“Nek,” protes Ryuhan. “Aku ini CEO muda. Masa harus nikah sama seorang dukun?”
Seroja adalah gadis muda yang berprofesi sebagai dukun beranak dan terapis saraf. Hidupnya berubah saat suami dari masa kecilnya, Ryuhan Kai Zander, CEO muda dari keluarga konglomerat datang menjemput.
Seroja harus menerima kenyataan, bahwa Ryu sudah memiliki pujaan hati. Clara.
Sebuah kecelakaan membuat Ryu lumpuh dan impoten. Kenyataan itu menghancurkan harga diri Ryu. Apalagi saat Clara memutus hubungan setelah kecelakaan itu.
Saat Ryu mulai menerima Seroja, muncul seorang pria yang diam-diam menyukai dan menghargai Seroja.
Akankah Seroja tetap bertahan di sisi suaminya… atau memilih pergi bersama pria yang benar-benar menginginkannya?
Dan apakah Ryu akan melepaskannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Dukun Beranak atau Pawang Ular?
Sedan hitam dengan plat nomor cantik itu melaju di jalanan yang diapit persawahan. Padi yang menguning terbentang luas bak hamparan emas.
Di samping kursi kemudi, pemuda dengan kemeja yang lengannya digulung, duduk dengan tenang. Setidaknya itu yang terlihat dari luar. Kini usianya genap dua puluh tujuh tahun. Pria dengan tinggi seratus delapan puluh lima sentimeter itu memiliki alis yang tebal, hidung tinggi, mata kelam bak langit malam, garis rahang tegas dan belahan halus di dagunya.
Jordi, sahabat sekaligus asisten pribadinya duduk di balik kemudi. Rambut pemuda itu ikal, wajahnya cukup tampan, nggak malu-maluin kalau diajak kondangan.
Ryu mendengus kesal. "Kemana saja sih dana yang digelontorkan pemerintah? Masa jalan utama masuk desa kayak begini?"
"Kalau semua pejabat jujur.." sahut Jordi sambil mengatur kecepatan di jalan yang tidak rata. "...negara kita bakal jadi negara makmur, Bos."
Ryuhan hanya berdecak tanpa menanggapi, karena apa yang dikatakan Jordi memang benar.
"Btw Bos," Jordi melirik Ryu sekilas. "...kita ke desa ini mau ngapain?"
"Nggak usah banyak tanya," ketus Ryu. "nyetir aja yang bener." Tubuhnya bergoyang bukan karena musik yang diputar di dalam mobil, tapi karena jalan yang berlubang.
"Nasib jadi bawahan," gumam Jordi. Namun keningnya berkerut saat melihat jalan di depan sana.
Ryu memalingkan wajahnya ke arah hamparan sawah, tapi ingatannya justru kembali pada percakapannya dengan neneknya.
Langit telah sepenuhnya gelap ketika Ryuhan Kai Zander berdiri di dekat jendela ruang kerjanya.
Di balik meja kayu jati, seorang wanita tua menatapnya tanpa berkedip.
“Ryu,” suara Nyonya Hanifah Zander terdengar tenang, tapi tegas. “Nenek sudah memutuskan. Kamu akan menikah dengan cucu sahabat Nenek.”
Ryu terkekeh pendek, nyaris tidak percaya.
“Menikah?” ulangnya. Ia menoleh, garis wajahnya menegang samar. “Aku sudah punya Clara, Nek," katanya tanpa ragu. “Kami saling mencintai. Kami juga sudah berjanji akan menikah.”
Nyonya Hanifah hanya menatap Ryu dalam, seolah melihat sesuatu yang tidak bisa dijelaskan lewat kata.
“Sekarang, Clara sedang di Singapura bukan?” Kalimat itu lebih seperti konfirmasi daripada pertanyaan.
“Kontraknya sebagai analis investasi belum selesai. Entah berapa lama dia akan kembali. Dan sampai hari ini, dia belum mau kamu ajak menikah, 'kan?”
