NovelToon NovelToon
Perjalanan Sang Kaisar Pedang Surgawi

Perjalanan Sang Kaisar Pedang Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Action / Anak Genius
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: DafToon

Satu Hari 5 Bab... bantu saya untuk terus berkarya😎😎

Di Kota Xiang, seorang jenius muda bernama Xiao Ba pernah dipuja sebagai harapan terbesar Keluarga Xiao karena memiliki Akar Spiritual Suci Tingkat 9, bakat langka yang bahkan sulit ditemukan dalam seribu tahun. Namun semuanya berubah ketika akar spiritualnya hancur secara misterius, membuatnya jatuh dari langit ke dasar kehinaan dalam semalam.

Dulu dipuji, kini dihina.

Dulu didekati, kini dijauhi.

Bahkan keluarga yang pernah memohon perjodohan dengannya datang untuk memutuskan hubungan sambil mempermalukannya di depan semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DafToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemarahan Patriark Xiao

Di kawasan terlarang di belakang kediaman Keluarga Xiao, di balik pintu batu yang kokoh menghadap ke arah laut, tersembunyi sebuah taman kecil yang berbeda dari bagian kediaman lainnya.

Berbagai tanaman spiritual tumbuh di sana dengan rapi. Bukan tanaman langka kelas atas, namun di kota kecil seperti Kota Beira, bahkan tanaman spiritual biasa sudah menjadi kemewahan yang tidak semua orang bisa memilikinya. Energi spiritual di kawasan ini jauh lebih kaya dan padat dibanding bagian mana pun dari kediaman Keluarga Xiao, ditambah dengan hembusan angin laut yang membawa ion-ion segar dari Teluk Beira di bawah sana. Sebuah jalan setapak membelah taman itu, mengarah langsung ke paviliun tempat Patriark menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berkultivasi.

Xiao Sun sudah duduk menunggu ketika Penatua Ketiga Xiao Shu dan Penatua Keempat Xiao Lao melangkah masuk dan memberi hormat.

"Duduklah. Untuk apa kalian mencariku?"

Keduanya tidak membuang waktu.

"Kami sudah menerima kabar dari orang-orang yang kita sewa untuk mencari tahu siapa pengkhianat yang telah membocorkan kepemilikan akar spiritual Tuan Muda Xiao Ba," kata Penatua Ketiga dengan suara yang terjaga namun menyimpan bara di baliknya.

Xiao Sun tidak bergerak. Namun tekanan yang tiba-tiba memancar dari tubuhnya membuat udara di sekitar mereka terasa lebih berat dari sebelumnya.

"Bicara."

"Menurut orang-orang kami, informasi itu disampaikan oleh Klan Cakar Hitam ke pihak istana," sambung Penatua Keempat. Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang lebih rendah, "Namun Klan Cakar Hitam hanya perantara. Ada pihak dari dalam keluarga kita sendiri yang memberikan informasi itu kepada mereka terlebih dahulu."

Keheningan yang tercipta setelahnya terasa seperti mata pisau.

Xiao Sun memejamkan matanya sejenak.

Satu minggu. Sudah satu minggu ia menyaksikan cucunya terbaring hampir mati di atas ranjang batu. Satu minggu ia berdiri tak berdaya di depan kehancuran yang menimpa satu-satunya harapan garis keturunan langsung yang ia miliki. Dan kini ia tahu, kehancuran itu bukan semata ulah Kerajaan Ying.

Ada tangan dalam keluarganya sendiri yang membuka pintu itu.

Ketika matanya kembali terbuka, wajahnya sudah berubah.

"Bagus sekali," ucapnya dengan nada yang sedingin batu karang di musim badai. "Jika orang itu memang anggota Keluarga Xiao, aku akan mengusirnya bersama seluruh anak dan keturunannya."

Penatua Ketiga dan Keempat saling pandang sejenak, namun tidak ada yang berani berkomentar lebih lanjut.

Tiba-tiba, aura dari tubuh Xiao Sun meledak keluar tanpa peringatan.

Prajurit Surgawi Tingkat 8.

