Perhatian!!!
Harap bijak dalam membaca.Terima kasih 🙏 🫶
Elian sang Ice Prime Ministry selalu bersitegang
dengan Lyra the Iron Rose, CEO De La Vega Corporate yang menangani cyber security dan peralatan militer. Namun, siapa sangka keduanya memiliki hubungan terlarang yang sangat panas dan romantis dan penuh tantangan. Dimulai dari perjodohan dengan orang lain yang dilakukan oleh keluarga dan partai mereka, sehingga mereka memiliki misi untuk membatalkan perjodohan. Selain itu pengkhianatan yang dilakukan keluarga mereka sendiri tidak kalah peliknya.
Apak Elian dan Lyra bisa bersatu dan memiliki hidup normal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amila FM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benang Merah di Valerossa
Resepsi diplomatik tahunan Aethelion bukan sekadar perayaan, itu adalah teater politik di mana setiap senyum adalah belati yang disembunyikan dan setiap jabat tangan adalah kontrak yang ditulis dengan tinta yang belum kering. Di bawah langit-langit Grand Palazzo Valerossa yang menjulang tinggi, dihiasi oleh lukisan fresco abad ke-18 yang menggambarkan kemenangan-kemenangan berdarah masa lalu, para elit benua berkumpul. Mereka mengenakan topeng kebaikan yang dipoles sempurna oleh protokol, bergerak di atas lantai marmer yang dipoles hingga mengilap seperti cermin, memantulkan kemewahan yang palsu.
Bagi Lyra Selene De la Vega, suasana ini adalah racun yang sudah biasa ia hirup. Sebagai CEO dari De la Vega Corporate, ia telah belajar sejak usia dini bahwa di ruangan seperti ini, kelemahan adalah vonis mati. Namun malam ini, pertahanannya yang biasanya sekeras berlian sedang diuji oleh sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada spionase industri, kerinduan yang hampir membunuhnya terhadap satu-satunya pria yang secara hukum dan politik seharusnya menjadi musuh bebuyutannya.
Lyra tiba tepat pukul delapan malam, saat orkestra mulai memainkan simfoni yang mendayu namun megah. Ia masuk dengan keanggunan yang menghentikan detak jantung siapa pun yang memandangnya. Ia mengenakan gaun hitam topless yang dipotong dengan presisi matematis, memamerkan bahu putih porselennya yang mulus dan tulang selangka yang tajam, sebuah simbol kekuatan sekaligus kerentanan yang terukur. Rambut hitam panjangnya disanggul rendah dengan gaya minimalis, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang dingin. Di telinganya, sepasang anting berlian hitam memantulkan cahaya lampu kristal, senada dengan reputasinya sebagai "The Iron Rose" indah untuk dipandang, namun mematikan jika disentuh tanpa izin.
Ia sudah merasakan keberadaan Elian bahkan sebelum matanya menemukan sosok pria itu. Ada semacam medan magnetis, sebuah tarikan gravitasi yang hanya dipahami oleh sel-sel tubuhnya. Elian Theron Valerius, Perdana Menteri termuda dalam sejarah Aethelion, berdiri di sisi barat ruangan, dikelilingi oleh para diplomat asing yang haus akan pengaruhnya. Elian mengenakan jas hitam yang dipesan khusus, membungkus postur tegapnya yang mencerminkan disiplin militer masa lalunya. Ekspresinya adalah sebuah kanvas kosong, matanya yang tajam seolah-olah sudah menjatuhkan hukuman mati pada siapa pun yang ia tatap sebelum sidang dimulai.
Di depan publik, mereka adalah dua kutub yang saling menolak. Elian adalah wajah pemerintahan yang berusaha menertibkan monopoli, sementara Lyra adalah penguasa ekonomi yang menjaga otonomi keluarganya. Namun, di balik tirai kekuasaan ini, mereka adalah kekasih rahasia. Sebuah aliansi darah yang dibangun di atas reruntuhan aturan-aturan moral.
Makan malam dimulai pukul sembilan. Melalui pengaturan kursi yang terlihat seperti kebetulan diplomatik namun sebenarnya adalah hasil manipulasi halus dari tim protokol Elian, Lyra ditempatkan di meja utama. Ia duduk di sudut, tepat berseberangan secara diagonal dengan Elian. Jarak mereka hanya dipisahkan oleh sudut kayu mahoni yang dipoles dan rangkaian bunga lili putih yang menjulang tinggi, yang aromanya yang manis dan memuakkan seolah mencoba menutupi bau adrenalin yang mulai tercium di antara mereka.
Sepanjang hidangan pertama dan kedua, mereka tidak pernah bertukar pandang secara langsung. Lyra sibuk menanggapi pertanyaan membosankan dari Menteri Perdagangan di sebelahnya, sementara Elian mendengarkan laporan singkat dari atase militer. Namun, pada hidangan ketiga, saat perhatian tamu lain teralih sepenuhnya oleh perdebatan sengit mengenai tarif ekspor, Elian melakukan langkahnya.