“Itu pilihan kami, Nek,” potong Ryu dingin. “Aku tidak keberatan menunggu.”
“Menunggu seseorang yang saat ini tidak memilihmu?”
Ryu menahan napas, tapi tidak mundur. “Dia bukan seperti yang Nenek pikirkan.”
Nyonya Hanifah menyandarkan tubuh rentanya.
“Lalu seperti apa?" tanya Nyonya Hanifah. "Bukan wanita materialistis?" Wanita tua itu tersenyum, tapi tak sampai ke mata. "Perasaan Nenek mengatakan sebaliknya. Gadis itu terlalu menghitung. Terlalu menyukai kenyamanan.”
Ryu tersenyum tipis, sinis. “Semua orang butuh uang, Nek. Tanpa itu, siapa yang bisa hidup enak?”
“Wajar,” balas Nyonya Hanifah. “Tapi kalau segalanya diukur dengan uang… itu tidak normal.”
“Aku tetap tidak akan menikah dengan pilihan Nenek," sahut Ryu, tak sedikitpun goyah. Kalimatnya bukan sekadar pernyataan, tapi garis tegas.
Sorot mata Nyonya Hanifah berubah lebih tajam dari sebelumnya. “Kalau begitu,” suaranya turun, tak memberi ruang untuk menawar, “...jangan panggil lagi aku nenek.”
Mata Ryu melebar.
“Dan jangan pernah muncul di hadapanku…" lanjut Nyonya Hanifah dingin. "...selamanya.”
Jemari Ryu mengepal perlahan. "Apa istimewanya gadis itu hingga Nenek sampai sejauh ini?"
Nyonya Hanifah tidak menjawab. Ia beranjak dari duduknya, lalu melangkah dengan bantuan tongkatnya. Pintu terbuka, tapi ia berhenti di ambang. Lalu tanpa menoleh ia berkata,
"Jemput gadis itu besok. Atau... kemasi barang-barangmu. Aku lebih suka menyumbangkan hartaku untuk pendidikan atau panti asuhan daripada ke cucu pembangkang." tanpa menunggu respon, Nyonya Hanifah keluar dari ruangan itu.
BUK!
Kepalan tangan Ryu menghantam dinding, giginya mengatup rapat. "Baik," katanya dengan suara rendah. "Aku ingin lihat, seperti apa gadis itu."
"Bos," panggil Jordi membuyarkan lamunan Ryu. "Di depan ada pertigaan. Kita belok kiri apa kanan nih?"
Ryu tak langsung menjawab. Ia ikut melihat ke depan. "Nenek gak bilang apa-apa selain alamat desanya. "
"Ya ini sudah ke arah desa itu, Bos." Jordi menghentikan mobil tepat di depan persimpangan. "Kata kakek-kakek tadi 'kan arahnya memang ke sini. Tapi gak bilang kalau ada pertigaan."
"Tanya si Mbah," sahut Ryu enteng.
"Mbah mana lagi?"
"Google," ketus Ryu. "Siapa lagi?"
Jordi tertawa pendek tanpa humor. "Bos amnesia? Sejak masuk desa ini 'kan sinyalnya susah? Kalau nggak, ngapain kita nanya sama kakek-kakek tadi?"
Ryu mengembuskan napas kasar, lalu keluar dari mobil. "Gadis seperti apa yang nenek jodohkan denganku? Tinggalnya aja di desa terpencil kayak gini," gumamnya frustrasi.
Jordi ikut turun. Ia membentangkan tangannya sambil menghirup udara dalam-dalam. "Jam segini udaranya masih segar. Desa emang beda. Semua serba segar," gumamnya saat matanya jatuh pada pematang sawah. Di pinggir pematang, kacang panjang menjuntai, daunnya hijau, buahnya lebat.
Deru suara motor yang mendekat membuat keduanya menoleh.
"Aku harap ini bisa jadi penunjuk jalan," gumam Jordi penuh harap.
