NovelToon NovelToon
Sebelum Kita Mengaku

Sebelum Kita Mengaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:889
Nilai: 5
Nama Author: hrarou

Sebuah perkahwinan kontrak antara pewaris museum seni dan ahli perniagaan dingin. Tanpa cinta, tanpa pilihan, hanya keheningan yang menyembunyikan perasaan yang pernah ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sakit Hati

...l...

Moltemer mundar-mandir di dalam ruang kerjanya yang malap. Bau cerutu mahal menyelubungi udara, namun tidak mampu menenangkan kemarahan yang terpancar jelas pada wajahnya.

"Anak kurang ajar itu,"

"Valehart fikir dia boleh ketepikan kita begitu saja? Dia layan nama besar Ashford seolah-olah kita ini hanya satu gangguan kecil."

Clara duduk tegak di atas kerusi baldu, jemarinya memulas sapu tangan renda dengan gelisah. Wajah rapuhnya yang dibuat-buat telah lenyap, digantikan dengan binar mata yang dingin dan penuh tamak.

"Bersabarlah, sayang. Kita akan lihat nanti... sejauh mana mereka boleh bertahan," ujar Clara perlahan.

Clara memandang suaminya dengan tatapan yang sukar dibaca. "Ingat rencana kita? Kau hanya perlu percayakan aku."

Moltemer berhenti melangkah, matanya merenung ke arah kegelapan di luar tingkap. Dia tahu Lucien Valehart adalah lawan yang berbahaya, namun dia juga tahu setiap empayar pasti mempunyai titik retak.

Dan dia tidak akan berhenti sehingga dia menjumpai retakan itu pada perkahwinan anak saudaranya sendiri.

...----------------...

Beberapa hari berlalu seperti kabut tebal yang menyesakkan. Kehidupan di mansion Valehart terasa lebih sunyi, seolah-olah setiap sudut dinding sedang mengawasi dengan penuh kecurigaan. Aurora mencoba menenggelamkan diri dalam lukisannya, namun perasaan tidak enak terus menghantui setiap langkahnya.

Hingga suatu pagi, sebuah undangan mendadak dari neneknya membawa Aurora kembali ke kediaman lama keluarga Ashford.

Udara di ruang tamu neneknya terasa berat, pekat dengan aroma teh lama dan lavender kering.

Aurora duduk di pinggir sofa beludru, jemarinya gelisah memilin ujung roknya. Kesunyian di sana terasa menekan, hanya dipecahkan oleh detikan jam besar di sudut ruangan yang berirama.

Neneknya meletakkan cangkir porselennya dengan bunyi dentingan yang tajam. Tatapannya kali ini luar biasa serius, bahkan terlihat sangat dingin.

"Aurora, kita perlu mendiskusikan masa depan museum. Ada sesuatu yang baru saja sampai ke telinga Nenek mengenai dana abadi."

Aurora merasakan kedinginan mulai menjalar di tulang belakangnya. "Apa maksud Nenek? Semuanya stabil."

Pandangan neneknya menajam, berubah menjadi sedingin pagi musim dingin.

"Stabilitas hanyalah masalah perspektif, Aurora. Nenek telah menerima laporan... anonim, namun sangat terperinci... bahwa keuangan museum sedang dimanipulasi. Ada desas-desus bahwa beberapa karya dari brankas pribadi telah dijual secara diam-diam, tanpa prosedur hukum apa pun."

Aurora membeku. Jantungnya berdegup kencang seolah ingin meledak. "Apa? Itu mustahil! Aku tidak akan pernah—"

"Catatan menunjukkan adanya ketidaksesuaian," potong neneknya dengan suara mutlak. "Jika kamu menjual maruah keluarga hanya untuk membiayai 'keinginan artistikmu', Aurora, maka syarat dalam wasiat itu tidak akan cukup. Nenek tidak akan membiarkan warisan Ashford dilebur secara rahasia."

