap hari juga bakal up min 4 episode sehari ya....
kutunggu kehadiran kaliam🤗✨️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!