Rayya, seorang perawat yang terperangkap dalam permainan cinta dan kekuasaan Marsel, seorang ketua Mafia yang sangat di takuti.
Marsel tidak mau melepaskan nya, Rayya sudah memiliki pacar dan akan segera menikah, akan tetapi Marsel menyatakan kepemilikan terhadap Rayya.
Marsel membuat Rayya tidak bisa menikah selain dengan nya. Ciuman di pertemuan pertama mereka membuat Marsel tidak bisa tenang memikirkan Rayya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumling, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Mama Tidak Enak
Rio sangat marah, kenapa Riko menyembunyikan kebenaran itu? Harusnya Riko berada dalam penjara untuk mendapatkan balasan atas perbuatannya.
"Tidak, tidak. Bukan begitu, bukan aku yang membunuh nya, Om."
"Jangan mengelak lagi, kau sudah membunuh Liam tapi tetap tidak mau mengakui. Aku sebagai Papanya tidak terima dengan semua ini."
Riko ketakutan mendengar Rio marah begitu, Ia segera berlutut agar Rio tidak memenjarakannya.
"Om, maaf. Aku tidak sengaja melakukan itu. Kejadian nya begitu cepat dan aku tidak bisa mencegahnya," pinta Riko, namun Rio tidak peduli.
"Saya tidak mau tahu. Biar polisi saja yang menentukan."
Riko terduduk mendengar kata polisi. Mungkinkah Rio akan benar-benar memenjarakannya? Riko tidak mau masuk penjara, pria itu menggeleng kuat dalam ketakutan berada di balik jeruji.
"Om, tolong jangan lapor polisi," punya Riko.
"Om bisa minta apa saja padaku. Tapi tolong jangan melaporkan ku polisi," lanjut Riko memohon bahkan ingin meraih kaki Rio tapi segera di tarik oleh pria baya itu.
"Tidak bisa, aku harus mendapatkan keadilan untuk anakku!" kata Rio tegas.
Mereka semua bahkan sampai membenci Marsel karena mengira dialah yang membuat Liam meninggal, tapi sepertinya dugaan mereka adalah salah. Ternyata Riko dalang di balik nya. Memang Cosa Nostra yang membunuh Liam, tapi secara tidak langsung Riko adalah dalang utama nya.
"Jangan Om, aku tidak masuk penjara."
Riko mencegah Rio yang ingin pergi namun dengan sigap dan cepat Rio langsung mendorong Riko dengan sangat kasar. Pria baya itu sangat amat marah.
"Kalau tidak ada hukum di dunia ini. Aku tidak akan membawa mu ke kantor polisi, tapi ingin membunuhmu," kata Rio sebelum pergi meninggalkan Riko yang masih tergeletak di atas tanah.
"Tidak, aku tidak mau masuk penjara," ucap Riko pelan takut dan cemas untuk dirinya sendiri.
"Aku tidak mau masuk penjara," kata nya lagi dan tatapan matanya tertuju pada sebuah batu yang memiliki sudut runcing.
"Aku tidak akan membiarkannya melaporkan ku ke polisi," ujarnya lagi dan dengan cepat meraih batu tersebut lalu mengejar Rio yang sudah berjalan beberapa meter meninggalkan nya.
"Mau melaporkan ku? Mati saja!"
Rio yang tidak sempat menahan pukulan Riko memegang kepalanya yang terasa sakit dan berdenyut nyeri, pandangan matanya bahkan terlihat buram dan tidak bisa melihat dengan jelas.
"Sebelum melaporkan ku ke polisi, sebaiknya kau pergi menyusul anakmu itu."
Riko seperti kesetanan melihat Rio, tanpa pikir panjang Ia kembali memberikan pukulan pada Rio dan pukulan tersebut Ia arahkan pada leher. Seketika setelah itu Rio langsung tak bergerak lagi.
Riko sadar dengan perbuatannya dan terkejut melihat Rio tidak bergerak. Dengan wajah takut dan tangan bergetar, Riko membawa jarinya ke hidung Rio.
"Ti_ tidak bernafas!"
Riko kaget dan mundur dengan perasaan yang tidak menentu, niat hati ingin terhindar dari masalah Liam, sekarang malah bikin masalah baru.
"A_ppa yang ku lakukan," takutnya sampai terbata. Jika sebelumnya menjadi penyebab kematian seseorang, sekarang malah benar-benar membunuh seseorang, dan itu adalah Rio.
Riko menarik rambut seperti linglung dan mengusap wajah dengan kedua tangan nya beberapa kali. Sekarang Ia sangat amat gelisah karena membunuh Rio. Ia tidak tahu bagaimana dan harus berbuat apa sekarang.
Setelah cukup lama merenung, Riko tersadar dan melihat sekeliling. Tapi Ia tidak memperhatikan apakah ada orang yang melihat atau tidak, namun sepertinya tidak ada seorang pun di pemakaman itu selain mereka berdua.
"Kalau mayatnya tetap di sini orang-orang akan curiga."
Riko tidak mau mengambil resiko dan berakhir di penjara, Ia segera menarik mayat Rio untuk di amankan terlebih dahulu. Entah apa yang mau Riko lakukan pada mayat Rio.
___________________
"Ma, Papa belum datang juga?" tanya Rayya pada Sella, Ibu nya. Mereka sudah sangat lama menunggu Rio, tapi pria itu tak kunjung datang ke rumah sakit.
"Belum, Mema coba telpon Papa dulu, ya."
Terlihat Sella mulai mengeluarkan handphone nya dan melakukan panggilan.
