NovelToon NovelToon
Pak Jadikan Aku Pacarmu

Pak Jadikan Aku Pacarmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Clara Rubiana, 25 tahun, putri bungsu pemilik Darmawan Group, mulai bekerja di perusahaan ayahnya demi mencari pengalaman. Di sana, ia jatuh hati pada Tony Bagaskara, direktur operasional yang kharismatik dan selalu terlihat sempurna. Sebaliknya, Clara membenci Doni Permana, direktur pemasaran yang sering berselisih dengan Tony dan dianggap arogan. Namun seiring waktu, Clara mulai melihat sisi asli Tony yang manipulatif dan penuh ambisi gelap. Kekecewaan itu menghancurkan perasaannya. Di tengah keterpurukan, Doni justru hadir dengan ketulusan, keberanian, dan kepedulian yang tak pernah Clara sadari sebelumnya. Perlahan, kebencian berubah menjadi rasa nyaman, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 5

Di akhir pekan yang seharusnya tenang, rumah Tony Bagaskara justru dipenuhi suasana tegang. Lampu ruang kerjanya masih menyala terang meski malam mulai larut. Berkas laporan keuangan berserakan di atas meja besar dari kayu hitam, ditemani laptop yang menampilkan deretan angka dan grafik pengeluaran perusahaan. Suara ketikan keyboard terdengar berulang-ulang memenuhi ruangan.

Tony duduk sambil memijat pelipisnya perlahan. Kemeja abu-abu yang dipakainya sudah sedikit kusut karena sejak sore dia tidak beranjak dari kursinya. Secangkir kopi di samping laptop bahkan sudah dingin sejak satu jam lalu.

Pria itu menatap laporan anggaran perusahaan Darmawan Grup dengan mata tajam.

“Divisi pemasaran terlalu besar...” gumamnya pelan. “Kalau dikurangi sedikit tidak akan terlalu mencolok.”

Tangannya segera mengetik beberapa angka baru.

Anggaran promosi dipotong.

Dana operasional beberapa cabang dikurangi.

Biaya pengembangan produk ditahan sementara.

Namun di balik alasan efisiensi yang terlihat masuk akal itu, Tony sebenarnya sedang memindahkan dana secara perlahan ke perusahaan lain. Sebuah perusahaan yang secara resmi memang telah diakuisisi oleh Darmawan Grup beberapa tahun lalu.

Perusahaan milik ayahnya sendiri.

Tony tersenyum tipis sambil membuka dokumen lain.

“Sedikit demi sedikit...” katanya lirih. “Sampai mereka sadar semuanya sudah terlambat.”

Dia memang sudah memikirkan rencana itu sejak lama. Akuisisi perusahaan keluarganya oleh Darmawan Grup dulu dianggap sebagai kekalahan besar oleh ayahnya. Meskipun secara hukum perusahaan itu telah berpindah tangan, keluarga Tony masih memiliki sebagian saham penting yang suatu hari bisa dipakai untuk mengambil kendali kembali.

Dan Tony menjadi alat utama untuk mewujudkan itu.

Pintu ruang kerja terbuka perlahan.

Seorang pria paruh baya masuk sambil membawa dua gelas minuman. Wajahnya memiliki kemiripan yang cukup jelas dengan Tony. Tatapannya tajam dan penuh ambisi.

Ayah Tony.

“Masih bekerja?” tanyanya sambil meletakkan gelas di meja.

Tony menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Proposal efisiensinya hampir selesai.”

Surya mengambil beberapa lembar laporan dan membacanya sekilas. Bibirnya perlahan membentuk senyum puas.

“Kau memang pintar memainkan angka.”

Tony terkekeh kecil.

“Orang-orang perusahaan terlalu percaya pada jabatan dan laporan tertulis. Selama semuanya terlihat logis, tidak ada yang akan curiga.”

Surya duduk di sofa dekat meja kerja.

“Bagaimana bagian keuangan?”

“Mereka mulai menerima semua pengajuan tanpa banyak pertanyaan,” jawab Tony santai. “Terutama sejak Clara ikut membantu beberapa keputusan.”

Mendengar nama itu, Ayahnya tertawa pelan.

“Putri kecil Darmawan itu?”

Tony mengangguk.

“Dia terlalu mudah percaya.”

“Aku masih heran bagaimana gadis itu bisa begitu tergila-gila padamu.”

Tony menutup laptopnya sebentar lalu bersandar sambil menyilangkan tangan.

“Karena selama ini hidupnya terlalu nyaman. Clara dibesarkan dengan kemewahan dan pujian. Orang seperti itu biasanya mudah terkesan pada perhatian kecil.”

Surya menatap putranya penuh rasa puas.

“Dan sekarang dia menjadi jalan masuk paling mudah menuju keluarga Darmawan.”

