NovelToon NovelToon
KEMBANG DESA SANG CEO

KEMBANG DESA SANG CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Persaingan Mafia / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Rumah Tangga
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Lada Jingga

Kemuning selalu tahu hidupnya murah di mata keluarga sendiri. Sejak kedua orang tuanya meninggal, ia hanya dianggap beban—dipaksa menjadi pembantu di rumah bibinya, tidur di lantai dingin, dan menahan sakit demi membesarkan adik kecilnya seorang diri.

Suatu malam, bibinya menyerahkan Kemuning kepada seorang tuan tanah untuk melunasi hutang judi. Tanpa persetujuan. Tanpa belas kasihan.

Semua orang mengira nasib Kemuning selesai saat mobil hitam itu membawanya pergi dari desa. Tapi mereka salah, karena pria yang menunggunya di kota jauh lebih berbahaya daripada kemiskinan; dingin, kaya, tampan, dan memandang Kemuning seolah gadis desa itu adalah miliknya.

Kemuning membenci cara pria itu mendekat terlalu dekat, cara tatapannya selalu membuat napasnya kacau… dan cara tubuhnya gemetar setiap kali pria itu menyentuhnya hanya untuk hal-hal kecil yang seharusnya biasa saja.

Namun yang paling menakutkan bukanlah ketertarikan itu.
Melainkan rahasia besar tentang alasan Kemuning sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lada Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 - Tatapan yang Berbahaya

Arkana berdiri sangat dekat di belakang Kemuning di balkon hotel yang dingin dan sunyi. Jas hangat pria itu masih menyelimuti pundak kecil Kemuning dengan aroma maskulin yang langsung memenuhi inderanya. Angin malam bertiup pelan membawa cahaya kota yang berkilauan di bawah sana. Namun tubuh Kemuning justru langsung menegang gugup.

“Kenapa pergi tanpa bilang padaku?” Suara rendah Arkana terdengar tepat di belakang telinganya. Nada itu terlalu dekat, terlalu dalam, dan terlalu mudah mengguncang pertahanan Kemuning. Jantung gadis itu langsung berdetak kacau lagi.

Kemuning buru-buru memalingkan wajah sambil merapatkan jas di tubuhnya. “Aku cuma ingin cari udara segar...” Jawabannya terdengar kecil dan terburu-buru. Namun bahkan dirinya sendiri tahu itu terdengar seperti alasan buruk.

Arkana tidak langsung menjawab. Tatapan pria itu justru semakin tajam memperhatikan wajah Kemuning dari samping. Ia tahu ada sesuatu yang membuat gadis itu pergi dari ballroom tadi. Dan Arkana mulai membenci kenyataan bahwa Kemuning selalu memilih memendam semuanya sendirian.

Perlahan, Arkana melangkah lebih dekat lagi. Pria itu berdiri tepat di belakang Kemuning sambil menahan pagar balkon dengan satu tangan di sisi tubuh gadis tersebut. Posisi mereka mendadak terasa terlalu intim di tengah udara malam yang dingin. Sampai Kemuning sulit bernapas normal.

Tubuh Arkana terlalu dekat sekarang. Kemuning bisa merasakan kehangatan pria itu di balik punggungnya. Aroma parfumnya memenuhi seluruh ruang di sekitar Kemuning. Dan itu membuat kepalanya semakin sulit berpikir jernih.

“Kau menangis?” Suara Arkana terdengar rendah dan pelan. Pertanyaan sederhana itu langsung membuat dada Kemuning menegang. Ia buru-buru menggeleng sambil menghindari tatapan pria tersebut.

“Tidak...” Kemuning mencoba terdengar tenang meski matanya mulai terasa panas lagi. “Aku baik-baik saja.” Namun suaranya justru terdengar rapuh.

Arkana jelas tidak percaya. Pria itu perlahan mengangkat dagu Kemuning dengan jemarinya agar gadis itu menatapnya. Sentuhan hangat di dagunya langsung membuat tubuh Kemuning membeku halus. Dan jantungnya hampir kehilangan kendali lagi.

Tatapan mata Arkana terlalu dekat sekarang. Gelap, tajam, tetapi entah kenapa terasa penuh perhatian tersembunyi. Kemuning sampai lupa memalingkan wajah beberapa detik. Sampai napasnya sendiri mulai terasa berat.

