Di sebuah desa tersembunyi bernama Desa Batu, hiduplah keluarga Chen, keturunan langsung dari Raja Alkemis legendaris yang menguasai rahasia kehidupan dan kematian. Harta terbesar mereka bukanlah emas atau perak, melainkan resep Ramuan Keabadian—cairan mistis yang dapat memberikan kekuatan tak terbatas dan hidup selamanya bagi yang meminumnya.
Namun, kekuatan besar selalu menarik bayangan gelap. Saat Chen Si, pewaris tunggal keluarga itu, baru berusia lima bulan, desa mereka diserang habis-habisan oleh sekelompok manusia bertopeng yang haus kekuasaan. Seluruh klan Chen dibantai tanpa ampun demi merampas rahasia suci itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: JEJAK KAKI RAKSASA DAN RACUN MIMPI HITAM
Angin sore berhembus kencang, membawa aroma tanah basah dan rasa was-was yang tak terjelaskan. Liu Si berlari secepat kilat melewati deretan pohon kapas. Kakinya nyaris tidak menyentuh tanah, meluncur ringan berkat teknik Pijakan Tanah yang sudah ia kuasai sepenuhnya.
Pikirannya kacau. Jejak kaki yang ia lihat tadi terus terbayang di kepalanya. Besar, kasar, dan mengeluarkan bau anyir yang sangat menyengat—bau darah dan lumpur.
Sesampainya di rumah, Liu Si langsung menerobos masuk. Wu Ye sedang duduk tenang memilah-milah rempah-rempah kering, namun seketika tangannya berhenti saat merasakan aura gelisah yang memancar dari tubuh muridnya.
"Ada apa, Si? Kenapa wajahmu pucat seperti melihat hantu?" tanya Wu Ye, suaranya tenang namun matanya langsung waspada.
Liu Si menarik napas panjang untuk menetralkan detak jantungnya.
"Kakek... di hutan bagian barat... aku melihat jejak kaki yang aneh. Sangat besar, lebih besar dari kepala manusia. Dan baunya... sangat busuk, seperti bangkai yang sudah berbulan-bulan," lapor Liu Si dengan cepat. "Aku juga baru saja mengusir harimau besar, tapi jejak itu bukan milik harimau. Itu jejak kaki... manusia?"
Wajah Wu Ye yang biasanya tenang seketika berubah menjadi sangat serius. Alisnya terangkat tajam.
"Jejak kaki besar... bau bangkai..." Wu Ye mengatupkan rahangnya. "Apakah mungkin... mereka sudah sampai sejauh ini?"
"Siapa, Kek? Siapa mereka?" tanya Liu Si tidak sabar.
"Itu bukan manusia biasa, Si. Itu adalah Manusia Iblis atau sering disebut Monster Tanah," jawab Wu Ye perlahan. "Mereka adalah hasil percobaan gagal atau keberhasilan tergelap dari alkemi hitam. Orang-orang jahat mencoba menanam energi binatang buas atau racun ke dalam tubuh manusia, menciptakan prajurit yang tidak punya akal sehat, hanya punya naluri membunuh dan kekuatan fisik yang mengerikan."
Liu Si ternganga. "Jadi... mereka senjata hidup?"
"Benar. Dan biasanya, mereka hanya muncul jika ada kelompok besar yang sedang bergerak atau berkamp di dekat sini. Mereka dikirim untuk memburu mangsa atau membersihkan jalur."
Wu Ye berdiri dan mengambil tongkat kayunya. Aura tua namun kokoh langsung menyebar dari tubuhnya.
"Kau benar, Si. Sesuatu yang buruk sedang terjadi. Desa Kapas mungkin sudah tidak sesembunyi yang kita kira."
Malam yang Mencekam
Malam itu, bulan tertutup awan tebal, membuat desa menjadi gelap gulita. Suasana terasa aneh dan sunyi. Tidak ada suara jangkrik, tidak ada suara anjing menggonggong. Hening yang mencekam.
Tiba-tiba, dari arah rumah Kepala Desa, terdengar teriakan histeris.
"TOLONG! ANAKKU! TOLONG KAMI!"
Itu suara istri Kepala Desa.
Liu Si dan Wu Ye saling pandang sekejap, lalu langsung melesat menuju sumber suara. Mereka tiba dalam hitungan detik. Di sana, sudah berkumpul beberapa warga yang membawa obor, wajah mereka panik luar biasa.
Di dalam rumah, terlihat Badu—anak kepala desa yang dulu sering mengganggu Liu Si—terbaring di tempat tidur. Tubuhnya menggigil hebat, keringat dingin membasahi seluruh tubuh, namun wajahnya memerah padam. Matanya terpejam erat, tapi bola matanya bergerak-gerak cepat di balik kelopak mata, seolah sedang melihat mimpi buruk yang paling mengerikan.
