"Dulu aku hanyalah sampah yang diinjak-injak, kurir miskin yang tak punya masa depan. Namun, satu tetes darah dewa mengubah segalanya. Dengan Mata Sakti ini, tidak ada rahasia yang tersembunyi, tidak ada musuh yang tak punya celah, dan tidak ada harta yang tak bisa kuraih. Dunia modern ini akan bertekuk lutut di bawah tatapanku!"
#urban_fantasi
#harem #romance#cultivasion
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: MATA YANG MELIHAT SEGALANYA
Rolls-Royce itu meluncur halus di aspal Jakarta yang masih macet, tapi di dalam kabin, suaranya sunyi senyap kayak di dalam perpustakaan. Arka duduk bersandar, ngerasain kulit jok yang lembutnya minta ampun. Di sampingnya, Clarissa sesekali curi pandang. Wangi parfum floral mahal dari cewek itu bener-bener bikin rileks, beda jauh sama bau asap knalpot yang biasa Arka hirup tiap hari.
"Jangan tegang gitu, Ka. Papa orangnya asik kok, asal kamu jujur," kata Clarissa sambil benerin rambutnya yang jatuh ke bahu.
Arka cuma senyum tipis. "Gak tegang, Cla. Cuma lagi mikir, ternyata bener kata orang, duit emang bisa beli ketenangan."
Clarissa ketawa kecil. "Dan keahlian kamu soal giok tadi siang itu yang bakal beli rasa hormat Papa."
Gak lama, mobil berhenti di depan sebuah mansion bergaya kolonial modern. Begitu pintu dibuka, Arka disambut deretan pelayan yang nunduk rapi. Arka narik napas panjang. Dulu masuk mal aja dikira mau maling, sekarang masuk istana disambut kayak raja, batinnya.
Di ruang makan yang luasnya mungkin segede lapangan futsal, seorang pria paruh baya dengan rambut yang mulai memutih tapi badannya masih tegap duduk di ujung meja. Itu Hendra Wijaya, sang "Raja Perhiasan" yang namanya sering masuk majalah Forbes.
"Pa, ini Arka yang Clarissa ceritain," sapa Clarissa.
Hendra dongak, matanya yang tajam langsung scanning Arka dari ujung kaki sampe ujung rambut. "Duduk, Anak Muda. Katanya kamu punya mata yang lebih tajam dari mesin laboratorium saya?"
Arka duduk dengan tenang. Dia nggak ngerasa terintimidasi. Kenapa? Karena begitu dia ngeliat Hendra, mata kirinya mulai berdenyut hangat. Gila! Di mata Arka, di sekitar dada Hendra, ada gumpalan aura hitam pekat yang kayak akar pohon melilit paru-parunya.
"Mata saya cuma alat, Pak Hendra. Yang penting itu hasil akhirnya," jawab Arka kalem.
Hendra manggut-manggut, terus ngeluarin sebuah kotak kayu jati dari kolong meja. Begitu dibuka, isinya adalah sebuah patung Buddha kecil dari giok berwarna hijau tua pekat. "Ini Giok Imperial. Saya baru mau bayar 50 miliar ke seorang kolektor asal Singapura besok. Gimana menurutmu?"
Clarissa nahan napas. Dia tahu ini ujian buat Arka.
Arka condongin badannya ke depan. Dia nggak perlu pegang, dia cuma perlu ngeliat. Mata Arka mendadak berubah, pupilnya mengecil dan ada lingkaran emas tipis yang cuma dia yang tahu.
Visual di depan Arka langsung berubah. Dia bisa ngeliat struktur atom di dalam giok itu. Secara fisik, emang hijau sempurna. Tapi di bagian dalem banget, ada serat-serat halus yang warnanya... abu-abu kusam.
"Jangan dibeli, Pak," ucap Arka pendek.
Hendra naikin alisnya. "Alasannya? Ahli giok saya bilang ini kualitas super. Gak ada cacat."
"Secara fisik emang nggak ada cacat, Pak. Tapi ini giok 'suntikan'. Di kedalaman dua centimeter, ada retakan mikro yang diisi polimer cair warna hijau supaya warnanya kelihatan vibrant merata. Dalam tiga tahun, warnanya bakal pudar dan giok ini bakal pecah sendiri karena tekanan udara," jelas Arka lancar banget kayak lagi baca manual.
