NovelToon NovelToon
Putri Tanpa Cahaya

Putri Tanpa Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Akademi Sihir / Fantasi
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dyana

Sakura adalah anak dari selir yang sejak lahir dianggap tidak memiliki kekuatan. Karena itu ia sering dibully dan diremehkan oleh keluarga bangsawan tempatnya tinggal.
Hidupnya semakin tragis ketika ia terus-menerus diracuni secara perlahan, membuat tubuhnya lemah dan sakit. Di tengah penderitaannya, satu-satunya orang yang melindunginya adalah ibunya. Namun sang ibu akhirnya dibunuh oleh pihak yang berkuasa di dalam keluarga itu.
Setelah kehilangan segalanya, Sakura yang tersisa dalam keputusasaan tanpa sadar mulai membangkitkan kekuatan besar yang tersegel di dalam dirinya. Kekuatan itu selama ini tersembunyi, dan kini perlahan mulai bangkit, mengubahnya dari gadis yang dianggap lemah menjadi sosok yang berpotensi mengguncang dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 – Perubahan yang Perlahan

Malam kembali turun.

Langit di luar akademi diselimuti warna gelap yang dalam. Hanya cahaya bulan samar yang menembus jendela tinggi, memantul di lantai batu ruang alkimia.

Ruangan itu dipenuhi aroma ramuan.

Campuran daun kering, cairan pahit, dan sedikit bau logam yang tajam.

Namun suasananya berbeda dari malam-malam sebelumnya.

Lebih sunyi.

Lebih fokus.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada suara tubuh jatuh.

Tidak ada rasa sakit yang langsung meledak.

Sakura berdiri di tengah ruangan.

Tubuhnya masih lemah namun tidak lagi gemetar seperti sebelumnya.

Napasnya lebih teratur.

Pandangan matanya lebih stabil.

Seolah sesuatu di dalam dirinya…

akhirnya mulai menemukan ritme.

Di kejauhan Master Kaelen Arcturus memperhatikannya.

Seperti biasa.

Diam.

Tidak banyak bergerak.

Namun tatapannya tajam.

Tidak melewatkan satu detail pun.

“Mulai.”

Satu kata.

Tanpa emosi.

Tanpa penjelasan.

Namun cukup.

Sakura mengangguk pelan.

Ia melangkah ke meja.

Di atasnya berbagai bahan sudah tersusun rapi.

Daun berwarna gelap, serbuk putih halus.

Cairan dalam botol kaca kecil.

Tangannya bergerak.

Perlahan.

Mengambil daun.

Menghancurkannya di dalam mangkuk batu.

Suara gesekan halus terdengar.

Tidak terburu-buru.

Tidak gemetar.

Ia mengukur cairan dengan hati-hati.

Menuangkannya setetes demi setetes.

Mengaduk perlahan.

Gerakannya lebih stabil dari sebelumnya.

Lebih… terkontrol.

Kaelen menyipitkan mata.

“…Perkembangan.”

Gumamannya pelan.

Namun jelas.

Ia melihatnya.

Perubahan kecil namun signifikan.

Beberapa menit berlalu.

Tidak ada kesalahan.

Tidak ada tumpahan.

Tidak ada getaran di tangan Sakura.

Dan akhirnya Ramuan itu selesai.

Cairannya jernih.

Sedikit berkilau di bawah cahaya lampu.

Sakura menatapnya.

Sedikit terkejut.

“…Berhasil…”

Ada nada tak percaya dalam suaranya.

Ia mengangkat botol itu.

Menatapnya sejenak.

Seolah memastikan ini nyata.

“Minum.”

Perintah itu datang lagi.

Dingin.

Sakura tidak ragu.

Ia mengangkat botol itu ke bibirnya.

Dan meneguknya.

Cairan hangat mengalir ke dalam tubuhnya.

Menyebar perlahan.

Menyentuh setiap bagian.

