Oma frustasi memikirkan di dunia yang sudah berusia 33 tahun, mapan dalam pekerjaan tetapi tidak kunjung menikah. Melihat sekretaris Emir yang memiliki kepribadian yang baik membuat Oma kepikiran untuk menjodohkan mereka.
Sudah pasti Emir menolak, Oma melakukan berbagai hal sampai akhirnya Emir dengan Ayana pilihan Oma bersatu dalam jeratan pernikahan.
Bagaimana keduanya menjalani pernikahan dan hubungan pekerjaan yang cukup dekat?
Apakah pada akhirnya keduanya sama-sama memiliki perasaan atau justru pernikahan mereka tidak ada bedanya dan hanya sebatas pekerjaan saja.
Mari untuk membaca Novel Saya dari bab 1 sampai akhir, dan terus ikuti jawabannya di setiap bab.
Terimakasih....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35 Jebakan
Kamar hotel tempat Ayana dan Emir terasa begitu sepi, lampu tidak terlalu terang, Ayana benar-benar hanya beristirahat di atas ranjang. 2 jam sebelumnya Emir sudah pergi untuk mengadakan acara perayaan perpisahan dengan rekan-rekan bisnisnya
Ayana tertidur di malam penuh dengan keheningan, gadis cantik itu tidak lupa selalu menempelkan pashmina di kepalanya, tetapi kali ini tidak terlalu diberi peniti karena mungkin terlalu lelah dan hanya dipakaikan saja untuk menutupi rambutnya.
Sementara Emir sudah berada di acara perayaan tersebut, seperti biasa pesta-pesta party orang-orang bule, orang-orang yang menghadiri acara perpisahan itu bukan hanya ditemani sekretaris mereka, tetapi terlihat juga ada yang membawa pasangan.
Ruangan VVIP dengan lampu kelap-kelip yang ditata rapi di langit-langit ruangan tersebut, terdapat beberapa meja di sudut dan di atasnya terlihat bunga yang diberi pot.
Di bagian kiri tersusun meja panjang dipenuhi dengan makanan dan minuman, tidak lupa diberi hiasan bunga pot dengan posisi berjarak diantara makanan tersebut.
Beberapa pelayan mengenakan seragam pakaian hitam bolak-balik mengantarkan minuman dan melayani para tamu yang ada di sana, acara party itu benar-benar sangat mewah dan Emir hanya menyapa orang-orang yang ada di sana sekadar bersalaman dan berbicara seperlunya saja.
Emir tampak berbicara berhadapan dengan seorang pria yang menawarkan minuman beralkohol kepadanya, dengan Emir menolak tanpa menyinggung orang tersebut. Emir pria berwibawa dan menolak dengan cara baik bukanlah hal yang sulit baginya.
Keduanya terlihat mengobrol ringan sembari senyum-senyum.
"Tuan Emir!" Emir membalikkan tubuhnya ketika seseorang menyapanya.
"Tuan Andhika!" Emir menyapa kembali dengan tersenyum.
Pria yang tadi berbicara dengan Emir juga berjabat tangan dengan Andhika dan kemudian berpamitan untuk pergi.
"Saya tidak melihat Ayana? Apakah dia tidak ikut?" tanya Andhika.
"Benar! sekretaris saya sedang beristirahat dan lagi pula ini hanya sekedar perpisahan saja," jawab Emir.
"Apakah Ayana baik-baik saja?" tanya Andhika.
"Tidak ada masalah Tuan Andhika. Ayana baik-baik saja," jawab Emir.
"Begitu perhatian sekali, apa dia sedang meminta informasi kepadaku Tentang mengenai Ayana?" batin Emir.
"Jadi wanita sombongnya tapi dia ikut, baiklah sepertinya hilal rencanaku sudah mulai terlihat," batin Lastri memiliki rencana lain.
"Hmmm, pak Andhika sebaiknya duduk saja bersama dengan Tuan Emir. Saya akan mengambilkan minum dulu," ucap Lastri.
"Tidak perlu Lastri, saya bisa mengambil sendiri," sahut Emir.
"Tidak. Apa-apa. Tuan, hanya mengambil minum saja, tangan saya juga bisa memegang 2 gelas .... saya ambil sebentar," ucap Ayana dengan tersenyum dan kemudian langsung pergi.
Andhika menawarkan Emir untuk duduk. Emir akhirnya mau saja daripada dipikir sombong, Mereka terlihat duduk berhadapan dan hanya mengobrol tentang membicarakan masalah bisnis saja.
Sementara Lastri saat ini berada di samping meja yang dipenuhi dengan gelas minuman. Mata Lastri melihat ke arah Emir yang tampak fokus berbicara dengan Andhika. Lastri tersenyum penuh rencana dan membuka tasnya mengambil gulungan kertas di dalam tas tersebut.
Salah satu minuman itu dia taburkan berupa serbuk yang berada di dalam kertas itu. Lastri mengangkat gelas tersebut dan menggoyang-goyangkannya untuk mengaduk agar serbuk yang dia masukkan bisa bercampur menyeluruh pada minuman itu dengan senyumnya tampak punya rencana.
Setelah menyelesaikan misinya akhirnya kembali ke meja Emir dan Andhika, sangat hati-hati sekali Lastri memberikan minuman tersebut agar tidak tertukar.
"Silahkan, Tuan," ucap Lastri.
Lastri memberi ruang untuk atasannya bersama dengan Emir berbicara dan sementara dia meninggalkan meja tersebut. Meski seperti itu tetapi Lastri terus saja memperhatikan dan menunggu Emir meneguk orens jus yang sengaja diambil karena dia tahu laki-laki itu tidak minum alkohol.
