Dia tumbuh dengan begitu indah, begitu mempesona siapapun yang melihatnya. Gadis cantik yang energik, pintar dan cerdas. Penghargaan pun tidak hanya satu atau dua yang dia dapatkan. Tapi berjejer menghiasi seluruh isi lemari kacar di kamarnya. Terlahir dari keluarga kaya raya, dengan fasilitas mewah dan semuanya bisa dia dapatkan hanya dengan mengatakan satu hal “aku mau ini.” Makan semuanya akan menjadi miliknya. Namun, siapa sangka. Mawar cantik itu menyimpan luka yang begitu dalam. Luka apakah itu? Lalu akankah dia menemukan obatnya? Mari saksikan kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecelakaan
Malam itu Delana merasa gelisah. Dia memikirkan ucapan terakhir Rex sebelum dia pergi.
Delana merasa bimbang, kepalanya terus dipaksa untuk berpikir.
Tidak ada yang salah dengan ucapan Rex, tapi dia pun tidak bisa mengabaikan rasa sakitnya, kekecewaan dirinya.
Pertarungan antara hati dan pikiran itu membuat Delana tidak bisa tidur sampai dini hari.
Gadis itu diam-diam masuk ke kamar Rex. Dia melihat seisi ruangan kamar tersebut. Delan duduk di tepi ranjang. Membayangkan bagaimana dia melakukan ciuman pertamanya dengan Rex.
Kakinya melangkah menelusuri setiap sudut kamar. Melihat berbagai koleksi barang-barang mewah sang tuan rumah. Mulai dari jam, ikat pinggang, sepatu, dompet dan parfum.
Setelah puas menjelajahi kamar Rex, Delana pergi ke balkon tempat di mana Rex selalu berdiri saat dia sedang mengalami banyak masalah.
Di tempat itu Delana berdiri seperti yang sering Rex lakukan.
Saat sedang menghirup udara dalam-dalam, Delana melihat ke bawah. Di sana anak buah Rex nampak sibuk.
Ada beberapa mobil yang datang, mereka terlihat panik.
Delana berteriak, “hei, kalian. Kenapa ribut-ribut?”
Mereka saling berpandangan dengan wajah tegang.
“Aku bertanya, apa kalian tidak mendengar?”
“Nyonya, tuan Rex.”
“Kenapa? Ada apa dengan Rex?”
“Bos mengalami kecelakaan.”
“Apa?”
Kepala Delana terasa berat. Dia terhuyung dan hampir jatuh, membuat anak buah Rex panik. Bahkan mereka berlari dan bersiap menangkap tubuh Delana jika gadis itu terjatuh ke bawah. Beruntung Delana bisa mengendarai dirinya.
Tidak lama kemudian sebuah mobil datang. Angga dan Tias. Mereka langsung menaikkan anak tangga untuk menghampiri Delana.
“Kenapa, kenapa ini bisa sampai terjadi? Angga, bukankah kamu bersamanya? Kenapa kamu ada di sini?”
“Delana, Rex pergi mengendarai mobil sendiri dalam keadaan marah. Aku diminta untuk turun dan tidak ikut.”
“Kami menerima telpon dari kepolisian. Ayo, sekarang kita ke rumah sakit.”
Delana mengangguk. Tubuhnya lemas, hingga Tias dan Angga harus membantunya berjalan.
Saking paniknya, mereka tidak sadar jika Delana hanya memakain pakaian tidur yang berbahan kain satin tipis.
Dalam perjalanan, Delana terlihat sangat cemas. Dia tidak berhenti menggerakkan kakinya seperti orang yang buru-buru ingin ke kamar mandi.
“Kalian berdua sama saja ternyata,” ujar Angga. Namun baik Delana maupun Tias tidak ada yang menggubris.
Sesampainya di depan rumah sakit, baik Angga, Delana, Tias langsung berlari masuk. Dia mencari keberadaan Rex di ruang UGD tapi tidak ditemukan.
“Pak Angga!” Seseorang berteriak memanggil Angga.
“Dwi? Di mana Rex?”
“Ayo ikut.”
Mereka berjalan cepat mengikuti Dwisasono tanpa ada satu orang pun yang notice pada pakaian Delana yang dilihat aneh oleh beberapa orang.
“Di sana.”
Dwisasono menunjukkan ruangan di mana Rex ada di sana. Nampaknya Rex sedang berbicara dengan dokter dan polisi.
