Argantara, 27 tahun, supir setia keluarga Harsono yang hidupnya sederhana dibawa Pak Harsono dari panti asuhan tempat dia dibesarkan.
Dua belas tahun lalu, dia menyelamatkan nyawa Pak Harsono dari kecelakaan, dan sejak itu Pak Harsono menganggapnya seperti anak sendiri.
Kini Pak Harsono divonis kanker paru stadium tiga dan hanya punya waktu satu tahun.
Dia punya satu permintaan terakhir: "menikahkan Argantara dengan putri semata wayangnya, Kirana Prameswari"
Tujuannya bukan cinta, tapi agar Kirana yang keras kepala tidak merasa sendirian saat dia pergi...
Kirana Prameswari, pewaris perusahaan HARSONO yang dingin dan perfeksionis, awalnya menolak keras. Bagi dia, Argantara hanya supir dekil yang bau garasi.
Tapi demi sang ayah, dia terpaksa menerima pernikahan itu.
Tapi dibalik setujunya Kirana Ada kontrak yg hanya Kirana dan Arga yang tau.
Pernikahan yang dimulai dari kebohongan dan paksaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars JuPiter🪐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 : KEMBALI DENGAN KONTRAK YANG TAK MASUK AKAL
3 HARI sudah berlalu sejak Pak Harsono dirawat di Rumah Sakit Cipto.
Selama 3 hari itu, Kirana tidak pernah sekalipun meninggalkan ayahnya.
Dia tidur di kursi pendamping pasien. Makan seadanya. Mandi hanya kalau Bibi Rina memaksa.
Setiap malam dia memegang tangan Pak Harsono yang dingin, berbisik, "Papa... tolong jangan pergi... Kirana belum siap..."
Kadang kala Arga datang mengantarkan sarapan untuk Tuan dan Nona-nya.
Kopi hitam untuk Pak Harsono. Jus alpukat tanpa gula untuk Kirana.
Raka cuma bisa menatap Kirana dengan iba.
"Nona... tolong jaga kesehatanmu juga ya... Tuan pasti nggak mau Nona sakit..."
Kirana hanya mengangguk pelan. Air matanya sudah kering, tapi matanya tetap sembab.
Sementara itu...
Arga yang harus menghandel semua pekerjaan di kantor Harsono Group dengan dibantu Sekretaris Pak Harsono, Bu Lina.
Meja Pak Harsono yang biasanya rapi kini dipenuhi tumpukan dokumen dan kontrak penting.
Arga belajar cepat. Sangat cepat.
Dari yang awalnya cuma bisa nyetir Alphard, sekarang dia harus tanda tangan kontrak kerja sama miliaran rupiah.
Tak jarang pula Arga mewakili Pak Harsono untuk kunjungan kerja sama dengan perusahaan mitra.
Pertemuan pertama Arga dengan para direksi itu menegangkan.
"Pak Arga ini siapa? Kenapa bukan Pak Harsono yang datang?" salah satu dari mereka bertanya.
"Pak Harsono sakit, Bapak/Ibu. Saya diutus untuk mewakili beliau," jawab Arga dengan suara tenang tapi tegas.
Tapi yang mengejutkan...
Para direksi perusahaan cukup kagum dengan kemampuan yang dimiliki Arga tidak bisa dianggap remeh. Kalau Arga mau belajar lebih giat lagi, tak menutup kemungkinan suatu saat dia akan memimpin Perusahaan.
Caranya bicara yang lugas. Analisanya tajam. Keputusannya cepat tapi tetap hati-hati.
Dia tidak seperti anak muda yang sok tahu. Dia mendengar, mencatat, memperbaiki. Dia sangat menghargai pendapat orang.
Bahkan para staf di kantor juga sangat senang dengan kehadiran Arga.
Arga dikenal sangat baik. Tidak pernah membeda-bedakan sesama karyawan.
Bahkan OB sekalipun disapa dengan senyum dan sapaan tulus "selamat pagi pakk..?" Sapa seorang OB
Suatu sore, salah satu staf marketing berbisik ke temannya,
"Gue jujur... kalau Pak Harsono pensiun, gue berharap yang gantiin itu Pak Arga."
"Iya... Pak Arga itu tegas tapi adil. Nggak sombong. Nggak pernah marah-marah."
Diam-diam sebagian dari mereka berharap... bisa dipimpin oleh Pak Arga
DI RUANG VIP RUMAH SAKIT.
Kirana menatap ayahnya yang masih terlelap.
Pak Harsono tidur dengan selang oksigen di hidungnya. Wajahnya pucat tapi terlihat lebih tenang dari 3 hari lalu.
