Bagi Arlan, harga diri adalah segalanya. Namun, ketika sebuah kekalahan memaksanya memacari gadis paling "tak kasatmata" di sekolah, ia memulai permainan manipulasi yang paling berbahaya—tanpa sadar bahwa kepolosan adalah senjata yang paling mematikan bagi egonya.
Arlan tidak pernah kalah. Dengan wajah rupawan dan kekuasaan di tangannya, dia adalah "Tuhan" di SMA Nusantara. Hingga satu malam, sebuah taruhan konyol di meja biliar mengubah segalanya. Taruhannya sederhana: Taklukkan Lulu, si gadis kutu buku yang kuper, polos, dan selalu menunduk, lalu campakkan dia di malam perpisahan.
Bagi Arlan, ini hanyalah tugas mudah. Dia akan menggunakan pesonanya, melakukan love bombing, dan membuat Lulu bertekuk lutut. Namun, Lulu bukanlah lawan yang biasa. Kepolosan Lulu yang keterlaluan membuat semua taktik manipulasi Arlan mental. Saat Arlan mencoba menyakitinya, Lulu justru membalas dengan ketulusan yang menampar ego narsistiknya.
Siapakah yang akan hancur lebih dulu? Arlan dengan egonya, ata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Pagi itu, suasana SMA Nusantara tampak lebih tegang bagi para siswa berprestasi. Pengumuman seleksi internal untuk Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat provinsi telah ditempel di mading. Nama Lulu Adeara berada di urutan pertama untuk bidang Biologi. Bagi Lulu, ini adalah segalanya. Ini adalah tiketnya untuk membuktikan pada ibunya bahwa ia bisa mandiri.
Namun, di sudut koridor, Arlan memperhatikannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia melihat Lulu yang tampak sangat bahagia, berkali-kali membenarkan posisi kacamatanya sambil mencatat jadwal pembinaan.
"Seneng banget kayaknya?" suara Arlan mengagetkan Lulu dari belakang.
Lulu menoleh dengan mata berbinar. "Arlan! Aku lolos seleksi! Minggu depan aku harus ikut pembinaan intensif di sekolah sampai jam tujuh malam."
Senyum Arlan menghilang perlahan, digantikan oleh raut wajah yang tampak "khawatir". Ia menarik Lulu menjauh dari kerumunan siswa. "Jam tujuh malam? Lu, kamu tahu kan minggu depan itu jadwal aku ada tanding basket antar klub? Aku udah bilang kan kalau aku pengen kamu ada di sana buat kasih dukungan?"
Lulu tertegun. "Tapi Arlan, ini olimpiade setahun sekali. Aku udah belajar keras buat ini..."
Arlan melepaskan pegangannya pada bahu Lulu, membuang muka seolah-olah hatinya sangat terluka. "Oh, jadi medali itu lebih penting daripada aku? Aku pikir kamu bilang aku satu-satunya alasan kamu semangat sekolah. Ternyata aku cuma prioritas kedua ya?"
"Nggak gitu, Arlan... aku cuma—"
"Gini aja," potong Arlan dingin. "Kalau kamu emang sayang aku, kamu bakal cari cara. Tapi kalau kamu tetep pilih pembinaan itu, ya udah. Mungkin emang bener kata Reno, kita nggak selevel. Kamu terlalu sibuk sama duniamu sendiri."
Arlan berjalan pergi meninggalkan Lulu yang mematung di koridor. Perasaan bersalah langsung menghantam dada Lulu seperti godam berat. Ia merasa menjadi pacar yang sangat buruk karena telah mengecewakan pria "sebaik" Arlan.
Sepanjang hari itu, Arlan sengaja mendiamkan Lulu. Ia tidak menjemputnya saat jam istirahat, bahkan tidak membalas pesannya. Lulu merasa dunianya runtuh. Ia tidak bisa fokus pada pelajaran. Puncaknya adalah saat jam pulang sekolah, Arlan mengirim pesan singkat:
Arlan: Gue di kafe depan. Kalau lo masih peduli, lo ke sini sekarang. Gue butuh bantuan tugas Reno yang tadi pagi, kepalanya pusing banget dia.
Lulu segera berlari menuju kafe tanpa mempedulikan jadwal pertemuan pertama pembinaan olimpiade yang seharusnya dimulai pukul tiga sore. Di dalam kafe, Arlan sedang tertawa bersama Reno dan Gani, namun wajahnya langsung berubah datar saat melihat Lulu datang dengan napas terengah-engah.
"Mana tugasnya?" tanya Arlan tanpa basa-basi.
Lulu duduk dengan tangan gemetar, ia mengeluarkan buku-buku milik Reno. "Aku kerjain sekarang, Arlan. Maaf ya tadi pagi aku agak lambat."
"Bagus," Arlan mengusap kepala Lulu, memberikan "hadiah" kecil berupa perhatian yang membuat Lulu merasa tenang kembali. "Habis ini, kamu jangan pulang dulu. Kamu harus ikut gue ke bengkel. Mobil gue agak bermasalah, dan gue nggak mau sendirian di sana."
"Tapi Arlan, pembinaan olimpiade aku gimana? Pak Guru pasti nungguin..."
"Lu," Arlan menatap mata Lulu dalam-dalam, suaranya kini sangat lembut namun mengandung racun. "Kamu pinter. Kamu nggak butuh pembinaan itu. Kamu baca sendiri di rumah juga pasti bisa. Tapi kalau aku? Aku butuh kamu sekarang. Apa kamu tega biarin aku di bengkel sendirian sampe malem?"