Aurora sentak berdiri hingga kursinya berdecit tajam di atas lantai marmer. Rasa geram meluap di dadanya, panas dan menyesakkan. Tuduhan yang tidak masuk akal itu membuat darahnya mendidih.

"Bagaimana Nenek bisa percaya hal seperti itu?!" teriaknya, suaranya bergetar antara amarah dan rasa dikhianati.

"Aku menghabiskan setiap waktu untuk melindungi museum itu! Aku tidak akan pernah menjual satu pun karya di sana—"

Ia menatap neneknya— menahan frustrasi.

Udara di ruangan itu terasa beracun.

Ekspresi neneknya sedikit melembut, tapi hanya sebentar. Matanya tetap diselimuti keraguan.

"Jika kamu jujur pada Nenek sekarang, Aurora, Nenek masih bisa melindungimu," ujar wanita itu, suaranya merendah, hampir seperti sebuah bujukan yang licin.

"Jika ada kesalahan, atau jika kamu memang sempat tergiur, katakan saja. Nenek bisa mengatur segalanya agar publik tidak tahu. Tapi jika terus berbohong dan kebenarannya meledak nanti, Nenek tidak akan sudi membantumu lagi."

Darah Aurora mendidih.

Sindiran bahwa ia seorang penipu—bahwa gairahnya terhadap seni hanyalah topeng untuk keserakahan—adalah penghinaan yang jauh lebih menyakitkan daripada sikap dingin Lucien sekalipun.

Ia tidak butuh "perlindungan" dari seseorang yang bahkan tidak mempercayai kejujurannya.

"Aku tidak punya apa pun untuk diakui!" teriak Aurora, suaranya pecah karena amarah yang memuncak.

Ia melangkah mundur, matanya menatap neneknya dengan binar kekecewaan yang mendalam.

"Begitu rendahnya ya, penilaian Nenek padaku?" Aurora tertawa hambar, matanya berkaca-kaca karena amarah.

"Nenek lebih memilih percaya pada surat tanpa nama daripada kejujuranku selama bertahun-tahun."

"Silakan jaga 'citra' museum Nenek yang sempurna itu, jangan harap aku akan merendahkan diriku untuk meminta bantuan pada orang yang menganggapku pencuri."

Aurora mengepalkan tangannya, dadanya naik turun.

"Jangan tawarkan perlindungan padaku jika harga yang harus kubayar adalah mengakui kebohongan yang tidak pernah kulakukan."

Aurora tidak menunggu jawaban lagi. Ia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan ruang tamu itu, suara tumit sepatunya yang beradu tajam dengan lantai marmer terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur kemarahannya.

Udara di luar terasa sejuk, namun sama sekali tidak mampu mendinginkan api yang sedang membakar pembuluh darahnya.

Ia merasa telanjang dan terpapar, dikhianati oleh satu-satunya orang yang seharusnya mempercayainya di atas segalanya. Rasa sesak di dadanya semakin menjadi, seolah seluruh dunia sedang bersekongkol untuk menjatuhkannya.

......................

Mansion itu terasa sangat luas dan dingin, jauh lebih sunyi dari biasanya. Aurora duduk meringkuk di dalam studionya, dikelilingi oleh tumpukan buku besar keuangan dan dokumen hukum yang mulai terlihat kabur di matanya.

Satu lampu meja yang menyala memberikan bayangan panjang dan tajam di seluruh ruangan, seolah-olah meniru kekacauan yang sedang terjadi di dalam pikirannya.

Ia memeriksa lembar kertas itu sekali lagi.

Jemarinya gemetar saat memobolak-balik lembaran itu.

Ia mencari jejak kesalahan apa pun yang bisa menjelaskan tuduhan neneknya. Namun, angka-angka itu terlihat steril dan sangat presisi.

"Di mana letak kesalahannya?" bisiknya, suaranya terdengar hampa.

Semakin keras ia mencari, semakin kuat rasa sesak yang menghimpit dadanya.

Jam demi jam berlalu, dan hasilnya selalu sama.

Tidak ada apa-apa.

