Apa yang menyebabkan seseorang Putra Kedua sang Raja menjadi sang Kultivator yang paling hebat?
____
So Guys! ini kisahlah kisah Qinar sang Kultivator kita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neon Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4
Byuurrr!
Suara hantaman air terjun itu terdengar seperti ribuan drum yang dipukul bersamaan. Di depanku, air terjun Guntur Es jatuh dari ketinggian ratusan meter, membawa kepingan-kepingan salju dari puncak Gunung Sandaran yang abadi. Uap dingin membubung tinggi, menutupi pandangan seperti tembok putih yang pekat.
"Ayo, tunggu apa lagi? Masuk! Atau mau aku tendang?"
Suara cempreng Ki Kusumo memecah lamunanku. Beliau duduk santai di atas batu besar yang kering, sambil mengunyah tebu yang entah dari mana ia dapatkan. Kakinya yang dekil digoyang-goyangkan, seolah-olah suhu di sekitar sini adalah musim semi yang hangat.
"Ki, ini bukan air... ini es cair!" teriakku, gigiku mulai beradu—tak, tak, tak.
Aku berdiri di pinggir kolam alami dengan hanya menggunakan celana pendek dari kulit rusa. Kulitku yang biasanya kecokelatan karena sinar matahari, kini mulai memucat, berubah menjadi biru keunguan. Angin gunung yang berembus di sekitar air terjun ini rasanya seperti ribuan jarum yang menusuk pori-poriku.
"Halah, manja! Ini adalah Ujian Surgawi Pertama: Kulit Besi. Kalau air es saja kau takut, bagaimana mau menghadapi pedang musuh yang dingin?" Ki Kusumo meludah—ciuh!—tepat ke arah jempol kakiku. "Masuk! Duduk di bawah kucuran paling deras itu. Diam di sana sampai matahari tenggelam. Kalau kau keluar sebelum itu, tidak ada jatah arak madu untukmu malam ini!"
"Tapi aku tidak minum arak!" protesku.
"Kalau begitu, tidak ada makan malam! Cepat!"
Aku menghela napas panjang. Huuuu... Uap putih keluar dari mulutku. Dengan langkah gemetar, aku menceburkan kakiku ke dalam kolam.
Sreess...
Rasanya seperti kakiku sedang dipotong-potong oleh pisau tumpul. Dinginnya tidak masuk akal. Begitu air menyentuh pinggang, seluruh ototku mendadak kaku. Paru-paruku terasa mengecil, membuatku sulit bernapas. Setiap inci kulitku menjerit, memohon agar aku segera lari kembali ke gubuk yang hangat.
Splash!
Aku memaksakan diri maju, merangkak di antara batu-batu licin yang tertutup es tipis. Akhirnya, aku sampai tepat di bawah kucuran utama air terjun.
Bhuuaaghh!
Hantaman airnya bukan main beratnya. Rasanya seperti ada gajah yang menginjak pundakku berulang-ulang. Tubuh kecilku yang baru berumur enam tahun ini nyaris terjerembap ke dasar kolam yang dalam. Aku segera duduk bersila, berusaha menyeimbangkan tubuh di atas batu yang sangat licin.
"Qi! Ingat Qi-mu, bocah bodoh!" teriak Ki Kusumo dari kejauhan. "Jangan lawan dinginnya dengan kulitmu, tapi lawan dengan panas di dalam perutmu!"
Aku memejamkan mata. Sulit sekali berkonsentrasi saat rasa sakit menghujam kepalaku seperti palu godam. Dug! Dug! Dug! Air terjun itu terus menghantam ubun-ubunku. Aku mencoba memanggil benang cahaya yang kemarin kutemukan.
Deg. Deg.
Bola api di perutku terasa kecil sekali, nyaris padam karena suhu ekstrem ini. Aku mencoba meniupnya dengan napas, membayangkan panas itu menyebar ke seluruh aliran darahku.
"Fokus... Fokus..." bisikku pada diri sendiri, meski suaraku tenggelam oleh gemuruh air.
Masalah pertama muncul setelah satu jam pertama. Otot-otot leherku mulai kram. Kepalaku terasa berat, dan mataku mulai berkunang-kunang. Aku merasa seolah-olah air es ini mulai meresap masuk ke dalam tulang sumsumku. Rasanya perih, gatal, dan mati rasa secara bersamaan.
Krak!
Tiba-tiba sepotong es sebesar kepalan tangan jatuh dari atas tebing, terbawa aliran air terjun, dan menghantam bahu kiriku.
"Aaakh!" aku terpekik. Bahuku mati rasa seketika. Darah segar mengalir dari luka sobekan, namun anehnya, darah itu langsung membeku menjadi kristal merah sebelum sempat jatuh ke kolam.
