NovelToon NovelToon
"The Chaebol'S Display Wife"

"The Chaebol'S Display Wife"

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: nia nuraeni

​Cerita ini berpusat pada seorang wanita yang terjebak dalam pernikahan kontrak atau "pernikahan pajangan" dengan pewaris takhta perusahaan besar (Chaebol). Peran utamanya adalah menjadi pendamping sempurna di acara publik, namun di balik layar, hubungan mereka mungkin dingin atau penuh benci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Sisa-Sisa Kepedulian yang Hambar

​Bau antiseptik yang tajam perlahan menusuk indra penciuman Vanya. Matanya yang terasa berat perlahan terbuka, disambut oleh cahaya lampu rumah sakit yang menyilaukan. Kepalanya terasa berdenyut hebat, seolah ada ribuan jarum yang menusuk bagian belakang kepalanya secara bersamaan.

​Vanya mengedipkan mata berkali-kali, mencoba menjernihkan pandangannya. Hal pertama yang ia cari adalah sosok suaminya. Di dalam hati kecilnya yang paling dalam, ia masih menyimpan harapan tipis—mungkin, setelah ia mempertaruhkan nyawanya untuk melindunginya, Devan akan ada di sana. Menungguinya dengan rasa bersalah atau setidaknya sedikit rasa terima kasih.

​Namun, kursi di samping ranjangnya kosong.

​"Nona? Nona Vanya sudah sadar?"

​Suara itu milik Sesilia. Sekretarisnya itu langsung berdiri dari kursinya, wajahnya tampak sembab karena terlalu banyak menangis. Ia segera menekan tombol panggilan untuk perawat.

​Vanya mencoba menggerakkan bibirnya yang kering. "Devan... di mana?"

​Sesilia terdiam sejenak. Ia menunduk, tidak berani menatap mata nonanya. "Tuan Devan tadi sempat ke sini, Nona. Tapi..."

​"Tapi apa?"

​"Beliau hanya datang sebentar untuk memastikan Nona tidak meninggal. Setelah dokter bilang keadaan Nona stabil, Tuan Devan pergi lagi. Katanya ada urusan mendesak yang tidak bisa ditinggalkan," Sesilia menjelaskan dengan suara lirih.

​Vanya membuang muka ke arah jendela. Urusan mendesak. Ia tahu betul apa artinya itu. Devan hanya merasa kasihan—kasihan seperti melihat seekor hewan terluka di pinggir jalan, lalu setelah memastikan hewan itu masih bernapas, ia melanjutkan perjalanannya tanpa beban. Perasaan "ya sudahlah" dari Devan terasa jauh lebih menyakitkan daripada hantaman vas bunga itu sendiri.

​"Sudah kubilang, jangan terlalu berharap pada pria yang hatinya sudah mati," suara berat itu muncul dari arah sudut ruangan.

​Vanya menoleh dan mendapati Bara sedang berdiri bersandar di dinding dekat pintu. Pria itu masih mengenakan kemeja yang sama dengan yang ia pakai tadi siang—kemeja yang kini memiliki noda darah kering milik Vanya di bagian lengannya.

​"Bara... kau masih di sini?" bisik Vanya.

​Bara berjalan mendekat, menatap Vanya dengan tatapan yang datar namun tidak beranjak. "Seseorang harus tetap di sini untuk memastikan tagihan rumah sakitnya dibayar dan sekretarismu pingsan karena ketakutan."

​Bara menarik kursi yang tadi dikosongkan Devan dan duduk di sana. Ia memperhatikan perban yang melingkar di kepala Vanya. "Kau bodoh, Vanya Benjamin. Melindungi pria yang bahkan tidak sudi melihatmu saat kau sekarat. Kau hampir mati demi pria yang sekarang mungkin sedang tertawa di apartemen wanita lain."

​Vanya memejamkan mata, membiarkan satu tetes air mata lolos di sudut matanya. "Aku tidak melakukannya untuknya. Hanya aku mencoba berguna saja.

​"Kebohongan yang sangat indah," sahut Bara dingin. "Tapi di mataku, kau hanya sedang mencoba membeli cinta dengan nyawamu. Dan kabar buruknya, harga Devan tidak semurah itu."

​Suasana ruangan menjadi hening. Sesilia keluar sebentar untuk berbicara dengan dokter, meninggalkan Vanya dan Bara dalam kesunyian yang mencekam.

​"Keluargamu akan datang besok pagi," ucap Bara kemudian. "Ayahmu sedang sibuk menekan pamanku agar memberikan kompensasi saham atas kejadian ini. Tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar menanyakan kabarmu. Mereka hanya menanyakan 'berapa jahitan' yang kau terima agar mereka bisa menghitung berapa keuntungan yang bisa mereka tuntut."

​Vanya tertawa kecil, tawa yang terdengar getir. "Dunia ini memang sangat indah, bukan?"

​Bara terdiam, matanya menatap lekat ke arah Vanya. Ia melihat kerapuhan di balik wajah cantik itu, namun ia juga melihat ketegaran yang mulai mengeras.

​"Mulai sekarang, belajarlah untuk egois, Vanya," ucap Bara pelan, hampir seperti bisikan. "Karena jika kau tidak menjaga dirimu sendiri, tidak ada orang lain di keluarga Jacob—termasuk suamimu—yang akan melakukannya untukmu."

​Vanya menatap langit-langit kamar rumah sakit. Di malam yang dingin itu, ia akhirnya menyadari sepenuhnya: ia benar-benar sendirian di tengah kemegahan keluarga Jacob. Dan satu-satunya orang yang bersedia menemaninya di saat tersulit justru adalah pria yang dianggap sebagai "orang asing" di keluarganya sendiri.