Tidak ada dana yang hilang. Tidak ada penjualan rahasia. Semua catatan itu tampak sempurna tanpa celah sedikit pun.

Sebuah geraman frustrasi pecah dari tenggorokan Aurora. Dengan satu gerakan kasar, ia menyapu tumpukan dokumen di atas meja, membuat kertas-kertas itu terbang berserakan seperti burung-burung yang terluka. Dokumen itu jatuh berhamburan di lantai, menutupi lantai dengan kekacauan kertas putih.

"Ini semua omong kosong!" Napasnya memburu, suaranya parau karena amarah yang tertahan di tenggorokan.

Ia mengempaskan tubuhnya ke kursi, mencengkeram rambutnya dengan frustrasi. Kepalanya terasa pening, berdenyut seirama dengan detak jantungnya yang tak beraturan.

Ketidakadilan ini terasa seperti beban fisik yang nyata, menghimpit paru-parunya hingga sesak.

Bagian yang paling menyakitkan— neneknya lebih memilih mempercayai selembar laporan anonim daripada kejujuran darah dagingnya sendiri.

Aurora masih meringkuk dalam keheningan.

Ia tidak mendengar langkah kaki terukur yang mendekatinya.

"Ini jam tiga pagi."

Suara itu muncul tiba-tiba dari kegelapan, sebuah getaran rendah yang memotong kesunyian studio.

Aurora tersentak hebat. Sebuah pekikan kecil lolos dari bibirnya saat ia berputar dengan cepat, hampir saja menyenggol lampu meja hingga jatuh.

Jantungnya berdegup kencang seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Matanya melebar, menatap sosok yang berdiri di ambang pintu.

Lucien.

Pria itu berdiri di sana, menjadi siluet gelap di antara bayangan. Kehadirannya membawa hembusan udara dingin yang mendadak ke dalam ruangan.

Ia tidak menawarkan pelukan. Tidak juga kata-kata manis. Itu bukan gayanya.

"Dan kau sedang membiarkan dirimu hancur karena tumpukan kertas ini," lanjut Lucien tenang.

Mata abu-abunya menyapu dokumen yang berserakan di lantai sebelum kembali tertuju pada sosok Aurora yang gemetar. Ia sedang menakar sedalam apa luka yang dirasakan istrinya saat ini.

"Sudah berapa lama kau berdiri di sana?!" bentak Aurora dengan suara bergetar, mencoba menutupi rasa terkejutnya.

Dengan panik, ia mencoba mengumpulkan dokumen yang berserakan kembali menjadi tumpukan. Seolah-olah dengan menyembunyikan kekacauan itu, ia bisa menghapus kerapuhannya di depan Lucien.

Lucien tidak bergerak sedikit pun. Ekspresinya sedatar dan sesulit dibaca seperti biasanya.

"Cukup lama untuk melihat bahwa kau sudah kehilangan kendali," jawabnya tenang.

Aurora mendengus, suara tawa pahit yang pecah di tengah studio yang sunyi. Ia menyisir rambutnya ke belakang dengan jari, gerakannya terlihat frustrasi dan sangat lelah.

"Kehilangan kendali?" bisiknya dengan suara yang nyaris hilang.

"Aku tidak sedang kehilangan kendali."

Ia menatap Lucien, matanya yang basah mencari sekilas saja rasa empati dari pria itu.

"Mereka menganggapku pencuri di rumahku sendiri. Kau tahu apa artinya itu? Namaku tidak lagi berarti apa-apa."

Namun, Lucien tetap diam seperti patung. Mata abu-abunya tetap dingin dan analitis.

"Kebenaran itu tidak relevan jika persepsi orang lain sudah dikendalikan," ujar Lucien datar.

"Kau sedang melawan gejalanya. Seharusnya kau mencari sumbernya."

"Sumber apa?! Tidak ada yang bisa kulakukan!" teriak Aurora, suaranya pecah.

Ia berdiri mendadak hingga kursi berderit kasar. Ia menunjuk liar ke arah kekacauan kertas di sekitarnya.

