Serena Roe tahu satu hal tentang cinta:
semua orang yang mendekatinya selalu membawa kehancuran.
Julian datang menawarkan ketulusan.
Damien membuatnya kecanduan.
Dan Axel, perlahan menghancurkan hidupnya tanpa ia sadari.
Tapi di antara mereka, siapa yang benar-benar mencintainya dan siapa yang betulan ingin memilikinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarice Diane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LA, We're Coming
Ambulans itu melaju membelah hujan tanpa suara sirene. Hanya cahaya lampu jalan yang memantul samar di kaca jendela dan suara mesin pelan yang memenuhi ruang sempit di belakang kendaraan. Serena duduk diam di samping ranjang medis Julian sambil memandangi monitor detak jantung yang terus berbunyi stabil.
Bip.
Bip.
Bip.
Suara monoton itu entah mengapa terasa lebih menenangkan dibanding pikirannya sendiri.
Julian masih tidak sadar. Wajah pria itu terlihat jauh lebih pucat di bawah cahaya putih ambulans. Perban menutupi sebagian kepalanya, sementara selang oksigen masih terpasang di wajahnya. Dan setiap kali Serena melihat luka luka itu, dadanya kembali terasa diremas rasa bersalah yang nyaris tidak tertahankan.
Damien duduk tepat di seberang Serena sejak tadi. Kemeja hitamnya masih rapi meski malam mereka sudah berubah menjadi kekacauan total. Satu tangannya ia letakkan di paha Serena, sesekali mengusap kulit perempuan itu perlahan seperti kebiasaan yang dilakukan tanpa sadar.
Dan Serena mulai menyadari sesuatu yang mengerikan. Fakta bahwa Damien tidak terlihat seperti laki-laki yang sedang panik melarikan seseorang keluar negeri. Pria itu justru terlihat seperti seseorang yang sedang menjalankan rencana yang sudah sangat dipahaminya.
“Kau menyesal?” tanya Damien tiba tiba.
Suara rendahnya langsung memecah sunyi di dalam ambulans.
Serena tidak langsung menjawab. Tatapannya masih terpaku pada Julian.
“Aku tidak tahu.”
Damien memperhatikan wajah perempuan itu beberapa detik sebelum akhirnya bangkit dari duduknya lalu berpindah duduk tepat di samping Serena. Dekat sekali. Hangat tubuh pria itu langsung terasa di tengah dinginnya malam.
“Kau sedang menyelamatkannya,” gumam Damien rendah sambil membelai jemari Serena pelan. “Jangan melihat dirimu seperti seorang penjahat.”
Serena terkekeh kecil tanpa humor. “Kita sedang menculik orang tidak sadar keluar negeri.”
“Kalau ia tetap tinggal di sini, hidupnya selesai.” Tatapan Damien turun pada Julian sesaat sebelum kembali ke Serena. “Kau mendengar sendiri bagaimana media mulai membicarakannya.”
Serena memejamkan mata pelan. Karena Damien benar. Bahkan sebelum mereka meninggalkan rumah sakit, berita tentang Julian sudah memenuhi seluruh media nasional. Founder Hayes Hospitality. Calon suami Claire Beaumont. Pebisnis muda paling berpengaruh tahun ini. Julian bukan orang biasa.
Dan Damien tahu betul bagaimana dunia memperlakukan orang seperti itu.
“Aku tetap merasa ini salah,” bisik Serena lirih.
Damien diam beberapa saat. Pria itu mengangkat tangan dan menyentuh rahang Serena perlahan sampai perempuan itu menoleh menatapnya. Tatapannya lembut sekali sekarang.
“Kau tahu apa yang paling salah?” gumamnya rendah. “Membiarkan seseorang hidup dalam kehidupan yang membuatnya menderita hanya karena dunia menganggap itu benar.”
Napas Serena langsung terasa berat. Karena Damien selalu seperti ini. Pria itu mampu membuat sesuatu yang gelap terdengar hampir masuk akal.
Ambulans akhirnya memasuki area private airport beberapa menit kemudian.
Gerbang besar terbuka begitu kendaraan mereka mendekat. Tidak ada wartawan. Tidak ada keramaian. Hanya landasan luas yang basah oleh hujan dan sebuah jet hitam besar yang sudah menunggu dengan lampu menyala terang di tengah malam.
Serena langsung membeku sesaat.
Semuanya sudah siap.
Benar benar siap.
