NovelToon NovelToon
Pesona Murid Baru

Pesona Murid Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi semua siswi di SMA 1 Nusa Bangsa, kedatangan Rian adalah sebuah anugerah. Cowok pindahan bertampang dingin itu punya pesona yang menyihir siapa saja. Namun tidak bagi Cinta.

Melihat seragamnya yang berantakan dan tatapannya yang tajam, Cinta yakin Rian hanyalah tipikal anak nakal yang harus dihindari. Di saat teman-temannya sibuk memuja Rian, Cinta justru memilih menjauh.

Namun, sebuah tugas kelompok memaksa Cinta mengenal Rian lebih dekat. Di balik kesan urakan yang selama ini ia benci, ada sisi Rian yang tak pernah terlihat oleh orang lain. Kini, Cinta dihadapkan pada satu kenyataan. Apakah ia akan tetap pada prasangkanya, atau justru ikut luluh pada pesona sang murid baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 Antara Bela Diri dan Bela Hati

Bel berbunyi nyaring, memutus tawa jahil Sarah di kantin dan memaksa ribuan murid SMA 1 Nusa Bangsa kembali ke habitat mereka yaitu ruang kelas. Cinta berjalan dengan langkah yang sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia berusaha menetralisir debaran di dadanya yang masih tersisa akibat "salam kaleng kopi" dari Rian tadi.

Sesampainya di kelas XI MIPA 1, suasana sudah mulai kondusif. Rian sudah duduk di bangkunya, masih dengan gaya santai yang sama, namun kaleng kopi hitam di atas mejanya sudah kosong. Cinta duduk di sebelahnya, berusaha tidak menoleh, meski aroma parfum kayu yang kini bercampur samar dengan aroma kopi itu terasa begitu pekat di indra penciumannya.

Pelajaran sejarah dimulai. Ibu Ratna sedang menjelaskan tentang detail Perang Diponegoro di depan kelas, namun fokus Cinta sedikit terganggu. Ia merasa ada sepasang mata yang memperhatikannya dari samping.

"Cinta," bisik Rian pelan.

Cinta menoleh sedikit, menjaga agar gerakannya tidak tertangkap mata elang Ibu Ratna. "Ya?"

"Di sekolah ini, ekstrakurikuler apa saja yang aktif?" tanya Rian. Suaranya rendah, hampir seperti gumaman, namun terdengar sangat jelas di telinga Cinta.

Cinta sedikit terkejut. Ini adalah pertama kalinya Rian menunjukkan ketertarikan pada kegiatan sekolah. "Banyak. Ada basket, futsal, pramuka, karya ilmiah remaja, teater, paduan suara, hingga bela diri. Kenapa? Kamu tertarik bergabung?"

Rian memutar pulpen pemberian Cinta di antara jari-jarinya. "Aku butuh sesuatu untuk membuang energi. Terlalu banyak duduk di kelas membuatku bosan."

Cinta menarik napas, lalu sedikit bergeser agar ia bisa membisikkan daftar lengkapnya. "Kalau kamu suka olahraga, ada basket yang dipimpin Dimas, tapi sepertinya kalian bukan teman baik. Ada juga renang, bulu tangkis, dan bela diri seperti silat dan karate."

Rian terdiam sejenak, tampak menimbang-nimbang. "Karate," ucapnya kemudian. "Kapan jadwal latihannya?"

"Karate biasanya latihan setiap Selasa dan Kamis sore di aula belakang," jawab Cinta. Ia sedikit mengernyit.

"Tapi kenapa karate? Aku pikir kamu tipe orang yang lebih suka olahraga tim seperti futsal."

Rian memberikan seringai tipis yang sulit diartikan. "Dalam bela diri, kamu hanya mengandalkan dirimu sendiri. Tidak ada orang lain yang perlu disalahkan kalau kamu kalah, dan tidak ada orang lain yang perlu diberi selamat kalau kamu menang. Lebih adil."

Cinta tertegun mendengar filosofi singkat itu. Rian benar-benar sosok yang individualis, namun ada kejujuran yang mentah dalam setiap kata-katanya.

"Kalau kamu serius, aku bisa mengantarmu ke ruang sekretariat OSIS pulang sekolah nanti. Sebagai sekretaris, aku yang memegang formulir pendaftarannya."

"Boleh," jawab Rian singkat, lalu kembali menatap papan tulis, mengakhiri percakapan sepihak itu seolah-olah ia tidak baru saja membuat jantung Cinta melompat lagi.

...****************...

Sore harinya, matahari mulai meredup, menyisakan warna oranye yang cantik di cakrawala. Sesuai janjinya, Cinta menunggu Rian setelah jam pelajaran usai. Sarah sudah pulang lebih dulu setelah memberikan kedipan mata yang sangat menyebalkan saat berpapasan dengan Cinta di gerbang.

"Ayo," ajak Cinta saat melihat Rian keluar kelas sambil menyampirkan tasnya di satu bahu.

Mereka berjalan menyusuri koridor sekolah yang mulai sepi. Hanya ada suara langkah sepatu mereka yang beradu dengan lantai. Cinta merasa suasana ini jauh lebih intim daripada saat di kelas. Tidak ada gangguan, tidak ada bisik-bisik Sarah, hanya mereka berdua.

"Kenapa kamu sangat rajin mengurus hal-hal seperti ini?" tanya Rian tiba-tiba, memecah keheningan. "Maksudku, mengurus OSIS, nilai sempurna, kedisiplinan... apa kamu tidak pernah merasa lelah menjadi orang yang 'benar'?"

