NovelToon NovelToon
GUS BAD BOY MY HUSBAND

GUS BAD BOY MY HUSBAND

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arini, seorang mahasiswi sastra yang berjiwa bebas, terjebak dalam janji perjodohan antara ayahnya dengan pemilik Pondok Pesantren Al-Ikhlas. Ia membayangkan akan menikah dengan sosok pria religius yang kaku, namun kenyataan justru mempertemukannya dengan Gus Zikri.
​Zikri adalah anomali di lingkungan pesantren. Di balik statusnya sebagai putra Kyai, ia adalah seorang pemberontak yang lebih akrab dengan deru motor gede, jaket kulit, dan balapan liar daripada kitab kuning. Baginya, pernikahan ini hanyalah beban hutang budi yang harus ia bayar.
​Arini harus bertahan di tengah dinginnya sikap Zikri dan aturan ketat pesantren yang asing baginya. Namun, perlahan ia mulai menemukan sisi lain dari suaminya yang tersembunyi di balik topeng "bad boy". Di sisi lain, Zikri pun mulai terusik oleh kehadiran Arini yang tidak hanya melihatnya sebagai seorang "Gus", tapi sebagai manusia biasa.
​Dua dunia yang bertolak belakang ini pun berbenturan. Bisakah Arini melunakkan hati Zikri yang liar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Antara Sorban dan Aspal

Gema adzan subuh belum lama usai, namun aroma kopi hitam yang pekat sudah memenuhi kamar ndalem.

Arini terbangun dengan sisa-sisa rasa kantuk yang menggelayut, namun matanya langsung tertuju pada sosok pria yang duduk di atas sajadah di sudut ruangan. Zikri. Ia sudah mengenakan koko putih dan sarung, lengkap dengan kopyah hitamnya. Jika orang luar melihat, ia adalah gambaran Gus yang sempurna. Namun, Arini melihat perban kecil yang mengintip dari balik lengan bajunya—bekas luka dari insiden semalam yang baru saja ia obati.

Zikri menoleh saat mendengar suara gesekan selimut. "Cepat mandi. Abah ingin kita ikut sarapan bersama para ustadz senior pagi ini,"

ucapnya datar, namun nadanya tidak lagi sedingin es. Ada semacam pengakuan tersirat dalam suaranya—sebuah pengakuan atas hutang nyawa dan rahasia yang kini mereka bagi.

Arini mengangguk pelan. "Lukamu... tidak apa-apa?"

"Hanya perih sedikit," jawab Zikri singkat. Ia berdiri, lalu berjalan mendekati Arini. "Ingat, Arin. Kalau Abah atau siapapun bertanya soal memar di bibirku, bilang saja aku terbentur pintu lemari saat bangun tidur. Jangan sampai ada celah sedikitpun."

"Aku tahu. Aku sudah mulai terbiasa menjadi pembohong yang baik, kan?" Arini tersenyum getir, sebuah sarkasme yang membuat Zikri terdiam sejenak sebelum ia melangkah keluar kamar tanpa sepatah kata pun.

Sarapan pagi itu terasa seperti ujian lisan bagi Arini. Kyai Ahmad, dengan wibawa yang meluap-luap, terus membicarakan rencana masa depan pesantren. Beliau ingin Zikri mulai mengambil alih kepengurusan asrama putra secara penuh.

"Zikri sudah cukup dewasa, Arini," ujar Kyai Ahmad sambil menyesap tehnya. "Apalagi sekarang dia sudah punya pendamping sepertimu. Abah harap, pengaruh positifmu bisa membuatnya lebih betah berada di dalam tembok pesantren daripada keluyuran tidak jelas."

Arini melirik Zikri. Pria itu menunduk dalam, tangannya meremas sendok hingga buku-buku jarinya memutih. Arini tahu, di balik ketundukan itu, ada api yang sedang berkobar.

"Tentu, Bah. Zikri sedang berusaha keras. Dia bahkan sering menghabiskan waktu di perpustakaan akhir-akhir ini," sela Arini, menutupi kenyataan bahwa "perpustakaan" yang dimaksud adalah gudang tua tempat Zikri mengutak-atik mesin motornya.