Tekanan yang tercipta dari ledakan aura itu langsung menekan seluruh ruangan. Penatua Ketiga yang berada di Alam Prajurit Surgawi Tingkat 6, dan Penatua Keempat yang baru di Tingkat 5, keduanya merasakan bobot luar biasa menghantam tubuh mereka seolah langit tiba-tiba turun ke bahu mereka.

Bahkan di luar paviliun, tanaman-tanman spiritual di taman itu terlihat sedikit melengkung seolah angin kencang baru saja melewati kawasan itu.

"Patriark, auramu bisa mencederai kami," kata Penatua Ketiga dengan napas yang sedikit tersengal, berusaha keras menahan tekanan dari alam yang dua tingkat di atasnya.

"Maafkan aku. Aku tidak bisa menahan diri."

Xiao Sun bangkit dari tempatnya duduk.

Dan sebelum siapa pun sempat bereaksi, sosoknya lenyap dari pandangan, bergerak secepat kilat menembus pintu batu dan meninggalkan kawasan terlarang.

Penatua Ketiga langsung melompat berdiri. "Gawat, Patriark pasti akan menyerang markas Klan Cakar Hitam sendirian! Ayo kita susul!"

Ia mengusap tetes keringat yang mengalir dari keningnya dan bergegas keluar bersama Penatua Keempat.

Di kawasan Dermaga Tersembunyi di balik Tebing Garam, jauh dari keramaian pelabuhan utama Kota Beira, berdiri sebuah bangunan yang tampak seperti gudang penyimpanan barang biasa dari luar. Dindingnya terbuat dari batu karang yang diukir kasar, atapnya rendah dan menjorok ke depan agar tidak terlihat dari jalur pelayaran utama. Namun di dalamnya tersimpan ruangan-ruangan yang jauh lebih luas dari yang bisa dibayangkan dari tampilan luarnya.

Di salah satu ruangan utama, tiga pria duduk mengelilingi meja dengan minuman keras di tangan masing-masing. Suasananya santai, bahkan terlalu santai untuk sekumpulan orang yang baru saja terlibat dalam pengkhianatan yang hampir menghancurkan sebuah keluarga kultivator.

"Sungguh menyenangkan berbisnis informasi seperti ini," kata pria bertubuh besar dengan tato cakar hitam di lehernya. Suaranya terdengar puas, seperti pedagang yang baru saja menutup transaksi terbaik dalam hidupnya. "Selama kita bisa terus menyampaikan hal-hal yang ingin didengar istana, kita tidak perlu lagi repot-repot keluar untuk merampok di laut."

Ia adalah Li Feng, Ketua Klan Cakar Hitam.

Di sampingnya duduk Li Ying Shou, Wakil Ketua, dan Nanggong Ming, Pelindung Agung Klan Cakar Hitam. Tiga pilar utama organisasi gelap yang selama ini beroperasi di kawasan dermaga tersembunyi Kota Beira.

DUAR! DUAR!

Dua ledakan keras mengguncang pintu masuk bangunan itu secara beruntun, membuat debu berjatuhan dari langit-langit ruangan dan cangkir-cangkir minuman di atas meja bergetar keras.

"Mana ketua kalian?! Kalau tidak keluar, akan kuhancurkan sarang kecil ini sampai rata dengan tanah!"

Suara itu keras, tidak sabaran, dan mengandung tekanan aura yang bahkan dari luar pintu sudah terasa menghantam dada, membuat Li Feng mengerutkan kening.

Ia bangkit, berjalan keluar dengan langkah tenang.

Di luar bangunan berdiri seorang lelaki tua berambut putih yang terurai berantakan. Pakaiannya belum sempat dirapikan, wajahnya memerah oleh amarah yang tidak ia repot-repot sembunyikan. Di belakangnya, ombak dari Laut Selatan yang menghantam tebing karang terdengar bersahutan seolah ikut meramaikan kedatangannya.

Li Feng memicingkan matanya.

Lalu bibirnya melengkung membentuk senyum yang tidak sopan.

