NovelToon NovelToon
Nikah Paksa Gus Soft Boy Dan Cewek Bengkel

Nikah Paksa Gus Soft Boy Dan Cewek Bengkel

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Pernikahan Kilat / Cinta setelah menikah
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Inna Kurnia

Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.

ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.

"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."

Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.

Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?

Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29 Curhat Berujung Sabar

Santaka menghampiri sang istri. Ia melipat bibir, menahan tawa yang meronta-ronta ingin keluar dari bibir tipisnya. "Adeeek, kok bisa?" bisik Santaka.

"Bisa lah..." Nandini balas berbisik. Matanya mengerling. Mereka sama-sama melipat bibir, menahan kedut di bibir mereka.

Suasana Ndalem langsung lebih ramai. Mereka berkumpul di ruang tamu Ndalem. Mahmud marah pada sopirnya yang dianggap lalai. Kasihan. Nandini menatap iba pada sang sopir.

Burhan, sopir Ndalem, datang untuk memberi laporan. "Nyuwun pangapunten, Yai, tukang bannya belum buka. Tadi saya panggil-panggil, ndak dijawab."

Mansur mengangguk. "Ya, baru jam setengah tujuh. Wajar. Matur nuwun, Pak Burhan."

"Ck, siang sekali nanti berangkatnya kalau nunggu buka. Digedorlah rumah tukang bannya. Manggil saja, ya mana mempan!" Mahmud menggelengkan kepala.

Burhan buru-buru menuju ke motornya, berniat kembali menghampiri si tukang ban. Wajah pria dengan perut offside itu tegang. Padahal bosnya Mansur, bukan Mahmud.

Suara motor terdengar di depan gerbang. Surbakti, tamu tak diundang, datang dengan benda di motornya, kompresor portabel. Burhan langsung menghampiri.

"Assalammu'alaikum Yai..." sapa Surbakti pada besannya. Ia mencium tangan sang pendakwah. Tetap tak merasa setara dengan Mansur. Ia juga mencium tangan Mahmud.

"Wa'alaikumsalam, Pak Bakti. Apa kabar? Kok bisa ke sini bawa alat tho?" Mansur mengerutkan dahi.

"Itu Dini bilang, Yai Mahmud bannya pada kempes. Sepagi ini." Surbakti mengangguk.

Mahmud spontan menoleh ke arah Nandini. Gadis itu menganggukkan kepala. Tadinya mau menjulurkan lidah. Untung kontrol dirinya sedang bagus.

"Alhamdulillah. Matur nuwun sanget, Pak Bakti. Benar-benar penolong kami, maasya Allah." Mansur menepuk-nepuk bahu besannya.

Surbakti, dibantu Burhan, mulai mengisi ban yang sudah peyot, luruh ke tanah. Nandini dan Santaka menghampiri sang pemilik bengkel.

"Bapak..." tutur pasutri itu bersamaan. Mereka mencium tangan Surbakti. Haru bergelora di hati Surbakti, melihat betapa rendah hatinya sang menantu.

Ahsan memandang tajam pemandangan itu. Merasa harusnya ia yang menjadi aktor dalam adegan yang melibatkan Surbakti. Ia membuang wajahnya.

Setelah hampir setengah jam, ketiga ban mobil Mahmud—korban siksaan Nandini—kembali sehat wal afiat. Mahmud masih terlihat merengut. Surbakti juga mengecek kondisi mobil secara umum. Benar-benar melayani keluarga besannya.

Surbakti menutup kap mobil Mahmud. "Alhamdulillah. Sudah aman, Yai." Mansur manggut-manggut sambil berterima kasih. Mahmud mengucap hal serupa namun wajahnya masih menekuk. Bad mood.

Masih dengan wajah bak kertas ujian bernilai jelek, lecek, Mahmud dan Aminah, meninggalkan Al Fatih. Meninggalkan warga Ndalem dengan berbagai kesan. Surbakti tak lama juga pamit meninggalkan Ndalem.

"Istirahat, Le, Nduk. Kalian pasti pada kurang tidur gara-gara masalah tadi malem. Kamu ndak ke toko kan, Le?" Lastri mengelus lengan sang bungsu.