"Aku sudah memeriksa semuanya! Tidak ada kesalahan, tidak ada akun rahasia, tidak ada lukisan yang hilang!"

Mata Aurora berkilat panas. Sikap klinis Lucien, cara pria itu mereduksi rasa sakit hatinya menjadi sekadar teka-teki logika—adalah batas akhirnya.

Ia melangkah mendekat, dadanya naik-turun.

"Kau dan 'sumber' serta 'persepsimu' itu!" desisnya tajam.

"Apa kau punya hati, atau dadamu itu cuma berisi buku besar lainnya? Kau malah menceramahiku soal strategi!"

Bagi Aurora, ketenangan Lucien saat ini adalah sebuah penghinaan.

Lucien tidak mundur. Sebaliknya, ia melangkah lebih dekat dengan gerakan yang tenang dan lambat.

Kedinginan yang menyesakkan dalam kehadirannya bergeser. Digantikan oleh ketenangan stabil yang terasa seperti perisai di tengah badai.

Ia tidak menyentuh Aurora, tapi ia membungkuk cukup dekat hingga Aurora bisa merasakan panas dari tubuh pria itu.

"Aku punya hati," gumamnya.

Suaranya turun menjadi senandung lembut sehalus beludru yang seolah meredam sisi tajam amarah Aurora.

"Aku hanya tidak membiarkan perasaanku menguasai diriku saat logika lebih dibutuhkan untuk menyelamatkanmu."

Mata abu-abunya kini menyimpan kilatan sesuatu yang kokoh dan menenangkan.

"Berhenti melawan kertas-kertas ini."

Lucien mengucapkannya dengan finalitas yang tenang. Lalu, ia melakukan sesuatu yang benar-benar tak terduga.

Tanpa satu pun kata perintah, Lucien berlutut.

Celana kain mahalnya menekan lantai yang berdebu saat ia mulai memungut dokumen yang berserakan.

Gerakannya lambat dan metodis. Jemari panjangnya memunguti kertas demi kertas dengan presisi yang terasa hampir lembut.

Ia tidak menoleh ke arah Aurora. Ia fokus merapikan kekacauan yang telah dibuat istrinya.

Pemandangan seorang Lucien Valehart berlutut di tengah puing-puing frustrasinya, terasa sangat menggetarkan bagi Aurora.

"Istirahatlah," tambahnya tanpa menoleh. Suaranya menjadi jangkar yang tenang di tengah kegelapan.

"Aku akan mencari cara untuk menanganinya."

Aurora berdiri terpaku. Napasnya tertahan.

Ia tidak bicara. Takut satu kata saja akan merusak suasana dan mengembalikan "orang asing" yang klinis itu.

Lucien bangkit berdiri. Kertas-kertas itu sudah tertumpuk rapi di tangannya.

Ia tidak menunggu ucapan terima kasih. Ia hanya berdiri di sana dengan kepastian yang mutlak.

"Terserahlah..." gumam Aurora pelan.

Kata itu hanyalah tameng rapuh untuk menutupi kebingungan yang berputar di dadanya.

Karena tidak sanggup membalas tatapan Lucien, ia berbalik dan melarikan diri dari ruangan itu menuju kamarnya.

Lucien tetap berada di studio.

Ia tidak mengejarnya. Ia hanya berdiri di sana, memegang erat tumpukan kertas itu.

Ia menunduk menatap dokumen di tangannya. Mata abu-abunya menyempit tajam.

Kelembutan beberapa saat lalu lenyap total.

Kini, yang tersisa hanyalah fokus yang dingin, mematikan, dan penuh perhitungan.

1
Viaalatte
keren narasinya kaya novel cetak
Manusia Ikan 🫪
kamu mahasiswa arsitektur?
Manusia Ikan 🫪
Aurelia, namanya mirip nama Kekaisaran di novel ku/Smile/
Manusia Ikan 🫪
aku tinggal kan jejak bentar, nanti siang aku mampir lagi, sudah subuh soalnya😹
hrarou: terima kasih sudah mampir 😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!