Bagi Arlan, harga diri adalah segalanya. Namun, ketika sebuah kekalahan memaksanya memacari gadis paling "tak kasatmata" di sekolah, ia memulai permainan manipulasi yang paling berbahaya—tanpa sadar bahwa kepolosan adalah senjata yang paling mematikan bagi egonya.
Arlan tidak pernah kalah. Dengan wajah rupawan dan kekuasaan di tangannya, dia adalah "Tuhan" di SMA Nusantara. Hingga satu malam, sebuah taruhan konyol di meja biliar mengubah segalanya. Taruhannya sederhana: Taklukkan Lulu, si gadis kutu buku yang kuper, polos, dan selalu menunduk, lalu campakkan dia di malam perpisahan.
Bagi Arlan, ini hanyalah tugas mudah. Dia akan menggunakan pesonanya, melakukan love bombing, dan membuat Lulu bertekuk lutut. Namun, Lulu bukanlah lawan yang biasa. Kepolosan Lulu yang keterlaluan membuat semua taktik manipulasi Arlan mental. Saat Arlan mencoba menyakitinya, Lulu justru membalas dengan ketulusan yang menampar ego narsistiknya.
Siapakah yang akan hancur lebih dulu? Arlan dengan egonya, ata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Harapan yang Rabun
Pukul enam pagi, Lulu sudah berdiri di depan cermin. Matanya terasa pedih karena kurang tidur, tapi ada ketakutan yang lebih besar di hatinya: kemarahan Arlan. Dengan tangan gemetar, ia melepas kacamata berbingkai hitamnya.
Seketika, dunia di depan Lulu berubah menjadi hamparan warna yang buram dan tidak jelas. Wajahnya di cermin hanya tampak seperti gumpalan kulit tanpa fitur yang pasti. Ia mencoba melangkah, tapi ia langsung menyenggol ujung meja riasnya.
"Aduh..." ringisnya. Ia harus meraba dinding untuk sampai ke pintu.
Lulu sudah bersiap dengan gaun merah—yang kini ia benci—karena Arlan bilang ia harus memakainya lagi. Ia duduk di ruang tamu, menunggu suara klakson BMW Arlan yang biasanya terdengar seperti musik penyelamat. Satu jam berlalu. Dua jam. Jam di dinding (yang hanya terlihat seperti lingkaran putih kabur bagi Lulu) terus berdetak.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk. Lulu harus menempelkan layar ponsel itu hampir menyentuh matanya agar bisa membaca tulisan yang sangat besar dan kabur.
Arlan: Gue nggak bisa jemput. Bokap tiba-tiba narik gue ke pertemuan bisnis di luar kota. Jangan berani-berani hubungin gue sampe gue chat duluan. Jangan ngerusak hari gue dengan pertanyaan tolol.
Hati Lulu mencelos. Bukan karena Arlan batal menjemputnya, tapi karena nada bicara Arlan yang berubah menjadi sangat kasar dalam pesan itu. "Mungkin... Arlan lagi stres banget karena urusan ayahnya," gumam Lulu, mencoba mencari alasan untuk membela orang yang baru saja menginjak-injak perasaannya.
Di sisi lain, di dalam sebuah jet pribadi mewah, Arlan sedang duduk dengan wajah ditekuk. Di depannya, sang ayah—Tuan Wiraguna—sedang menatap layar tablet dengan dingin.
"Berhenti memasang wajah menjijikkan itu, Arlan," suara ayahnya datar namun mematikan. "Kamu ikut saya ke Surabaya karena saya butuh kamu berdiri di sana sebagai pajangan. Jangan pikir kencan konyolmu dengan gadis kelas bawah itu lebih penting dari saham keluarga."
Arlan mengepalkan tangannya. Ia tidak marah karena gagal bertemu Lulu. Ia marah karena ayahnya memperlakukannya persis seperti ia memperlakukan Lulu: sebagai objek.
"Aku nggak kencan, Pa. Itu cuma taruhan," jawab Arlan membela harga dirinya.
"Bagus kalau begitu. Karena kalau sampai saya dengar kamu benar-benar punya selera serendah itu, saya sendiri yang akan memastikan gadis itu menghilang dari sekolah," ancam ayahnya tanpa menoleh.
Arlan mendengus. Ia mengeluarkan ponselnya, berniat menghibur diri dengan mengirim pesan ke grup gengnya.
Arlan: Bokap gue gila. Gue dipaksa ikut dia. Sori, tontonan si 'Buta' ditunda. Tapi tenang aja, pas gue balik, gue bakal bikin dia lebih menderita karena udah bikin gue nunggu.
Kembali ke rumah Lulu. Hari sudah siang, dan Lulu masih duduk di sofa dengan gaun merahnya. Ia tidak berani bergerak banyak karena penglihatannya yang buruk. Pandangannya yang buram membuat semuanya terasa sunyi dan menakutkan.
"Lulu? Kok belum berangkat?" Ibunya masuk ke ruang tamu, terkejut melihat putrinya duduk diam dengan mata yang tampak kosong tanpa kacamata.
"Arlan... Arlan sibuk, Bu. Lulu nunggu di sini aja, siapa tahu dia pulang lebih cepat," jawab Lulu dengan suara serak.
"Lho, kacamata kamu mana? Nanti kepala kamu pusing kalau dipaksa liat begini, Nak." Ibunya mencoba mengambilkan kacamata di kamar, tapi Lulu segera menahan tangan ibunya.
"Jangan, Bu! Arlan... Arlan bilang aku lebih cantik tanpa kacamata. Aku mau Arlan seneng pas liat aku nanti."
Ibunya terdiam, menatap putrinya dengan tatapan iba yang mendalam. Sebagai ibu, ia bisa merasakan ada yang tidak beres, tapi ia tahu betapa keras kepalanya Lulu jika sudah menyangkut "kebaikan" orang lain.
Sepanjang hari itu, Lulu tetap tidak memakai kacamatanya. Ia mengalami sakit kepala hebat (migrain) karena saraf matanya yang dipaksa bekerja keras dalam kegelapan yang buram. Ia beberapa kali tersandung, bahkan sampai menjatuhkan gelas air minumnya hingga pecah.
"Nggak apa-apa, ini cuma ujian kecil," bisik Lulu sambil meraba-raba lantai untuk memunguti pecahan kaca, hingga jarinya teriris dan berdarah. Ia tidak menangis karena luka di jarinya. Ia menangis karena Arlan tidak mengirim pesan lagi sepanjang hari.
Lulu tidak tahu, bahwa saat ia sedang berdarah dan kesakitan dalam "kebutaan" demi menyenangkan Arlan, Arlan sedang berada di sebuah restoran mewah di Surabaya, tertawa bersama rekan bisnis ayahnya, sama sekali lupa bahwa ada seorang gadis yang sedang menunggunya dengan penuh luka.
Pembaca akan dibuat sangat geram di sini: Lulu berkorban fisik (menahan sakit mata dan luka di tangan), sementara Arlan bahkan tidak menganggap pembatalan itu sebagai sesuatu yang penting untuk dijelaskan dengan baik.