Ruangan itu mendadak sunyi. Hendra diem seribu bahasa. Dia ngambil senter khusus dan kaca pembesar, nyoba nyari apa yang dibilang Arka. Tapi nihil. Gak kelihatan apa-apa.
"Kamu yakin? Kamu tahu kan risikonya kalau kamu salah nuduh barang orang?" suara Hendra memberat.
Arka senyum santai. "Kalau Bapak nggak percaya, coba ambil jarum pemanas, tusuk di bagian bawah dudukan patung ini. Kalau bau plastiknya keluar, berarti saya bener. Kalau nggak, Bapak boleh usir saya sekarang juga."
Hendra manggil asistennya. Prosesnya cepet. Jarum panas ditempel ke bagian tersembunyi patung itu. Detik berikutnya... Zesss! Asap tipis keluar dan bau kimia yang menyengat langsung memenuhi ruangan.
Clarissa melongo. Hendra kaget bukan main, mukanya langsung merah padam. "Sialan! Beraninya mereka mau nipu saya pake barang sampah kayak gini!"
Hendra banting jarum itu ke meja, terus natap Arka dengan pandangan yang udah berubah total. Bukan lagi pandangan ngetes, tapi pandangan penuh kagum dan... harapan.
"Luar biasa... kamu beneran punya mata ajaib, Arka," gumam Hendra.
"Bukan cuma giok, Pak," sela Arka tiba-tiba, suaranya merendah. "Bapak juga harusnya lebih peduli sama paru-paru Bapak."
Hening lagi. Kali ini lebih mencekam.
"Maksud kamu?" tanya Hendra, mukanya mendadak pucat.
"Tiga bulan terakhir, Bapak sering ngerasa sesak napas setiap jam tiga pagi, kan? Ada rasa nyeri yang nusuk di tulang rusuk kiri bawah. Dokter bilang itu cuma asam lambung atau kecapekan, tapi sebenarnya..." Arka ngegantung omongannya.
Clarissa panik. "Arka! Kamu jangan ngomong sembarangan soal kesehatan Papa!"
"Biarin dia ngomong, Cla," potong Hendra, tangannya gemeteran. "Dia bener. Semuanya bener. Gimana kamu bisa tahu? Saya bahkan belum bilang ke Clarissa soal gejala ini."
Arka natap lurus ke dada Hendra. Di matanya, gumpalan hitam itu makin jelas. "Ada sumbatan di pembuluh darah balik Bapak. Itu bukan penyakit biasa, itu efek dari racun jangka panjang. Kayaknya ada yang pelan-pelan mau bikin Bapak 'pergi' tanpa jejak."
Hendra langsung lemes di kursinya. Dia pengusaha besar, musuhnya ribuan. Tapi tahu kalau nyawanya lagi diujung tanduk karena pengkhianatan, itu beda ceritanya.
"Bisa... bisa kamu bantu saya?" tanya Hendra dengan suara parau. Si Raja Perhiasan itu sekarang seolah-olah lagi minta tolong ke dewa penyelamat.
Arka nyenderin punggungnya lagi, kali ini dengan aura yang jauh lebih dominan. "Saya bisa bersihin itu malam ini juga. Tapi, setelah ini, saya mau akses penuh ke bursa giah mentah di bawah naungan Wijaya Group. Saya butuh bahan buat 'latihan' mata saya."
Hendra langsung gebrak meja, tapi kali ini sambil ketawa lebar. "Jangankan akses bursa! Kamu mau setengah saham perusahaan saya pun bakal saya kasih kalau kamu bisa nyelametin nyawa saya!"
Arka senyum puas. Dia ngedeketin Hendra, tangannya diletakkan di atas dada pria itu. Dia ngerahin energi hangat dari matanya, nyalurin aliran emas yang langsung nabrak gumpalan hitam di dalam tubuh Hendra.
Di luar jendela, petir menyambar. Arka bisa ngerasain kekuatannya makin gila. Dulu dia cuma kurir yang dihina karena nggak punya apa-apa. Sekarang? Dia pegang nasib orang paling kaya di kota ini di telapak tangannya.
Siska, Rendy... kalian lihat ini? Dunia kalian sekarang cuma debu di bawah sepatu gue, batin Arka sambil ngerasain energi hitam itu perlahan hancur.
#fantasi #matasakti
semangat kak👍