"Papa... Kirana kangen Papa yang sehat... Papa yang dulu..."bisik Kirana sambil mengusap rambut ayahnya.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka pelan.
Arga masuk dengan membawa tas dokumen di tangannya.
"Non... maaf saya ganggu..." suaranya pelan.
Kirana menoleh.
Wajah Arga terlihat lelah. Mata hitamnya ada kantung hitam. Jas hitamnya sedikit kusut.
Tapi tetap... rapi. Tetap... tulus.
"Gimana keadaan Papa?" tanya Arga sambil meletakkan tasnya di sudut ruangan.
Kirana menghela napas.
"Stabil... dokter bilang kondisi Papa nggak memburuk. Tapi juga nggak membaik..."
Hening sejenak.
Hanya terdengar suara monitor jantung yang berdetak pelan.
"Non... ini laporan kunjungan saya ke PT. Maju Sejahtera tadi siang..."
Arga menyerahkan satu map dokumen ke Kirana.
"Saya sudah tanda tangani atas nama Pak Harsono. Saya harap Non Kirana nggak keberatan..."
Kirana menerima map itu dengan ragu.
Dia membuka sedikit.
Tanda tangan Arga ada di sana. Rapi. Jelas. ARGANTARA PRATAMA.
Kirana menatap Arga dalam-dalam.
"Kenapa kamu... kenapa kamu bisa segesit ini, Ga?"
"2 Tahun yang lalu kamu cuma supir. Sekarang kamu... kamu kayak CEO beneran..."Kirana sedikit menarik bibir nya ke atas. Ada perasaan kagum yang halus menjalar masuk ke relung hatinya. " Cihhhh...apaan si Kirana..dari dulu gue tuh benci sama dia..." sepersekian detik Kirana sadar dan segera kembali ke setelan awal Jutek ke Arga.
Arga tersenyum getir.
"Saya belajar, Non. Saya nggak mau mengecewakan Tuan. Saya nggak mau perusahaan ini hancur..."
Arga menatap Kirana.
"Dan saya... saya nggak mau Nona sendirian kalau... kalau suatu hari nanti......tuan nggak ada "Arga keceplosan segera
menutup rapat rapat mulut nya. Untung Kirana
tak berfikir aneh dan gak curiga.
KIRANA TERDIAM.
Kalimat terakhir Arga itu seperti palu yang menghantam kepalanya.
"Kalau suatu hari nanti Tuan nggak ada..."
Kata-kata itu menusuk jantungnya.
Kirana menunduk.
"Arga... makasih ya..." suaranya bergetar.
"Untuk semuanya... untuk jaga Papa... untuk jaga perusahaan Papa... untuk jaga aku..."
Arga hanya mengangguk.
"Ini tugas saya, Non."
Tapi di dalam hatinya, Arga berteriak:
"BUKAN... INI BUKAN CUMA TUGAS... INI HATIKU, NONA...ASAL KAMU NONA AKU SANGAT MENYAYANGIMU NONA ....BAHKAN SAAT PERTAMA KALI BERTEMU...SAAT PERTAMA KALI TUAN MENGENALKAN KITA 10 TAHUN LALU" teriak arga isi hati Arga, hanya saja ia ungkapan di dalam hati.
DI LUAR RUANGAN.
Bu Lina sekretaris Pak Harsono
yang melihat Kirana dan Arga dari kejauhan hanya bisa tersenyum tipis.
"Pak Harsono... pilihanmu tepat..."batinnya.
"Dua anak muda itu... pelan-pelan mereka saling jaga..."
1 MINGGU sudah berlalu sejak Pak Harsono dirawat di Rumah Sakit Cipto.
Akhirnya dokter memperbolehkan Pak Harsono pulang.
Tapi dengan satu catatan keras:
"Pak Harsono tidak boleh berpikir yang berat-berat. Hindari kegiatan yang melelahkan. Istirahat total."
Dokter Andi menatap Kirana dan Arga bergantian.
"Kalau Pak Harsono stres, kondisinya bisa kembali memburuk. Tolong jaga beliau baik-baik."
Kirana mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
"Siap, Dokter. Kirana janji."
DI KEDIAMAN HARSONO.
Matahari sudah mulai tenggelam saat mobil Alphard hitam berhenti di depan rumah besar Harsono.
Pintu terbuka.
Pak Harsono keluar dengan dibantu kursi roda. Wajahnya masih pucat, tapi senyumnya lega.
"Akhirnya... bisa pulang juga..." bisiknya pelan.
Kirana langsung berjongkok di depan kursi roda ayahnya.
"Papa... selamat datang di Rumah ..." suaranya bergetar.
Kirana memeluk kaki Pak Harsono erat-erat.
