Evelyn Carter tewas dalam kecelakaan mobil di abad ke-21. Namun saat membuka mata, ia tidak berada di rumah sakit, melainkan di sebuah istana kuno.
Ia kini hidup dalam tubuh Ratu Evelyn Lancaster, ratu muda yang terkenal lemah dan sedang menunggu kematian karena racun dari para selir. Di istana, semua orang sudah bersiap menyambut kematiannya.
Selir kesayangan raja ingin merebut tahta ratu. Para menteri diam-diam mengatur kekuasaan baru. Tapi mereka tidak tahu satu hal... Ratu yang bangun hari itu, bukan lagi wanita yang sama. Di dalam tubuh itu hidup jiwa wanita modern yang cerdas dan tidak mudah diinjak.
Selain itu, Ratu memiliki Ruang Ajaib. Tempat rahasia yang menyimpan obat, pengetahuan, dan teknologi masa depan.
Kini, orang-orang yang menunggunya mati akan segera sadar. Ratu yang mereka anggap lemah… justru akan menjadi penguasa sejati di istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 15.
Malam itu, untuk pertama kalinya Evelyn keluar dari istana bersama Alexander. Setelah menghabiskan waktu bermesraan di kamar, keduanya sepakat meninjau keadaan kota bersama.
Dengan pakaian sederhana, tanpa simbol kerajaan.
Evelyn meliriknya. “Yang Mulia benar-benar ikut?”
“Aku penasaran bagaimana ratuku dicintai rakyat.”
“Jangan bicara sembarangan di luar.”
Alexander tersenyum kecil. “Kalau begitu, kau harus menjagaku.”
Evelyn hampir menghela nafas pasrah, namun tanpa sadar sudut bibirnya ikut terangkat.
Di pasar malam, tidak ada yang mengenali mereka.
Rakyat tersenyum saat membicarakan ratu.
“Harga mulai turun.”
“Bantuan pangan datang tepat waktu.”
“Katanya ratu yang mengurus.”
Alexander diam mendengarkan, tatapannya terlihat bangga. Dan kali ini, ia tidak mencoba menyembunyikannya rasa kagumnya pada Evelyn.
Sementara Evelyn sibuk berbicara dengan pedagang, Alexander memperhatikannya diam-diam. Wanita itu terlihat hidup di luar istana, tidak seperti saat memakai mahkota dan duduk formal di aula. Dan semakin ia melihat, semakin sulit mengalihkan pandangan.
Tanpa sadar, Alexander tersenyum kecil sendiri. “Aku benar-benar terlambat menyadarinya…”
Namun sebelum malam damai itu berlangsung lebih lama, sebuah suara gaduh terdengar dari ujung pasar. Keributan disertai teriakan, dan seseorang berlari sambil berteriak.
“Gudang pangan dirampok!”
Tatapan Evelyn langsung berubah tajam.
Sementara di kejauhan, sepasang mata sedang memperhatikan mereka. Dingin, dan penuh niat membunuh.
Keributan langsung menyebar di pasar, orang-orang mulai panik.
Beberapa pedagang menutup lapaknya buru-buru.
“Gudang dirampok!”
“Ada orang terluka!”
Evelyn langsung bergerak ke arah suara itu tanpa berpikir panjang. Namun baru dua langkah, Alexander menarik pergelangan tangannya.
“Jangan gegabah.” Tatapan pria itu berubah tajam, bukan seperti raja santai tadi. Namun seperti seseorang yang terbiasa melihat bahaya. “Ada yang aneh.”
Evelyn menyipitkan mata, ia juga menyadarinya. Keributan ini terlalu mendadak dan seperti diarahkan.
Namun sebelum mereka sempat bergerak lagi, seorang pria tiba-tiba menabrak kerumunan sambil membawa pisau dan langsung menuju Evelyn.
“MATI KAU!”
Gerakan penyerang itu cepat, namun Alexander lebih cepat.
BRUK!
Alexander menarik Evelyn ke belakang tubuhnya sambil menendang pria itu hingga terjatuh. Pisau yang dipegang si penyerang terpental jauh, kerumunan menjerit panik.
Pria itu mencoba bangkit lagi, namun Alexander sudah menginjak tangannya dengan dingin. “Kau salah memilih target.”
Tatapan pria itu berubah panik, ia menggigit sesuatu di mulutnya.
“Berhenti—!” Evelyn langsung sadar.
Namun terlambat, darah keluar dari sudut bibir pria itu. Tubuhnya kejang sesaat sebelum diam, penyerang itu menelan racun dan mati seketika.
Wajah Alexander langsung menggelap. “Mereka benar-benar mulai bermain kotor.”
Evelyn jongkok memeriksa tubuh pria itu, lalu menemukan simbol kecil di lengannya. Ada sebuah tanda terbakar, simbol yang sama dengan kelompok bayangan milik keluarga Sophia.
Tatapan Evelyn berubah dingin.
“Mereka tidak hanya ingin menciptakan kekacauan, mereka juga ingin membunuhku di depan rakyat.”
Kalau ia mati di pasar malam, semua akan berubah menjadi rumor buruk. Kerajaan kacau dan rakyat akan panik. Sementara keluarga Sophia bisa memutar keadaan sesuka hati.
