NovelToon NovelToon
Tak Lagi Mencintaimu

Tak Lagi Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mandul / Pelakor jahat
Popularitas:15.5k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

‎Badai datang pelan namun mematikan, menggoyahkan komitmen lima tahun yang Risa yakini abadi. Di bawah langit malam yang sunyi, dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri suaminya, Raga, sedang bermesraan dengan wanita lain di dalam mobil mereka.

‎Setelah bertahun-tahun membangun rumah tangga dengan penuh pengorbanan, meninggalkan karir impian untuk mendukung karir suaminya, Risa harus menghadapi kenyataan pahit bahwa cinta yang dia anggap tulus telah dipermainkan.

‎Pengkhianatan itu menjadi pukulan terberat bagi hatinya.

‎"Selama ini aku menutupi kekuranganmu demi menjaga harga dirimu, tapi balasanmu adalah pengkhianatan. Mulai hari ini, aku tidak mau lagi menjadi orang yang selalu mengalah." ~ Risa Anindita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24

‎Risa terdiam sejenak, jemarinya perlahan menyentuh pinggiran gelas air di hadapannya, namun raut wajahnya tetap tenang dan tidak terganggu.

‎‎"Saya tidak bermaksud mencampuri urusan pribadimu, sungguh." ucap Regan lagi. Ia menambahkan cepat, seolah ingin memastikan Risa tidak merasa tertekan. "Jika kamu merasa tidak nyaman menceritakannya, saya tidak akan memaksamu."

‎‎"Tidak apa-apa, Pak. Saya tidak merasa keberatan," potong Risa, Ia mengangkat wajah, menatap Regan dengan tatapan tanpa beban. "Alasannya sederhana saja. Kepercayaan dan rasa hormat dalam pernikahan kami sudah hancur."

‎‎Ia berhenti sejenak, menarik napas pelan.

‎‎"Selama ini saya berusaha menjadi istri yang baik, mengurus rumah, mendukung segala usahanya, dan selalu ada di sisinya saat susah maupun senang. Tapi ternyata semua itu saja tidak cukup baginya. Dia memiliki wanita lain dibelakang saya."

‎‎Regan menatapnya lekat-lekat, sorot matanya lembut namun penuh perhatian.

‎‎"Wanita sebaik dan secantik kamu, masih saja diselingkuhi..."

‎‎Suara Regan terdengar pelan namun tegas, menyiratkan rasa takjub sekaligus kekesalan yang halus. Ia menggeleng perlahan, seolah tidak percaya mendengar kenyataan itu.

‎‎"Bapak sedang memuji saya?"

‎‎Risa bertanya dengan nada sedikit terkejut, disertai senyum malu yang samar terukir di bibirnya. Matanya menatap Regan dengan pandangan yang sedikit melembut, tidak menyangka akan mendengar pujian yang tulus seperti itu.

‎‎Regan tertegun sejenak, lalu tersenyum tipis - senyum yang jarang ia tunjukkan pada orang lain, terasa hangat dan tulus. Ia mengangguk pelan tanpa ragu.

‎‎"Bukan hanya memuji, Risa. Itu kenyataan yang saya lihat sendiri," jawabnya lembut namun tegas.

‎‎Ia mencondongkan sedikit tubuhnya ke depan, suaranya makin menenangkan dan meyakinkan.

‎‎"Suamimu itu sudah melepaskan mutiara berharga hanya demi kaca yang terlihat mengkilap sesaat. Suatu hari nanti dia akan sadar, tapi saat itu pasti sudah terlambat."

‎‎Risa tertawa kecil. Tawa yang terdengar lembut, ringan, dan untuk pertama kalinya hari itu terasa benar-benar lepas tanpa beban.

‎‎"Kenapa? Ada yang salah dengan ucapan saya?" tanya Regan.

‎‎Risa menggeleng pelan.

‎‎"Tidak ada yang salah, Pak. Justru sebaliknya," jawabnya lembut, suaranya terdengar lebih ringan dari sebelumnya. "Selama ini saya sering mendengar kata-kata yang menyalahkan, meragukan, atau bahkan merendahkan saya. Mendengar ucapan yang tulus dan membesarkan hati seperti itu… rasanya asing, tapi sangat menenangkan."

Ia kemudian melanjutkan, ‎‎"Terimakasih banyak, Pak. Ucapan Bapak benar-benar memberi saya keyakinan bahwa keputusan yang saya ambil itu tidak salah, dan saya tidak perlu terus merasa bersalah atas kesalahan yang bukan saya perbuat."

‎‎Belum sempat Regan menjawab, pelayan restoran datang menghampiri sambil membawa nampan berisi hidangan yang baru matang. Aroma harum segera tercium, mengisi ruang sekitar meja mereka.

‎‎"Ayo makan dulu, selagi masih hangat," ajak Regan sambil tersenyum, "Isi perutmu supaya nanti kamu bisa fokus dalam bekerja."

