Selama sepuluh tahun, Nana tumbuh sebagai manusia di desa nelayan — tanpa tahu bahwa dirinya adalah putri mahkota kerajaan Siren Aequoria. Setiap malam, ia mendengar lagu misterius dari dasar laut, memanggilnya dengan nama.
Jeno, Siren penjaga perairan selatan, telah mengawasinya sejak bayi. Tugasnya sederhana: lindungi Nana sampai waktunya kembali. Tapi sepuluh tahun mengamati dari kejauhan membuatnya jatuh cinta pada lagu dalam darah Nana — dan pada Nana sendiri.
Ketika Nana berubah menjadi Siren untuk pertama kalinya, tak ada jalan kembali. Ia harus belajar mengendalikan kekuatannya, menghadapi bibinya yang merebut takhta, dan memilih antara dunia yang ia kenal — atau cinta yang selama ini menunggu di dasar laut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keivanya Huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Kembali ke Aequoria
Kael terdiam.
Gulungan surat itu jatuh dari tangannya, mengambang pelan di air laut. Wajahnya yang tadinya angkuh kini hancur — pucat, kosong, seperti topeng yang retak.
"Ini... ini tidak mungkin," bisiknya. "Ayah tidak mungkin... dia tidak mungkin meninggalkan aku..."
Theron menatap adiknya dengan mata sedih.
"Ayah tidak meninggalkanmu, Kael. Tapi dia juga tidak bisa meninggalkan aku. Kita berdua anaknya. Berdua darahnya."
Kael menggeleng keras. Matanya mulai berubah — dari biru es menjadi merah. Bukan merah seperti Aramis, tapi merah karena amarah.
"Kau... kau merampas segalanya dariku!" teriak Kael. Ia menunjuk ke arah Theron, lalu ke Nana. "Kau berdua! Kalian bersekutu untuk menghancurkanku!"
"Kami tidak bersekutu untuk menghancurkanmu," kata Nana. "Kami bersekutu untuk melindungi kerajaan kami. Kau yang memulai dengan ancaman."
"Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan!"
"Kau mengancam perang. Kau memaksaku menikahimu. Kau mengirim pasukan ke perbatasan Aequoria. Itu bukan 'yang harus kau lakukan'. Itu keserakahan."
Kael terdiam. Dadanya naik turun cepat. Tangannya mengepal — kukunya hampir menembus telapak tangannya sendiri.
Jeno melangkah maju. Tangannya sudah di gagang trisula.
"Sudah cukup, Kael. Kau kalah. Akui saja."
Kael menatap Jeno. Matanya merah menyala.
"Kau... kau hanya penjaga. Kau tidak punya hak bicara di sini."
"Dia punya hak," kata Nana. "Dia Kepala Penjagaku. Dan dia... lebih dari itu."
Kael tertawa — pahit, pecah.
"Lebih dari itu? Maksudmu dia kekasihmu?"
Diam.
"Aku tahu," lanjut Kael. "Aku tahu sejak pertama kali melihat kalian berdua. Cara dia menatapmu. Cara kau menatapnya. Aku bodoh jika tidak menyadarinya."
Ia menatap Nana lurus ke mata.
"Tapi kau tahu, Nanara? Dunia tidak akan menerima hubungan seperti itu. Seorang ratu menikahi bawahannya? Itu skandal. Itu aib."
"Aib bagi siapa?" tanya Nana.
"Bagi kerajaanmu. Bagi rakyatmu. Bagi—"
"Rakyatku sudah tahu," potong Nana. "Dan mereka tidak protes."
Kael membeku. "Apa?"
"Lira, panggil mereka."
Lira mengangguk. Ia berenang ke pintu ruang singgasana dan memberi isyarat.
Satu per satu, para Siren Aequoria masuk. Bukan para bangsawan atau penasihat. Tapi rakyat biasa — nelayan, petani rumput laut, perajin mutiara.
Mereka berkerumun di ruang singgasana, menatap Nana dengan mata penuh hormat.
"Rakyatku," kata Nana. "Kalian tahu bahwa aku dan Kepala Penjagaku... saling mencintai?"