"Ndak, Umi. Matur nuwun, Umi, Taka sama Dini pamit." Santaka tak perlu berbasa-basi, memang ingin buru-buru ke kamar. Mau meniduri, eh, tidur maksudnya.

Santaka berjalan cepat sambil menarik tangan Nandini. Sang istri terkikik. "Mau ke mana sih, Mas, buru-buru banget?" godanya pada Santaka.

"Kebelet." Santaka berbisik. Mereka tergelak. Sarah mengerutkan dahi ketika dilewati mereka.

"Mau ke mana tho kalian?" Bak portal, sempat-sempatnya menghalangi pasutri panas itu.

"Kebelet!" jawab Santaka dan Nandini kompak. Mereka tertawa sambil berlari, bergandengan tangan.

Sarah menggelengkan kepala dengan wajah kaku. Tindakan yang nanti akan menjadi bahan evaluasi kepatutan Nandini sebagai istri gus. Sayangnya tak akan dipedulikan Nandini saat ini.

Santaka dan Nandini masih tergelak ketika pintu kamar mereka menutup. Santaka langsung menguncinya. Ia memeluk istrinya yang masih terkikik.

"Kok berani sih, Dek?" Santaka duduk di pinggir kasur. Nandini ia dudukkan di pangkuannya. Duduk menyamping.

"Abis kesel. Dari awal datang, gayanya udah nyebelin. Maaf ya, Mas. Janji aku ndak akan ngulangin." Nandini menatap sang suami. Bibirnya mengerucut. Ia membuka kerudungnya.

Santaka tersenyum kecil. "Jangan diulang ya nanti. Tapi untuk hari ini, terima kasih." Mereka kembali tergelak.

Nandini mengelus pipi suaminya. "Mas... aku boleh nanya?"

Santaka memejamkan mata sejenak, menikmati belaian di wajahnya. "Kenapa?" Ia menatap istri pemberaninya.

"Mas, kenapa kayak ndak nyaman banget sama Paklik Mahmud?"

Santaka tercenung. Menimbang apakah ia harus berbagi rahasia besarnya pada sang istri. "Adek pernah nanya kenapa Mas ndak mau jadi pengurus pondok... Beliau... alasannya."

Nandini mengerutkan dahinya. "Maksudnya, Mas?"

Santaka kembali terdiam. Ia menggigit bibirnya. Nandini mengelus bahu sang suami. Ia peluk tubuh kurus tapi berotot itu. "Belum bisa cerita juga ndak apa-apa. Tapi kalau butuh temen cerita, sekarang ada aku."

Santaka mengelus punggung sang istri. Matanya menatap nanar jendela kamar. Nandini juga mengelus punggung suaminya.

"Dulu... waktu kecil... badan aku kurus, kecil. Beda sama Mas Yasa, Mas Nendra. Itu... bikin orang suka komen, kok laen, kok ndak sekeren kakak-kakaknya.

Mas Yasa sama Mas Nendra juga kan pada bagus banget kalau ceramah. Menarik. Aku... ndak bagus." Santaka menunduk. Nandini mengelus pundak terkulai suaminya.

"Aku minder, selalu ada di bawah bayang-bayang Mas Yasa, Mas Nendra..." Santaka menipiskan bibirnya. Nandini menatap sendu sang suami.

"Waktu aku sepuluh taun, Abi dapet beasiswa ke Kairo, S-2. Umi ikut. Yang ngurus kami, Paklik Mahmud sama Bulik Aminah. Aku makin tertekan." Mata Santaka menerawang. Nandini menggigit bibirnya.

"Karna dianggep lemah, aku dipaksa latihan fisik sama Paklik. Aku ngaji salah, lari. Ceramah jelek, lari. Aku... dikatain ndak akan bisa kayak Abi. Aku produk gagalnya Abi." Santaka menggelengkan kepala. Matanya berkaca-kaca.

Air mata Nandini mengalir. Ia tak menyangka masa kecil suaminya begitu suram. "Mas..." Nandini kembali memeluk Santaka.

"Aku ndak bisa ngadu sama mas-masku. Mereka juga tertekan. Banyak tugas dari Paklik buat mereka. Aku suka denger mereka curhat satu sama lain, beratnya mereka jalanin didikan Lik Mahmud. Aku ndak mau nambah beban mereka."

