Lily mati akibat kanker usus setelah hidupnya habis hanya untuk bekerja. Begitu membuka mata, ia telah menjadi Luvya Vounwad, gadis 12 tahun yang nantinya ditakdirkan menjadi antagonis tragis dalam novel yang pernah dibacanya. Ia bertekad mengubah alur agar tidak berakhir mati mengenaskan seperti nasib asli Luvya.
Namun, saat Luvya mulai bergerak mengubah nasibnya, Kael muncul sebagai anomali. Bukannya menjadi kakak angkat yang mewarisi gelar ayahnya, ia justru hadir sebagai Duke Grandwick yang berkuasa dan sangat terobsesi pada Luvya. Naskah yang ia tahu kini hancur total. Di tengah jalan cerita yang berantakan, bagaimanakah cara Luvya merubah segalanya demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rembulan Pagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Janji Jari Kelingking
Beberapa hari telah berlalu sejak malam yang menyiksa itu. Berkat ramuan herbal Willy dan daya tahan tubuh Luvya yang entah bagaimana terasa lebih kuat dari sebelumnya, luka-luka di punggungnya mulai mengering.
Pagi ini, Luvya memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Ia berjalan mengendap-endap di sepanjang lorong Mansion Vounwad, sesekali bersembunyi di balik pilar jika mendengar derap langkah sepatu bot yang berat. Ia benar-benar tidak ingin berpapasan dengan Duke Vounwad. Targetnya hari ini hanya satu: Kael.
Luvya sudah berkeliling ke beberapa sudut mansion yang biasa dilalui pelayan, namun sosok jangkung berambut hitam itu tidak terlihat di mana pun.
Apakah dia ada di arena latihan militer? batin Luvya sambil menatap ke arah sayap timur mansion yang luas.
Ia teringat peringatan keras Willy kemarin. "Nona, tolong jangan pernah mendekati arena militer. Tuan Duke sangat melarang siapa pun yang tidak berkepentingan masuk ke sana, apalagi Anda," tirunya dalam hati.
Luvya mendengus pelan. Toh, sebentar lagi aku juga akan pergi dari sini. Apa gunanya mematuhi peraturan monster itu sekarang?
Dengan tekad bulat, Luvya mulai berjalan melewati taman belakang yang sepi, mengambil jalur khusus yang menuju langsung ke gerbang arena militer. Jantungnya berdegup sedikit kencang saat melihat gerbang besi raksasa di depannya. Namun, sebelum kakinya benar-benar menginjak area terlarang itu, langkahnya terhenti.
Sesosok remaja jangkung berdiri tepat di depannya, baru saja keluar dari arah arena. Tubuhnya tampak berkeringat, dan aura dingin masih terpancar dari wajahnya yang kaku.
Luvya tersentak kaget. Ia hampir saja menabrak dada remaja itu jika tidak segera mengerem langkahnya.
"Hai, Kael!" sapa Luvya dengan nada yang terdengar sedikit kikuk.
Lily, yang berada di dalam tubuh Luvya, merasa sangat canggung. Jika mengikuti usia jiwanya, ia adalah seorang wanita berumur 20 tahun, yang artinya Kael hanyalah seorang adik baginya. Namun, jika melihat fisiknya yang sekarang, ia hanyalah anak kecil berusia 12 tahun yang bahkan kepalanya saja tidak sampai ke bahu Kael.
Kebingungan itu terpancar jelas di wajah Luvya. Ia bingung harus bersikap dewasa seperti Lily atau bersikap manis seperti anak kecil pada umumnya.
Kael tidak menyahut. Ia hanya berdiri mematung, menatap Luvya dengan mata biru tuanya yang tajam dan dalam, seolah sedang menilai kenapa gadis yang baru saja disiksa tempo hari itu sekarang malah berkeliaran di area latihan militer.
"E-eh... kau baru selesai latihan?" tanya Luvya lagi, mencoba mencairkan suasana yang mendadak membeku itu.
Tidak ada jawaban dari Kael. Remaja itu hanya diam mematung seperti patung marmer, menatap Luvya dengan intensitas yang membuat Luvya salah tingkah. Luvya memutar otak, mencoba mengingat-ingat kembali interaksi mereka di dalam novel. Memang benar, saat adegan mereka mengatur siasat menculik Sellia dulu, Kael digambarkan sebagai sosok yang tidak banyak bicara dan hanya menuruti perintah.
Jadi, Kael ini seorang introvert ya? batin Luvya sambil mengerjapkan mata. Atau dia memang tidak punya kemampuan bersosialisasi sama sekali?
Luvya akhirnya memaksakan sebuah senyuman lebar, berusaha mencairkan suasana yang terasa membeku di antara mereka. Ia melangkah sedikit lebih dekat ke arah Kael, mengabaikan jarak tinggi badan mereka yang cukup mencolok.
