NovelToon NovelToon
God Emperor Zhao Xuan

God Emperor Zhao Xuan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mengubah Takdir / Perperangan
Popularitas:19.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Setelah meninggalkan Planet Vermilion, Zhao Xuan, Long Chen & Gu Tianxue menginjakkan kaki di Planet Shenzue sebuah dunia yang menjadi pusat dari Tiga Puluh Tiga alam Immortal Kuno.

Planet Shenzue terbagi menjadi Empat Benua Utama (Timur, Barat, Selatan, dan Utara) yang dikuasai oleh berbagai sekte tingkat puncak, klan kuno, dan kekaisaran raksasa. Lautan Shenzue yang tak berujung dikuasai oleh Ras Laut yang arogan dan tertutup, dipimpin oleh Kaisar Laut dan para keturunan naga airnya. Permusuhan antara kultivator daratan yang serakah dan Ras Laut yang kejam telah berlangsung selama ribuan tahun, menciptakan batas wilayah yang dipenuhi peperangan dan intrik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Penonton Benua Utara

Di Planet Shenzue, berita bergerak lebih cepat daripada angin badai. Kematian Komandan Xue Wuya dan armada Iblis Darah di Perbatasan Selatan mungkin belum mencapai telinga semua orang, namun rencana penyerbuan Benteng Puncak Gerhana oleh aliansi faksi pemberontak dan Klan Iblis Darah telah menjadi rahasia umum di kalangan elite empat benua.

Klan Kuno Iblis Surgawi adalah salah satu pilar kekuatan Benua Utara. Kejatuhan pilar ini pasti akan mengubah lanskap kekuasaan, dan di dunia kultivasi, kekacauan adalah tangga menuju puncak.

Tiga Ratus Mil di Atas Puncak Gerhana – Awan Api Klan Gagak Emas.

Sementara badai salju mengamuk di daratan, di atas lapisan awan tebal, suhu justru mendidih. Sebuah armada kereta perunggu kuno yang ditarik oleh Burung Kuang Api melayang dalam formasi. Ini adalah armada Klan Gagak Emas dari Benua Selatan, musuh alami dari segala sesuatu yang berunsur Es dan Malam.

Di dalam kereta utama yang mewah, Patriark Yan Luo, seorang pria paruh baya dengan rambut merah menyala bagaikan magma, sedang memutar dua buah bola besi spiritual di tangannya. Auranya berada di ranah God King Puncak, memancarkan Niat Api Yang Ekstrem yang membakar hukum ruang di sekitarnya.

Di hadapannya, duduk seorang wanita muda berparas menawan namun luar biasa arogan. Ia adalah Yan Ji, Tuan Putri Klan Gagak Emas, yang baru saja menembus ranah Setengah Langkah God King.

"Ayah, mengapa kita hanya diam di atas awan ini?" keluh Yan Ji, menyilangkan kakinya dengan tidak sabar. "Penatua Agung Iblis Surgawi yang bodoh itu telah membuka formasi pertahanan luar klan mereka. Kita bisa turun sekarang, membantai faksi loyalis dan pemberontak sekaligus, lalu merebut Simbol Leluhur Iblis untuk kita sendiri!"

Patriark Yan Luo menghentikan putaran bola besinya. Matanya menatap putrinya dengan teguran halus.

"Yan Ji, Hati Dao-mu masih terlalu dikuasai oleh api yang membara. Kau memandang pertarungan seperti babi hutan yang menerjang tebing," ucap Yan Luo. "Klan Iblis Darah bukanlah sekutu yang bodoh. Utusan yang mereka kirim ke Benua Utara dipimpin oleh Tetua Darah Kegelapan. Jika kita turun sekarang, kita akan menjadi sasaran empuk konfrontasi langsung."

Patriark Yan Luo tersenyum licik, sebuah senyum seorang oportunis sejati. "Biarkan anjing menggigit anjing. Faksi loyalis Iblis Surgawi bagaikan binatang buas yang terpojok; perlawanan terakhir mereka pasti akan menguras setengah dari kekuatan Iblis Darah. Saat kedua belah pihak sekarat kehabisan Qi dan darah, barulah Klan Gagak Emas turun sebagai dewa penyelamat, menyapu bersih sisa-sisanya, dan mengambil Simbol Leluhur tanpa kehilangan satu pun prajurit. Kesabaran, Anakku, adalah kunci untuk mencuri kekayaan surga."

Yan Ji mendengus pelan, menahan amarahnya. "Baiklah. Aku hanya berharap para Iblis Malam itu tidak mati terlalu cepat. Aku ingin membakar sayap mereka dengan tanganku sendiri."

Puncak Gunung Es Tak Bernama – Paviliun Bintang Jatuh.

Berbeda dengan Klan Gagak Emas yang rakus, ada pihak yang memandang pembantaian di dunia fana semata-mata sebagai pertunjukan teater.