Santaka menipiskan bibirnya. Nandini terisak. "Maaf, Mas. Malah aku yang nangis." Santaka tersenyum dan mengelus punggung sang istri.

"Aku suka nangis, kangen Umi. Kangen masakan Umi. Kue Umi. Akhirnya aku sering ke dapur, liatin abdi ndalem masak, bikin kue. Aku suka. Terus aku minta diajarin abdi ndalem, kue bolu pisang. Kesukaan aku, bikinan Umi, enaak banget.

Ternyata, aku bisa, enaknya lumayan, mendekati buatan Umi. Aku jadi ketagihan bikin kue, sama masakan juga. Kangen aku sama Umi berkurang. Pas Paklik tau aku suka ke dapur, dia makin hina aku. Bilang aku kayak perempuan, lemah, anak gagal."

Nandini terhenyak mendengar cerita Santaka. "Mas, maaf waktu itu... yang aku ke toko Mas... sebelum nikah, aku bilang... Mas lemah... Maaf..."

Santaka tersenyum dan mengelus pipi lembut Nandini. Nandini makin merasa bersalah.

"Jujur, aku emosi kalau ada yang bilang aku lemah. Itu mancing luka batin aku. Termasuk kamu waktu itu. Makanya aku ndak ngusahain batalin nikah kita. Aku malah jadi mau buktiin kalau aku ndak lemah."

"Dan Mas berhasil buktiin itu. Mas sama sekali ndak lemah. Kuat banget malah." Nandini mengelus rambut hitam Santaka.

"Masa? Kan kamu belum coba?" Santaka tersenyum jahil.

Nandini memukul pelan bahu suaminya. "Dhih, bukan ke sana maksudnya." Mereka terkekeh.

"Ahsan waktu kecil juga suka rebut barang aku, mainan aku. Paklik ndak pernah negur. Dia malah bilang, lawan saja Ahsan, kalau berani. Aku lawan, itu anak nangis. Aku dihukum sama Paklik. Serba salah kan?"

"Ih, Mas. Kalau aku tau cerita ini dari kemaren, aku tusuk ban mobil Paklik, bukan cuma dikempesin!" Mata Nandini menyipit.

"Jangan lah...."

"Ih, Mas baik banget jadi orang."

"Ndak, kalau ditusuk tambah lama lagi dia di Ndalem." Santaka memiringkan bibirnya.

Nandini menepuk jidatnya. "Oh iya, bener. Ya sudah, aku buatin kopi campur obat pencuci perut."

"Adeek, ndak boleh... itu jahat... Kenapa ndak dilakuin?" Santaka mengulum senyum. Mereka kembali tergelak bersama.

Santaka melanjutkan ceritanya. "Sejak itu, aku ndak mau jadi pengurus pondok. Aku ndak percaya diri, aku mau bersinar di panggung aku sendiri. Dapur itu panggung aku. Dan aku juga mikir aku bisa dakwah di dapur. Dengan caraku sendiri."

"Mas... kamu luar biasa..." Nandini memeluk Santaka.

"Makanya aku ndak suka Ahsan deket-deketin kamu. Aku curiga dia suka kamu, dan bener kan? Dek, kenapa ndak cerita kalau bantuin Ahsan ngecek motor?" Santaka menatap istrinya.

"Lupa... Lagian aku ndak anggep penting si Ahsan. Ngecek mesin kan kayak nyebrang jalan saja gitu, buat aku. Biasa saja. Maaf ya... Mana si Ahsan sengaja lagi Mas, rusakin kabel motornya. Niat banget kan?" Nandini memainkan telinga suaminya.

"Ck, memang kacau tuh anak." Santaka menghela napas. Nandini mengangguk.

"Terus, Abi manggil ke kamar Abi lagi kenapa?" Nandini masih memainkan telinga Santaka.

"Intinya, Abi dan Mas Yasa percaya sama aku dan akan ngawasin Ahsan. Abi ndak bisa bicarain depan Paklik Mahmud karena pasti bikin suasana kisruh." Santaka tersenyum tipis.

"Alhamdulillah. Abi memang terbaik...." Nandini mengembuskan napas lega. Tangannya tetap memutar-mutar kuping sang suami.