Namun kali ini tidak ada rasa sakit yang langsung menghantam.

Sakura membeku.

Matanya sedikit melebar.

“…Berbeda…”

Biasanya rasa sakit datang seperti ledakan.

Tanpa peringatan.

Namun sekarang tidak.

Hanya kehangatan.

Pelan.

Terkontrol.

Kaelen mengangguk pelan.

“Tubuhmu mulai menerima.”

Nada suaranya tetap datar.

Namun ada sesuatu di baliknya.

Pengamatan.

Penilaian.

Namun beberapa detik kemudian rasa nyeri tetap datang.

Namun berbeda.

Lebih ringan.

Lebih dalam.

Tidak menghancurkan tapi menekan.

Sakura menutup mata.

Menarik napas perlahan.

Satu…

dua…

tiga…

Dan kali ini ia tidak panik.

Ia tidak melawan.

Ia tidak mencoba menahan.

Ia mengikuti.

Membiarkan aliran itu bergerak.

Di dalam tubuhnya sesuatu mulai terasa.

Aliran itu tidak lagi liar.

Tidak lagi menghantam tanpa arah.

Ia mengalir.

Perlahan.

Seperti sungai kecil yang akhirnya menemukan jalurnya.

“…Aku bisa merasakannya…”

Sakura membuka mata.

Untuk pertama kalinya ada sesuatu di dalam dirinya yang terasa… jelas.

Bukan sekadar sakit.

Bukan sekadar tekanan.

Tapi kehadiran.

Energi.

Nyata.

“Sekarang.”

Suara Kaelen memotong.

“Fokuskan aliran itu ke tanganmu.”

Sakura menegang.

“…Aku belum pernah”

“Coba.”

Tidak ada ruang untuk ragu.

Tidak ada penjelasan tambahan.

Hanya perintah.

Sakura mengangkat tangannya perlahan.

Jari-jarinya sedikit gemeta namun tidak seperti sebelumnya.

Ia memejamkan mata.

Mencoba merasakan aliran itu.

Mencari.

Menangkap.

Mengarahkannya.

Pelan…

Sangat pelan…

Sesuatu bergerak.

Hangat.

Dari dalam dadanya menuju bahu.

Lalu ke lengannya.

“…Ini…”

Rasanya aneh.

Seperti sesuatu yang selama ini tersembunyi

akhirnya muncul.

Tangannya sedikit bergetar.

Namun ia tidak berhenti.

Ia fokus.

Menarik napas.

Menahan.

Lalu

Sssst…

Sebuah hembusan kecil muncul.

Sangat lemah.

Hampir tidak terlihat.

Namun nyata.

Angin tipis berputar di atas telapak tangannya.

Sakura membuka mata.

Matanya melebar.

“…!”

Ia menatap tangannya.

Tidak percaya.

Angin kecil itu bergerak pelan.

Seperti hidup.

Tidak stabil.

Namun ada.

Nyata.

Untuk pertama kalinya.

Kaelen menatapnya dalam.

Matanya menyipit.

“…Elemen pertama.”

Sakura terdiam.

Jantungnya berdegup cepat.

“…Ini… milikku?”

“Ya.”

Jawaban itu sederhana.

Namun berat.

Sakura menatap angin kecil itu.

Tangannya gemetar bukan karena sakit.

Tapi karena perasaan.

Untuk pertama kalinya ia tidak merasa kosong.

Ia tidak merasa “tanpa kekuatan”.

Ia memiliki sesuatu.

Walaupun kecil.

Walaupun lemah.

Namun miliknya.

Ia mencoba mempertahankannya.

Menjaganya tetap ada.

Namun beberapa detik kemudian

Angin itu mulai goyah.

Berkedip.

Lalu menghilang.

Tubuh Sakura langsung melemah.

“Ugh…”

Ia hampir jatuh.

Kaelen bergerak cepat.

Menahannya sebelum tubuhnya menyentuh lantai.