​Harapan tentang pernikahan yang normal telah mati malam itu, terkubur bersama pecahnya vas bunga di lantai mansion. Yang tersisa kini hanyalah Vanya yang baru—istri pajangan yang mulai menyadari bahwa ia punya duri untuk melindungi dirinya sendiri

​Dua hari setelah pernikahan yang seharusnya menjadi penyatuan dua dinasti terbesar, jagat maya justru diguncang oleh skandal yang jauh lebih panas. Foto-foto Bara yang menggendong Vanya dengan kemeja bersimbah darah, hingga keberadaannya yang setia menunggu di rumah sakit saat Devan menghilang, menjadi santapan empuk media. Judul berita utama terpampang nyata: “Cinta Segitiga di Menara Jacob, Istri tuan muda atau Kekasih Simpanan Sang Sepupu?”

​Di kediaman Jacob, Olivia meradang. Ia membanting tabletnya ke atas meja marmer. "Davit! Kau lihat ini? Nama baik kita hancur! Bagaimana bisa menantu Jacob digosipkan dengan anak dari kakakmu sendiri?"

​Davit Jacob hanya bisa menggeram. Ia tahu jika skandal ini tidak segera dipadamkan, saham Jacob Group akan terjun bebas. "Cepat panggil Devan! Suruh dia ke rumah sakit sekarang. Dia harus terlihat seperti suami yang perhatian, meskipun itu hanya di depan kamera!"

​Satu jam kemudian, sebuah sedan hitam mewah berhenti di depan lobi rumah sakit. Puluhan wartawan langsung mengerubungi mobil tersebut. Devan keluar dengan wajah yang datar, mengenakan kacamata hitam untuk menutupi rasa muaknya. Tangannya memegang sebuket bunga lili besar—bukan karena romantis, tapi karena Kenzi yang menyiapkannya untuk kepentingan publikasi.

​Devan berjalan melewati kerumunan tanpa suara, menaiki lift menuju lantai VVIP. Begitu langkahnya sampai di depan kamar nomor 01, ia membanting pintu itu terbuka.

​Brak!

​Vanya yang sedang bersandar di ranjang terlonjak kaget. Devan berjalan mendekat, lalu dengan gerakan kasar, ia melempar buket bunga itu ke atas tempat tidur, tepat di kaki Vanya.

​"Jangan banyak tanya. Aku kemari hanya karena disuruh Ayah agar skandal murahanmu dengan Bara segera reda," ucap Devan dengan nada bicara yang penuh penghinaan.

​Ia menarik kursi, duduk jauh di sudut ruangan, seolah ada tembok besar yang membatasi mereka berdua. Devan langsung mengeluarkan ponselnya, mengabaikan keberadaan istrinya yang masih pucat. "Lima belas menit. Setelah itu aku pergi. Jangan coba-coba bicara padaku."

​Vanya hanya menatap bunga yang berserakan di kakinya. Bunga itu indah, tapi aromanya terasa seperti bangkai—mengingatkannya pada kepalsuan pernikahan ini. "Terima kasih sudah datang, Devan. Meski hanya untuk formalitas," bisik Vanya pahit.

​Devan tidak menjawab. Ia sibuk mengetik pesan, kemungkinan besar sedang menenangkan Viona yang mungkin sedang merajuk karena ia harus menemui "istri sah"-nya.

​Keheningan yang mencekam itu pecah saat pintu kamar kembali terbuka. Bara masuk dengan langkah tenang, membawa kantong bubur hangat yang aromanya sangat menggoda. Ia tidak terkejut melihat Devan di sana ia justru menatap sepupunya itu dengan tatapan meremehkan.

​"Kau jadi pesuruh rupanya, Bara?" sindir Devan tanpa mendongak dari ponselnya. "Membawakan makanan untuk istri orang lain? Tidak punya harga diri?"

​Bara meletakkan bubur itu di meja Vanya, lalu membantu Vanya duduk lebih tegak dengan sangat lembut, sama sekali tidak memedulikan tatapan tajam Devan.

​"Lebih baik jadi pesuruh yang berguna daripada jadi suami yang hanya ada saat kamera menyala," sahut Bara tenang namun menusuk. "Vanya harus makan makanan yang benar, bukan sekadar melihat bunga darimu yang bahkan tidak tulus."

​Devan berdiri, matanya berkilat marah. "Jaga batasanmu, Bara. Dia istriku."

​"Secara hukum, iya," Bara berbalik, menantang mata Devan. "Tapi secara perlindungan? Kau bahkan membiarkannya berdarah di lantai rumahmu sendiri. Jika kau tidak ingin orang lain mengambil alih tugasmu, maka jadilah pria yang nyata, bukan pecundang yang bersembunyi di balik ponsel."

​Vanya hanya bisa terdiam di tengah ketegangan dua pria Jacob tersebut. Di ruangan VVIP itu, ia menyadari bahwa badai yang sebenarnya baru saja dimulai. Satu pria membencinya karena terpaksa, dan pria lainnya melindunginya karena alasan yang masih menjadi misteri.

1
Dian Fitriana
update
Mudahlia Fitha
kok merinding ya
Mudahlia Fitha
😭😭😭🤧🤧kok sedih papa kyak menyimpan luka
Mudahlia Fitha
jgn mau ...biar aja mereka bangkrut
Mudahlia Fitha
hih kok pngen nonjok keluarga GK tau malu itu
Mudahlia Fitha
mantap saat nya bangkit van .kau bukan sampah ..
Mudahlia Fitha
kya harta namun miskin kebahagiaan buat apa coba
Mudahlia Fitha
kok Mlah AQ yg greget ah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!