Santaka melirik istrinya. Tak pahamkah Nandini jika kuping memiliki banyak syaraf? Permainan di telinganya membuat sesi curhat harus dihentikan. Sang gus perlahan menarik resleting gamis yang kebetulan ada di bagian belakang Nandini.

"Eh, Mas. Tangannya gercep banget!" pekik Nandini ketika tangan Santaka sudah membelai kulit punggungnya. Santaka terkekeh.

"Aku tagih janji kamu, Dek." Suara Santaka sudah berat.

"Eh, Mas... Anu..." Santaka langsung membungkam sang istri dengan tautan sehingga bibir sensual itu tak bisa bersuara.

Rasa sedih, luka, trauma yang berjejak di hati Santaka seakan meledak. Berhamburan ke udara. Menguap menuju langit. Mungkinkah kesabarannya menghadapi hidup berbuah manis? Mendapatkan istri yang berbeda dunia namun begitu sejiwa. Hadiah dari Yang Maha Kuasa untuk jiwa yang penuh duka.

Santaka berusaha menghilangkan kain pembatas di antara mereka. Ia hempas pakaian panjang Nandini ke lantai.

Nandini tersipu. Pandangan mereka saling mengunci. Wajah mereka kembali saling terkait. Saling mengejar. Memberi sekaligus mengambil rasa manis dari diri mereka.

Tangan Santaka menari di bagian belakang Nandini. Semakin ke bawah. Jemari kokoh itu berhenti di bagian tengah. Menyadari sesuatu. Ada yang berbeda.

Santaka melepas tautannya dengan Nandini. Ia menelan ludah. Matanya menatap sang istri. Nandini mengangguk, wajahnya menelusup ke ceruk leher sang suami.

"Aku mau bilang itu dari tadi, dari tengah malem malah. Mas maen nyeruduk aja. Maafin aku. Sabar ya sayang."

Santaka memejamkan matanya. Ternyata sabar adalah nama tengahnya. Ia kira sudah akan berpesta dengan menu utama hari ini.

"Adek, berapa lama biasanya?"

"Aku... Tujuh sampe delapan hari sih biasanya." Nandini menggigit bibir.

Santaka mendengus. Ya Allah, berikanlah ia kekuatan satu minggu lagi.

1
Aisyah Virendra
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
pas mau Unboxing ehhhh passa tamu tak diundang datang tanpa kodess 😤🤣🤣🤣 ditunda minggu depan yaaa Takaaa 😆
Inna Kurnia: saaabaaar 😂😂
total 1 replies
Nanik Arifin
Sabara ya Gus.... Insyaa sekali lsg jadi, kan g lemah 🤭🤭
Inna Kurnia: joss yaa Kak Nanik 😂😂
total 1 replies
Nanik Arifin
kapok loe, yai sableng 🤣🤣🤣
istri Gus Taka, te ou pe be ge te. aku padamu mb Dini... 😘😘
Inna Kurnia: 🤣🤣🤣🤣🤣 yai baik kok 🤭🤭
total 3 replies
Aisyah Virendra
2 kataaaa...
Rasainnnn kelennnn 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Inna Kurnia: siaaap kakak, pantengin terus yaaa❤️🙏
total 5 replies
Nanik Arifin
kan... belain kesalahan Ahsan lagi... dah suruh yai Mahmud bawa pulang si Gus ganjen ke Al Irsyad Magelang lagi. bikin geregetan aj.
Rasain Ahsan, emang enak lihat bekas kemesraan Taka & Dini... ? suruh tuh abahmu belain kamu, agar Taka kena sanksi Krn bekas mesranya Taka+ Dini terlihat. biar semua sadar, siriknya si Mahmud+ Ahsan
g tidur ah, nungguin Ahsan + Yai Mahmud angkat kaki balik ke Magelang 😄😄
Inna Kurnia: tidur kak, apa mau ditemenin ahsan tidurnya?🤭😂
total 1 replies
Aisyah 3
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
panaaaaassss nihhhh Ahsannn panass yaaaaa.... yaaa panassss dongggg pastinyaaaa 🤣🤣😏 Nandini ituu sama Santaka udah saling sayang saling cinta jadi otomatis saling menguatkan satu sama lainn.. kamuuu iriiiiii ? ya tentu sajaaaa, maka nikmati dg baikkkk wahai sampahhhh pondok 😏😏😏😤
Inna Kurnia: 😂😂😂😂😂😂
total 3 replies
Aisyah 3
Mahmud kmu bosan hidup yaaa.... tancep paku nih palamu biar kek mbak kunti 😏😤
Inna Kurnia: wkwkw, serem kali si kakak 🤭😂
total 1 replies
Nanik Arifin
putramu yai Mahmud... 🤦🏻‍♀️ yg dlu sikapnya kau menangkan dr Gus Taka ( hg sptnya membuatTaka memiliki trauma) tetap aj kalah dr putra bungsu yai Mansyur
semoga Gus Abi bijak dlm mensikapi. tendang aj Ahsan dr Al Fatih. biar dia penerus PP Al Irsyad aj
Inna Kurnia: Ahsan kebanyakan maen motor, Kak Nanik, jadi masuk angin ampe ke pemikirannya 🤭❤️🙏
total 1 replies
Aisyah 3
Duh belibet kali lah ngomongnya... muak pulaaa 😏 tabok aja gin langsung pala nya Ahsan tuh.. geram banget, ciriciri manusia sampahhh nih 😤
Aisyah 3: gaskuy kak.. sebelum ganti akun, aku mau tidur 🤣
total 4 replies
Zafira Nisa
Bagus.. ceritanya menarik, GK pasaran
Inna Kurnia: alhamdulillah, semoga cocok sampai tamat ya Kak Zafira ❤️❤️

