Menjalin hubungan yang cukup lama, apalagi setelah satu atap bersama. Membuat seorang Fania merasa bosan dan jenuh pada hubungannya bersama sang suami, Ronald.
Hingga suatu hari kejujuran Fania membawa perubahan baru dalam kehidupan mereka.
Sebagai seorang suami, Ronald yang begitu mencintai Fania akan selalu berusaha memenuhi keinginan istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WILONAIRISH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Ronald terlihat mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras dengan sebelah tangannya masih menggenggam ponsel di telinga kirinya. Mendengar ujaran orang di seberang telepon, membuat dadanya panas.
“Bereskan!”
Perintahnya dengan nada yang tak bisa dibantah.
Terdengar helaan nafas kasar Ronald, mengingat laporan yang baru dirinya dengar dari orang-orang suruhannya. Membuat emosinya semakin terbakar, lagi-lagi pria bajingan itu mengganggu Fania.
Sekalipun saat dirinya memutuskan untuk membebaskan Fania dari kekangannya, bukan berarti keselamatan Fania juga dirinya lepaskan dan biarkan begitu saja. Ia tetap selalu mengawasi istrinya itu dengan ketat, tanpa Fania sadari.
“Bos”
Mark yang baru masuk ke dalam ruangan Ronald, terlihat tergesa kala mendengar perintah Ronald untuk datang ke ruangannya, pastilah ada sesuatu yang penting yang perlu dirinya urus.
“Apa kau tak mengurus pria bajingan itu dengan benar?”
Geram Ronald dengan rahang mengeras, padahal Mark sudah seharusnya mengurus pria itu sampai tuntas. Sehingga tak akan bisa mengganggu bahkan mendekat dalam lingkaran kehidupan istrinya.
“Maaf Bos, maksudmu siapa?”
Mark terlihat tak paham dengan interupsi yang atasannya itu berikan.
“Ck” decakan itu cukup menggambarkan betapa kesal Ronald pada asistennya itu, tatapan tajam turut ia berikan pada asistennya itu.
Hingga beberapa detik kemudian, Mark barulah paham dengan apa yang atasannya itu maksudkan.
“Maaf Bos, akan ku periksa dan bereskan” ujarnya kemudian meninggalkan ruangan Ronald untuk membereskan apa yang seharusnya ia bereskan sampai tuntas.
Ronald tampak mengusap wajahnya dengan kasar setelah kepergian Mark, ia tak bisa menyembunyikan kekhawatiran terhadap Fania. Mau semarah apapun, melindungi istrinya adalah yang utama untuknya.
“Aku tak akan membiarkan siapapun mengusik mu” gumamnya lirih dengan geraman tertahan.
***
Fania yang mendengar ujaran pria gila di depannya itu, terkejut.
“Kau mengintai ku?” tanyanya dengan emosi yang meluap di dadanya.
Pria itu hanya tampak terkekeh sinis.
“Aku bisa mengisi ruang kosong di hatimu Fania” ujarnya terkekeh sinis, seolah menawarkan dengan penuh percaya diri.
Terdengar tawa sinis yang Fania berikan untuk pria gila itu. Ia menatap pria itu dengan tatapan seolah merendahkan.
“Kenzo, apa kau pikir bisa sebanding dengan Ronald? Lebih baik kau mencari cermin dan lihat dirimu”
Sinis Fania berbalik untuk meninggalkan hama yang mengganggunya itu. Namun rencananya itu tertahan, saat merasakan genggaman erat pada lengannya, yang terasa mencengkeram.
“Kau pikir bisa lari dariku semudah itu? Kali ini aku tak akan melepaskan mu, Fania” geramnya menarik Fania untuk dibawanya ke arah di mana kendaraannya diparkirkan.
Fania terkejut dengan aksi nekat pria itu, ia hendak mengeluarkan suara namun tertahan kala pria itu membekap mulutnya dengan tanpa aba-aba.
Kali ini Fania sungguh merasakan ketakutan yang luar biasa. Mengingat kini hubungannya dengan Ronald sedang tak baik-baik saja. Padahal dulu Ronald yang akan selalu menjaga dan memantau dirinya di manapun ia berada.
“Aku harap ada keajaiban yang akan menolongku”
Fania hanya dapat berharap dalam hati, kali ini hanya itu yang bisa ia harapkan. Karena kecil kemungkinan suaminya akan mengetahui apa yang telah terjadi padanya, sedangkan ia sudah meminta sendiri untuk Ronald menjauh dari radar kehidupannya sementara waktu.
