Di SMA Nusantara Jaya, aturan mainnya sangat sederhana: Uang adalah hukum, dan E4 (The Elite Four) adalah penguasanya. Dipimpin oleh Alvaro Pramudya, pewaris tunggal konglomerat terbesar di Indonesia yang angkuh dan tak tersentuh, geng E4 mengendalikan sekolah dengan sistem "Kartu Merah"—sebuah vonis perundungan kejam yang membuat siapa pun targetnya memilih untuk putus sekolah.
Namun, roda takdir berputar secara instan ketika Kayla Shaqueena, seorang gadis tangguh anak pemilik laundry kiloan, masuk ke sekolah elit tersebut lewat beasiswa jalur khusus. Kayla bukan tipikal gadis yang akan tunduk pada intimidasi. Ketika kartu merah mendarat di mejanya, alih-alih menangis dan memohon ampun, Kayla justru merobek kartu tersebut dan melayangkan
Di antara benturan kasta, harga diri, cinta segitiga yang rumit, dan intrik keluarga kaya yang kotor, akankah Kayla bertahan sebagai rumput liar yang merusak taman indah E4?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RENCANA CADANGAN NARENDRA (2)
Hari Minggu pagi membawa hawa dingin yang tak biasa di kawasan pinggiran Jakarta. Matahari terbit dengan malas di balik awan abu-abu, menyinari ruko laundry milik keluarga Kayla yang masih tertutup rapat. Di dalam ruko, keheningan terasa begitu pekat. Kayla duduk di meja makan kecil, menatap cangkir tehnya yang sudah mendingin. Matanya sembap, dan kepalanya berdenyut nyeri setelah melewati malam tanpa tidur sedikit pun. Bayangan wajah Alvaro yang mati rasa di sirkuit balap terus menghantuinya, bersilangan dengan senyuman dingin Devan di atas panggung debat.
*Tok! Tok! Tok!*
Ketukan pintu kayu di bagian samping ruko memecah kesunyian. Kayla tersentak. Dengan langkah waspada, ia berjalan menuju pintu dan membukanya perlahan.
Devan Narendra berdiri di sana.
Pemuda itu tidak lagi mengenakan seragam sekolah yang kusut. Ia tampil rapi dengan sweter rajut hitam dan celana kain formal, potret sempurna dari seorang pewaris tunggal yang elegan. Plester di sudut bibirnya masih terpasang, namun sepasang mata teduhnya kini telah kembali tenang, seolah badai emosi malam kemarin tidak pernah terjadi.
"Mau apa lagi kamu ke sini, Devan?" tanya Kayla, suaranya terdengar sangat serak dan dingin. Ia mencengkeram pinggiran pintu, tidak mengizinkan Devan untuk melangkah masuk satu senti pun. "Aku sudah bilang, hubungan aliansi kita sudah selesai. Pergilah."
Devan tidak terkejut, tidak juga marah. Ia hanya menatap Kayla dengan tatapan yang sarat akan dominasi yang tenang, lalu mengangkat sebuah map dokumen hitam tebal yang dipegangnya.
"Aku ke sini bukan untuk berdebat, Kayla. Aku ke sini untuk mengantarkan masa depan keluargamu," ujar Devan dengan suara baritonnya yang lembut namun penuh penekanan. "Ini adalah Dokumen Beasiswa Korporasi Eksklusif dari Narendra Foundation."
Kayla mengerutkan keningnya, menatap map itu dengan pandangan penuh selidiki. "Aku tidak butuh beasiswamu. Aku sudah punya beasiswa dari yayasan sekolah."
"Beasiswa sekolahmu bisa dicabut kapan saja oleh dewan komite yang dikuasai oleh Sofia Pramudya, Kayla. Apalagi setelah skandal debat malam kemarin," Devan memajukan tubuhnya satu langkah, memaksa Kayla untuk mundur di ambang pintu. "Tapi kontrak di tanganku ini berbeda. Narendra Foundation akan mengambil alih seluruh biaya pendidikanmu hingga lulus kuliah di universitas mana pun yang kamu mau. Bukan itu saja..."