terima kasih untuk penilaiannya ❤️🙏
total 1 replies
Nanik Arifin
Abi atau Danendra ya tegur Ahsan ya... semoga mereka segera sadar & mendepak Ahsan. agar tak jd duri dlm daging di ponpes Al Fatih
Inna Kurnia: Sensornya pada lemah kalo sama sesama gus, sama Dini kenceng bgt ya kalau salah, ya Kak Nanik 🤭
total 1 replies
Aisyah Virendra
pliss deh tabok aja muka Ahsan dan bapakny.. gemes banget deh pen nyolok juga matanya jelalatan ke istri orang 😏😏
Aisyah Virendra: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 4 replies
Aisyah Virendra
dih... pimpinan pondok ko merokokny ngebut.. lagi pula merokok itu bagian dari pemborosan dan banyak mudhorotnya untuk kesehatan tubuh.
Inna Kurnia: 🤣🤣🤣🤣🤣 🤣🤣
total 11 replies
Nadia Zalfa
pngen lihat klu si polisi kena ujian mau gimana itu
Inna Kurnia: Hihihi, sabar ya Kak Nadia... nanti Sarah pelan-pelan makin... nyebelin, hehehhe... Sarah baik kok, asli 🤭❤️🙏
total 1 replies
Nanik Arifin
yg nunggu unboxing, unboxingnya bulan depan ya.... 🤭
Inna Kurnia: Biar saling mengenal dulu Kak Nanik, jd joss ntar 🤭❤️🙏
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiirr😍
Inna Kurnia: Hi, Kak Rian, selamat datang. Semoga cocok ya sama cerita Santaka-Nandini. terima kasih ❤️❤️🙏🙏
total 1 replies
Aisyah Virendra
Diiihhh Ahsan jangan kira bisa ngerebut Dini dari Taka yaaa.. minta ditendang ke pluto kek nya 😏
Inna Kurnia: duh, jauh banget, Kak 🤣🤣
total 1 replies
Aisyah Virendra
duh jadi mesam mesem dewe 🤣🤣🤣🤣🤣 akhirnya Ahsan kena sentil Santaka 🫣
Inna Kurnia: aamiin ya Allah.❤️❤️🙏🙏
total 5 replies
Aisyah Virendra
bentar lagiiii ngintip unboxing Gus Taka n Nandini ah 🫣🤣🤣 seru kek nyaaa 🤏🤭
Inna Kurnia: ❤️❤️🙏🙏
total 5 replies
Aisyah Virendra
aihhhh mulai deh jurus Uler keketnya Syifa keluar.. katanya Ning tapi ko anuhh 🫣
Inna Kurnia: Ning juga manusia kak 🤭❤️🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!