"Terima kasih ya, sudah menolongku waktu beberapa hari yang lalu. Kalau tidak ada kau, mungkin kepalaku sudah bocor menghantam lantai," ucap Luvya tulus.
Kael akhirnya membuka suara, namun jawabannya benar-benar di luar dugaan. "Aku tidak menolongmu," ucapnya datar, hampir tanpa ekspresi.
Luvya langsung melongo. Keramahan yang tadi ia bangun mendadak runtuh oleh rasa bingung.
Loh? Bukannya kata Willy dia yang menangkapku?
Namun, belum sempat Luvya bertanya lebih lanjut, Kael menyambung kalimatnya dengan nada yang sedikit lebih rendah, hampir seperti bisikan yang penuh penyesalan.
"Maaf karena aku tidak sempat menolongmu."
Luvya terdiam, rasa bingungnya bertambah berkali-kali lipat. Butuh waktu beberapa detik bagi jiwa dewasanya untuk mencerna maksud perkataan Kael.
Ah... maksudnya dia merasa bersalah karena tidak bisa mencegah Duke mencambukku?
Luvya kembali tersenyum, kali ini senyumannya terasa lebih lembut dan tulus. Ia bisa melihat kilat rasa bersalah di mata biru tua itu.
"Tidak apa-apa, Kael. Itu bukan salahmu, jangan dipikirkan," sahut Luvya menenangkan. "Lagipula, lihat!" Luvya sedikit memutar tubuhnya, menunjukkan punggungnya dengan ceria, meski tentu saja lukanya tertutup gaun. "Berkat bantuanmu juga, aku sekarang sudah sembuh. Luka-lukanya sudah tidak perih lagi."
Kael tetap tidak bergeming, namun matanya mengikuti gerakan Luvya. Ada sesuatu yang melunak dalam tatapannya saat melihat gadis kecil di depannya bisa tersenyum seolah-olah cambukan tempo hari hanyalah mimpi buruk yang remeh.
Kael menunduk, matanya menatap lekat ke arah bahu Luvya yang tempo hari berlumuran darah. "Apakah... masih sakit?" tanyanya dengan suara yang sangat pelan.
Luvya tertawa kecil, suara tawanya terdengar renyah namun ada nada ketegaran di sana. "Sedikit, tapi lihatlah, aku kuat!" ucapnya sambil menepuk dadanya sendiri dengan bangga.
Luvya terdiam sejenak. Ia menatap mata biru tua Kael, mencoba menanamkan pesan penting sebelum takdir pengasingan itu benar-benar menjemputnya. Ia tahu, di novel nanti Kael akan melakukan hal-hal buruk hanya karena rasa bersalah pada Luvya. Lily tidak ingin itu terjadi.
"Dengarkan aku, Kael. Tidak perlu merasa bersalah atas apa pun," ucap Luvya dengan nada serius yang membuat Kael sedikit terperanjat. "Ini semua adalah kesalahan Duke Vounwad, bukan kau. Jadi, tidak apa-apa."
Luvya menarik napas panjang. Ia memikirkan kemungkinan terburuk jika jiwa Luvya yang asli kembali dan menjadi jahat. "Jika di kemudian hari kita bertemu lagi, dan aku bersikap jahat kepadamu atau memintamu melakukan hal buruk... tolong, jangan pernah dengarkan omonganku."
Kael mengerutkan kening dalam, rasa bingung terpancar jelas dari sorot matanya. Ia tidak mengerti kenapa gadis di depannya ini membicarakan masa depan yang terdengar sangat aneh. Namun, Luvya tidak membiarkan Kael tenggelam dalam kebingungan itu.
Luvya tersenyum cerah, lalu mengulurkan jari kelingkingnya ke arah Kael. "Janji, ya?"
Kael hanya menatap jari kelingking mungil itu dengan canggung. Ia tampak tidak tahu apa yang harus ia lakukan dengan jari tersebut. Melihat Kael yang hanya diam membatu, Luvya gemas. Dengan berani, ia meraih tangan Kael yang besar dan kasar—tangan yang sudah terbiasa memegang pedang—lalu menautkan jari kelingking mereka secara paksa.
"Intinya, kau harus berjanji padaku," ucap Luvya tegas sambil menggoyangkan tautan jari mereka. "Jangan pernah melakukan hal jahat seperti yang Duke Vounwad lakukan. Entah siapa pun yang memerintahkan hal jahat itu kepadamu, termasuk aku sekalipun, jangan pernah kau lakukan."
Luvya mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata biru Kael yang kini tampak bergetar sedikit. "Mengerti?" tanya Luvya sambil memberikan senyuman terbaiknya.
Kael terdiam cukup lama, matanya beralih menatap jari kelingking kecil Luvya yang masih tertaut erat di jari kelingkingnya yang jauh lebih besar dan kasar. Ia merasa aneh, ada kehangatan kecil yang menjalar dari tautan itu, sesuatu yang tidak pernah ia rasakan di tengah kerasnya kehidupan yang selama ini ia jalani.