“Ada apa?” Kali ini suara Arkana terdengar lebih pelan dari biasanya. Bukan dingin seperti biasa. Dan itu justru membuat pertahanan Kemuning runtuh perlahan.

Kemuning menunduk pelan sebelum akhirnya bicara lirih. “Aku memang tidak cocok berada di dunia seperti ini...” Suara gadis itu terdengar sangat kecil tertiup angin malam. Namun setiap katanya terasa berat di dada Arkana.

“Mereka semua menertawakanku.” Kemuning menggigit bibir pelan sambil menahan air mata.

“Aku cuma membuatmu terlihat buruk.” Kalimat itu langsung membuat ekspresi Arkana berubah.

Tatapan pria itu mendadak mengeras. Bukan marah pada Kemuning. Tetapi pada semua orang yang membuat gadis itu berpikir serendah itu tentang dirinya sendiri. Dan Arkana mulai benar-benar membenci hal tersebut.

Perlahan, Arkana mulai memahami sesuatu. Semua ketakutan Kemuning berasal dari luka lama yang terus ditanamkan orang lain sepanjang hidupnya. Orang-orang selalu membuat gadis itu merasa tidak pantas dan tidak cukup baik. Dan kesadaran itu membuat dada Arkana terasa panas.

Untuk pertama kalinya, Arkana tidak menutupi emosinya sepenuhnya. Pria itu menatap Kemuning lurus sebelum berkata rendah namun tegas. “Tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang berhak merendahkanmu.” Kalimat itu jatuh begitu kuat di antara mereka.

Kemuning langsung terdiam. Belum pernah ada yang membelanya seperti ini sebelumnya. Tidak pernah ada yang berdiri di depannya dan membuatnya merasa berharga. Dan itu membuat dadanya terasa sesak sekaligus hangat.

Mata Kemuning mulai berkaca-kaca tanpa sadar. Melihat itu, Arkana perlahan mengusap sudut matanya dengan ibu jari. Gerakannya sangat pelan seolah takut menyakiti gadis tersebut. Dan Kemuning langsung membeku total.

Sentuhan itu terlalu lembut. Terlalu berbeda dari dunia keras yang selama ini dikenalnya.

Sampai Kemuning benar-benar tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Ia hanya bisa menatap Arkana dengan napas tidak stabil.

Tatapan mereka bertahan terlalu lama di balkon sunyi itu. Angin malam terus berembus pelan di sekitar mereka. Dan jarak di antara Arkana dan Kemuning perlahan terasa semakin berbahaya. Seolah hanya tinggal sedikit lagi sebelum sesuatu benar-benar berubah.

Namun tepat saat suasana mulai terlalu intim, pintu balkon terbuka dari belakang. Kemuning langsung tersentak kecil dan buru-buru menjauh satu langkah. Sedangkan Arkana perlahan menoleh dengan rahang mengeras samar. Selvina Adriani berdiri di ambang pintu.

Tatapan wanita itu langsung jatuh pada posisi mereka yang sangat dekat. Pada tangan Arkana yang baru saja menyentuh wajah Kemuning. Dan pada cara pria itu menatap gadis desa tersebut dengan begitu berbeda. Sesuatu dalam dada Selvina langsung terasa runtuh.

Namun seperti biasa, Selvina tetap mempertahankan senyum tenangnya. Meski matanya mulai terlihat terluka. “Semua orang mencarimu, Kana.” Nada suaranya lembut tetapi terasa tipis dan rapuh.

Kemuning langsung panik dan menunduk malu. Ia buru-buru melangkah menjauh dari Arkana sambil menggenggam jas pria itu erat. Perasaan bersalah kembali menghantam dadanya. Seolah dirinya baru saja melakukan sesuatu yang tidak seharusnya.

Sedangkan Arkana justru terlihat terganggu karena momen mereka terpotong. Tatapan pria itu berubah lebih dingin saat melihat Selvina. Dan hal itu langsung membuat wanita tersebut sadar akan sesuatu yang menyakitkan. Ia mulai kehilangan Arkana perlahan.