"Jangan bergerak! Tetap di tempatmu!" Ki Kusumo berteriak tanpa belas kasihan. "Darahmu adalah bahan bakar! Bakar darahmu dengan Qi! Jadikan kulitmu sekeras baja yang ditempa!"
Aku menggertakkan gigi sampai rahangku sakit. Air mata mulai mengalir, tapi langsung berubah jadi butiran es di pipiku. Rasanya aku ingin mati saja. Kenapa aku harus melewati ini? Kenapa kakek tua ini begitu kejam? Apa salahku sampai aku harus disiksa seperti ini setiap pagi?
Setiap kali aku ingin menyerah dan berenang ke tepi, aku teringat tatapan Raja Alexander—pria dalam mimpiku yang membuangku ke hutan. Meski aku belum tahu dia adalah ayahku, bayangan punggung pria berjubah megah yang meninggalkanku di kegelapan selalu memicu kemarahan di dadaku.
Grrr...
Rasa marah itu memicu sesuatu. Bola api di perutku mendadak bergejolak. Panas yang tadinya cuma seujung kuku, kini mulai membesar. Aku menyalurkannya ke bahuku yang terluka.
Sssshhh...
Uap panas mulai keluar dari kulitku saat bersentuhan dengan air es. Rasa sakitnya memang belum hilang, tapi setidaknya aku tidak lagi merasa seperti akan membeku menjadi patung es.
"Nah, begitu! Itu baru namanya murid Ki Kusumo!" teriak si tua bangka itu sambil tertawa girang.
Namun, ujian ini baru saja dimulai. Langit mulai menggelap, dan badai salju kecil mulai turun, membuat suhu udara turun drastis. Rintangan selanjutnya adalah rasa kantuk yang luar biasa. Di tengah suhu sedingin ini, rasa kantuk adalah tanda bahwa tubuhmu mulai menyerah pada maut. Mataku mulai berat. Pikiranku melayang ke tempat yang hangat, ke tempat di mana ada kasur empuk dan makanan enak.
"Qinar! Jangan tidur! Kalau kau tidur, kau tidak akan bangun lagi selamanya!"
Suara Ki Kusumo terdengar jauh sekali. Aku mencoba mencubit lenganku sendiri, tapi kulitku sudah terlalu mati rasa untuk merasakan cubitan. Aku harus tetap sadar. Aku mulai merapal hitungan dalam hati. Satu... dua... tiga... sepuluh ribu...
Jam demi jam berlalu. Tubuhku sudah tidak terasa seperti milikku lagi. Aku merasa seperti bongkahan batu yang menjadi bagian dari air terjun ini. Kulitku yang tadinya lembut sebagai anak kecil, perlahan-lahan mulai berubah teksturnya. Menjadi lebih kasar, lebih padat, dan lebih tahan terhadap hantaman air yang berat.
"Cukup untuk hari ini! Keluar!"
Mendengar instruksi itu, aku mencoba menggerakkan kakiku, tapi mereka sudah kaku seperti kayu. Aku terjatuh ke dalam kolam dan hampir tenggelam sebelum sebuah tangan kasar menarik kerah leherku—hap!
Ki Kusumo menyeret tubuhku ke tepi seperti menyeret karung beras. Beliau membungkusku dengan kain bulu beruang yang hangat dan memberikan segelas air jahe panas yang sangat pedas.
"Ini baru hari pertama, Qinar," kata Ki Kusumo sambil menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada sedikit rasa kasihan, tapi lebih banyak ambisi di sana. "Kau harus melakukan ini setiap pagi selama satu tahun penuh. Tanpa absen. Baik hujan, badai, maupun saat kau sakit sakalipun."
Aku hanya bisa menggigil hebat di balik kain bulu. Lidahku terlalu kaku untuk membalas ejekannya. Aku menatap tanganku yang biru; luka di bahuku tadi sudah berhenti berdarah, meninggalkan bekas luka putih yang keras.
"Satu tahun...?" bisikku lirih.
"Ya. Dan itu baru ujian pertama. Masih ada sembilan belas ujian lagi yang akan membuat air terjun es ini terasa seperti mandi air hangat di istana," Ki Kusumo nyengir, lalu memanggulku di pundaknya menuju gubuk.
Aku menatap puncak Gunung Sandaran yang diselimuti kegelapan. Satu tahun di bawah air terjun es. Aku tidak tahu apakah aku akan bertahan, atau apakah kulitku benar-benar akan berubah menjadi besi. Tapi di dalam hatiku, api kecil itu tetap menyala, menolak untuk padam oleh dinginnya dunia.