"Mengerti," jawab Kael akhirnya dengan suara rendah yang mantap.
Mendengar jawaban itu, Luvya perlahan melepaskan tautan kelingking mereka. Ada sedikit rasa dingin yang tiba-tiba terasa saat kontak kulit itu berakhir. Luvya kemudian merogoh saku gaunnya, mencari-cari sesuatu di sana, sementara Kael masih terpaku menatap jari kelingkingnya sendiri yang baru saja dilepaskan.
Luvya mengeluarkan bungkusan kecil yang dilapisi sapu tangan kain berwarna putih. Di ujung sapu tangan itu, terdapat sulaman rapi bertuliskan namanya: Luvya.
"Ini untukmu," ucap Luvya sambil menyodorkan bungkusan itu ke tangan Kael. "Makanlah. Anak-anak biasanya suka makanan manis, kan? Dulu aku sangat menyukainya, tapi tidak pernah punya uang untuk membelinya. Jadi, aku ingat kau dan ingin memberikannya padamu."
Luvya terus mengoceh riang, menceritakan betapa berharganya cokelat itu baginya dulu, sementara Kael hanya diam seribu bahasa. Remaja itu menatap bungkusan di tangannya, lalu beralih menatap setiap lekuk sulaman nama Luvya yang ada di sapu tangan tersebut dengan pandangan yang sangat dalam.
"Hanya itu yang bisa kuberikan, Kael. Aku tidak punya barang berharga apa pun lagi di sini, kecuali kalung ini," ucap Luvya sambil menyentuh permata yang melingkar di lehernya. "Tapi aku harus menyimpannya baik-baik karena ini bukan pemberian dari Duke."
Luvya tiba-tiba teringat bahwa masih banyak hal yang harus ia siapkan di kamarnya. Waktunya tidak banyak sebelum "badai" itu benar-benar datang.
"Ah, aku hampir lupa ada hal penting yang harus kulakukan! Aku pergi dulu ya, Kael!"
Luvya berbalik, melangkahkan kakinya menjauhi gerbang arena militer. Sambil berjalan, ia sempat menoleh lagi, melambaikan tangan kecilnya dan memberikan senyuman paling riang yang ia punya. Setelah sosoknya mulai menjauh dan memasuki rimbunnya taman, Luvya bergumam pelan pada dirinya sendiri.
"Semoga setelah ini... tidak ada lagi kejadian buruk yang menimpanya. Semoga dia tidak perlu menjadi senjata pembunuh yang dingin."
Sementara itu, di depan gerbang yang sunyi, Kael tidak bergeming sedikit pun. Ia terus memandang punggung Luvya yang perlahan mengecil, sampai akhirnya gadis itu benar-benar menghilang dari pandangannya. Ia menggenggam bungkusan di tangannya dengan sangat hati-hati, seolah-olah jika ia menekannya terlalu kuat, kehangatan yang baru saja ia rasakan akan ikut hancur.
Kael masih mematung di tempatnya, matanya terpaku pada butiran cokelat yang terbungkus rapi di dalam sapu tangan bersulam nama Luvya. Namun, ia tidak menyadari bahwa di lantai atas bangunan utama mansion, dari balik jendela kaca besar yang gelap, sepasang mata emas yang dingin telah mengamati seluruh interaksi itu sejak awal.
Duke Vounwad berdiri dengan tangan tertaut di belakang punggung, wajahnya kaku tanpa emosi sedikit pun. Di sampingnya, Gogrid menunggu instruksi dengan kepala tertunduk.
Duke mendengus rendah, sebuah suara yang penuh dengan rasa jijik. "Sepertinya aku harus mempercepat pengasingan anak itu," ucapnya, suaranya terdengar seperti gesekan logam yang tajam.
Gogrid sedikit mendongak, menunggu kelanjutan perintah tuannya.
"Pastikan kepergiannya tidak ada seorang pun yang tahu," lanjut Duke tanpa mengalihkan pandangannya dari sosok Kael yang masih berdiri di kejauhan. "Aku tidak ingin ada rumor sekecil apa pun yang beredar di kekaisaran mengenai keberadaannya lagi. Bersihkan seluruh jejak itu hingga tidak ada yang ingat bahwa dia pernah menginjakkan kaki di mansion ini."
Duke Vounwad membalikkan badannya, membelakangi jendela. Cahaya lampu ruangan yang remang membuat bayangannya tampak seperti monster yang menelan ruangan itu. Ia merasa keberadaan Luvya hanya akan menjadi noda bagi masa depan Kael yang sedang ia bentuk menjadi senjata sempurna.
Dengan nada yang penuh kebencian yang mendalam, ia mengucapkan kalimat terakhirnya sebelum meninggalkan ruangan.
"Anak haram seperti itu harus menyingkir dari kekuasaanku."