NovelToon NovelToon
Sistem: Peluang 100%

Sistem: Peluang 100%

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Naik Kelas
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Dihina mandor, ditagih hutang, dan ditinggalkan pacar membuat hidup Fais berada di titik terendah.
Sampai sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.

[Peluang keberhasilan pengguna meningkat menjadi 100%]

Dari taruhan, bisnis, hingga misi berbahaya; semua yang dilakukan Fais selalu berhasil. Hidupnya berubah drastis dari kuli miskin menjadi sosok yang membuat banyak orang iri dan takut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: Lisensi

"Kita tidak mencari untung malam ini."

Suara Sri memecah udara basi. Mengoyak bau pelumas kering yang menempel di dinding beton gudang tua.

Fais tidak merespons. Ia menatap tiang penyangga utama.

Karat merayap lambat di besi itu. Menggerogoti cat kuning yang mengelupas seolah dimakan kusta. Seperti itulah kondisi bangunan raksasa ini. Mati perlahan.

"Dua ratus juta itu belum apa-apa." Sri berjalan melewati tumpukan kardus kosong. Hak sepatunya berderit kasar beradu dengan semen berdebu.

"Langkah pertama kita bukan soal margin keuntungan. Bukan soal vendor."

Sri berbalik. Menatap lurus tepat ke arah wajah kaku Fais.

"Lisensi. Kita butuh lisensi operasional."

Wanita itu merapatkan kerah mantelnya. Hawa dingin masuk dari celah atap seng yang bocor.

Tanpa kertas laknat berstempel pemerintah itu, gudang ini sekadar kuburan beton. Ilegal. Benda mati. Seluruh rantai distribusi akan putus sebelum mesin pertama dinyalakan.

Pagi buta keesokan harinya, perang jenis baru dimulai.

Fais diseret masuk ke dunia yang sama sekali tidak ia pahami.

Bukan dunia aspal kasar tempat ia menghancurkan tulang rusuk penagih utang. Bukan lorong sempit tempat bau darah segar menggenang di bawah sepatu botnya.

Ini dunia lantai marmer. Udara berpendingin yang mencekik tenggorokan. Bau kertas dan parfum murah dari meja resepsionis.

Gedung pemerintahan distrik pusat.

Sri membawa setumpuk dokumen dalam map tebal. Menarik Fais melewati deretan kubikel. Berurusan dengan staf berseragam rapi yang matanya kosong seperti ikan mati.

Pajak tertunggak lima tahun. Izin distribusi jalur barat. Perusahaan cangkang untuk menyamarkan kepemilikan aset.

Rentetan istilah itu keluar masuk telinga Fais. Merobek isi kepalanya lebih keras dari hantaman balok kayu.

Di tempat ini, orang tidak saling mematahkan leher secara langsung.

Mereka menggunakan stempel. Menggunakan tinta. Mereka membunuh lawan perlahan dengan tumpukan kertas. Lembar demi lembar yang menunda napas perusahaan berhari-hari.

Fais mulai sadar. Ini kekerasan dalam bentuk yang jauh lebih brutal.

Dunia elite adalah labirin kebusukan. Semuanya soal celah aturan. Uang pelicin yang diselipkan di bawah map. Senyum palsu yang menutupi niat menyembelih leher.

Mereka duduk di kursi tunggu besi. Berhadapan dengan meja kayu jati milik kepala biro administrasi.

Pria gendut di seberang meja membolak-balik dokumen Sri. Matanya menyipit angkuh.

Fais hanya duduk. Diam mengamati.

Dan saat itulah udara di depan matanya berubah bentuk. Retak.

Garis-garis biru tipis berpendar di udara kosong. Menyusun angka-angka digital tepat di atas wajah pria gendut itu. Panel sistem membelah pandangan Fais.

[Probabilitas Persetujuan Dokumen: 12%]

Teks itu melayang pasif. Tanpa suara.

Sri mulai membuka mulut. Mencondongkan tubuhnya ke depan.