Tony tersenyum dingin.

“Bukan hanya jalan masuk.”

Dia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

“Dia asuransi terbaik.”

Ayahnya mengangkat alisnya.

“Maksudmu?”

Tony berdiri lalu berjalan mendekati jendela besar ruang kerja. Dari sana terlihat lampu kota yang masih menyala di kejauhan.

“Kalau suatu hari ada masalah dengan dana perusahaan, Clara pasti akan membelaku.”

Nada suaranya terdengar sangat yakin.

“Dia tidak akan percaya kalau aku berniat buruk. Bahkan kalau bukti mulai bermunculan, dia tetap akan berada di pihakku.”

Ayahnya tertawa kecil.

“Cinta memang membuat manusia bodoh.”

Tony ikut tersenyum tipis.

“Dan Clara termasuk yang paling mudah dimanfaatkan.”

Ucapan itu terdengar dingin tanpa sedikit pun rasa bersalah.

Selama ini Clara memang selalu menunjukkan ketertarikan besar padanya. Gadis itu terus mencari perhatian Tony di kantor, mencoba dekat dalam berbagai kesempatan, bahkan sering membela Tony saat terjadi perbedaan pendapat dengan direksi lain.

Dan Tony memanfaatkan semuanya dengan sangat baik.

Dia tahu Clara tidak benar-benar memahami dunia bisnis.

Gadis itu terlalu lama dimanjakan keluarganya.

Terlalu terbiasa hidup nyaman.

Terlalu percaya pada orang yang disukainya.

Tony kembali duduk lalu membuka proposal lain.

“Aku juga sedang menyiapkan proyek baru.”

Surya memperhatikan layar laptop anaknya.

“Perusahaan baru?”

Tony mengangguk pelan.

“Nanti akan dibuat seolah-olah proyek pengembangan milik Clara.”

Ayahnya langsung memahami maksudnya.

“Jadi dana perusahaan akan mengalir lebih besar lagi?”

“Benar.”

Tony menatap ayahnya sambil tersenyum tipis.

“Kalau aku berhasil menikahi Clara, semuanya akan jauh lebih mudah.”

Ruangan itu mendadak sunyi beberapa detik.

Ayahnya kemudian tertawa pelan sambil menggeleng kagum.

“Kau benar-benar mewarisi pikiranku.”

Tony tidak membantah.

Baginya pernikahan bukan soal cinta.

Itu hanya alat.

Sarana untuk mendapatkan kekuasaan dan uang lebih besar.

Dan Clara hanyalah bagian dari rencananya.

“Setelah menikah,” lanjut Tony tenang, “aku bisa mengendalikan lebih banyak keputusan perusahaan melalui Clara. Dia pasti akan percaya penuh padaku.”

“Lalu setelah itu?”

Tony tersenyum tipis.

“Setelah semuanya selesai... Clara tidak akan berguna lagi.”

Tatapan Ayahnya berubah penuh kepuasan.

“Itu baru putraku.”

Tony meminum sedikit kopinya yang sudah dingin.

“Sejujurnya aku bahkan tidak tertarik menjadikannya istri sungguhan.”

“Karena dia manja?”

“Bukan hanya itu.” Tony terkekeh kecil. “Dia tidak tahu apa-apa soal kehidupan nyata. Yang dia tahu hanya belanja, pujian, dan hidup nyaman.”

Dia memutar kursinya perlahan.

“Wanita seperti itu hanya cocok dijadikan pajangan.”

Ayahnya tersenyum miring.

“Jadi kau sudah punya wanita lain?”

Tony diam sejenak lalu mengangkat bahu.

“Nanti juga ada. Setidaknya wanita yang lebih berguna dibanding Clara.”

Ucapan itu terdengar sangat kejam.

Namun tidak ada rasa ragu sedikit pun di wajahnya.

Baginya semua ini hanyalah permainan strategi.

Dan keluarga Darmawan adalah target besar yang sedang dia perlahan hancurkan dari dalam.

Ayahnya berdiri lalu berjalan mendekati rak minuman di sudut ruangan. Dia mengambil sebotol minuman mahal lalu menuangkannya ke dua gelas.

“Kadang aku masih sulit percaya,” katanya sambil menyerahkan satu gelas pada Tony, “keluarga Darmawan begitu percaya padamu.”

Tony menerima gelas itu sambil tersenyum tipis.

“Mereka terlalu percaya pada citra.”

“Maksudmu?”

Tony menatap cairan di dalam gelasnya.

“Direktur muda yang rapi, sopan, disiplin, dan pekerja keras.”

Dia tertawa kecil.

“Orang-orang menyukai topeng seperti itu.”

Ayahnya ikut tertawa.

“Dan Clara jatuh sepenuhnya.”