Zikri mengangkat wajahnya, menatap Arini dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa syukur, namun juga rasa bersalah yang terpancar di sana. Setelah sarapan usai dan para tamu pergi, Zikri menarik tangan Arini menuju area kebun belakang yang sepi.

"Kenapa kamu terus-menerus melakukan itu, Rin?" tanya Zikri. Suaranya rendah, hampir tertutup suara gemericik air kolam ikan.

"Melakukan apa?"

"Membelaku. Berbohong demi aku. Kamu tahu kan, kalau Abi sampai tahu, bukan cuma aku yang habis, tapi kamu juga bisa dikembalikan ke orang tuamu dengan nama baik yang hancur."

Arini menyandarkan punggungnya di pohon mangga besar. "Aku sudah bilang, Zikri. Aku ingin melihat akhir dari ceritamu. Dan aku sadar, kamu tidak bisa berubah kalau terus-menerus ditekan dengan cara yang salah. Kamu butuh ruang napas."

Zikri terdiam. Ia mengeluarkan sebuah kunci dari sakunya—kunci gudang tua. "Ikut aku."

Di dalam gudang yang pengap dan berdebu itu, Zikri tidak langsung menuju motor bebek tuanya. Ia berjalan ke sebuah lemari kayu tua yang terkunci rapat. Ia membukanya perlahan, memperlihatkan tumpukan buku catatan, beberapa kaset lama, dan sebuah jaket denim kecil yang tampak sudah sangat usang.

"Ini milik Ummi," bisik Zikri. Ia mengambil jaket denim itu dan mengelusnya lembut. "Ummi Fatimah dulu bukan berasal dari keluarga pesantren. Dia seorang perawat di kota yang jatuh cinta pada santri kesayangan kakekku, yaitu Abi. Dia dipaksa melepaskan semua dunianya—hobinya mendengarkan musik, cara berpakaiannya, bahkan teman-temannya—hanya untuk bisa diterima di keluarga ini."

Zikri menatap Arini dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Abi pikir dia sudah berhasil mengubah Ummi. Tapi aku tahu, setiap malam Ummi menangis di kamar ini sambil mendengarkan kaset-kaset lamanya. Dia merasa tercekik, Rin. Dan ketika dia sakit, Abi menganggap itu hanyalah ujian fisik, padahal jiwanya sudah mati lebih dulu karena kesepian."

Zikri mengepalkan tangannya. "Aku tidak mau berakhir seperti Ummi. Aku tidak mau mati dalam diam di tempat yang mengatasnamakan kesucian tapi membunuh kebebasan."

Arini merasakan hatinya seperti tertusuk. Ia menyadari bahwa perlawanan Zikri bukan hanya soal motor gede atau geng motor, tapi soal trauma mendalam melihat ibunya yang hancur karena tekanan struktural pesantren yang kaku.

"Zikri... aku tidak akan membiarkan itu terjadi padamu," Arini mendekat dan menggenggam tangan Zikri yang kotor terkena oli. "Tapi kamu juga tidak bisa terus-menerus lari dengan cara merusak dirimu sendiri. Kamu punya tanggung jawab di sini, bukan hanya sebagai Gus, tapi sebagai manusia yang bisa membawa perubahan."

Zikri menatap tangan Arini yang menggenggamnya. Untuk pertama kalinya, ia tidak menarik diri. Ia justru membalikkan telapak tangannya, menggenggam balik jemari Arini dengan erat.

"Malam ini... The Vultures mengundangku ke sebuah pertemuan," ujar Zikri ragu.

Arini menghela napas. "Lagi?"

"Ini berbeda. Ini bukan soal balapan. Mereka sedang dalam masalah besar. Salah satu anggota, namanya Rio, ditangkap polisi karena kasus narkoba yang tidak dia lakukan. Mereka tahu aku punya akses ke pengacara hukum di kota melalui koneksi Abi. Mereka minta tolong."