Lulu terdiam. Logikanya berteriak bahwa pembinaan itu sangat penting untuk masa depannya. Namun, emosinya yang sudah dikunci oleh Arlan jauh lebih kuat. "Iya, Arlan. Aku ikut kamu."
Di bengkel yang pengap dan membosankan, Lulu duduk di bangku kayu yang keras selama berjam-jam. Sambil menahan kantuk dan pusing karena tidak sempat makan siang, ia terpaksa mengerjakan tugas-tugas Reno yang sangat banyak di bawah lampu remang-remang.
Arlan sendiri tidak benar-benar mengurusi mobilnya. Ia justru sibuk mengobrol di telepon dengan Shinta, tertawa-tawa tanpa mempedulikan Lulu yang sedang berjuang dengan angka-angka.
"Eh, Cupu," panggil Arlan tiba-tiba. "Buku olimpiade kamu mana? Sini aku liat."
Lulu memberikan buku materi biologi setebal 500 halaman itu. Arlan membolak-baliknya sebentar, lalu dengan sengaja ia menaruh botol air mineral yang terbuka di atas buku tersebut.
BYUR!
Air tumpah membasahi seluruh halaman buku itu, membuat tinta catatan Lulu luntur dan kertasnya hancur.
"Aduh! Sori, Lu! Aku nggak sengaja," ucap Arlan dengan nada yang sangat tidak tulus. "Aduh, gimana ya? Padahal itu catatan penting kamu kan?"
Lulu melihat buku kesayangannya hancur dengan mata berkaca-kaca. "Arlan... itu catatanku selama setahun..."
"Udah, jangan nangis. Nanti aku beliin yang baru yang lebih mahal," Arlan menarik Lulu ke pelukannya, menyembunyikan senyum puasnya. "Mungkin ini pertanda kalau kamu emang nggak usah ikut olimpiade itu. Biar kamu nggak capek, Sayang. Aku nggak tega liat kamu belajar terus sampe malem."
Malam itu, Lulu pulang dengan hati yang hancur. Bukunya rusak, ia bolos pembinaan pertama, dan ia merasa dirinya semakin bodoh. Di sekolah keesokan harinya, Pak Guru memarahi Lulu di depan kelas karena ketidakhadirannya. Sisil mencoba mendekat untuk bertanya, namun Lulu justru membentak Sisil karena ia merasa Sisil sedang menertawakan kegagalannya.
Lulu tidak tahu bahwa di grup WhatsApp geng Arlan, foto buku biologi yang basah itu sedang menjadi bahan candaan.
Arlan: Target mulai kehilangan fokus. Satu buku biologi hancur. Minggu depan gue pastikan dia dicoret dari daftar OSN. Masa depan si Jenius ada di tangan gue sekarang. Hahaha.
Arlan sedang menjalankan misinya dengan sangat sadis: mematahkan sayap Lulu agar gadis itu tidak bisa terbang, dan satu-satunya cara agar Lulu tetap bisa tegak adalah dengan bersandar pada predator yang sedang mematahkan sayapnya itu.
Kehancuran Lulu tidak berhenti di situ. Setelah buku biologinya hancur, Arlan sengaja mengajak Lulu berkeliling kota dengan alasan ingin "menenangkan" pikiran Lulu yang sedang sedih. Padahal, Arlan tahu persis bahwa Lulu memiliki janji temu dengan guru pembina secara daring malam itu. Arlan sengaja tidak membiarkan Lulu pulang, mematikan ponsel gadis itu dengan alasan agar Lulu "istirahat dari gangguan sekolah", padahal itu adalah cara Arlan untuk memastikan Lulu melewatkan pengarahan penting.
"Arlan, aku harus cek ponsel... Pak Guru bilang ada info buat besok," bisik Lulu dengan nada cemas saat mereka duduk di sebuah restoran cepat saji.
Arlan hanya tersenyum tipis sambil menyuapi Lulu kentang goreng. "Lu, kamu itu lagi stres. Pak Guru nggak akan marah kalau kamu telat respon sekali aja. Kamu butuh aku sekarang, bukan butuh buku atau guru itu. Percaya sama aku, oke?"
Keesokan harinya di sekolah, semuanya berakhir. Pak Guru sudah kehilangan kesabaran. Di depan ruang guru, di hadapan banyak siswa yang lalu-lalang, Lulu dipanggil dan langsung dicoret dari daftar peserta olimpiade karena dianggap tidak disiplin dan tidak memiliki komitmen. Lulu berdiri mematung, menahan tangis yang menyesakkan dada. Ia merasa menjadi manusia paling gagal di dunia. Prestasinya yang ia bangun selama bertahun-tahun lenyap hanya dalam semalam.
Saat Lulu berjalan keluar dengan air mata yang membasahi kacamata tebalnya, Arlan sudah menunggu di sana. Ia tidak mengucapkan kata penyesalan. Ia justru merangkul Lulu dengan posesif, memberikan senyum kemenangan ke arah Reno yang berdiri tak jauh dari sana.
"Udah, nggak usah dipikirin. Kan masih ada aku," ucap Arlan pelan. Namun, bagi Lulu yang sudah kehilangan segalanya, kalimat itu terdengar seperti satu-satunya tali penyelamat, tanpa ia sadari bahwa tali itulah yang sebenarnya sedang menjerat lehernya semakin kencang. Arlan telah berhasil: Lulu kini tidak punya apa-apa lagi selain dirinya