"Papa... jangan pergi lagi ya... jangan tinggalin Kirana lagi..."dengan pelupuk mata yg sedikit ber air.
Pak Harsono mengusap kepala Kirana dengan tangan yang kurus.
"Jangan nangis, Nak... Papa ada di sini..."
Di samping mereka, Arga berdiri diam dengan tangan di belakang.
Dia menatap Pak Harsono dengan tatapan penuh hormat dan kekhawatiran.
"Nona tolong kuat ya... untuk Nona... untuk Tuan adik-adik di panti..."batinnya.
Raka dan Bibi Rina langsung menyambut dengan air mata.
"Puji Tuhan... Tuan akhirnya pulang..."
MALAM HARI. JAM 21.00.
Rumah besar Harsono sudah sepi.
Lampu taman belakang menyala temaram, menerangi kolam kecil dan ayunan kayu yang sudah lama tidak dipakai.
Tiba-tiba ponsel Arga bergetar.
Pesan dari Kirana:
"Arga... bisa kita bertemu di taman belakang sekarang? Aku perlu bicara."
Arga menelan ludah.
Jantungnya langsung berdegup kencang.
"Nona Kirana... mau bicara apa jam segini?"
Arga menatap ke arah kamar Pak Harsono. Pintunya tertutup rapat.
Dia menarik napas dalam-dalam lalu berjalan pelan ke taman belakang.
DI TAMAN BELAKANG.
Kirana sudah duduk di ayunan kayu dengan rambut terurai dan memakai cardigan putih tipis.
Wajahnya tidak semarah dulu. Tidak sesombong dulu, wajahnya sedikit pucat tanpa riasan. Di tangannya ada seberkas map.
Arga berhenti beberapa langkah di depannya.
"Non... ada apa? Kenapa nggak bicara di dalam saja?"
Kirana mengangkat kepala.
Matanya menatap Arga dalam-dalam.
"Arga... makasih."
Arga mengernyit.
"Untuk apa, Non?"
Kirana tersenyum tipis.
"Untuk jaga Papa selama di rumah sakit. Untuk jaga perusahaan Papa...."
Kirana berhenti sejenak.
"Untuk... jaga aku juga."
ARGA TERDIAM.
Kata-kata Kirana itu seperti air hangat yang menyiram hatinya yang beku.
Dia nggak pernah nyangka bakal dengar kata "makasih" dari mulut Kirana.
Kirana berdiri dari ayunan.
Dia berjalan mendekati Arga.
"Arga... aku mau bilang sesuatu"
Arga menatap Kirana dengan napas tertahan.
"Bilang..??tentang apa, Non?"
Kirana menunduk.
"Aku setuju kita menikah..."
Suara Kirana kecil. Hampir tidak terdengar.
"Tapi... aku Aku mau persetujuan kamu"
Kirana tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
Kirana menyodorkan Map didalamnya tertera:
KONTRAK PERNIKAHAN
Selama pernikahan berlangsung kita harus pura pura bahagia di depan papa
Pernikahan hanya berlangsung selama 1 tahun, setelah 1 tahun kita harus berpisah.
Satu sama lain dilarang mencampuri urusan masing masing.
Tidak ada kontak fisik selama hanya berdua, diperbolehkan saat ada didepan Papa.
#Jika salah satu dari kita melanggarnya maka kita harus resmi berpisah
Di bawah terteran nama Arga+materai dan Kirana yg sudah di tanda tangani.
ARGA MEMBEKU DI TEMPAT.
Dadanya berdebar kencang kenapa harus
merasakan dilema yg menghimpit dadanya.
Disisi lain dia ingin menepati janji Tuan Harsono. Dia ingin membahagiakan Kirana dan pak Harsono. Tapi Arga juga nggak berani berharap lebih.
Dia cuma supir. Dia nggak pantas.
"Nona ...ini...??"
" Aturan nya tidak banyak, juga tidak sulit...buat di lakuin kan..?" ucap Kirana agak tegas.
DI DALAM KAMAR PAK HARSONO.
Pak Harsono yang tidak bisa tidur melihat bayangan dua orang dari jendela kamarnya.
Kirana dan Arga sedang berdiri di taman belakang.
Pak Harsono tersenyum tipis , melihat Kirana dan Arga dari dalam rumah.
"Kirana... semoga kamu menemukan kebahagiaanmu di tangan Arga, Nak..." batinnya.
"Papa nggak punya banyak waktu lagi... tapi Papa tenang kalau kamu bersama Arga..."
[BERSAMBUNG...]
jadi orang kaya gak perlu sombong.
rumah tangga macam ini paling gampang di bikin huru" orang ketiga kalian berdua sama" suka diem"