Di puncak gunung es tertinggi di benua itu, tersembunyi oleh Formasi Penyembunyi Surga tingkat Dewa, berdiri sebuah paviliun terbuka. Paviliun Bintang Jatuh adalah faksi netral penjual intelijen paling misterius di Planet Shenzue.

Di dalam paviliun, seorang gadis bergaun putih salju dengan mata tertutup selembar sutra sedang duduk bermain catur Weiqi sendirian. Ia adalah Meng Ruyan, Sang Orang Suci (Saintess) dari Paviliun Bintang. Kultivasinya tidak diketahui, namun ia mengolah Takdir Peramal Takdir.

Di sampingnya, seorang pria tua bertubuh bulat, Penatua Feng, sedang asyik memecahkan biji bunga matahari spiritual dengan giginya. Cetak. Cetak. Cetak. Suara itu sangat merusak suasana sakral di paviliun tersebut.

"Hei, Nona Suci," gumam Penatua Feng sambil mengunyah. "Menurutmu, berapa lama Benteng Puncak Gerhana bisa bertahan? Aku bertaruh sepuluh botol Arak Embun bahwa formasi mereka akan pecah sebelum matahari terbenam."

Meng Ruyan menempatkan sebuah bidak hitam di atas papan. Jarinya yang lentik tiba-tiba berhenti. Sutra penutup matanya sedikit bergetar.

"Penatua Feng, garis takdir Benua Utara... baru saja terputus," ucap gadis itu, suaranya mengandung keterkejutan yang langka.

"Terputus? Maksudmu benang nasib para Iblis Malam itu sudah hancur?" Penatua Feng memuntahkan kulit kuaci.

"Bukan hancur. Dihapus." Meng Ruyan menoleh ke arah selatan, seolah matanya yang tertutup bisa melihat menembus jutaan mil badai salju. "Ada sosok kuat baru saja memasuki Benua Utara. Bidak catur yang tidak berasal dari papan ini telah menendang mejanya. Sesuatu yang melahap hukum alam... sebuah Ketiadaan."

Penatua Feng menghentikan kunyahannya. "Ketiadaan? Di Shenzue? Menarik. Sangat menarik! Apakah ini ada hubungannya dengan pemuda misterius yang menghancurkan armada Pangeran Laut Ao Lie semalam? Hahaha! Sepertinya aku harus menyiapkan kacang rebus. Pertunjukan di Puncak Gerhana tidak akan berjalan membosankan seperti dugaan Klan Iblis Darah!"

"Sosok ini tidak mengenal aliansi," bisik Meng Ruyan, meletakkan bidak putih yang seketika retak menjadi dua. "Kita akan tetap bersikap netral. Siapa pun yang mencoba menghalangi jalan sosok ini... takdirnya hanya akan menjadi debu bintang."

Benua Tengah – Aula Hukuman Klan Han Kuno.

Sementara itu, di sebuah aula yang diterangi oleh api hijau pucat, atmosfer ketakutan yang absolut sedang menekan dada ratusan murid inti yang berlutut di lantai.

Di kursi singgasana batu, Tetua Hukuman Han Kui, seorang monster tua di ranah God King Puncak Menuju God Emperor, meremas sebuah Jimat Nyawa (Life Slip) yang telah hancur berkeping-keping.

"Han Lin... Tuan Muda Han Lin... terbunuh di Kota Seribu Layar," suara Tetua Han Kui terdengar seperti dua lempeng besi yang bergesekan, dipenuhi murka yang membuat api hijau di ruangan itu berkobar liar.

"Dari sisa fluktuasi jiwa yang tersisa di Menara Angin Samudera, pelakunya adalah seseorang dari alam bawah yang selama ini kita cari! Pemuda berjubah hitam bernama Zhao Xuan!"

Seorang utusan intelijen yang gemetar di lantai memberanikan diri berbicara. "L-Lapor Tetua! Menurut mata-mata bayangan kita, kapal yang ditumpangi sosok itu tidak berlayar ke Benua Tengah, melainkan menerobos Laut Azure menuju... Benua Utara. Tepat ke arah wilayah Klan Iblis Surgawi!"

Mata Tetua Han Kui menyipit berbahaya. "Benua Utara? Tempat Iblis Darah sedang menjalankan operasi yang kita danai? Bocah alam bawah ini tidak hanya membunuh murid jenius kita, tapi sekarang mencoba mengacaukan rencana besar Klan Han!"

Tetua Han Kui mengangkat tangannya. "Panggil Han Ye."

Mendengar nama itu, seluruh murid yang berlutut menahan napas ketakutan. Han Ye bukanlah tetua biasa; ia adalah "Pedang Pemenggal Bayangan" milik Klan Han, seorang pembunuh ranah Setengah Langkah God Emperor yang tubuh aslinya telah lama dilebur ke dalam Hukum Logam Kegelapan.

