NovelToon NovelToon
Takdir Yang Ditukar

Takdir Yang Ditukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / CEO
Popularitas:879
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

seorang ibu muda dari istri seorang pengusaha kaya raya sedang mengandung 9 bulan dan sedang mengalami kontraksi lalu dibawa ke rumah sakit , dan bertepatan dengan mantan pembantu rumah tangganya juga melahirkan di rumah sakit yang sama dengan motor majikannya . mereka sama-sama melahirkan bayi perempuan . pembantu rumah tangga yang ingin anak perempuan yang hidup berkecukupan mempunyai rencana licik untuk menukar anak perempuan dengan anak majikannya . sampai umur dewasa perbuatan itu tidak pernah terbongkar . bagaimana kelanjutannya ? ikutin terus novel Re _ Ara ya !

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 Pertemuan Yang Mengguncang Jiwa

Liana tidak bisa melupakan cerita Nayla. Rasa penasaran itu menggerogoti hatinya. Berkat bantuan asisten pribadinya yang melacak informasi dari deskripsi Nayla, akhirnya Liana mengetahui bahwa gadis yang dimaksud bernama Dinda dan sering bekerja di area tersebut.

Liana memutuskan untuk menemui gadis itu secara diam-diam. Liana meminta manager cafe tempat Dinda bekerja untuk memanggilkan Dinda .

Dinda yang sedang berada dibelakang langsung kaget karena ada orang kaya datang mencarinya , Tapi , Dinda tetap datang dengan sopan. Ia masih bingung mengapa ada wanita sekelas Bu Liana yang ingin menemuinya, namun ia tetap menjaga etika.

"Permisi... apa benar Ibu yang mencari saya?" tanya dinda dengan sopan .

Liana mengangkat wajahnya. Saat matanya bertatapan dengan wajah Dinda, napas Liana seakan tertahan di tenggorokan.

Wajah itu... persis seperti wajahnya sendiri saat masih muda! Bentuk mata, hidung, hingga lekuk senyumnya... 100% mirip. Bahkan cara Dinda duduk dan menundukkan kepala saat menyapa memiliki gaya yang sangat elegan dan sopan, persis seperti didikan keluarga Dewantara.

Suaranya bergetar, matanya mulai berkaca-kaca "Iya... silakan duduk, Nak."

Dinda duduk dengan rapi. Ia juga menatap Liana dengan takjub

"Maaf... apakah kita pernah bertemu sebelumnya, Bu? Rasanya... saya merasa sangat akrab sekali melihat wajah Ibu."

Mengusap sudut matanya, tersenyum haru . "Nama kamu Dinda, kan? Dengar cerita dari anakku, kamu gadis yang sangat sopan dan baik. Tapi... Nak, boleh Ibu tanya sesuatu? Siapa nama orang tuamu? Di mana kamu tinggal?"

"Iya Bu. Nama Ibu kandung saya Sari, dan Bapak saya bernama Agus dan bekerja serabutan. Kami tinggal di perumahan kecil di pinggiran kota, Bu."

SARI?!

Jantung Liana serasa mau copot mendengar nama itu. Sari... mantan pembantunya! Wanita yang melahirkan di rumah sakit yang sama dengannya 17 tahun lalu!

Semua potongan puzzle itu tiba-tiba tersambung menjadi satu.Nayla yang sifatnya keras dan kasar, tidak mirip dirinya. Dan , Dinda yang ada di depannya ini, wajah dan sifatnya persis dirinya, tapi mengaku anak dari Sari. Mereka melahirkan di hari yang sama.

Air mata Liana mengalir deras tanpa bisa ditahan lagi. Ia merasakan ikatan batin yang begitu kuat memanggil-manggil. Gadis di depannya ini... pasti anak kandungnya!

Mengulurkan tangan dengan gemetar, ingin menyentuh tangan Dinda namun ragu . "Dinda... Ibu... Ibu merasa sangat dekat denganmu. Seperti... ada benang merah yang menghubungkan kita."

Matanya juga basah, tanpa sadar ia menerima sentuhan tangan Liana . "Ibu... kenapa Ibu menangis? Dinda juga... tiba-tiba merasa sedih dan ingin menangis juga saat melihat Ibu."

Di saat yang sama, di luar kafe...

Sari ternyata mengikuti Dinda dari jauh. Ia melihat melalui kaca jendela, sosok Liana yang sedang duduk berhadapan dengan Dinda, keduanya tampak menangis dan saling memegang tangan.

Sari mundur perlahan, tubuhnya gemetar hebat, wajahnya pucat pasi.

Bergumam pelan dengan suara tertahan . "Tidak... tidak mungkin... Mereka bertemu... Rahasia ini akan terbongkar! Ya Allah... apa yang harus aku lakukan?!"

Sari berlari menjauh dari tempat itu, ketakutan setengah mati. Ia tahu, permainan sudah berakhir. Kebenaran sudah di depan mata.

 Di dalam kafe

"Nak... Ibu punya permintaan. Demi ketenangan hati Ibu, maukah kamu... maukah kita melakukan tes DNA? Untuk memastikan segalanya?" ucap Liana dengan sorot mata yang memohon .

Menatap mata Liana dalam, lalu mengangguk pelan "Iya Bu... Dinda juga ingin tahu. Dinda juga merasa ada yang salah dengan hidup Dinda selama ini. Walaupun aku sangat menyayangi Bu sari dan bapak . Aku merasa gak ada ikatan batin sama sekali ."

 

...****************...