"Gimana, Ma?" tanya Rayya lagi karena melihat Sella hanya meletakkan handphone di telinga tanpa berbicara.
"Tidak di angkat," ucap Sella. Tidak biasanya Rio mengabaikan panggilan yang masuk dari Sella.
"Coba lagi, Ma," kata Rayya.
Sella pun kembali melakukan panggilan namun dengan cepat malah operator yang memberikan jawaban padanya.
"Kok malah tidak aktif."
Entah kenapa Sella merasa tidak enak, karena ini hampir tak pernah terjadi. Dada Sella terasa nyeri saat memikirkan suaminya, Rio.
"Rayya, perasaan Mama nggak enak. Apa terjadi sesuatu pada Papa," ujar Sella sambil meraba dadanya yang terasa sesak tiba-tiba.
"Mama tenang dulu. Mungkin Papa terjebak macet di jalan."
Rayya juga di landa khawatir, apalagi Sella sudah berkata demikian. Karena insting istri untuk suaminya kadang memang seperti itu.
"Iya, semoga seperti yang kamu katakan, Nak."
Walau berucap demikian, tapi perasaan Sella tetap tak tenang memikirkan Rio. Dalam hati Ia berdoa agar suaminya baik-baik saja.
"Ma, pulang aja ya. Nunggu Papa nggak datang-datang."
Sella terpaksa mengiyakan karena dari kemarin Rayya sudah tidak berhenti mengatakan bosan berada di rumah sakit terus.
Ia sudah lama berencana untuk pulang, tapi Alex terus saja melarang sampai tidak ada luka yang tersisa baru boleh benar-benar pulang. Rayya terpaksa menuruti saat Alex mengatakan di perintahkan oleh Marsel.
________________
Tidak lama dalam perjalanan, akhirnya Rayya sampai di kediaman Marsel yang megah.
"Mama nggak ikut turun dulu?" tanya Rayya karena Sella nampak tidak ingin keluar dari mobil.
"Tidak usah, Rayya masuk saja ya. Mama mau langsung pulang ke rumah saja," jawab Sella ingin langsung pulang.
Akhirnya Rayya keluar dan menutup pintu mobil. Sebelum masuk dalam rumah, Rayya menatap mobil yang membawa Sella pergi lebih dulu.
"Masih berani pulang ke rumah ini juga."
Begitu masuk, Rayya langsung di sambut dengan perkataan yang entah apa maksudnya. Rayya melihat Lily, Mona dan ada juga salah satu wanita yang belum pernah Rayya lihat sebelumnya.
"Kenapa, nggak terima dengan pertanyaan ku tadi?"
Mona memelototi Rayya karena melihat wajah tidak bersahabat Rayya setelah Ia menyinggung Rayya tadi.
"Ucapan yang mana?" tanya balik Rayya sengaja ingin membuat mereka kesal balik. Memang nya mereka saja yang bisa membuat nya kesal, Ia juga bisa membuat mereka kesal.
"Kau...! Ma, lihat. Dia itu malah balik tanya dengan pertanyaan tak jelas."
Mona malah merengek pada Lily karena tidak mungkin Ia mengusir Rayya secara langsung. Pasti akan ada yang marah dan kita semua tahu siapa itu.
Jika Rayya tahu diri sudah berbuat salah, harusnya dia angkat kaki dari rumah itu dengan sendirinya. Kenapa juga malah balik bertanya seperti tadi.
"Rayya! Kau itu harusnya tau diri. Harus bersyukur karena Marsel masih membiarkan mu hidup dan tidak langsung membunuhmu. Kenapa masih kembali ke rumah ini, hah?"
Lily terlalu berkata terus terang dan merasa benar dengan ucapannya.
Mona juga langsung menatap rendah pada Rayya setelah Lily ikut berbicara. Ia sangat setuju dengan perkataan ibunya. Untuk apa Rayya masih kembali juga.
'Mereka kira aku mau tinggal di sini? Hueek! Rasanya aku pengen muntah karena memikirkan harus kembali ke rumah ini' batin Rayya kesal.
Apa mereka tidak tahu jika Rayya memang tidak ingin atau memang pura-pura tidak tahu dan hanya mau membuat masalah dengan Rayya saja.
"Jadi ceritanya kalian usir aku nih," ucap Rayya dan dari tiga wanita itu tidak ada yang membalas ucapannya.
"Okelah, lagipula aku datang ke sini tidak bawa apa-apa. Sebaiknya aku segera keluar tanpa membawa apa-apa juga."
Karena tidak ada yang berbicara, akhirnya Rayya memutuskan untuk pergi saja. Ini adalah kesempatan baginya, kalau Marsel masih mau memaksanya kembali ke rumah itu ya berarti harus mencarikan solusi terbaik dulu untuk mereka semua.
"Tunggu."
Rayya menghentikan langkah kaki saat mendengar ada yang menghentikan nya.
"Kau masih berani keluar. Mau cari masalah buat kita, hah!"
Monika menghentikan Rayya, Ia tahu Marsel akan memarahi mereka jika bertindak sembarangan, wanita itu maju lalu hendak menampar Rayya, sudah lama Ia bersabar menunggu moment tersebut.
"Eh, eh. Mau nampar?"
Tapi ternyata Rayya malah mencegah tangan Monika yang hampir mengenai pipi mulusnya.
Plak.
Plak.
"Sakit kan?"
Rayya langsung balik menampar Monika bahkan sekaligus di pipi kiri dan kanan wanita itu.