"Kami sudah menyelesaikan seluruh tunggakan pajak tertunda, Pak. Jalur logistik barat sudah siap." Suara Sri terdengar mendesak. Terlalu mendesak.

Tiba-tiba angka di depan mata Fais berkedip merah.

[Probabilitas Persetujuan: 8%]

Merosot seketika.

Pria gendut itu mendengus pelan. Menaruh map ke atas tumpukan dokumen lain. "Itu prosesnya butuh evaluasi ulang, Bu Sri. Aturan distrik baru saja diubah bulan lalu."

Sri menggigit bibir dalamnya. Tangannya mencengkeram lutut kuat-kuat.

Fais merasakan tarikan otot di lengan kanannya. Insting jalanannya berteriak. Kepalanya merancang cara terbaik untuk melompati meja itu dan meremukkan rahang pria birokrat ini ke meja kayunya.

Tubuh fisiknya yang meningkat dua kali lipat merespons otomatis. Ototnya menegang siap menerkam.

Tapi sistem membanting kesadaran Fais.

[Saran: Observasi Pasif.]

Fais menarik napas dari sela gigi. Ia membungkam insting liarnya. Ia menyandarkan punggung ke kursi besi. Menyilangkan kaki. Menatap pria gendut itu dengan tatapan datar. Kosong. Bisu absolut.

Tidak ada ancaman. Tidak ada negosiasi. Fais mematung layaknya bongkahan es di ruangan itu.

Angka di udara berderak naik kembali.

[Probabilitas Persetujuan: 11%]

Satu pencerahan menabrak dinding otak Fais.

Ia pikir selama ini kekuatannya adalah tubuh monsternya. Efisiensi dalam menghancurkan lawan di jalanan.

Ternyata tidak. Kekuatan aslinya lebih sinting dari itu.

Sistem ini adalah mesin hitung takdir. Kalkulator probabilitas absolut.

Tubuh fisiknya yang gila itu sekadar alat eksekusi. Otak utama dari sistem ini adalah membaca peluang terkecil dari miliaran kemungkinan yang berserakan.

Ia selalu menang di jalanan karena sistem tahu kelemahan lawan. Ia efisien karena tidak membuang tenaga untuk pukulan yang meleset.

Di dunia meja kerja ini, aturannya sama.

Terlalu banyak bicara membuka ruang kesalahan. Mengemis memperlihatkan kelemahan. Semakin rapat mulut dikunci, semakin sedikit celah yang bisa diserang.

Makanya ia selalu diarahkan untuk diam. Diam adalah tameng terbaik.

Pria gendut itu melirik Fais sebentar. Merasa tidak nyaman dengan keberadaan pria diam bersorot mata mati itu. Pria itu menelan ludah.

"Baiklah. Formulirnya saya masukan ke daftar periksa utama." Tangan birokrat itu menarik stempel.

Sri menghembuskan udara perlahan dari hidung. Wajahnya sedikit melunak.

Proses berlanjut. Berpindah ke gedung lain. Berpindah dari satu stempel ke stempel lainnya.

Menjelang sore, bayangan matahari memanjang menutupi koridor gedung.

Mereka berdiri di lobi utama. Menunggu konfirmasi terakhir dari pusat arsip. Tinggal satu tanda tangan elektronik untuk mengaktifkan izin operasional.

Garis panel sistem masih menyala stabil di pinggiran pandangan Fais.

[Probabilitas Keberhasilan Final: 11%]

Cukup tinggi untuk ukuran perusahaan yang bangkit dari kubur. Semuanya tampak akan rampung.

Lalu. Terjadi anomali.

Udara di koridor mendadak terasa tebal. Seperti menghirup air kotor. Fais mengerutkan dahi.

Tanpa alasan fisik apa pun, angka di panel matanya berkedip liar. Merah darah menutupi kornea matanya.

[Probabilitas Keberhasilan Final: 5%]

Dada Fais bergemuruh ringan. Ia menegakkan posisi berdirinya.

