Ling Fan, pemuda 17 tahun dari Klan Ling, lahir tanpa Dantian—cacat yang membuatnya dihina sebagai sampah. Di balik ejekan, dia menyimpan rahasia: tubuhnya mampu melahap Qi langit dan bumi.
Saat Klan Ling dihancurkan klan saingan, Ling Fan selamat seorang diri. Di reruntuhan, dia juga menemukan Telur Hitam misterius. Teknik terlarang terbangun "Tubuh Penelan Langit" aktif, mengubahnya dari manusia biasa menjadi pemangsa energi. Setiap luka, setiap penghinaan, hanya membuatnya makin kuat karena dia menelan semuanya.
Kini dia berjalan sendirian, dikejar sekte besar, diburu iblis kuno, dan dicap sesat. Dari Arena Batu Hitam hingga Lembah Guntur, Ling Fan menelan petir, menghancurkan jenius, dan membalik takdir. Tapi harga kekuatan itu adalah kemanusiaannya.
Ketika langit sendiri menginginkannya mati, mampukah pemuda tanpa Dantian ini menelan langit sebelum dia dilahap kegelapannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rendy_Tbr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
*Tak Terduga*
Para Inti Emas di belakangnya juga ikut mencoba mengeluarkan Qi mereka masing-masing. Hasilnya sama persis. Semua hanya mampu mengeluarkan kekuatan setingkat Fondasi Tingkat Dua. Wajah mereka pucat.
"Tetua Ketiga! Qi hamba menghilang! Hamba hanya bisa mengeluarkan sedikit!"
"Gila! Mengapa menjadi seperti ini?! Apa yang terjadi dengan kultivasi kita?!"
"Ini pasti jebakan! Kita dijebak oleh mereka bertiga!" ucap mereka bergantian
Formasi mereka yang tadinya rapi kini buyar seketika. Kepanikan menyebar seperti wabah di antara mereka.
Penjaga yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara. Nadanya tenang, datar, tetapi menusuk langsung ke jantung setiap orang yang mendengar.
"Baru sadar kalian semua?"
"Selamat datang di Lembah Setara, tempat paling adil di seluruh Lembah Gemah Mati."
"Di tempat ini, semua tingkat kultivasi dipaksa turun tanpa kecuali. Disetarakan dengan tingkat kultivasi terendah yang ada di dalam lembah."
Dia mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah Ling Fan yang masih mengatur napas. "Dan yang terendah di sini... adalah dia. Fondasi Tingkat Dua."
Ling Fan meludah darah kental ke tanah abu-abu. Dia menyeringai mengejek meskipun wajahnya pucat. "Jadi sekarang... kita sama-sama Fondasi, ya, Tetua? Bagaimana rasanya diinjak semut?"
Tetua Ketiga menggertakkan giginya hingga berbunyi gemeretak. "Sama? Jangan bermimpi terlalu tinggi, bocah!" Dia menepuk dadanya sendiri dengan keras. Suaranya berdentang seperti logam bertemu logam. "Qi-ku memang Fondasi Tingkat Dua. Tetapi tubuhku masih tubuh seorang Jiwa Baru Lahir Puncak! Tulangku, dagingku, kecepatanku, pengalamanku bertarung seratus tahun... kalian tetap saja seperti semut di hadapanku! Aku bisa membunuhmu dengan satu jentikan jari!"
Dia menerjang maju tanpa aba-aba. Kali ini tidak main-main lagi. Tinjunya membawa angin mematikan meskipun Qi yang menyelimutinya kecil. Itu adalah kekuatan fisik murni dari tubuh Jiwa Baru Lahir.
Bugh!
Ling Fan terlempar ke belakang dengan keras. Tubuhnya menghantam batu besar di belakangnya hingga batu itu retak. Huk. Darah muncrat dari mulutnya lebih banyak dari sebelumnya. Dia merasakan dua tulang rusuknya patah.
"Lihat?! Inilah perbedaan antara langit dan bumi! Antara kau dan aku!" Tetua Ketiga tertawa puas, tetapi tangannya sedikit gemetar tanpa dia sadari.
Ling Fan bangkit dengan susah payah sambil memegangi dada. Asap hitam di tubuhnya semakin tebal dari sebelumnya. Matanya mulai memerah oleh amarah dan tekad.
"Qi-nya memang sama..." Dia menyeka darah di dagunya dengan punggung tangan. "Berarti yang menentukan kemenangan sekarang... adalah Dantian siapa yang lebih murni dan siapa yang lebih nekat."
"Tinju Iblis!"
Ling Fan melesat maju dengan teriakan yang menggema. Tinjunya diselimuti asap hitam pekat yang berputar-putar. Itu bukan Qi biasa yang dimiliki kultivator normal. Itu adalah Qi dari Dantian Iblis. Dingin, rakus, dan memiliki sifat menghancurkan segala sesuatu yang disentuhnya.
Tetua Ketiga terkejut melihat pemandangan itu. "Qi apa itu?! Mengapa begitu gelap dan menjijikkan?!"