"Dia tiba-tiba menjerit saat tidur, lalu menjadi seperti ini! Dia tidak bisa dibangunkan! Badannya panas sekali!" tangis ibunya.
Liu Si segera maju. Ia meletakkan tangannya di dahi Badu. Sssst! Rasanya panas seperti bara api. Lalu ia memeriksa kelopak mata dan bibirnya.
Warna bibir Badu tidak merah, melainkan sedikit keunguan. Dan di lehernya, ada bintik-bintik hitam kecil yang mulai menyebar.
Liu Si mengernyitkan dahi. Ia mencium bau aneh yang keluar dari pori-pori tubuh Badu. Bau itu... sama persis dengan bau jejak kaki tadi!
"Ini bukan penyakit biasa, Kakek," kata Liu Si pelan. "Ini racun. Racun yang sangat jahat."
Wu Ye berjongkok, menatap lekat-lekat. "Benar. Ini adalah Racun Mimpi Hitam. Korban akan terjebak dalam mimpi buruk tanpa henti, energi hidup mereka tersedot habis dari dalam, dan dalam tiga hari... jantung mereka akan kaku dan mati."
"Racun Mimpi Hitam?" warga mulai berbisik ketakutan. "Apa itu bisa menular? Bagaimana caranya menyembuhkannya?"
Wu Ye menatap kerumunan. "Tenang! Ini tidak menular lewat udara. Racun ini masuk lewat udara khusus atau serbuk halus yang ditiupkan. Orang yang melakukan ini pasti ahli racun tingkat tinggi."
Tiba-tiba, Liu Si teringat sesuatu. Ia ingat buku-buku tua yang pernah ia baca di ruang rahasia.
"Tunggu, Kakek! Aku ingat! Untuk menetralkan Racun Mimpi Hitam, kita butuh Bunga Salju Bulan dan Akar Ginseng Merah, tapi yang paling penting adalah... Api Penjernih untuk membakar racun keluar dari tubuh!" seru Liu Si.
"Benar! Tapi Bunga Salju Bulan hanya tumbuh di puncak Gunung Bayan yang sangat dingin dan berbahaya! Dan sekarang sudah malam!" seru salah satu tetua desa.
Warga menjadi putus asa. Mereka tahu, mendaki gunung di malam hari sama saja dengan bunuh diri.
Namun, Liu Si menatap Badu yang semakin melemah. Meskipun dulu Badu jahat padanya, tapi Liu Si tidak tega melihat orang mati di depannya. Darah seorang alkemis yang mulia tidak membiarkannya berdiam diri.
"Aku yang akan pergi," kata Liu Si tegas.
Semua orang terkejut. "Kau? Si Kecil? Itu terlalu berbahaya!"
"Liu Si, kau yakin?" tanya Wu Ye. Ia menatap cucu angkatnya itu. Ia melihat bukan lagi keraguan di mata anak itu, tapi keyakinan yang membara.
Liu Si mengangguk mantap. "Aku sudah mencapai tingkat Pijakan Tanah, Kek. Kecepatanku sudah cukup. Dan aku butuh membuktikan bahwa kekuatanku bukan hanya untuk berlatih, tapi untuk menyelamatkan orang."
Wu Ye tersenyum tipis, bangga. "Baiklah. Pergilah. Aku akan menjaga anak ini di sini, menahan racunnya agar tidak menyebar ke jantung selama kau belum kembali. Waktumu sempit, Nak. Bertindaklah cepat!"
Pendakian Gila dan Pertemuan Mengejutkan
Liu Si tidak membuang waktu. Ia mengambil sebuah sabit kecil dan kantong kulit, lalu melesat keluar dari desa menuju lereng Gunung Bayan yang menjulang tinggi di kejauhan.
Malam semakin gelap. Suasana di hutan gunung sangat berbeda dengan di desa. Pohon-pohon besar tampak seperti raksasa-raksasa yang mengintai. Suhu udara turun drastis, menusuk tulang.
Namun, tubuh Liu Si yang sudah ditempa dengan Teknik Roh Bumi membuatnya kebal terhadap hawa dingin biasa. Kakinya bergerak lincah memanjat tebing-tebing curam, tangannya mencengkeram bebatuan dengan kuat seperti cakar elang.
Wush! Wush!
Dalam waktu kurang dari dua jam, ia sudah mencapai ketinggian yang luar biasa. Di sini, angin bertiup sangat kencang, hampir menerbangkan tubuhnya.