Belum sempat otaknya mencerna penurunan itu, teks melayang kembali berantakan.

[Probabilitas Keberhasilan Final: 1%]

Runtuh. Hancur dalam hitungan detik.

Fais menyipitkan mata. Ia memindai lobi gedung. Memindai orang-orang berlalu-lalang. Tidak ada ancaman fisik. Tidak ada penembak runduk. Tidak ada orang mencurigakan.

Serangan ini tidak menggunakan senjata. Serangan ini tidak menggunakan otot.

Ada tangan yang bergerak dari balik dinding beton ini. Tangan yang jauh lebih besar. Tangan yang menguasai papan catur kota.

Seseorang sedang bermain-main dengan mereka. Mengunci jalan keluar.

Telepon genggam Sri bergetar di dalam sakunya. Menghentak keras di tengah heningnya koridor lobi.

Wanita itu mengambil ponselnya. Layarnya menyala menampilkan nomor lokal tanpa nama.

Sri mengangkatnya. "Ya. Halo."

Satu detik berlalu.

Tiga detik.

Lima detik menggerogoti udara.

Wajah Sri mengeras seolah disiram semen cair. Rahangnya terkunci rapat. Bola matanya melebar memandang lantai keramik kusam di ujung sepatunya.

Warna pucat menyapu wajah wanita itu. Seperti seluruh aliran darah ditarik paksa dari balik kulitnya.

Suara dari balik speaker telepon terdengar sayup. Lirih tapi mematikan.

Sri menurunkan tangannya pelan-pelan. Ponsel itu menggantung lemas di ujung jari telunjuknya.

"Pihak pelabuhan utara menolak akses." Suara Sri pecah. Serak dan bergetar hebat.

Ia memutar lehernya patah-patah menatap Fais.

"Vendor logistik menarik nama kita. Pemasok truk kargo memutuskan kontrak sepihak. Dan biro pusat..."

Napas wanita itu terputus.

"Permohonan lisensi kita ditolak total. Semuanya. Ditutup serentak hari ini juga."

Hening.

Satu ruangan itu terasa kedap suara di telinga Fais. Keramaian lobi memudar menjadi suara lebah yang menjauh.

Karat itu sudah mencapai jantung mesin. Pembusukan itu disebar sengaja. Diatur rapi dari sebuah ruangan mewah entah di mana.

Dunia korporat membalas pukulan Fais malam ini.

Fais hanya berdiri tegak. Matanya tidak beralih dari teks merah menyala yang terus berkedip statis menutupi wajah putus asa Sri.

Panel sistem itu memberikan kesimpulan akhirnya.

[Probabilitas Keberhasilan: 0%]

1
ghost
novel ga jelas...ga usah di baca
Ironside: Terima kasih /Joyful/, kalau boleh tahu. Apa yang perlu aku perbaiki?
total 1 replies
ghost
novel tolol
Ironside: Oke /Smile/
total 1 replies
Cecilia
up heii, udh nunggu agak lama masih 25 chapter. 200 chapter lah kakk
Ironside: Apa-apaan kamu Kak /Curse/. Aku sedang revisi /Scream/
total 2 replies
Gege
kan bisa turun di ruangan fitness apartemen, lari diatas tritmil Thor...🤣🤣
Ironside: Iya sih /Facepalm/
total 1 replies
Gege
pelit bener systemnya Thor...dimana mana ada system buat memudahkan, dan banyak cheat..hiburan harapan dalam bentuk tulisan yang mengalir ringan..🤣
Ironside: Untuk perkembangan sifat MC juga, karena pengalamannya sebatas tukang bangunan aja 😆.
total 1 replies
Cecilia
mana Insectnya kak
Ironside: Tidak ada /Scream/
total 1 replies
Yui
Akhirnya setelah 3x bulan purnama, author ini bikin nopel yang ada insectnya /Proud//Proud/
Ironside: Sembarangan /Curse//Curse//Curse/, tidak ada insect di sini /Grievance/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!