‎‎Risa mengangguk sambil tersenyum, lalu keduanya mulai menyantap hidangan dengan tenang. Suasana terasa nyaman dan santai, tidak ada rasa canggung, hanya percakapan ringan yang sesekali terjalin.

‎‎"Oh, disini rupanya kamu, Risa! Berani sekali kamu lari dan bersembunyi dari anakku ya!"

‎‎Sebuah suara melengking dan tajam terdengar memecah suasana tenang, membuat pengunjung lain di sekitarnya seketika menoleh.

‎‎Risa terkejut, menoleh dan melihat sosok ibu mertuanya berjalan mendekat dengan wajah marah, diikuti oleh beberapa teman-temannya yang tampak ragu-ragu mengikuti. Begitu berdiri tepat di depan meja, Bu Rima menunjuk langsung ke arah Risa dengan jari gemetar.

‎‎"Dasar wanita mandul! Sudah tidak bisa memberi keturunan untuk anakku, malah berani meminta cerai dan pergi seenaknya! Sekarang berani makan bersama pria lain, dasar tidak tahu malu!" bentaknya dengan suara keras, menarik perhatian seluruh orang di ruangan itu.

‎‎Suasana menjadi hening seketika. Regan mengerutkan dahi, hendak berdiri membela, tapi Risa sudah lebih dulu berdiri. Ia berdiri tegak dengan tenang, tidak ada sedikit pun rasa takut atau malu yang terlihat di raut wajahnya.

‎‎"Ma, tolong jaga ucapan dan sikap Mama, ini tempat umum. Kalau Mama datang hanya ingin memaki dan menuduh tanpa bukti, lebih baik Mama berhenti sekarang juga sebelum mempermalukan diri Mama sendiri lebih jauh," ucapnya tenang namun tegas.

‎‎Wajah Bu Rima makin memerah mendengar jawaban itu. "Berani kamu menasihati saya?! Apa yang saya katakan itu benar! Selama lima tahun mengabdi, tidak pernah hamil juga! Bukankah itu tandanya tubuhmu yang bermasalah? Anakku Raga sudah sabar dan bertahan selama ini, tapi kamu malah menyia-nyiakan kebaikannya!"

‎‎Risa tersenyum tipis, ia sama sekali tidak terbawa emosi.

‎‎"Kalau soal keturunan, apakah Mama yakin itu hanya salahku?"

‎‎Kata-kata itu meluncur tenang namun tajam, seolah pisau yang langsung menancap tepat ke sasaran. Suasana yang tadinya hening kini terasa makin sunyi, hanya tersisa napas-napas penasaran dari orang-orang yang mendengar.

‎"Kalau menurut Mama aku yang bermasalah, kenapa wanita lain yang dipilih anak Mama itu juga belum menunjukkan tanda-tanda hamil? Apakah mungkin dua wanita berbeda memiliki masalah yang sama, sedangkan laki-lakinya tidak pernah diperhitungkan?"

‎‎Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan kalimat yang membuat jantung Bu Rima terasa berhenti berdetak sejenak.

‎‎"Dan soal tuduhan aku pergi seenaknya… Aku tidak pergi tanpa alasan. Aku memiliki bukti yang sangat jelas, rekaman video yang memperlihatkan anak Mama dan wanita selingkuhannya itu sedang bermesraan di dalam kamar hotel. Bukti itu cukup kuat untuk menjadi dasar gugatan cerai dan membuktikan siapa sebenarnya yang melanggar janji pernikahan."

‎‎Risa menatap satu persatu teman-teman Bu Rima yang berdiri di belakang, lalu kembali menatap ibu mertuanya itu dengan pandangan datar.

‎‎"Mama dan teman-teman Mama mau lihat videonya sekarang? Kalau ya, aku bisa memutarnya disini sekarang juga. Nanti semua orang di ruangan ini juga bisa melihatnya, supaya tidak ada lagi yang salah paham atau menyalahkan aku secara buta."

‎‎Tawaran itu terdengar sederhana, namun dampaknya luar biasa. Bu Rima terasa seolah ditimpa beban berat. Ia ingin membantah, ingin berteriak, tapi lidahnya terasa kelu. Ia sadar, jika Risa benar-benar memutar video itu, bukan hanya nama baik Raga yang akan hancur, tapi juga nama baik seluruh keluarganya akan tercemar selamanya di mata tetangga dan kenalan.

‎‎"Kamu… kamu berani mengancam Mama?!" Suara Bu Rima terdengar parau dan tidak setegas tadi, wajahnya pucat dan tangannya gemetar.

‎‎"Aku tidak mengancam, Ma. Aku hanya menjawab tuduhan dengan bukti yang sebenarnya," potong Risa tenang. "Kalau Mama bisa menerima kenyataan dan berhenti mempermalukanku, bukti itu tidak akan pernah aku sebar kemanapun. Tapi kalau Mama terus menghina dan menuduh tanpa dasar, jangan salahkan aku kalau aku menggunakannya untuk membela diriku sendiri."