Bugh
Tampak dua pria berpakaian serba hitam menari kasar Kenzo dan menghantam wajahnya dengan keras. Fania akhirnya terlepas dan terbebas. Bahkan belum sempat Fania menyadari keterkejutannya, kedua pria itu sudah membawa Kenzo entah kemana.
“Syukurlah” ujarnya merasa lega.
“Ronald” gumamnya dalam hati, entah mengapa ia yakin kalau dua pria itu adalah utusan suaminya.
Mengingat hubungan mereka yang tak baik akhir-akhir ini, ada sebersit perasaan bersalah dalam hatinya. Namun ia juga tak bisa membohongi perasaannya yang kehilangan rasa pada Ronald.
Namun Fania bertekad, setelah pulang dari sini ia akan menunjukkan rasa terimakasih pada suaminya. Karena masih perduli dan telah menyelamatkan dirinya. Setidaknya, mungkin mereka bisa memulai kembali hubungan dengan berteman baik.
***
Setelah kejadian bertemu pria gila itu, Fania memutuskan untuk pulang kembali ke kotanya. Kembali ke rumahnya dan Ronald. Ia merasa sudah tidak aman berada di tempat ini sendirian, sehingga memutuskan untuk mempercepat kepulangannya daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Fania sudah bersiap di bandara, hari ini ia memutuskan untuk kembali pulang. Meskipun rasanya belum cukup puas menikmati liburannya. Namun setidaknya sudah dapat mengurangi stress dan rasa terkekang yang selama ini ia alami.
Setelah beberapa waktu, Fania kembali menginjakkan kakinya di kota kelahirannya. Kota yang sudah membesarkan dirinya hingga dewasa.
“Hm aku kembali menghirup udara ini lagi” gumamnya pelan merasakan udara kota kelahirannya setelah lumayan lama ia tinggalkan.
Fania berpikir sejenak, saat ini masih pagi hari. Ronald pasti berada di kantornya. Ia ingin segera mengucapkan rasa terimakasihnya kepada suaminya itu. Namun ia bingung, lebih baik sekarang ia ke kantor Ronald atau menunggu di rumah hingga Ronald kembali.
“Aku akan menunggunya di rumah” ujarnya pada akhirnya.
Fania kembali ke rumah yang ia tinggali bersama Ronald. Semuanya masih sama sejak terakhir ia tinggalkan.
“Nyonya sudah pulang” ujar salah satu asisten rumah tangga yang bekerja di rumah mereka.
“Iya, tolong siapkan makan siang untuk suamiku nanti” ujarnya dengan tersenyum ramah.
Asisten rumah tangga itu tampak terheran. “Maaf Nyonya, Tuan biasanya pulang malam. Dan kami tidak pernah menyiapkan makan siang hanya makan malam.” Jelasnya kepada Fania.
Kini Fania yang tampak mengernyitkan dahinya, sama terheran nya. Baru sebulan lebih ia meninggalkan rumah, rupanya telah ada yang berubah.
“Kenapa? Apa pekerjaannya begitu padat dan tak bisa ditinggalkan?” tanya masih tak percaya.
Wanita paruh baya itu terdiam sejenak, bingung harus menjelaskan seperti apa. Hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk menjelaskan semuanya.
“Tu … Tuan jarang pulang ke rumah sejak Nyonya pergi liburan. Tuan banyak menginap di kantor, Nyonya.” Jelasnya tak berani menjelaskan lebih detail lagi.
Fania terkejut mendengar hal itu. Selama ia mengenal pria itu, Ronald tak pernah tidak pulang ke rumah sesibuk apapun pekerjaannya. Sekalipun dulu kala mereka belum menikah. Ronald akan selalu pulang ke rumah orangtuanya atau ke rumahnya sendiri.
“Pria itu tak pernah suka menginap di kantornya jika bukan situasi yang mendesak” lirih Fania dalam hati.
“Baiklah, siapkan makan siang untukku saja” ujar Fania berlalu pergi menuju ke kamar utama.
Fania kembali menutup pintu kamarnya, ia mengamati sekeliling kamarnya yang tampak rapi. Masih ada aroma Ronald yang biasa ia hirup selama ini. Ia merindukan kamar ini. Fania meletakkan barang-barangnya di tempat semestinya dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Ia memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah karena perjalanannya beberapa jam lalu.
“Terimakasih, karena sudah melindungi ku”
NEXT …….