Lastri tersenyum miring ketika melihat Emir menghabiskan minuman itu.
"Berhasil," batin Lastri.
Selang beberapa menit terlihat Lastri berada di parkiran bersama dengan Andhika.
"Saya masih ada janji dengan keluarga saya untuk makan malam, jadi kamu saja melanjutkan pesta ini untuk mewakili saya, jika sudah merasa bosan kamu bisa meninggalkan peta ini," ucap Andhika pada sekretarisnya itu.
"Baik. Pak," jawab Lastri.
"Baiklah, kalau begitu saya pergi dulu!" ucap Andhika kemudian langsung meninggalkan tempat tersebut dengan memasuki mobil yang ditunggui Lastri sampai mobil itu pergi.
"Semesta ternyata memberi dukungan untuk rencanaku hari ini, lihatlah akhirnya rencanaku berhasil juga, tinggal melanjutkan rencana cantik ini dan maka semua akan selesai," batin Lastri tersenyum miring kemudian meninggalkan tempat tersebut.
Lastri kembali memasuki area pesta, melihat bagaimana Emir masih tetap berada di tempat duduknya, tetapi tiba-tiba saja terlihat gelisah dengan memijat kepalanya, sesekali juga tampak mengipas-ngipaskan kerah bajunya.
Emir terlihat tidak tenang dan seperti ada yang terjadi padanya. Lastri memanfaatkan kesempatan itu dengan menghampiri Emir duduk di sebelahnya.
"Bapak baik-baik saja?" tanya Lastri.
Emir tidak merespon karena tubuhnya saat ini tidak terkontrol, membuatnya justru berdiri dari tempat duduknya dan meninggalkan Lastri.
"Tuan tunggu!"
"Tuan mau kemana?" panggil Lastri.
Lastri tersenyum miring melihat kepergian Emir dengan langkah yang tidak terkendali.
"Kamu tidak akan bisa kabur dariku dan kamu akan bertekuk lutut padaku, aku akan membuktikan jika aku adalah sekretaris pemikat seluruh pimpinan di manapun itu," batin Lastri tersenyum miring.
****
Lastri ternyata berhasil, dengan membawa Emir memasuki salah satu kamar hotel, obat yang dicampurkan Lastri pada minuman Emir dapat membuat pria itu kehilangan kesadarannya yang saat ini dipapah oleh Lastri memasuki kamar hotel tersebut dan ketika di dekat ranjang langsung menjatuhkan Emir di atas ranjang dengan posisi terlentang.
Lastri tersenyum miring, berdiri di hadapan Emir, kemudian menduduki ranjang dengan mendekatkan tubuhnya pada Emir. Lastri tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu yang saat ini jemari lentiknya membelai wajah tampan Emir.
"Hmmmm....."
Emir hanya bersuara dengan raungan tampak nafas berat dan kegelisahan yang menyelimuti dirinya.
"Tuan, hari ini kita akan merayakan perpisahan dengan bersenang-senang," ucap Lastri dengan sangat lancang jemarinya mulai membuka satu persatu kancing baju Emir.
Lastri melancarkan aksinya, matanya sudah fokus pada bibir Emir dan ingin dia kecup, tetapi hal itu tidak sampai ketika tubuhnya tertahan membuat Lastri membuka mata dan Emir membuka matanya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Emir dengan suara berat.
"Tuan.... saat ini Tuan sangat membutuhkan saya dan sebaiknya kita...."Lastri tidak melanjutkan kalimatnya ketika tubuhnya dengan enteng di dorong Emir sampai membuat wanita itu jatuh ke lantai.
"Ahhhhh!" Lastri benar-benar tidak menyangka apa yang telah dia dapatkan dari Emir.
Emir kemudian berdiri, kondisinya memang tidak stabil tetapi masih bisa berdiri tegak dengan tegap.
"Kau benar-benar kurang ajar!" umpat Emir
"Tuan....." Lastri kembali berdiri dan berusaha untuk Emir bahkan tangannya dengan lancang dengan menyentuh Emir. Emir kembali menepis tangan tersebut.
"Jangan menyentuhku!" tegas Emir.
"Urusan kita berdua belum selesai, semuanya sudah cukup. Aku tidak akan membiarkan wanita seperti melakukan hal menjijikkan seperti ini kepadaku! Kau benar-benar lancang!" umpat Emir memberi peringatan dan kemudian langsung berlalu dari hadapan Lastri.
"Tuan tunggu...."
"Tuan...." Lastri berusaha untuk menyusul tetapi di abaikan Emir.
"Sial. Apa-apaan ini, kenapa rencanaku berantakan seperti ini, apa obat itu belum bereaksi sepenuhnya sehingga membuatnya tiba-tiba sadar dan tidak bergairah saat aku sentuh," ucap Lastri dipenuhi dengan kekekalan.
"Kurang ajar, rencana benar-benar berantakan dan padahal aku sudah melakukan semua rencanaku," Lastri saat ini benar-benar kelimpungan dengan menyibak rambutnya ke belakang semua rencananya hancur berantakan dengan kesadaran Emir.
Mungkin Emir tadi hanya berusaha untuk mengendalikan diri dan lebih baik untuk tidak banyak bicara dengan Lastri, daripada akhirnya Emir tidak bisa mengendalikan diri.
Emir lebih baik meninggalkan tempat tersebut. Semua rencana Lastri berantakan, padahal sudah menyusun rencana itu dengan baik. Lastri benar-benar sial karena Emir tidak sebodoh itu.
Bersambung....