Bugh!
Tinju mereka beradu di udara. Ledakan kecil terjadi di titik tumbukan kedua kepalan tangan. Tanah di bawah kaki mereka retak melingkar sejauh tiga meter, membentuk kawah kecil.
Tetua Ketiga mundur satu langkah ke belakang. Dia menatap buku jarinya sendiri dengan mata membelalak. Memar. Berdarah. Tulangnya terasa ngilu.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seorang ahli di tingkat Jiwa Baru Lahir Puncak terluka oleh serangan seorang kultivator di tingkat Fondasi.
"Mustahil! Ini tidak mungkin terjadi!"
"Dia hanya Fondasi Tingkat Dua! Bagaimana bisa melukaiku?!"
"Apa yang sebenarnya terjadi dengan dunia ini?!"
Para Inti Emas yang menyaksikan berteriak tidak percaya. Moral mereka jatuh ke titik terendah.
Penjaga tidak tinggal diam melihat kesempatan itu. Dia melesat ke arah kerumunan Inti Emas yang sedang panik.
"Giliran kalian sekarang. Jangan hanya menonton."
"Jangan salah paham. Aku juga lapar sudah lama sekali."
"Batu Sumur Kering ini butuh makanan."
Tangannya mencengkeram kepala seorang Inti Emas Tingkat Tiga dengan mudah. Batu Sumur Kering di dadanya menyala merah terang seperti bara.
"Argh! Lepaskan!" Inti Emas itu menjerit sekuat tenaga. Tubuhnya mengkerut dengan kecepatan yang terlihat mata. Dalam dua detik, dia berubah menjadi mayat kering yang mengerikan. Semua Qi dan esensi hidupnya berpindah ke tubuh Penjaga. Retakan besar di dada Penjaga mengecil sedikit dan cahayanya meredup.
"Dia mayat hidup! Dia menyedot Qi dan jiwa orang!"
"Lari! Jangan sampai tersentuh oleh tangannya!"
"Monster! Dia monster dari neraka!"
Tujuh Inti Emas yang tersisa langsung berhamburan ke segala arah, tetapi Penjaga lebih cepat dari mereka.
Di sisi lain, Ling Fan dan Tetua Ketiga terus bertarung dengan sengit tanpa peduli sekitar.
Bugh! Bugh! Bugh!
Ling Fan babak belur. Hidungnya patah dan mengeluarkan darah. Bahunya remuk. Satu matanya bengkak. Namun dia tertawa seperti orang gila. Semakin dipukul dan dilukai, asap hitam di tubuhnya semakin liar dan tebal. Setiap pukulannya yang berhasil mengenai Tetua Ketiga membuat lelaki tua itu mengerang kesakitan. Asap hitam itu masuk melalui luka kecil, menggerogoti meridian dan organ dalam dari dalam.
"Brengsek! Qi apa ini?! Mengapa seperti racun?!" Tetua Ketiga menendang dengan kaki kanannya penuh amarah.
Ling Fan terlempar lagi. Tubuhnya berguling beberapa kali di atas tanah abu-abu yang keras.
Dia hampir pingsan saat itu juga. Kepalanya berat dan berputar. Pandangannya menghitam. Namun bayangan Yue Lian terlintas di benaknya yang hampir hilang. Suara lembut gadis itu semalam. "Kamu hidup. Itu yang penting." Bayangan darah milik Yue Lian di jantung ular perak. Bayangan senyum tipis yang jarang sekali terlihat di wajah dingin itu.
"Aku tidak boleh kalah di tempat terkutuk ini! Tidak sekarang!"
Ling Fan menggeram seperti binatang buas. Dia melihat seorang Inti Emas Tingkat Lima yang lengah karena terlalu fokus menghindari kejaran Penjaga.
Dalam sekejap mata, Ling Fan melesat. Telapak tangannya menempel tepat di punggung Inti Emas itu.
"Teknik Sedot Iblis!"
Ini pertama kalinya dia menggunakan teknik itu secara sadar. Dia meniru gerakan dan aliran Qi yang dilakukan Penjaga sebelumnya.
"Tidaaaak! Jangan!" Inti Emas itu menjerit dengan suara melengking ketakutan. Tubuhnya mengering dengan cepat. Qi-nya mengalir deras masuk ke Dantian Ling Fan seperti air bah.
Dantiannya membesar seketika. Dari sebesar kelereng... menjadi dua kali lipat. Cahaya hitam di dalamnya semakin pekat.
Fondasi Tingkat Dua... tembus ke Fondasi Tingkat Tiga dalam satu tarikan napas.
Kekuatan baru meledak di dalam tubuhnya. Luka di rusuknya menutup setengah. Tulang yang patah tersambung kembali. Tenaganya pulih.
Ling Fan membalikkan badan dengan gerakan yang jauh lebih cepat. Dia menatap Tetua Ketiga dengan mata merah menyala. Asap hitam di tubuhnya kini seperti jubah yang berkibar ditiup angin.