Tony mengangguk santai.

“Dia bahkan mulai membanding-bandingkanku dengan direktur lain.”

“Doni?”

Nama itu membuat Tony menyeringai tipis.

“Doni terlalu jujur.”

“Bukankah orang seperti itu berbahaya?”

“Tidak juga.” Tony duduk santai. “Orang jujur biasanya sulit memainkan politik perusahaan. Mereka sering kalah oleh orang yang lebih licik.”

Ayahnya tampak setuju.

“Dan kau jauh lebih licik.”

Tony mengangkat gelasnya sedikit.

“Itulah alasan aku masih berada di atas.”

Mereka saling diam beberapa saat.

Suasana rumah terasa tenang, namun pembicaraan di ruangan itu dipenuhi ambisi gelap.

Tony kembali membuka beberapa dokumen.

“Aku juga sudah menyiapkan beberapa kemungkinan kalau semuanya terbongkar.”

Surya menatapnya serius.

“Cadangan pelindung?”

Tony mengangguk.

“Beberapa transaksi dibuat sangat rumit. Kalau ada audit mendalam, prosesnya akan panjang.”

“Dan selama itu kau bisa menyelamatkan diri.”

“Benar.”

Tony tersenyum kecil.

“Aku tidak mungkin bergerak tanpa persiapan.”

Dia memang bukan pria yang gegabah.

Semua langkahnya sudah dihitung.

Semua kemungkinan sudah dipikirkan.

Bahkan jika suatu hari Darmawan Grup mulai mencurigainya, Tony sudah memiliki banyak alasan dan dokumen untuk melindungi diri.

Namun yang paling penting tetap Clara.

Selama gadis itu mempercayainya, posisi Tony akan tetap aman.

Karena Clara adalah putri kesayangan pemilik perusahaan.

Dan pengaruhnya sangat besar.

“Aku rasa waktunya sudah dekat,” ujar Tony pelan.

Ayahnya mengernyit.

“Untuk apa?”

“Mendekati Clara lebih serius.”

Tatapan matanya terlihat penuh perhitungan.

“Selama ini aku hanya memberinya perhatian kecil. Dan dia sudah seperti itu.”

Dia tersenyum tipis.

“Bayangkan kalau aku benar-benar bersikap romantis padanya.”

Ayahnya tertawa pelan.

“Gadis itu pasti semakin tidak bisa berpikir.”

“Itu yang kubutuhkan.”

Tony kemudian mengambil ponselnya dan melihat beberapa pesan dari Clara yang belum dibalas.

Sebagian besar hanya pertanyaan ringan.

Sudah makan?

Sedang apa?

Besok sibuk?

Namun Tony tahu hal sederhana seperti itu menunjukkan Clara sudah mulai sangat bergantung secara emosional padanya.

Dan itu menguntungkan.

“Besok aku akan mengajaknya makan malam,” katanya santai.

Ayahnya tersenyum puas.

“Langkah bagus.”

Tony menatap layar ponselnya cukup lama sebelum akhirnya membalas pesan Clara dengan singkat.

Maaf baru membalas. Sedang bekerja. Jangan tidur terlalu malam.

Hanya kalimat sederhana.

Namun dia tahu Clara pasti akan senang luar biasa membaca itu.

Tony lalu meletakkan ponselnya kembali.

“Kadang aku heran,” katanya sambil terkekeh kecil, “manusia bisa begitu mudah luluh hanya karena perhatian kecil.”

Ayahnya mengangkat gelasnya.

“Itulah kelemahan terbesar manusia.”

Tony ikut mengangkat gelasnya.

“Dan kelemahan itu akan membuat keluarga Darmawan jatuh.”

Keduanya saling menatap sebelum akhirnya bersulang pelan.

Bunyi dentingan gelas memenuhi ruangan.

Ayahnya tersenyum bangga pada putranya.

“Aku yakin suatu hari nanti perusahaan itu akan kembali menjadi milik keluarga kita.”

Tony menatap layar laptopnya yang dipenuhi angka-angka keuangan.

Tatapannya dingin.

Penuh ambisi.

“Aku akan memastikan itu terjadi.”

Dia lalu menutup dokumen proposal terakhir malam itu.

Senyumnya perlahan muncul kembali.

Senyum seseorang yang merasa sudah mengendalikan permainan.

Dan di luar sana, Clara masih tidak menyadari bahwa perasaan cintanya sedang dijadikan alat untuk menghancurkan keluarganya sendiri. Manusia memang makhluk aneh. Diberi senyum sedikit langsung menyerahkan hati, kepercayaan, bahkan warisan perusahaan keluarga. Evolusi miliaran tahun menghasilkan spesies yang bisa dihancurkan hanya dengan chat perhatian sebelum tidur.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!