NovelToon NovelToon
Ratu Di Antara Tiga Kaisar

Ratu Di Antara Tiga Kaisar

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Istana/Kuno / Fantasi Isekai
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Hz. ceria

Amel adalah seorang mahasiswi jurusan seni yang akan melakukan penelitian di sebuah pulau. hingga sebuah tragedi besar tragedi, Amel yang berniat menolong sahabatnya yang mengalami kram saat sedang bermain air justru tenggelam.

ketika dia membuka matanya lagi, yang mengejutkan dia sudah berada di sebuah tempat aneh dan kuno.

Amel ternyata melakukan transmigrasi dan memasuki tubuh seorang ratu yang terkenal kejam, di benci rakyat dan berdarah dingin. dunia ini dipimpin oleh seorang wanita, dan seorang pria hanya boleh menyenangkan wanita, memasak, anggun dan menawan.

tidak boleh belajar, berbicara kasar pada wanita, dan hanya boleh diam di rumah dan merawat anak-anak mereka. sedangkan wanita mencari nafkah, ikut perang, menjabat di istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hz. ceria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Sabotase Kecil

Seminggu telah berlalu sejak Arsen mulai mengajar di Gudang Utara No. 4. Rutinitas itu menjadi pelarian bagi sang pangeran dari kesepian istana. Namun, ketenangan itu pecah pada suatu pagi yang cerah namun dingin.

Saat Julian dan Arsen tiba di gudang, mereka disambut oleh pemandangan yang menghancurkan hati.

Papan tulis kapur besar di dinding depan telah dicoret-coret dengan cat merah menyala. Tulisan-tulisan kasar dan menghina terpampang jelas: "SEKOLAH PENGKHIANAT", "PRIA TIDAK PERLU OTAK", dan "KEMBALILAH KE TEMPAT SAMPAH". Meja-meja kayu sederhana yang baru saja diperbaiki Tomi telah dibalikkan. Buku-buku catatan milik Lira dan murid lainnya tersebar di lantai yang kotor, beberapa halaman robek dan diinjak-injak hingga penuh lumpur.

Lira duduk di sudut ruangan, memeluk lututnya, menangis tersedu-sedu. Tomi berdiri dengan wajah merah padam karena marah, tinjunya mengepal erat, matanya menatap kosong ke arah kekacauan itu.

"Apa ini?" suara Julian dingin, tajam seperti es yang retak. Dia melangkah masuk, menghindari genangan air kotor yang bercampur tinta merah.

Arsen merasa darahnya mendidih. Dia mengenali gaya vandalisme ini. Ini bukan coretan anak-anak iseng. Ini terorganisir. Ini pesan.

"Siapa yang melakukan ini?" tanya Arsen, suaranya bergetar karena amarah. Dia membantu Lira berdiri, menepuk-nepuk bahu kecil anak itu dengan lembut. "Lira, siapa?"

Lira mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata. "Mereka... sekelompok pria dewasa. Dari pasar bawah. Mereka tertawa. Mereka bilang... mereka bilang Guru Julian adalah penyihir jahat yang ingin mencuri jiwa kami. Mereka bilang sekolah ini adalah tempat mencuci otak."

Julian membersihkan kacamatanya yang sedikit berdebu, lalu memasangnya kembali. Wajahnya datar, tapi matanya menyala dengan kemarahan yang terkendali. "ibu," gumamnya. "Ini pekerjaan kaki tangannya. Atau mungkin sisa-sisa pendukung lama yang masih berkeliaran di distrik ini."

"Tomi," panggil Julian. "Bersihkan lantai. Arsipkan buku yang masih bisa diselamatkan. Jangan buang apa pun. Setiap sobekan kertas adalah bukti."

Tomi mengangguk kaku, lalu mulai bekerja dengan gerakan mekanis, rasa sakit hatinya terlihat jelas di setiap gerakannya.

Arsen menatap coretan merah di dinding. "Kita harus melaporkannya ke penjaga kota. ini merusak properti kerajaan."