"Sekarang... giliranku untuk memukul."
Wusss. Dia menghilang dari tempatnya berdiri, meninggalkan bayangan.
Bugh! Bugh! Bugh! Bugh!
Tinju, siku, lutut, tendangan. Hujan serangan menghantam Tetua Ketiga tanpa henti dari segala arah. Cepat. Berat. Mematikan. Asap hitam menyusup ke hidung, mulut, dan matanya, membuat Tetua Ketiga batuk dan tersedak.
Tetua Ketiga muntah darah hitam pekat. "Cukup! Hentikan, bocah gila!"
Dia panik. Dia menoleh ke belakang dengan cepat. Dari sepuluh Inti Emas yang ikut bersamanya, hanya tinggal tiga orang yang masih berdiri dengan kaki gemetar. Sisanya sudah menjadi mayat kering yang berserakan.
Satu batang dupa. Waktu aturan Lembah Setara hampir habis. Kabut tipis di tepi lembah mulai menipis dan menunjukkan jalan keluar. Cahaya dari luar terlihat samar.
"Jika terus bertarung di sini... aku bisa mati di tempat ini!" Otak Tetua Ketiga berputar sangat cepat. Antara harga diri sebagai Tetua dan nyawa, dia memilih nyawa tanpa ragu.
"Mundur! Kita keluar dari lembah ini sekarang juga!"
Tiga Inti Emas yang tersisa tidak bertanya dua kali. Mereka segera berbalik dan berlari ke tepi lembah dengan seluruh kekuatan yang tersisa.
Wusss. Wusss.
Mereka menghilang ditelan kabut tipis di perbatasan.
Ling Fan hendak mengejar mereka untuk memastikan. Namun lututnya lemas seketika. Dia jatuh terduduk di tanah. Napasnya terdengar seperti gergaji yang berkarat dan rusak. Seluruh tubuhnya menjerit kesakitan dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Penjaga juga terengah-engah di sampingnya. Tujuh mayat kering telah dia sedot Qi-nya sampai habis. Tubuhnya terlihat lebih berisi dan padat dari sebelumnya, tetapi matanya menunjukkan kelelahan yang dalam.
Hening. Hanya suara angin mati yang berembus pelan di lembah yang sunyi ini.
"Kamu..." Suara lemah dan pelan terdengar dari samping.
Ling Fan menoleh dengan susah payah. Yue Lian sudah bangun. Dia duduk dengan wajah pucat seperti kertas, tetapi matanya jernih dan sadar. Efek dari Teknik Kabut Ilusi sudah menghilang sepenuhnya dari tubuhnya.
Dia menatap Ling Fan yang penuh luka dari kepala sampai kaki. Menatap mayat-mayat kering yang berserakan di sekitar mereka. Menatap Penjaga yang napasnya masih memburu.
Tidak ada kata yang keluar dari bibirnya yang masih pucat. Hanya satu anggukan kecil yang nyaris tidak terlihat.
Ling Fan mengerti arti anggukan itu. Itu adalah ucapan terima kasih versi Yue Lian. Versi yang paling tulus darinya.
Penjaga duduk di tanah abu-abu. Dia tertawa lelah sambil memegangi dadanya. "Hah... hah... Kita hidup. Untuk saat ini, kita masih hidup."
Dia menunjuk ke arah depan dengan dagunya. Kabut di tepi lembah sudah menghilang total. Jalan setapak yang menuju Hutan Gelap kini terbuka lebar.
"Jalan keluar sudah terbuka." Dia menatap Ling Fan dengan tatapan tajam, lalu mengangguk pelan.
Ling Fan menunduk. Dia melihat telapak tangannya sendiri. Asap hitam masih menari-nari di sela-sela jarinya seperti makhluk hidup.
"Aku tidak tahu Saat terdesak... tubuhku bergerak sendiri. Seperti... memang harus begitu."
Penjaga terdiam sejenak. Kemudian dia menepuk bahu Ling Fan dengan keras hingga Ling Fan meringis.
Langit di atas Lembah Gemah Mati berwarna merah gelap seperti darah kering. Awan tebal berputar membentuk pusaran besar yang mengerikan. Sebuah pertanda buruk yang sangat jelas.
Yue Lian berdiri dengan tubuh yang masih goyah. Tetapi dia berjalan menghampiri Ling Fan selangkah demi selangkah. Dia menatap mata Ling Fan lekat-lekat tanpa berkedip.
"Kuat," katanya. Hanya satu kata itu yang keluar dari mulutnya.
Namun bagi Ling Fan, kata itu lebih hangat dari kenaikan tingkat Dantian. Lebih berharga dari semua harta karun.
Dia tersenyum kecut sambil menahan nyeri di seluruh tubuhnya. "Kamu yang menyelamatkanku dulu di Sungai Es. Sekarang giliranku untuk melindungimu."
Tiga orang itu berdiri di atas tanah abu-abu yang mati. Musuh telah pergi menyelamatkan diri. Napas mereka masih berat, dan jalan di depan masih panjang.