"Kami tahu, Yang Mulia!" seru seorang Siren tua dari barisan belakang.
"Dan kalian tidak keberatan?"
"Tidak!" seru yang lain. "Kami senang! Jeno sudah menjaga Yang Mulia sejak kecil. Dia pantas!"
"Jeno tidak akan pernah khianati Yang Mulia!"
"Kami lebih percaya Jeno daripada pangeran-pangeran asing!"
Kael memucat.
Nana menatapnya. "Kau dengar? Rakyatku mendukungku. Bukan karena aku memaksa mereka. Tapi karena mereka melihat."
Kael tidak bisa berkata apa-apa.
Theron melangkah mendekati adiknya.
"Kael," katanya pelan. "Kembalilah ke Utara. Ayah sakit. Dia butuh kau. Bukan sebagai pangeran yang ambisius, tapi sebagai anak."
"Aku tidak butuh nasihatmu—"
"Ini bukan nasihat. Ini permintaan. Dari kakakmu."
Kael menatap Theron. Matanya merah masih menyala, tapi air mata mulai menggenang di sudut matanya.
"Kau... kau benar-benar tidak ingin takhta?"
"Aku tidak pernah menginginkannya," kata Theron. "Aku hanya ingin hidup tenang. Tapi Kael... kau tidak akan pernah tenang selama kau terus berpikir bahwa semuanya harus menjadi milikmu."
Kael terdiam.
"Kembalilah ke Utara," ulang Theron. "Rawat ayah. Jadilah pangeran yang baik. Mungkin suatu hari... kau akan menjadi raja yang baik."
Kael tidak menjawab.
Ia berbalik dan berenang keluar dari ruang singgasana — tanpa pamit, tanpa ancaman, tanpa apa pun.
Theron menghela napas.
"Maaf," katanya pada Nana. "Adikku... tidak mudah."
"Tidak apa-apa," jawab Nana. "Terima kasih sudah membantu."
Theron tersenyum tipis. "Aku tidak membantu. Aku hanya melakukan hal yang benar."
Malam harinya, Nana dan Jeno duduk di taman laut.
Mawar biru bermekaran di sekeliling mereka — lebih banyak dari sebelumnya. Setelah pertempuran, setelah kekacauan, bunga-bunga itu pulih lebih cepat dari yang Nana kira.
"Kau hebat hari ini," kata Jeno.
"Apa?"
"Di ruang singgasana. Cara kau menghadapi Kael. Cara kau memanggil rakyatmu."
Nana tersenyum. "Aku hanya melakukan hal yang benar."
"Meminjam kata-kata Theron."
"Dia bijak. Aku suka dia."
Jeno mengernyit. "Kau suka dia?"
Nana tertawa. "Tidak seperti itu. Jangan cemburu."
"Aku tidak cemburu."
"Kamu cemburu."
"Aku waspada."
"Waspada terhadap Theron? Dia saudara Kael."
"Itu yang membuatnya lebih berbahaya."
Nana tertawa lagi — tawa yang tulus, lepas, pulang.
"Jeno," katanya setelah tawanya reda.
"Ya?"
"Apa yang Kael katakan... tentang dunia tidak akan menerima hubungan kita... apa kau takut?"
Jeno terdiam sejenak.
"Aku takut," katanya jujur. "Tapi bukan karena dunia tidak menerima. Aku takut... suatu hari nanti, kau akan menyesal. Bahwa kau memilihku padahal kau bisa punya pangeran yang lebih pantas."
Nana menatapnya.
"Kau tahu," katanya, "setiap kali kau bilang begitu, aku ingin memukulmu."
"Memukul ratu tidak boleh."
"Aku yang memukul. Boleh."
Jeno tersenyum. "Baik, silakan."
Nana tidak memukulnya. Ia hanya memeluknya — erat, di taman laut, di samping mawar biru yang berdenyut lembut.
"Jeno," bisiknya.
"Ya?"
"Aku tidak akan pernah menyesal. Tidak pernah. Jadi berhentilah berpikir begitu."
Jeno membalas pelukannya.
"Baik, Nana. Aku berhenti."