 Setelah Bu Liana pergi dengan janji akan mengurus semua keperluan tes DNA dan menghubunginya kembali, Dinda kembali ke meja kerjanya di kafe. Suasana kafe kini semakin ramai, pengunjung berdatangan silih berganti, memesan minuman dan makanan dengan beragam permintaan.

Dinda bergerak dengan terampil, melayani setiap pelanggan dengan senyum ramah yang tak pernah hilang dari wajahnya. Namun, di dalam hatinya, perasaannya benar-benar campur aduk. Ada rasa senang karena akhirnya ia menemukan sosok yang membuat hatinya terasa begitu dekat, tapi juga ada rasa takut dan bingung yang menyelimuti.

"Apakah benar aku anak kandung Bu Liana? Kalau begitu, berarti aku bukan anak kandung Ibu Sari dan Bapak? Lalu mengapa mereka membesarkan ku selama ini? Apakah aku anak angkat? Atau ada hal lain yang mereka sembunyikan dariku?"

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, membuatnya hampir salah melayani pesanan beberapa kali. Namun, ia berusaha menahan semua perasaannya, berusaha fokus pada pekerjaannya sampai jam pulang tiba.

Ketika jam kerjanya selesai, Dinda berjalan pulang dengan langkah yang lambat. Jalanan yang ramai seakan tak terlihat olehnya, pikirannya hanya tertuju pada satu hal: apa yang akan ia katakan kepada orang tuanya nanti? Apakah mereka akan jujur? Atau justru akan menolak menjawabnya?

Sesampainya di rumah kecilnya, Dinda melihat Bapaknya yang sedang duduk di teras, terlihat lemah seperti biasa karena sakit yang dideritanya. Ibu Sari sedang menyiapkan makan malam di dapur.

"Sudah pulang, Nak? Hari ini capek ya?" tanya pak Agus dengan perhatian.

Tersenyum tipis "Sedikit, Pak. Tapi tidak apa-apa."

Ia masuk ke dalam rumah, lalu duduk di meja makan. Ibu Sari segera meletakkan piring-piring berisi makanan di atas meja. Wajah Sari terlihat gelisah, seolah-olah ia sudah menunggu kedatangan Dinda dengan perasaan yang tidak tenang.

"Ayo makan dulu, Din. Makanan sudah siap." ajak Bu sari tanpa menatap kearah Dinda .

Dinda tidak langsung mengambil makanannya. Ia menatap kedua orang tuanya secara bergantian, lalu menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya.

"Bu... Pak... Dinda mau tanya sesuatu." ucap Dinda dengan sedikit ragu .

Suara Dinda terdengar tegas namun juga bergetar, membuat Sari dan suaminya saling bertukar pandang dengan tatapan cemas.

"Ada apa, Nak? Kenapa wajahmu begitu serius .?"

"Sejujurnya... Dinda sudah lama merasa ada yang tidak beres. Selama ini, banyak orang yang bilang kalau wajah Dinda tidak mirip dengan Ibu maupun Bapak. Bahkan sifat Dinda juga terasa berbeda."

Sari menundukkan wajahnya, tangannya yang memegang sendok terlihat gemetar.

"Hari ini... Dinda bertemu dengan seorang wanita. Namanya Bu Liana Dewantara. Ia bilang... ia merasa sangat dekat dengan Dinda. Bahkan ia mengajak Dinda untuk melakukan tes DNA."

Mata Bapak Dinda terbelalak kaget. Ia menatap Sari dengan tatapan penuh pertanyaan.

"Itu sebabnya Dinda mau tanya... Sebenarnya, siapa orang tua kandung Dinda? Apakah Dinda anak kandung Ibu dan Bapak? Atau... apakah Dinda ini anak angkat?"

Suara Dinda mulai terputus-putus, matanya mulai berkaca-kaca menahan air mata.

Tiba-tiba berdiri dengan gerakan yang kasar , "Apa yang kamu katakan?! Kamu ini anak kandungku! Siapa lagi yang mau mengakuimu sebagai anak kalau bukan aku dan bapakmu?!"

"Tapi kenapa Ibu dan Bapak tidak pernah mau membahas tentang keluarga besar kita? Kenapa tidak pernah ada foto-foto keluarga yang lengkap? Kenapa Ibu selalu terlihat gelisah setiap kali Dinda menanyakan hal ini?"

"Sudah, Din... Jangan memaksa ibumu. Kita membesarkanmu dengan sepenuh hati, itu saja yang penting."

"Tapi Dinda berhak tahu yang sebenarnya, Pak! Dinda berhak tahu siapa orang tua kandungku yang sebenarnya! Dinda tidak mau hidup dalam kebohongan selamanya!"

Air mata Dinda akhirnya jatuh juga. Ia menatap kedua orang tuanya dengan tatapan yang penuh harap agar mereka mau jujur. Namun, Sari malah berbalik badan dan berjalan masuk ke kamar dengan langkah cepat, meninggalkan Dinda dan suaminya yang terdiam di meja makan.

Menarik napas panjang, matanya juga berkaca-kaca "Maafkan kami, Nak... Maafkan kami yang tidak bisa menjawab pertanyaanmu sekarang. Berikan kami waktu... berikan kami waktu untuk mempersiapkan diri untuk mengatakan semuanya."

Dinda tampak kecewa pada Bu sari dan pak Agus , karena dari mereka tidak ada yang menjawab pertanyaan dari Dinda . tapi Dinda bertekad untuk tetap melakukan tes DNA bersama Bu liana , karena dia tidak ingin hidup dengan kebohongan .

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!