"Apa yang membuat Patriark Xiao begitu marah hingga sudi bertamu ke markas kami?" tanyanya sambil menatap Xiao Sun dengan tatapan yang terasa seperti meremehkan.

Xiao Sun tidak menjawab dengan kata-kata.

"Aku datang menuntut keadilan untuk cucuku," ucapnya, suaranya rendah namun menghantam seperti gelombang besar yang menghantam tebing. "Kalau bukan karena tangan kalian yang menyampaikan informasi itu ke istana, Xiao Ba tidak akan kehilangan akar spiritualnya."

Li Feng tertawa pendek. "Huu, tampaknya kamu sudah bosan hidup, berani datang sendiri ke sini."

"Apa kamu kira alam Prajurit Surgawi Tingkat 8 milikmu bisa mengalahkan kami semua?" Li Ying Shou yang berdiri tidak jauh dari Li Feng menimpali dengan senyum yang sama meremehkannya.

Xiao Sun menatap mereka sejenak.

Lalu ia mengalirkan Qi dari pusat energinya, membiarkan kekuatan itu mengisi kepalan tangan kanannya hingga cahaya putih berputar menyelimuti setiap jarinya.

"Pukulan Angin Phoenix, Langkah Kedua!"

Ini adalah teknik andalan Keluarga Xiao, teknik pukulan hitam tingkat atas dengan tiga tahap yang masing-masingnya memiliki daya hancur yang berbeda. Tahap kedua yang kini digunakan Xiao Sun mampu menciptakan seribu bayangan tinju yang seluruhnya bergerak mengikuti arah angin, membanjiri target dari berbagai sudut sekaligus.

Tanpa kata pengantar lebih lanjut, Xiao Sun mengarahkan kepalan tangan ke arah Li Feng yang berdiri dua ratus meter di hadapannya.

Seratus bayangan tinju...

Lima ratus...

Tidak, seribu bayangan tinju meluncur bersamaan, terbawa angin laut yang kencang di kawasan dermaga itu, mengarah ke satu target.

Li Feng mengerutkan kening. "Celaka!"

Ia mengalirkan Qi ke tinjunya dan membalas dengan dua pukulan penuh ke depan. Dua tinju raksasa terbentuk dari energi Qi yang terpusat, menghantam ke arah datangnya serangan.

DUAAAAR!

Dua tinju raksasa Li Feng berbenturan dengan gelombang bayangan tinju milik Xiao Sun. Kekuatan yang terkandung dalam dua pukulan Li Feng hanya cukup untuk menghancurkan setengah dari bayangan tinju yang datang. Sisanya, ratusan bayangan tinju yang tersisa, terus melaju tanpa terbendung.

BAM!

Tubuh Li Feng terhempas ke belakang sejauh seratus meter, melayang di udara sebelum akhirnya mendarat keras di tanah berbatu di tepi dermaga. Pertahanan dari energi Qi-nya tidak mampu menahan sisa pukulan yang menembus dari berbagai arah. Ia bangkit dengan susah payah; beberapa bagian tubuhnya terasa remuk dari dalam, luka-luka akibat Pukulan Angin Phoenix merobek pertahanannya.

Di sisinya, Li Ying Shou tidak tinggal diam.

Meskipun levelnya lebih rendah dari Li Feng, ia tidak bisa membiarkan ketuanya dihancurkan di depan matanya tanpa melakukan apa pun. Ia mencabut pedang spiritual tingkat hitam dari punggungnya, mengarahkannya ke Xiao Sun dengan kedua tangan.

"Tebasan Pedang Angin!"

Puluhan garis energi pedang yang tajam meluncur ke arah Xiao Sun, membelah udara dengan suara berdesing yang tajam.

Patriark Keluarga Xiao hanya mendengus.

Ia melancarkan kembali Pukulan Angin Phoenix Langkah Kedua. Seribu bayangan tinju kembali menyapu ke depan, kali ini mengarah ke Li Ying Shou. Energi pedang yang datang bertabrakan dengan gelombang tinju, namun tidak mampu menahannya.