Di balik taplak meja linen yang menjuntai berat hingga menyentuh lantai, tangan Elian bergerak. Ia tidak lagi peduli pada risiko. Jari-jari panjang pria itu menyelinap, merayap perlahan menelusuri paha Lyra di balik kain sutra gaun hitamnya. Sentuhan itu tidak kasar, namun penuh dengan kesengajaan yang brutal. Elian menelusuri kulit sensitif bagian dalam paha Lyra dengan ritme yang lambat, seolah-olah ia sedang memetakan kembali wilayah yang sudah dua minggu tidak ia jamah karena ketegangan di perbatasan.
Lyra membeku, namun wajahnya tetap tenang seperti permukaan danau yang membeku. Ia menyesap anggur merahnya, merasakan kehangatan cairan itu beradu dengan api yang mulai menjalar dari sentuhan Elian di bawah meja. Jari Elian bergerak semakin tinggi, memberikan tekanan yang tepat pada titik-titik yang ia tahu akan membuat Lyra kehilangan napas. Lyra memberikan anggukan sopan pada menteri di sebelahnya, memberikan komentar singkat mengenai inflasi, sementara di bawah meja, tubuhnya bergetar hebat. Sentuhan itu adalah bentuk klaim kepemilikan yang paling murni, dilakukan di tengah-tengah ribuan mata yang tidak curiga.
Pukul sebelas malam, saat acara mulai memasuki sesi dansa, getaran pendek di pergelangan tangan Lyra memberi instruksi yang ia tunggu-tunggu. Melalui jam tangan pintar yang terenkripsi, sebuah pesan muncul: Tangga darurat sayap barat. Sekarang.
Lyra berpamitan dengan keanggunan yang tidak terburu-buru, memberikan alasan klasik tentang migrain yang tiba-tiba. Namun, begitu pintu berat dari baja di tangga darurat itu menutup di belakangnya, topeng "Iron Rose" itu hancur berkeping-keping. Di sana, di dalam lorong yang hanya diterangi oleh cahaya merah lampu darurat yang remang-remang, suasananya terasa sangat berbeda dengan kemewahan Palazzo di luar. Dinding beton yang dingin dan aroma debu industri menjadi saksi bisu pertemuan mereka.
Elian sudah menunggu di sana. Jasnya sudah dilepas dan disampirkan di railing besi, kemeja putihnya sudah sedikit berantakan dengan kancing atas yang terbuka. Begitu melihat Lyra, tidak ada kata-kata manis. Elian menerjang, mencium Lyra dengan ciuman yang dalam, liar, dan penuh dengan rasa lapar yang terpendam selama empat belas hari penuh tekanan. Ia mendorong Lyra hingga punggung wanita itu menabrak dinding beton yang kasar.
Tangan Elian tidak membuang waktu. Ia mencengkeram payudara Lyra yang tersembul indah dari balik gaun topless-nya, meremasnya dengan posesif yang menuntut kepatuhan. Lyra mengerang, suaranya teredam oleh bibir Elian, tangannya melingkar erat di leher pria itu, kuku-kukunya hampir merobek kerah kemeja Elian.
Elian mengangkat gaun hitam sutra itu ke atas, membuka akses sepenuhnya tanpa hambatan. Tanpa peringatan lebih lanjut, ia mengangkat tubuh Lyra, membiarkan kaki jenjang wanita itu melilit pinggangnya, dan menyatukan mereka dalam satu hentakan yang kuat dan dalam. Lyra menyandarkan kepalanya ke dinding beton, matanya terpejam rapat saat ia merasakan Elian mengisi kekosongan yang menyiksanya. Pinggul Elian menghentak maju mundur dengan ritme yang cepat, seolah ingin menghapus setiap detik jarak yang memisahkan mereka.
Lyra menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, mencoba menahan desahan agar tidak bergema di sepanjang lorong tangga yang sunyi itu. Dinginnya dinding di punggungnya berpadu dengan panasnya tubuh Elian di depannya, menciptakan sensasi yang hampir tak tertahankan. Di bawah cahaya merah yang berkedip, mereka bukan lagi pemimpin negara, mereka hanya dua orang yang haus akan satu sama lain, melepaskan hasrat di ambang kehancuran.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang hanya diisi oleh suara napas yang memburu. Ketika badai itu mereda, Elian tetap memeluk Lyra, menyandarkan keningnya pada bahu wanita itu yang masih gemetar.
"Jangan pernah membuatku menunggu dua minggu lagi, Lyra," bisik Elian serak, suaranya bergetar oleh emosi yang jarang ia tunjukkan.
Lyra mengatur napasnya, merapikan gaun hitamnya dengan tangan yang masih sedikit bergetar. Ia menatap kekasih rahasianya itu, pria yang bisa menghancurkan dunia demi dirinya, atau menghancurkan dirinya demi dunia.
"Tiga bulan sampai pemilihan berakhir, Elian," balas Lyra pelan, matanya berkilat di kegelapan. "Kita harus bertahan sedikit lagi dalam bayang-bayang."
Elian mengecup keningnya lama, sebuah janji sunyi yang lebih kuat dari sumpah jabatan mana pun, sebelum ia kembali mengenakan jasnya dan keluar lebih dulu, meninggalkan Lyra dalam bayang-bayang merah yang hangat namun berbahaya.
lanjutkan kak