Delana berlari menghampiri Rex. Pria itu melihatnya dan sedikit terkejut karena pakaian yang diapaki Delana.
“Lana, kenapa—“
Brukkk!
Delana berhambur memeluk Rex. Dia menangis sejadinya. Bahkan Delana tidak sadar jika di ruangan itu selain dokter, ada polisi dan ada Rayden juga.
“Lana ….” Rex mengusap lembut punggung Delana. “Sssst, sudah ya aku baik-baik saja sekarang.”
“Baik gimana? Lihat wajahmu. Kenapa? Apa Bapak mabuk? Kenapa bisa mengalami kecelakaan? Apa gara-gara kita bertengkar terus bawa mobil seenaknya gitu? Habis berapa botol? Jangan-jangan karena marah sama aku bapak minum sama wanita lain? Iya begitu? Apa wanita juga ikut dalam mobil bapak? Apa—“
“Delana.”
Mulut Delana terhenti saat dia mendengar suara Rayden. Secepat kilat Delana menoleh.
“Oh, Pak Rayden jangan-jangan yang membuat Pak Rex begini?”
“Sssst, Lana. Bukan Rayden penyebabnya. Tenang dulu, okey.” Rex memeluk tubuh Delana. Dia juga meminta jas yang dipakai Angga untuk menutupi tubuh Delana.
Petugas kepolisian yang ada di sana menjelaskan bahwa Rex mengalami pecah ban karena para oknum bengkel yang tidak bertanggung jawab menyebar paku di jalanan. Mobil Rex oleng karena dia sedang membawa mobil dalam kecepatan tinggi. Untuk itulah Rex pun kena sangsi tilang.
“Terimakasih, Pak.” Ujar Rex pada petugas kepolisian yang telah melakukan tugasnya. Rayden mengantar para petugas itu.
Kini hanya da Delana, Rex dan Angga serta Tias dalam ruangan itu. Anak buah Rex yang lain menunggu di halaman rumah sakit.
“Kenapa kalian tidak ada yang notice pada pakaian Delana?”
“Pak, aku yang salah. Jangan marahi mereka. Kita semua panik. Sudahlah jangan di bahas.”
“Tapi—“
“Angga, Mba Tias, tolong belikan air minum ya.” Delana mengedipkan satu mata pada mereka agar mereka keluar.
Angga menutup rapat pintu ruangan kamar vip itu dan membiarkan Delana serta Rex berdua di dalam sana.
“Kenapa? Mau marah lagi?” Tanya Delana ketus. “Itu bibir terluka pun masih bisa mangap lebar buat menceramahi orang.”
Rex menghela nafas.
“Apa dokter mengobati luka bapak dengan benar?” Tanya Delana sambil memeriksa wajah Rex yang penuh luka meski hanya luka ringan.
Rex membiarkan Delana memeriksa wajahnya sementara matanya menatap lekat wajah gadis itu.
“Sepertinya dokter tidak mengobati lukaku dengan baik,” ujar Rex sedikit berbisik. Lana menatap pria itu dan dia mengerti apa maksud Rex.
“Bagian mana? Apa ini?” Tanya Delana lalu mencium pelipis Rex yang terluka dengan sangat hati-hati.
“Apa ini?” Delana mencium pipi Rex.
“Ini juga?”
Delana mengecup satu persatu luka yang ada di wajah Rex.
Mereka saling menatap dengan debar yang tidak beraturan.
“Apa …. Ini juga tidak diobati?” Bisik Lana sambil mengusap bibir Rex.
Pria itu hanya diam. Ingin tahu apa yang akan dilakukan gadis kecil itu.
Dengan hati-hati Delana mengecup bibir Rex.
Delana tersenyum sambil menatap lembut Pria yang ada di hadapan nya itu.
Secepat kilat Rex menarik kepala Delana, lalu mencium habis bibir mungil Delana.
Gadis itu hanya diam mengikuti permainan Rex meski dia merasa asin karena bibir Rex sedikit berdarah. Namun, hal itu tidak menghilangkan gairahnya untuk tidak menikmati apa yang sedang Rex berikan padanya saat ini.
“Cukup, Pak.” Delana mendorong tubuh Rex saat pria itu hampir kehilangan kendali dan hampir merobek pakaian Delana yang tipis.
Nafas Rex memburu. Dia menundukkan kepalanya, mencoba mengendalikan debar dadanya yang seolah akan meledak.
Delana mengangkat kedua pipi Rex, dia menatap Rex lalu berbisik.
“Ayo kita pulang.”