‎‎Regan yang berdiri di hadapannya hanya mengamati dengan tenang, matanya penuh kekaguman melihat cara Risa membela diri dengan cerdas dan berani.

‎‎Bu Rima terdiam. Ia tidak punya amunisi lagi untuk melawan. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berjalan tergesa-gesa keluar dari restoran, diikuti oleh teman-temannya yang juga merasa canggung dan tidak berani menatap orang lain.

‎‎Begitu mereka menghilang dari pandangan, Risa menghela napas panjang, seolah melepaskan beban yang tersimpan lama. Ia menoleh ke Regan dengan senyum lelah namun lega.

‎"Maaf, Pak… sampai mengganggu kenyamanan tempat ini dan membuat Bapak malu."

‎‎Regan menggeleng pelan, sorot matanya penuh rasa kekaguman. ‎‎"Tidak perlu minta maaf. Kamu hanya membela diri dengan cara yang paling tepat dan berkelas."

‎‎"Ayo kita kembali ke kantor," ajak Regan sambil melangkah mendekat, suaranya terdengar lembut dan menenangkan. "Saya kira kamu juga butuh suasana yang lebih tenang setelah kejadian tadi."

‎‎Risa mengangguk setuju, lalu segera mengambil tasnya yang ada diatas kursi. "Baik, Pak. Terimakasih banyak sudah menunggu dan mendukung saya."

Setelah menyelesaikan transaksi pembayaran, ‎‎keduanya berjalan keluar restoran dengan langkah tenang. Beberapa pengunjung masih melirik sekilas, namun tidak ada lagi yang berani berkomentar.

-

-

-

‎Pintu ruang kerja itu terbuka dengan suara keras yang memekakkan telinga, membuat suasana panas dan akrab di dalamnya seketika terhenti.

‎‎Raga dan Amelia terkejut setengah mati. Mereka segera melepaskan ciuman dan berusaha meluruskan posisi, wajah keduanya memerah karena terpergok.

‎Amelia buru-buru turun dari pangkuan Raga sambil merapikan pakaiannya dengan gerakan gugup, sementara Raga mengerutkan dahi kesal, berusaha menyembunyikan rasa kagetnya.

‎‎"Ma! Kenapa masuk seenaknya tanpa mengetuk pintu dulu?!"

-

-

-

Bersambung...

1
vj'z tri
tunggu nanti w ketawa ngakak disaat/Smug//Smug//Smug//Smug/ ada kata menyesal dari mulut mu
°RhaiKen™
ehh.. jangan dulu pak dokter 🤣🤣 biar sidang nya selesai dulu resmi bercerai nah baru deh kasih kesaksian 🤣🤣🤣✌️
🔥Violetta🔥: Mulut pak dokter sudah gatel pengen ngomong 😂😂😂
total 1 replies
Rizky Manik
lanjut thor🤗
🔥Violetta🔥: Asiap 🙏😁
total 1 replies
nayla tsaqif
Klo amelia tau raga mandul sblm mrk nikah,, amelia pasti kabur thor,, berubah haluan ngejar regan,,, 😌
🔥Violetta🔥: Depak aja dia kalau berani deketin pak Bos, kak 😂😂😂
total 1 replies
partini
mantap , menunggu berapa bab lagi sidang nya Thor
🔥Violetta🔥: Betul Kakak.. biar cepat cerai 😁
total 1 replies
vj'z tri
ahayyyy jreng jreng jreng
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ icik bos dah salting berat ini
🔥Violetta🔥: Udah cenat-cenut dia 😂😂😂
total 1 replies
W I 2 K
kamu nanya.. kamu bertanya-tanya....,

secara g langsung km udah siap ni ditinggalin raga.. km kan nyuruh cek, terus tau kenyataan pahit asam manisnya kyk apa.... ya jelas nanti raga bakalan ngejar balik lg risa.. ya nerima apa adanya kan cm dia.... siap² deh mimpi terindah menikah dengan raga hanya tinggal khayalan belaka... 🤣🤣🤭
〈⎳ FT. Zira
coba cekk. di lihat..diraba.. di...🤭🤭
〈⎳ FT. Zira
kesempatan noh Re .. ambilll🤣🤣
〈⎳ FT. Zira
jodoh ka Re🤭
〈⎳ FT. Zira
kamulah orangnya🤭
〈⎳ FT. Zira
cieeee cieee🤭🤭🤣🤣
〈⎳ FT. Zira
deg deg ser gak ris🤭
〈⎳ FT. Zira
jodoh emag gak kemana yaa🤭
Rizky Manik
lanjut thor🤗
Rizky Manik
ayo periksa lagi kalo berani🤭
Anonim
awokawok mending baca seishun buta yarou Bunny girl senpai wo yume wo minai
MamDeyh
Nah nah nah kan.... Eng ing eng
Kusii Yaati
kamu terlalu memandang rendah orang mel,di bandingkan dengan kamu Risa lebih baik dari segi manapun, sedang kamu apa perlu di banggakan selain pandai merebut suami orang alias pelakor... punya cermin nggak 😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!