Li Ying Shou terpental ke belakang lebih jauh dari Li Feng, lebih dari dua ratus meter, sebelum tubuhnya berhenti karena terbentur keras ke dinding batu karang di pinggir dermaga. Ia menyemburkan darah kental dari mulutnya; darah bahkan mengalir dari sudut mata dan telinganya.

Dengan tangan gemetar, ia merogoh kantung di pinggangnya dan mengeluarkan sebuah pil spiritual penyembuh kelas satu, lalu menelannya sebelum tubuhnya sempat jatuh sepenuhnya ke tanah.

Di dalam bangunan, puluhan anggota Klan Cakar Hitam yang menyaksikan kejadian itu dari celah-celah dinding mulai panik.

Pemimpin mereka dikalahkan bahkan sebelum pertarungan terasa dimulai!

Xiao Sun berdiri di depan pintu yang kini hancur sebagian, aura Prajurit Surgawi Tingkat 8-nya masih memancar penuh dan tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Rambutnya yang putih berkibar diterpa angin laut yang kencang. Di belakangnya, ombak menghantam tebing karang dengan suara yang menggelegar seolah mendukung amarah sang Patriark.

Wajahnya tidak menampilkan kepuasan atas kemenangan.

Hanya amarah yang dingin dan dalam, amarah seorang kakek yang cucunya telah dilukai, dan kini ia sedang menuntut bayarannya.

Namun sebelum ia sempat melangkah masuk lebih jauh, sebuah bayangan melesat keluar dari dalam bangunan dengan kecepatan yang jauh melampaui Li Feng maupun Li Ying Shou.

Seorang pria botak bertubuh kekar berdiri menghadang Xiao Sun, melepaskan aura yang langsung menekan seluruh kawasan dermaga itu.

Prajurit Surgawi Tingkat Puncak.

Ia adalah Nanggong Ming, Pelindung Agung Klan Cakar Hitam.

"Hanya orang tua alam Prajurit Surgawi Tingkat 8, berani mengganggu Klan Cakar Hitam. Cari mati!" kata Nanggong Ming dengan suara yang terdengar lebih seperti gemuruh dari dalam batu karang daripada suara manusia biasa.

Perbedaan satu tingkat antara Prajurit Surgawi Tingkat 8 dan Prajurit Surgawi Tingkat Puncak mungkin terdengar kecil. Namun dalam kenyataan pertarungan, jarak itu terasa seperti tembok yang tidak bisa ditembus begitu saja.

Xiao Sun menatap Nanggong Ming tanpa mundur.

"Pukulan Angin Phoenix, Langkah Kedua!"

Seribu bayangan tinju kembali meluncur ke arah Nanggong Ming yang berdiri tepat di depan pintu bangunan.

Nanggong Ming tidak bergerak dari tempatnya. Ia melepaskan aura Prajurit Surgawi Tingkat Puncak secara penuh, membiarkannya membentuk lapisan pertahanan yang melingkupi seluruh tubuhnya.

"Tinju Elemen Api!"

Tinju raksasa dari kobaran api muncul dari kepalan tangannya, berbenturan langsung dengan gelombang bayangan tinju milik Xiao Sun.

DUAAR!

Pertemuan dua energi dari alam yang berbeda menghasilkan benturan yang dahsyat. Gelombang ledakan menyapu seluruh kawasan dermaga, memecahkan kaca-kaca gudang di sekitarnya, menumbangkan tiang-tiang penyangga dermaga yang lebih kecil, dan membuat ombak di permukaan laut di dekat mereka seolah terhenti sesaat sebelum kembali bergerak.

Dari balik debu dan asap yang beterbangan, sesosok berpakaian putih terlempar ratusan meter ke belakang.

Xiao Sun.

Ia mendarat di atas batu karang di tepi laut dengan sekujur tubuh yang terasa seperti baru saja dihantam gunung. Aura dari tubuhnya kacau. Ia mencoba bangkit, berhasil, namun kedua lututnya sedikit bergetar.

Li Feng yang sudah berdiri kembali di belakang Nanggong Ming tertawa keras.