Dari balik bayangan singgasana, sepasang mata merah menyala, disusul oleh sosok yang terbungkus zirah hitam berduri melangkah keluar tanpa mengeluarkan suara langkah kaki sedikit pun.

"Pergilah ke Benua Utara, Han Ye," perintah Tetua Han Kui. "Aku tidak peduli jika kau harus membakar seluruh Klan Iblis Surgawi atau menginjak-injak faksi Iblis Darah di sana. Bawa kembali kepala Zhao Xuan, dan cabut jiwanya untuk disiksa di Lentera Penyiksa selama sepuluh ribu tahun!"

Han Ye tidak menjawab. Sosoknya hanya meleleh kembali menjadi bayangan, melesat menembus ruang, membelah jarak antara Benua Tengah dan Utara dengan kecepatan yang mengerikan.

Di Depan Benteng Puncak Gerhana – Benua Utara.

Matahari Benua Utara baru saja naik, memancarkan cahaya pucat yang tidak memberikan kehangatan apa pun.

Benteng Puncak Gerhana, pertahanan terakhir faksi loyalis Klan Iblis Surgawi, berdiri megah bak kastil hitam di atas gunung gletser. Namun, Formasi Kubah Malam yang melindungi kastil itu kini berkedip-kedip redup, dipenuhi retakan energi akibat serangan konstan berhari-hari.

Di luar benteng, puluhan ribu pasukan faksi pemberontak berdiri dalam barisan yang rapi, membawa panji-panji bulan sabit merah. Di belakang mereka, ratusan kereta perang berlumuran darah milik elit Klan Iblis Darah melayang di udara, memancarkan bau kematian yang menyengat.

Di udara, Penatua Agung Klan Iblis Surgawi seorang pria tua dengan jubah hitam-merah dan mata licik berdiri berdampingan dengan Utusan Darah Kegelapan, ahli God King Puncak dari klan iblis musuh.

"Waktunya hampir habis, Saudaraku," kekeh Utusan Darah Kegelapan. "Formasi loyalis itu akan hancur dalam dua jam. Setelah kita membunuh Patriark lamamu, jangan lupa janjimu. Setengah dari sumber daya tambang Kayu Es dan darah perawan Iblis Malam adalah milik klan kami."

Penatua Agung tersenyum sinis. "Tenang saja. Aku tidak peduli pada nyawa para idiot di dalam sana. Begitu Simbol Leluhur ada di tanganku, seluruh klan ini akan tunduk padaku."

Mereka semua berpikir bahwa merekalah sang pemain catur yang memegang kendali atas takdir Benua Utara. Tak satupun dari mereka menyadari, bahwa seorang Tiran baru saja menapakkan kakinya di benua ini, dan ia tidak datang untuk bermain catur... ia datang untuk menghancurkan papannya.

1
Nono19
wess thanks for crazy upnya author yok ngopi☕
Arinto Ario Triharyanto
iye kelamaan Thor, tumben
Budi Wahyono
ok
Sang_Imajinasi: Terima Kasih Bintang 5 nya 🙏
total 1 replies
prima ginting
nantap
Sang_Imajinasi: Terima Kasih Bintang 5 nya 🙏
total 1 replies
eka suci
lama juga koma nya , cepat bangun lah , ya walaupun Zhao tetap mampu ,tapi si kakek pemabuk mati , eh dikelilingi para cewe lagi nih🤭
eka suci
buat jadi debu juga musnahkan 💪
eka suci
ngga rela iiihhhh😥
eka suci
duuuuhhh masa si kakek mati sih long Ceng bakal mewek😥
eka suci
makanan mewah 😥 udah lama Zhao xuan ngga berdarah " shenzu emang agak beda🤭
eka suci
si batu kemana tuh ada camilan gratis malah bobo cantik
eka suci
kakek pemabuk jangan kaget ya ,jantung aman kan😄
eka suci
bantu mengarahkan biar ngga mati
eka suci
panggung nya masih dibutuhkan jadi petir nya harus di serap kau kejam Zhao 🤣🤣🤣
saniscara patriawuha.
blarrrrrrrrrr..... sikatttttt epribadiiii...
Xiao Bar
lanjutin
Xiao Bar
lanjut thor
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.
Jika Kalian Suka dengan cerita ini mohon bantuan untuk beri rating bintang dan vote nya.. 🙏 Penilaian kalian sangat berharga bagi author tetap semangat untuk update cerita ini. TERIMA KASIH.... ✌️
Mahyuni Muhyar
Lanjuuuttttt thor 🦾👍🏻
Boo Ceng Li
💪💪💪🔥🔥🔥
Sang_Imajinasi: Terima Kasih Bintang 5 nya 🙏
total 1 replies
eka suci
si batu itu mirip si kerak 🤭 udah si gembul tukang tidur, si burung suka main api sekarang si batu suka makan qi🤣🤣🤣
Sang_Imajinasi: tahan ya ingat sekerak🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!