"Tidak," potong Julian tegas. Dia berjalan menuju papan tulis, mengambil kain lap, dan mulai menggosok cat merah itu. "Jika kita melibatkan penjaga, Vane akan menggunakan itu sebagai alasan untuk menutup sekolah ini secara permanen. Dia akan berkata bahwa sekolah ini memicu kerusuhan sosial. Bahwa pendidikan pria menyebabkan ketidakstabilan."

"Lalu apa yang kita lakukan?" tanya Arsen frustrasi. "Membiarkan mereka menang?"

Julian berhenti menggosok. Dia menoleh pada Arsen. "Kita tidak melawan dengan pedang, Arsen. Kita melawan dengan narasi. Jika mereka menyebut ini 'cuci otak', kita akan membuktikan bahwa ini adalah 'pencerahan'."

Sore harinya, kabar tentang vandalisme di Gudang Utara No. 4 menyebar cepat di pasar bawah. Bisik-bisik mulai beredar. Beberapa warga tua yang konservatif, yang masih percaya pada dogma lama bahwa pria harus tetap bodoh dan patuh, mulai memandang gedung bata merah itu dengan curiga.

Seorang pedagang sayur tua, Pak Hendor, bahkan berani berteriak saat Julian lewat, "Hei, Penyihir! Jangan racuni anak-anak kami dengan ide-ide gilamu! Biarkan mereka bekerja seperti ayah-ayah mereka!"

Julian tidak menjawab. Dia hanya terus berjalan, punggungnya tegak, ignoring ejekan itu. Tapi Arsen, yang berjalan di sampingnya, melihat tangan Julian gemetar sedikit.

"Mereka membencimu," kata Arsen pelan.

"Mereka takut," koreksi Julian. "Ketidaktahuan menciptakan rasa aman. Perubahan menciptakan ketakutan. menteri vane memanfaatkan ketakutan itu."

Malam itu, di ruang kerja Floren, suasana tegang.

Floren membaca laporan singkat dari Julian. Wajahnya keras. "Vane bermain kotor. Dia mencoba mematikan eksperimen ini sebelum akarnya tumbuh dalam."

"Dia berhasil menanamkan keraguan," kata Julian, berdiri di depan meja Floren. "Beberapa orang tua menarik anak-anak mereka. Mereka takut diasingkan oleh komunitas jika anak-anak mereka belajar membaca."

Floren berdiri, berjalan ke jendela. "Jika kita mundur sekarang, Vane menang. Dan lebih buruk lagi, kita mengirim pesan bahwa reformasi ini lemah."

"Apa rencana Anda, Yang Mulia?" tanya Julian.

Floren menoleh, matanya berkilat dengan strategi. "Kita tidak akan bersembunyi. Kita akan menghadapi mereka. Secara terbuka."

"Secara terbuka?" ulang Arsen, yang diam-diam mendengarkan dari balik pintu.

"Ya," kata Floren. "Besok, kita adakan Forum Terbuka di alun-alun kota. Bukan di istana. Di tengah rakyat. Julian, kau akan menjelaskan manfaat pendidikan. Arsen... kau akan berbicara sebagai saksi. Sebagai pria dari negeri lain yang melihat kegagalan sistem lama."

Julian mengerutkan kening. "Itu berisiko. Massa bisa menjadi brutal. Vane mungkin akan mengirim provokator untuk memicu kerusuhan."

"Itulah mengapa Kaelia akan mengamankan perimeter," kata Floren dingin. "Dan Kael... dia akan berada di kerumunan. Mendengarkan. Mencatat. Jika ada yang berteriak paling keras, kita perlu tahu siapa yang membayarnya."

Arsen merasakan adrenalin mengalir di nadinya. Ini bukan sekadar pelajaran matematika lagi. Ini adalah pertempuran ideologi. Dan untuk pertama kalinya, dia merasa siap untuk bertarung. Bukan dengan pedang, tapi dengan kata-kata.

"Siapkan pidatomu, Julian," kata Floren, tersenyum tipis yang berbahaya. "Besok, kita ajak Mobelle berdebat."

Di luar, angin malam bertiup kencang, membawa aroma badai yang akan datang. Sabotase kecil Vane telah gagal menakuti mereka. Sebaliknya, itu justru memicu api perlawanan yang lebih besar.

1
Musim
Menarik dan menginspirasi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!