Alexander menatap tubuh pria itu beberapa detik, lalu tanpa sadar ia menggenggam tangan Evelyn lebih erat.
“Kau terluka?”
Evelyn sedikit terdiam, karena nada suara Alexander terdengar sangat khawatir.
“Tidak.”
Alexander menghela nafas kecil. Baru saja ia akan melepaskan genggamannya dari Evelyn setelah yakin, namun sebelum mereka sempat pergi beberapa rakyat mulai mengenali Evelyn.
“Itu…”
“Bukankah Ratu?”
Hening sesaat.
Lalu seorang wanita tua mendekat perlahan.
“Yang Mulia benar-benar datang ke sini…”
Evelyn menatap wanita itu tenang. “Kalian terluka?”
Wanita itu menggeleng cepat, matanya justru mulai memerah. “Terima kasih karena sudah membantu rakyat kecil seperti kami…”
Suasana pasar perlahan berubah sunyi, orang-orang mulai berlutut satu per satu.
Alexander memperhatikan semua itu dalam diam, kini ia melihat sendiri sesuatu yang tidak pernah dimiliki istana selama bertahun-tahun... harapan rakyat.
Namun di saat yang sama, itu juga membuat Evelyn semakin berbahaya bagi musuh-musuhnya dan wanita itu dianggap ancaman untuk mereka. Dan nyawa Evelyn bisa terancam kapan saja.
Malam itu, setelah kembali ke istana suasana paviliun ratu menjadi tegang.
Bernard baru saja selesai melaporkan hasil penyelidikan.
“Orang itu memang bagian dari kelompok utara.”
Evelyn berdiri diam, tatapannya dingin. “Dan Sophia?”
“Belum ada bukti langsung.”
Alexander yang sejak tadi duduk akhirnya bicara. “Dia tidak akan cukup bodoh meninggalkan jejak.”
Hening.
Evelyn berjalan perlahan menuju meja. “Mereka mulai kehilangan kendali.”
Alexander memperhatikannya. “Kau terlihat tidak takut.”
Evelyn tersenyum dingin. “Karena mereka akan terus gagal.”
Tatapan Alexander berubah samar, Evelyn semakin terlihat seperti penguasa sesungguhnya.
Malam semakin larut, Bernard akhirnya pergi. Kini tinggal mereka berdua lagi.
Alexander duduk santai sambil memperhatikan Evelyn yang masih membaca laporan.
“Kau bahkan tidak istirahat setelah hampir dibunuh.”
“Aku masih hidup.”
“Itu bukan alasan.”
Evelyn akhirnya mengangkat kepala. “Yang Mulia terdengar seperti suami penyayang yang suka mengomel pada istrinya.”
Alexander tertawa kecil, ia berdiri dari duduknya dan berjalan mendekat. “Duduk.”
Evelyn mengernyit. “Untuk apa?”
Namun Alexander sudah menarik kursi dan memaksanya duduk pelan. “Karena kau lelah.”
Sebelum Evelyn sempat membalas, Alexander berdiri di belakangnya. Lalu perlahan memijat bahunya.
Evelyn langsung membeku. “Yang Mulia…”
“Diam.”
Tangan Raja tetap bergerak perlahan, Evelyn benar-benar tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Seorang raja, memijat pundaknya setelah rapat politik dan percobaan pembunuhan?
Ini bahkan lebih aneh dari Ruang Ajaib.
Alexander tersenyum samar melihat reaksi itu. “Kau terlihat lucu saat kehilangan kendali.”
Evelyn menutup matanya sebentar. “Kalau para menteri melihat ini…”
“Mereka akan lebih takut padamu.” Potong Raja.
Evelyn akhirnya tertawa kecil, dan Alexander menyadari... ia semakin menyukai suara tawa wanita itu.
Keesokan paginya....
Istana kembali ramai.
Namun kali ini, berita dari luar mulai masuk.
“Rakyat wilayah barat mulai marah.”
“Gudang yang terbakar membuat harga naik lagi.”
“Beberapa pejabat mulai menyalahkan istana.”
Di aula, para menteri mulai berdebat.
“Ratu terlalu ikut campur!”
“Karena perubahan mendadak, pasar jadi kacau!”
Beberapa menteri yang diam-diam berpihak pada keluarga Sophia mulai bergerak. Namun sebelum suasana semakin panas, Lord Vincent berdiri.
“Kalau kalian ingin menyalahkan seseorang…” Tatapannya dingin menyapu aula. “Salahkan pejabat wilayah yang membiarkan gudang utama terbakar.”
Hening.
Seorang menteri tua langsung membalas. “Dan bagaimana Perdana Menteri yakin itu bukan kegagalan ratu?”
“Karena ratu... justru satu-satunya orang yang sedang mencoba memperbaiki keadaan.” Vincent tersenyum tipis.
Alexander sejak tadi hanya diam mendengarkan, namun matanya perlahan menggelap. Ia tahu, konflik ini sudah berkembang terlalu jauh. Bukan lagi hanya perebutan perhatian di dalam istana, namun perebutan kekuasaan kerajaan.
Dan Evelyn… sudah berada tepat di tengah-tengah konflik itu.
Tpi bgus jg sich biar di lihat kala ma wili