Arini terdiam. Ini adalah situasi yang berbahaya. Jika Zikri terlibat dengan polisi dan geng motor, reputasi Kyai Ahmad taruhannya. Tapi jika Zikri menolak, ia akan mengkhianati prinsip setiakawan yang selama ini menjadi pegangannya di luar sana.

"Kalau kamu pergi, kamu harus sangat hati-hati," ucap Arini akhirnya. "Jangan bawa motor Ninjamu. Pakai motor bebek tua ini. Kenakan pakaian santri yang paling biasa. Biar aku yang mengaturnya."

Zikri menatap Arini dengan takjub. "Kamu... kamu benar-benar akan membantuku lagi?"

"Aku istrimu, Zikri. Dan dalam cerita yang kutulis, tokoh utamanya tidak pernah membiarkan pasangannya terjatuh sendirian."

Malam itu, Arini melakukan manuver yang paling berani. Ia mengatur agar santri-santri yang berjaga di gerbang belakang mendapatkan kiriman martabak manis dalam jumlah besar, sebuah taktik untuk mengalihkan perhatian mereka. Saat mereka sibuk makan dan bercengkrama, Zikri keluar dengan motor bebek tuanya, mengenakan sarung yang diikat kuat dan jaket kusam, tampak seperti santri yang hendak mencari makan di luar.

Arini menunggu di kamar dengan gelisah. Setiap menit terasa seperti jam. Ia mencoba menulis novelnya, namun jemarinya kaku. Pikirannya terus melayang pada Zikri. Ia mulai menyadari bahwa perasaannya telah bergeser. Ini bukan lagi soal rasa ingin tahu seorang penulis. Ini adalah rasa takut kehilangan seseorang yang mulai ia cintai dengan segala lukanya.

Pukul satu dini hari, suara gerbang belakang yang terbuka membuat Arini langsung berdiri di balik jendela. Zikri kembali. Ia mendorong motornya dengan hati-hati. Saat ia masuk ke kamar, wajahnya tampak sangat pucat.

"Berhasil?" tanya Arini cepat.

Zikri mengangguk, namun ia langsung terduduk di lantai, menyandarkan kepalanya di kaki ranjang. "Sudah selesai. Aku sudah memberikan berkas pengacara itu pada mereka. Tapi, Rin... ada sesuatu yang lain."

Zikri mendongak, menatap Arini dengan tatapan ngeri. "Pemimpin geng motor itu, Marco... dia tahu siapa aku sebenarnya. Dia tahu aku Gus di Al-Ikhlas. Dia mengancam akan menyebarkan foto-fotoku saat balapan tahun lalu jika aku tidak membayarnya setiap bulan."

Arini merasakan dunianya berputar. Pemerasan. Ini adalah awal dari benang merah yang akan menarik mereka ke dalam jurang.

"Zikri, kita harus bicara pada Abah," bisik Arini.

"Jangan!" Zikri membentak pelan. "Kalau Abi tahu, dia akan mengusirku dan mungkin akan menyeretmu dalam masalah ini. Biarkan aku yang urus. Aku akan mencari uang sendiri."

Zikri meraih tangan Arini, menariknya hingga Arini ikut duduk di lantai bersamanya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Arini, mencari perlindungan yang selama ini tidak pernah ia dapatkan.

"Jangan tinggalkan aku, Arin. Kamu satu-satunya orang yang tahu siapa aku sebenarnya," bisik Zikri lirih.

Arini mengelus rambut Zikri yang sedikit berantakan. Di keheningan malam pesantren, ia menyadari bahwa ia baru saja memasuki bab yang paling gelap dalam hidupnya. Aliansi mereka bukan lagi sekadar rahasia kecil, melainkan sebuah pertaruhan nyawa. Dan Arini tahu, di ujung jalan ini, mungkin tidak ada cahaya yang menanti mereka—hanya ada aspal dingin dan sorban yang ternoda oleh air mata.

1
Titik Sofiah
awal yg menari ya Thor moga konfliknya nggak trllau berat 😍
sefira🐼
makasih kak semangat juga💪
nis_ma
semangatttt Thor 🔥🔥
ceritanya menarikkk, sukses selalu thorr
Rian Moontero
lanjoooott👍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!