Cinta tersenyum kecil, matanya menatap lurus ke depan. "Mungkin karena itu satu-satunya cara aku merasa punya kendali atas hidupku, Rian. Ayahku selalu menanamkan bahwa keteraturan adalah kunci kesuksesan. Kalau aku melakukan semuanya dengan benar, maka tidak akan ada ruang untuk kesalahan yang menyakitkan."

"Kesalahan itu manusiawi, Cinta. Tanpa kesalahan, hidupmu cuma jadi skrip yang membosankan," balas Rian datar.

"Mungkin bagi penulis seperti aku, skrip yang teratur lebih menenangkan daripada plot yang penuh konflik," sanggah Cinta.

"Tapi tanpa konflik, tidak akan seru, kan? Ceritamu tidak akan pernah selesai kalau tokoh utamanya terlalu takut untuk terluka."

Langkah Cinta melambat. Ia menoleh ke arah Rian. Cowok itu menatapnya dengan pandangan yang dalam, seolah ia sedang membaca draf novel tersembunyi di dalam kepala Cinta. Cinta merasa seolah-olah Rian sedang menantangnya untuk keluar dari zona nyaman.

"Ini ruang OSIS," kata Cinta, mengalihkan pembicaraan karena merasa pembicaraan mereka mulai masuk ke wilayah yang terlalu personal.

Cinta membuka pintu ruangan yang dipenuhi dengan piala dan tumpukan berkas itu. Ia berjalan menuju meja kerjanya, mengambil selembar formulir berwarna putih dengan logo karate di sudut atasnya.

"Isi ini," Cinta menyerahkan formulir dan sebuah pulpen.

Rian duduk di kursi di depan meja Cinta. Ia mulai mengisi data dirinya dengan cepat. Saat sampai di kolom 'Motivasi Bergabung', Rian berhenti sejenak, lalu menuliskan satu kata yaitu disiplin.

Cinta melihat tulisan itu dan tidak bisa menahan tawa kecilnya. "Tunggu, kamu menulis 'disiplin'? Kamu sendiri bahkan tidak pernah mengancingkan baju kemejamu dengan benar di kelas."

Rian mendongak, matanya bertemu dengan mata Cinta. "Disiplin di mataku bukan tentang kancing baju, Cinta. Itu tentang mengendalikan kekuatan. Di karate, kalau kamu tidak disiplin, kamu bisa melukai orang secara tidak sengaja. Itu tanggung jawab besar."

Cinta terdiam. Ia baru menyadari bahwa Rian yang ia anggap berandal sebenarnya memiliki kontrol diri yang luar biasa. Ia ingat bagaimana Rian tetap tenang saat dikonfrontasi oleh Dimas kemarin. Rian bukannya tidak bisa melawan, ia memilih untuk tidak menghancurkan lawannya.

"Sudah," Rian menyerahkan formulir itu kembali.

Tanpa sengaja, ujung jari mereka bersentuhan saat perpindahan kertas itu terjadi. Cinta merasakan sengatan kecil yang membuatnya refleks menarik tangannya. Rian tampak menyadari reaksi itu, namun ia tetap bersikap tenang, meski ada kilatan aneh di matanya.

"Terima kasih, Bu Sekretaris," ejek Rian dengan nada rendah yang kini terdengar lebih ramah.

"Sama-sama. Latihannya mulai Selasa depan. Jangan sampai telat, atau pelatihnya akan menghukummu lari keliling lapangan sepuluh kali," ancam Cinta, mencoba mengembalikan wibawanya.

"Sepuluh kali? Terlalu sedikit," balas Rian sambil berdiri. "Ayo pulang. Aku antar kamu sampai lobi."

Mereka berjalan kembali menuju gerbang depan. Di lobi, ojek langganan Cinta sudah menunggu. Sebelum naik ke motor, Cinta menoleh ke arah Rian yang masih berdiri di sana, memperhatikannya.

"Rian," panggil Cinta.

"Hm?"

"Terima kasih sudah mau bergabung dengan ekskul. Aku rasa... itu awal yang baik untukmu di sekolah ini."

Rian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk singkat, lalu memakai helmnya dan menaiki motor besarnya. Saat motor itu menderu pergi, Cinta masih berdiri di tempatnya, menatap jejak debu yang ditinggalkan Rian.

...****************...

Malam harinya, Cinta duduk di meja belajarnya. Ia membuka laptop, namun bukan tugas sejarah yang ia kerjakan. Ia membuka draf novel digitalnya. Tangannya menari-nari di atas keyboard dengan kecepatan yang tidak biasa.

Cinta tersenyum melihat paragraf yang baru saja ia buat. Ia menyadari bahwa ia bukan lagi sekadar menulis tentang karakter fiksi. Ia sedang menulis tentang seseorang yang nyata, seseorang yang pelan-pelan mulai mengisi ruang kosong di antara baris-baris kehidupannya.

Ia teringat kembali ucapan Sarah di kantin tadi siang. Mungkin Sarah benar. Dan mungkin, Cinta tidak keberatan jika tembok itu hancur berkeping-keping, asalkan orang yang menghancurkannya adalah orang yang sama yang meminjamkannya payung biru di tengah hujan deras.

Cinta menutup laptopnya dengan perasaan lega. Besok adalah hari Selasa, hari latihan pertama Rian di karate. Dan entah kenapa, Cinta merasa bahwa ia harus berada di sana, di pinggir lapangan, untuk melihat Rian berlatih karate."

1
EvhaLynn
Luar Biasa😉
clarisa
Ayo lanjut lagi, eh jgn lupa mampir di karyaku permen kopi edisi spesial yaaaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!