Di buang ke Desa Kenangan, tempat Oma-nya menghabiskan sisa umur. Nero Vano Christian malah tidak sengaja bertemu dengan seorang gadis manis bernama Ainun Salsabila Adiakara. Gadis yang awalnya hanya sekedar mengusik hati.. Lalu menjadi alasan untuk Nero mulai mengenal Tuhan.
Ikuti kisahnya~
Happy Reading ><
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 5: INTEROGASI DAPUR & KURIKULUM DARURAT (NERO POV)
Gue lagi di dapur, pura-puranya sih bantu Bi Devi kupas bawang (padahal tangan gue gemeteran takut kena pisau) tapi sebenernya gue lagi nyiapin strategi interogasi. Gue butuh insight lebih dalam soal 'dunia' si Ainun.
"Bi," panggil gue, nyoba nada suara sedatar mungkin biar gak kelihatan desperate.
"Iya, Mas Nero? Kenapa? Kegedean ya potong bawangnya?" Bi Devi nengok sambil senyum-senyum ngeledek.
"Bukan... itu, soal si Ainun. Dia emang-emang tiap hari nunduk gitu kalau ketemu cowok? Apa lehernya lagi salah bantal atau gimana?" tanya gue, sok-sok clueless.
Bi Devi ketawa renyah, tangan beliau masih gesit masukin bumbu ke penggorengan. "Aduh, Mas Nero. Itu namanya menjaga pandangan, Mas. Di agama Non Ainun, itu cara dia menghormati dirinya sendiri dan juga Mas Nero."
Gue ngerutin dahi. "Menghormati gue? Caranya dengan gak liat muka gue yang ganteng ini? Di Jakarta mah, kalau cewek suka, ya dipelototin terus, Bi."
"Ya itulah bedanya, Mas," Bi Devi ngecilin api kompor, terus natap gue serius tapi tetep adem. "Non Ainun itu dididik buat nggak sembarangan kasih perhatian ke lawan jenis yang bukan mahramnya. Mahram itu... ya orang yang nggak boleh dinikahi, kayak kakak atau ayah. Kalau Mas Nero kan orang asing, jadi dia jaga jarak. Itu bentuk ketaatan dia sama Tuhannya."
Gue diem bentar, nyerna omongan Bi Devi yang kerasa berat banget buat otak gue yang isinya cuma part motor sama jadwal party. "Berarti dia gak bakal mau diajak nongkrong atau sekadar chatting santai gitu?"
"Wah, susah, Mas," Bi Devi geleng-geleng kepala. "Apalagi kalau cuma buat main-main. Non Ainun itu kalau berinteraksi sama cowok ya seperlunya aja. Dia sangat menjaga aurat, bukan cuma kerudungnya, tapi juga sikapnya. Dia itu bener-bener definisi wanita shalehah yang paham banget mana yang boleh dan mana yang dilarang."
Gue naruh pisau di meja. Perasaan gue campur aduk. Di satu sisi, gue respect parah sama prinsip dia. Di sisi lain, gue ngerasa tembok di depan gue ini bukan cuma tinggi, tapi udah ditembok pake beton lapis baja.
"Tadi Oma bilang kita 'beda server', Bi. Emang se-kaku itu ya aturannya?" tanya gue lagi, kali ini suara gue agak pelan.
Bi Devi berhenti masak, beliau natap gue dengan tatapan iba. Tapi ada sedikit rasa sayang kayak ke anak sendiri. "Mas Nero, dalam agama Non Ainun, pernikahan beda keyakinan itu nggak dibenarkan. Jadi bagi dia, menjalin hubungan sama yang nggak seiman itu... ya ibarat jalan di jalan buntu. Nggak akan ada ujungnya."
Jleb. Satu lagi peluru nyasar kena ulu hati gue.
"Gue cuma penasaran doang kok, Bi. Gak nyampe mikir nikah juga," bantah gue cepet-cepet, nyoba nutupin rasa nyesek yang mulai muncul.
"Iya, Mas. Tapi hati kan nggak ada yang tahu," Bi Devi balik lagi ke masakannya. "Mending Mas Nero fokus bantuin Oma aja di sini. Jangan cari masalah sama hatinya Non Ainun, ntar Mas Nero sendiri yang susah move on lho."
Gue cuma bisa nyengir kecut. Gue balik kupas bawang, tapi kali ini mata gue beneran perih. Bukan gara-gara uap bawangnya, tapi gara-gara kenyataan kalau cewek cute yang tingginya cuma sedada gue itu adalah 'benteng' yang gak akan bisa gue tembus segampang gue menang balap liar.
"Shaleha banget, imut banget, tapi beda banget..." gumam gue dalem hati.
Gue ngelirik kalung salib gue lagi. Ternyata hukuman dari bokap kali ini bener-bener next level. Gue gak cuma disuruh tinggal di desa, tapi gue juga dikasih ujian perasaan yang paling mustahil buat dimenangin.
Kasian Nero Vano C.
Jatuh cinta kok sama yang beda agama ><