Devan membuka halaman pertama dokumen tersebut, memperlihatkan klausul yang tertulis dengan tinta emas. "...Kami akan menyuntikkan dana hibah sebesar lima ratus juta rupiah secara legal untuk pengembangan usaha laundry ibumu, dan menjamin seluruh proteksi hukum dari tuntutan firma hukum Pramudya."
Napas Kayla tercekat. Lima ratus juta rupiah tunai secara legal, ditambah jaminan perlindungan penuh dari kekuasaan Sofia Pramudya. Itu adalah semua hal yang ia butuhkan untuk menarik ibunya keluar dari lingkaran neraka ini.
"Apa kompensasinya, Devan?" bisik Kayla, menyadari ada perangkap tak kasat mata di balik angka-angka fantastis itu. "Apa yang harus kubayar untuk semua kemewahan ini?"
Devan menatap Kayla lekat-lekat, senyuman tipis yang sangat dingin kembali terukir di bibirnya. "Sederhana. Di halaman terakhir, tertulis klausul ikatan dinas dan kesetiaan publik. Kamu wajib menandatangani kontrak ini hari ini juga. Dengan menandatanganinya, kamu berkomitmen secara hukum untuk tetap menjadi juru kampanye utamaku, memberikan kesaksian tertulis bahwa rekaman video Alvaro malam kemarin adalah bentuk 'kejujuran sukarela' demi transparansi sekolah, dan..."
Devan menjeda kalimatnya, menurunkan pandangannya tepat ke arah jemari tangan Kayla. "...Kamu dilarang keras melakukan kontak, komunikasi, atau interaksi dalam bentuk apa pun dengan Alvaro Pramudya dan sirkelnya selama masa pendidikanmu. Jika kamu melanggar satu saja dari poin ini, kontrak ini batal secara hukum, dan keluargamu wajib membayar ganti rugi penalti sebesar dua miliar rupiah atas tuduhan wanprestasi dan pencemaran nama baik korporasi."
*Gasp!*
Kayla melangkah mundur dengan tubuh yang mendadak lemas. Map di tangan Devan kini tidak lagi terlihat seperti uluran tangan penyelamat, melainkan menjelma menjadi rantai emas raksasa yang siap mengunci kebebasannya secara hukum pidana. Devan tidak sedang membantunya; Devan sedang membelinya, mengikatnya agar tidak bisa berpaling lagi kepada Alvaro untuk selamanya.
"Kamu... kamu benar-benar iblis, Devan," bisik Kayla dengan air mata yang kembali menggenang di sudut matanya. "Kamu menggunakan sisa kekuatanku untuk memaksaku menandatangani surat kematianku sendiri."
"Aku tidak memaksamu, Kayla. Aku hanya memberimu pilihan rational," sahut Devan dengan nada suara yang luar biasa tenang, meletakkan map hitam itu di atas meja setrika di dekat pintu. "Hari Senin besok adalah pemungutan suara. Ambil pulpenmu, tanda tangani kontrak ini sebelum jam dua belas malam nanti, atau saksikan ibumu masuk penjara dan ayahmu dikeluarkan dari ruang ICU besok pagi karena Sofia Pramudya akan mengeksekusi sisa amarahnya."
Devan berbalik, melangkah pergi meninggalkan ruko dengan pembawaan yang teramat santai, membiarkan suara langkah sepatunya bergema mematikan di telinga Kayla.
Kayla berdiri mematung di depan meja setrika, menatap map dokumen hitam itu dengan dada yang naik turun karena kepanikan yang luar biasa. Rencana cadangan Narendra telah menguncinya dari segala arah. Di dalam labirin elite ini, sang rumput liar kini benar-benar telah kehabisan ruang untuk bernapas, terjebak di antara obsesi sang monster yang terluka dan jerat hukum sang penyelamat yang berdarah dingin.
---
Bersambung