Dan benar saja! Di celah-celah bebatuan yang terkena embun beku, ia melihatnya. Sekuntum bunga putih yang memancarkan cahaya samar kebiruan. Itu Bunga Salju Bulan!
"Akhirnya ketemu!" seru Liu Si lega. Ia segera mendekat, berhati-hati agar tidak merusak akarnya.
Namun, tepat saat tangannya hendak menyentuh bunga itu...
SWOSH!
Sebuah bayangan hitam turun dari atas pohon dengan kecepatan yang tidak masuk akal! Sebuah cakar besar berwarna hijau gelap menyambar tepat di depan wajah Liu Si!
BRAKK!
Batuan keras di depannya hancur berkeping-keping!
Liu Si melompat mundur dengan cepat, jantungnya hampir copot. Ia menatap ke depan dengan mata terbelalak.
Makhluk itu tingginya lebih dari dua meter, tubuhnya kekar penuh otot, kulitnya berwarna abu-abu kehijauan, wajahnya buruk rupa dengan taring panjang menjulur ke luar. Matanya merah menyala tanpa pupil.
Itu adalah Manusia Iblis!
"GRAAAAAA!"
Makhluk itu meraung, suaranya membuat burung-burung di sekitarnya terbang berhamburan. Ia mengangkat tongkat kayu besar sebesar badan manusia, siap menghancurkan kepala Liu Si.
"Jadi kau yang menjaga bunga ini..." Liu Si menarik napas dalam, menenangkan pikirannya. "Maaf, tapi aku butuh itu untuk menyelamatkan nyawa. Minggir!"
Manusia Iblis itu tentu tidak mengerti. Ia menerjang maju dengan kekuatan yang luar biasa. Tongkat kayu itu menghantam ke bawah dengan angin menderu!
DONG!
Liu Si tidak menghindar. Ia justru maju! Ia mengangkat kedua tangan, menyalurkan energi Roh Bumi sepenuhnya.
BUMMM!
Terdengar suara benturan keras seperti guntur. Liu Si terpental mundur beberapa langkah, kakinya menancap ke tanah hingga membentuk lubang kecil. Tangannya gemetar, nyeri sekali.
'Aduh... Kekuatannya setara dengan ahli bela diri tingkat menengah! Tubuhnya juga keras seperti baja!' batin Liu Si terkejut.
Manusia Iblis itu serang lagi, lebih cepat dan lebih ganas.
Liu Si terpaksa bertarung mati-matian. Ia menggunakan kelincahannya untuk berputar-putar di sekitar musuh. Ia mencari celah. Ia ingat apa yang diajarkan Wu Ye: "Kekuatan besar biasanya lambat. Serang titik vital, jangan adu otot."
"Sini!" teriak Liu Si. Ia sengaja memperlihatkan celah di sisi kiri.
Manusia Iblis itu mengayunkan tangannya untuk menangkap. Saat itu juga!
"Ini... untuk desa!"
Liu Si melompat tinggi ke udara, memutar tubuhnya, dan mengumpulkan seluruh energi ke tangan kanannya. Cahaya kekuningan menyelimuti tinjunya.
"TEKNIK ROH BUMI: PUKULAN GUNUNG RUNTUH!"
BAM!
Pukulan itu mendarat tepat di belakang leher makhluk itu, tepat di sambungan tulang belakang yang paling lemah.
KRAK!
Terdengar suara tulang patah yang jelas. Manusia Iblis itu raungannya terputus di tengah jalan. Tubuh raksasanya terhuyung beberapa langkah, lalu jatuh tersungkur dengan suara gemuruh yang besar, tak bergerak lagi.
Liu Si mendarat dengan ringan, napasnya memburu, keringat menetes deras. Tangannya sakit luar biasa, tapi ia menang.
"Akhirnya..."
Ia segera memetik Bunga Salju Bulan dengan hati-hati, memasukkannya ke dalam kantong pelindung.
Namun, saat ia hendak turun, ia melihat sesuatu yang terikat di pinggang Manusia Iblis yang sudah mati itu. Sebuah liontin kecil berbentuk ular hitam.
Liu Si mengambilnya. Wajahnya berubah pucat.
"Lambang ini... sama dengan yang dipakai orang-orang bertopeng yang menyerang Desa Batu dulu..." bisiknya.
Jadi benar! Mereka sudah sangat dekat. Mereka sudah mengirim pasukan depan ke sini.
"Dengan cepat aku harus kembali!"
Liu Si tidak membuang waktu lagi. Ia berlari turun dengan kecepatan penuh, membawa harapan dan juga rahasia mengerikan yang baru saja ia temukan.