"Hahaha! Ajalmu sudah dekat, orang tua! Kamu tadi sangat sombong, ayo maju lagi kalau berani!"

Dari kejauhan, dua bayangan melesat di antara batu-batu karang besar yang tersebar di kawasan dermaga itu.

Penatua Ketiga Xiao Shu dan Penatua Keempat Xiao Lao akhirnya tiba.

Wajah keduanya dipenuhi keringat dari berlari sekencang mungkin. Xiao Shu langsung berdiri di depan Xiao Sun, mengarahkan pandangannya ke Nanggong Ming dengan rahang mengeras.

"Tuan Nanggong," kata Xiao Shu dengan nada yang berusaha terdengar tenang, "mohon lupakan kejadian hari ini. Kami siap memberikan lima juta batu spiritual tingkat rendah sebagai kompensasi."

Nanggong Ming melirik Xiao Shu dengan ekspresi yang tidak berubah.

"Huu, semurah itu harga nyawa Patriark kalian?" Ia melangkah setengah langkah ke depan. "Kalau begitu, mati saja."

Xiao Lao langsung berteriak, "Tujuh juta! Tujuh juta batu spiritual tingkat rendah! Itu sudah menguras hampir seluruh pendapatan keluarga kami!"

Tujuh juta batu spiritual bukan angka kecil. Bahkan untuk keluarga kelas tiga di Kerajaan Ying, angka itu adalah jumlah yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dikumpulkan.

Nanggong Ming berhenti.

Ia menatap dua penatua yang berdiri dengan napas tersengal itu, lalu melirik ke arah Li Feng yang sedang menunggu di belakangnya.

Li Feng mengangguk kecil.

"Beri kami waktu beberapa saat untuk kembali mengambilnya," tambah Xiao Lao, tidak membuang kesempatan.

Nanggong Ming mengangguk sambil tertawa terbahak-bahak. Tawanya bergema di antara dinding-dinding tebing karang di sekitar dermaga tersembunyi itu, lalu ia melesat mundur ke dalam bangunan dengan langkah yang ringan seolah pertarungan tadi hanya pemanasan biasa baginya.

Di luar, puluhan anggota Klan Cakar Hitam yang sedari tadi menyaksikan dari kejauhan mulai berbisik satu sama lain.

"Apanya yang dari keluarga besar. Di depan Pelindung Agung kita, dia seperti ikan yang terlempar ke darat."

Xiao Sun berdiri dalam diam, mendengar semua itu dengan telinga yang menangkap setiap kata. Ekspresinya tidak berubah, namun di dalam matanya ada sesuatu yang menyala lebih panas dari amarah biasa.

Bukan amarah yang akan meledak dalam waktu dekat.

Melainkan amarah yang akan disimpan, dipupuk, dan suatu hari akan meledak pada waktu yang paling tepat.

Di dalam paviliunnya yang jauh dari dermaga itu, Xiao Ba membuka matanya sejenak.

Melalui indra spiritualnya yang kini menjangkau jauh melampaui batas normal untuk levelnya, ia menangkap getaran pertarungan dari arah Tebing Garam di kawasan dermaga tersembunyi.

Sudut bibirnya terangkat tipis.

"Kakek," gumamnya pelan, suaranya hilang ditelan keheningan kamar yang sunyi, "biarkan aku yang menyelesaikan urusan ini dengan tanganku sendiri, pada waktunya." Ia memejamkan matanya kembali.

.

1
sibaweh abduh
nice thor
Dafa Faiha Roshiq: Terima kasih bossku
total 1 replies
Jerry K-el
bagus ceritanya mengalir,tdk bertele-tele.
pertahankan👌
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
Dafa Faiha Roshiq: done yahhh
total 1 replies
Dafa Faiha Roshiq
teman aku butuh penilaian mu
Dafa Faiha Roshiq
Gimana masih ada yang kurang tidak bro
Dafa Faiha Roshiq
gesss harap dibaca dengan hikmat dan kalo ada kesalahan tulis tolong kasih tau ya🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!