Beberapa staff berseragam hitam langsung bergerak cepat begitu pintu ambulans dibuka. Dokter dan perawat yang ikut bersama mereka turun lebih dulu sambil memberi instruksi pendek pada tim medis di bawah.
Dan semua orang terlihat mengenal Damien.
“Good evening, Mr. Knox.”
“Everything is prepared, sir.”
Damien hanya mengangguk kecil seolah semua ini hal biasa.
Sementara Serena berdiri diam di bawah hujan sambil memandangi jet besar di depannya dengan jantung perlahan berdetak tidak nyaman.
Seberapa lama pria ini memikirkan semua ini?
Damien berjalan mendekat lalu menyampirkan coat hitamnya ke bahu Serena.
“Kau kedinginan.”
“Kau...” suara Serena terdengar pelan. “Kau sudah menyiapkan semuanya bahkan sebelum aku setuju.”
Tatapan Damien berubah samar. Namun pria itu tidak menyangkal.
“Aku tidak pernah membiarkan kemungkinan penting tanpa rencana cadangan.”
Jawaban itu terasa sangat Damien Knox.
Dingin. Elegan. Menyeramkan.
Namun sebelum Serena sempat memikirkan semuanya lebih jauh, Damien sudah menggenggam tangannya lagi dan menggiringnya naik ke dalam jet privat.
Interior pesawat itu jauh lebih besar dari yang Serena bayangkan. Kabinnya dipenuhi cahaya keemasan redup dengan sofa kulit hitam dan meja marmer kecil di tengah ruangan. Di bagian belakang, area medis khusus sudah disiapkan untuk Julian lengkap dengan monitor dan peralatan rumah sakit portabel. Semua terlihat terlalu sempurna untuk sesuatu yang dilakukan mendadak.
Dan Serena semakin sulit bernapas menyadari itu.
Julian dipindahkan perlahan ke ranjang medis di dalam pesawat sementara dokter mulai memeriksa kondisinya lagi.
Serena berdiri diam beberapa langkah dari sana. Tubuhnya terasa ringan. Kepalanya penuh. Dan untuk pertama kalinya malam itu, rasa takut mulai benar-benar masuk ke dalam dirinya.
“Apa yang kita lakukan sebenarnya?” bisiknya hampir tanpa suara.
Damien yang berdiri di belakang Serena langsung mendekat perlahan. Pria itu melingkarkan lengannya di pinggang Serena dari belakang sebelum menyandarkan dagu di pundak perempuan itu. Pelukan hangat yang posesif.
Menenangkan.
Dan Serena membenci dirinya sendiri karena masih merasa aman di dalamnya.
“Kita sedang pergi,” bisik Damien rendah di dekat telinganya. “Hanya itu.”
“Ke rumahmu di Los Angeles?”
“Hm.”
“Kau tidak pernah memberitahuku kau punya rumah di sana.”
Damien tersenyum kecil.
“Ada banyak hal tentangku yang belum kau tahu.”
Kalimat itu langsung membuat Serena menoleh pelan.
Dan untuk sepersekian detik, pria di hadapannya terasa seperti orang asing.
Seseorang dengan terlalu banyak rahasia.
Namun Damien hanya membelai rambut Serena perlahan lalu mengecup pelipisnya singkat seolah tidak terjadi apa apa.
“Kau butuh istirahat.”
“Aku tidak mungkin bisa tidur malam ini.”
“Kau bisa.” Tatapan Damien turun lurus ke mata Serena sekarang. “Selama aku di sini.”
Dan sialnya, bagian paling lemah dalam diri Serena masih ingin mempercayai itu.
Beberapa menit kemudian, suara mesin jet mulai memenuhi kabin. Lampu di luar landasan bergerak perlahan saat pesawat mulai berjalan meninggalkan hanggar privat.
Serena duduk di dekat jendela sambil memandangi kota yang basah oleh hujan malam. Kota itu perlahan menjauh. Gedung gedung tinggi berubah menjadi cahaya kecil yang semakin samar di kejauhan. Dan entah mengapa, Serena merasa seperti sedang melihat kehidupan lamanya pergi sedikit demi sedikit.
Damien duduk di sampingnya dalam diam. Tangannya perlahan menggenggam jemari Serena sebelum pria itu berkata rendah,
“Begitu pesawat ini mendarat,” tatapannya bergerak pelan ke arah kota di luar jendela, “tidak ada jalan untuk kembali.”
...----------------...
...To be continue...