“Cukup.”

Sakura terengah.

“…Itu cepat sekali hilang…”

“Karena tubuhmu belum stabil.”

Kaelen melepaskannya perlahan.

“Dan karena itu… kau belum siap menggunakan lebih dari itu.”

Sakura mengangguk pelan.

Napasnya masih berat.

Namun matanya berbeda.

Ada cahaya di sana.

Harapan.

Hari berikutnya.

Aula latihan kembali ramai.

Suara murid, benturan sihir, teriakan.

Semua kembali seperti biasa.

Namun tidak untuk Sakura.

Ia berjalan masuk.

Langkahnya masih pelan.

Namun lebih pasti.

Tidak ragu.

Tidak menunduk terlalu dalam.

Di kejauhan Claudia memperhatikannya.

Matanya menyipit.

“…Ada yang berubah.”

Ia tidak tahu apa.

Namun ia merasakannya.

Seperti ada sesuatu yang berbeda.

Sesuatu yang… mengganggu.

Sakura berdiri di sudut arena.

Ia mengangkat tangannya pelan.

Menarik napas.

Fokus.

Mengingat sensasi semalam.

Aliran itu.

Pergerakan itu.

Ia mencoba lagi.

Beberapa detik tidak ada apa-apa.

Lalu

Sssst…

Angin kecil muncul lagi.

Lebih cepat dari sebelumnya.

Lebih mudah.

Meskipun masih lemah.

Sakura tersenyum tipis.

“…Aku bisa…”

Namun tiba-tiba

DUMM…

Suara itu kembali.

Lebih dalam.

Lebih jelas.

Lebih dekat.

Sakura membeku.

Angin di tangannya langsung hilang.

Dadanya terasa panas.

Lebih kuat dari sebelumnya.

“…Tidak sekarang…”

Ia menggenggam tangannya.

Kuat.

Menahan.

Menekan.

Suara itu kembali.

“Kau adalah kunci…”

“Diam…”

Namun suara itu tidak hilang.

Ia terus berbisik.

Mendorong.

Menarik.

Seolah mencoba mengambil alih.

Sakura menutup matanya.

Napasnya berat.

Namun ia tidak membiarkan dirinya terseret.

Tidak kali ini.

Perlahan…

ia menenangkan dirinya, menarik napas, mengatur aliran, menekan suara itu.

Dan untuk pertama kalinya ia berhasil.

Dadanya kembali normal.

Suara itu meredup.

Menghilang.

Sakura membuka mata.

Napasnya masih berat.

Namun ia berdiri.

Masih berdiri.

Di kejauhan Kaelen memperhatikan.

Matanya menyipit.

“…Dia mulai mengendalikan.”

Namun di dalam pikirannya

Perkembangannya… terlalu cepat…

Ia terdiam.

Tidak ada senyum.

Tidak ada kepuasan.

Hanya perhitungan.

Lebih dalam.

Lebih hati-hati.

Di bayangan…

Prajurit bayangan berdiri diam.

Seperti patung.

Namun mereka melihat.

Selalu melihat.

“Elemen pertama telah muncul.”

Suara lirih terdengar.

Hening.

“Meski lemah…”

“…namun stabil.”

Tatapan mereka mengarah ke satu titik.

Ke satu sosok.

Sakura.

Dan di balik semua itu rencana besar terus berjalan.

Perlahan.

Namun pasti.

---------

Hai semua

mimin mau bilang maaf dulu jika cerita kurang menarik atau ceritanya hampir sama dengan novel mimin sebelumnya yang masih tentang balas dendam.

Jangan terlalu berharap ya

Mimin baru mencoba kembali setelah beberapa lama..

terima kasih🥰🥰🥰

Jangan lupa LIKE😍

1
Yarim Yovan
menarik
Kali a Mimir
padahal ceritanya bagus kok sepi
Kali a Mimir: siap🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!