Tatapan Selvina pada Kemuning berubah sedikit demi sedikit malam itu. Bukan lagi sekadar tidak suka. Melainkan ancaman emosional yang nyata. Karena sekarang Kemuning benar-benar menjadi penghalang baginya.

“Aku harus kembali sebentar.” Arkana akhirnya berkata sambil menatap Kemuning lagi. Nada suaranya kembali rendah dan terkendali. Namun perhatian di matanya masih sangat jelas.

Sebelum pergi, pria itu berhenti sejenak di depan Kemuning. Tatapan mata mereka kembali bertemu dalam jarak dekat. Lalu Arkana berkata pelan dengan suara yang membuat jantung Kemuning kembali kacau. “Tunggu aku di sini.”

Kalimat sederhana itu terdengar terlalu possessive dan intim. Seolah Arkana tidak ingin kehilangan jejak Kemuning sedikit pun. Dan Kemuning hanya bisa membeku sambil menatap pria tersebut pergi. Dadanya kembali berdebar tidak karuan.

Kemudian Arkana berjalan masuk ke ballroom bersama Selvina. Mereka berdampingan di bawah cahaya lampu hotel yang elegan. Dan untuk pertama kalinya malam itu, Kemuning benar-benar merasa sakit melihat pemandangan tersebut. Ada rasa sesak aneh yang sulit dijelaskan.

Kemuning memeluk dirinya sendiri di balkon sambil menatap lampu kota. Ia mulai sadar perasaannya pada Arkana sudah terlalu dalam sekarang. Terlalu dalam untuk dianggap sekadar kagum atau berterima kasih. Dan itu sangat berbahaya.

Beberapa menit berlalu dalam sunyi. Sampai suara langkah santai terdengar mendekat dari arah pintu balkon. Kemuning langsung menoleh pelan dan melihat Reynard Wijaya muncul sambil membawa dua gelas minuman. Senyum pria itu terlihat penuh permainan seperti biasa.

“Sepertinya kita sering bertemu saat kamu sedang kabur dari Arkana.” Nada suara Reynard santai dan menggoda. Kemuning langsung salah tingkah mendengar ucapan tersebut. Pipinya sedikit memanas malu.

“Aku tidak kabur...” Jawaban Kemuning terdengar pelan dan gugup. Sedangkan Reynard justru tertawa kecil sambil menyerahkan satu gelas minuman padanya. Pria itu terlihat jauh lebih santai dibanding Arkana.

Reynard berdiri di samping Kemuning sambil menyandarkan tubuh santai pada pagar balkon. Tatapannya terang-terangan memperhatikan wajah Kemuning tanpa malu-malu. Dan hal itu justru membuat Kemuning semakin tidak nyaman. Karena tatapan Reynard terasa sangat berbeda.

Jika Arkana membuatnya gugup karena terlalu intens dan protektif, Reynard justru terasa seperti pria yang menikmati permainan. Santai, menggoda, dan terlalu percaya diri. Dan Kemuning tidak tahu bagaimana harus menghadapi tipe seperti itu.

Namun tanpa mereka sadari, seseorang sudah kembali lebih cepat dari yang diperkirakan. Langkah Arkana terhenti tepat di pintu balkon saat melihat pemandangan di depannya. Kemuning berdiri berdua dengan Reynard sambil tersenyum kecil untuk pertama kalinya malam itu. Dan sesuatu dalam diri Arkana langsung berubah dingin.

Tatapan pria itu mendadak menggelap tajam. Rahangnya menegang keras melihat Reynard berdiri terlalu dekat dengan Kemuning. Aura dingin Arkana langsung memenuhi seluruh balkon dalam hitungan detik. Sampai udara terasa ikut menegang.

Kemuning yang menyadari keberadaan Arkana langsung menoleh panik. Sedangkan Reynard justru tersenyum tipis penuh kemenangan kecil. Karena akhirnya ia berhasil melihat sisi paling berbahaya dari Arkana Mahendra malam ini. Sisi posesif yang selama ini tersembunyi rapat.

Arkana melangkah mendekat perlahan tanpa melepaskan tatapan gelapnya dari Reynard. Lalu suara rendah pria itu terdengar tajam di tengah udara malam. “Aku baru meninggalkanmu sebentar.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!