"Itu motor apa sepeda sih?" sinis Ryu karena motor itu melaju lambat.
"Yee ile, Bos. Jalannya 'kan banyak lubang. Mana bisa ngebut kayak Rosi. Kecuali pengen nyungsep."
Setelah menunggu dengan kesabaran tingkat dewa, akhirnya motor itu mendekat. Seorang pria paruh baya dengan perut buncit dan topi anyaman lebar mengendarai motor bebek tua.
"Pak! Pak!" seru Jordi sambil melambaikan tangannya. "Numpang nanya sebentar, Pak."
Motor yang usianya kemungkinan lebih tua dari pengendaranya itu berhenti. Pria paruh baya yang duduk di atasnya menatap Ryu dan Jordi bergantian. Lalu pandangannya beralih ke arah mobil hitam yang mengkilap, tapi sayangnya ban dan body bagian bawahnya sudah penuh dengan lumpur.
"Kalian dari kota, ya?" tanyanya sebelum Ryu dan Jordi membuka mulut.
"Iya, Pak," sahut Jordi ramah. "Kami mau ke desa Sukatani. Tapi bingung mau belok ke kiri atau kanan."
"Oh..," gumam pria paruh baya itu. "Baik ke kiri maupun ke kanan, itu semua menuju desa Sukatani. Cuma..." Ia menunjuk ke arah jalan. "yang sebelah kanan kampung Lumbung Padi, dan yang sebelah kiri kampung Asri." Matanya kembali ke dua pemuda di depannya. "Kalian mau ke kampung mana?"
Jordi spontan menoleh ke Ryuhan. "Bos, kita ke kampung yang mana?"
Ryu akhirnya bersuara. "Kami mau ke rumah Seroja, Pak. Apa Bapak kenal?"
"Kenal," sahut pria itu mantap.
"Ah, syukurlah," ucap Ryuhan sedikit lega. "Kalau begitu, Bapak pasti tahu kampung tempat tinggal Seroja 'kan?"
"Seroja yang mana?" pria paruh baya itu malah balik bertanya.
"Memangnya, di desa ini ada berapa wanita yang namanya Seroja, Pak?" tanya Jordi.
"Ada dua orang," sahut pria itu. "Kalian mencari Seroja yang mana? Yang dukun beranak atau yang pawang ular?"
"Hah?!" Mulut Ryu terbuka. Ekspresinya jelas syok.
Ia yang seorang CEO dijodohkan dengan gadis desa yang berprofesi...
...🔸🔸🔸...
..."Kadang, takdir datang bukan dalam bentuk yang diinginkan… melainkan dalam bentuk yang paling diremehkan."...
..."Ryuhan mengira ia hanya sedang menjemput calon istri. Ia tidak tahu bahwa ia sedang berjalan menuju seseorang yang kelak menghancurkan kesombongannya."...
..."Nana 17 Oktober "...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Hampir mirip kisahnya, istri yang disembunyikan tapi bikin penasaran suami dengan segala tindakannya
Apakah Seroja masih ponakan Vexia ya 🤭😃
Seroja mau lanjut kuliah, Nenek senang mendengarnya - antusias mendukung Seroja kuliah lagi.
Ryu menawari Seroja pakai mobilnya, disuruh pilih yang Seroja suka. Setelah bertanya Seroja apa bisa bawa mobil.
Seroja malah pilih naik motor. Padahal motor Ryu motor sport wkwkwk.
Ryu mendengar Seroja mau pakai motor sport miliknya sampai hampir tersedak buburnya.
Yang ngajarin Seroja naik motor sport Tony. Nah lho - Ryu cemburu tuh 😄
lanjut kak nana... 💪🙏
Lucu juga nih Seroja. Meraba tubuh Ryu dari atas ke bawah - yang dikira gulingnya dan mengendus aromanya pula 😄.
Kebayang bagaimana Ryu menegang ketika diraba tubuhnya dan diendus Seroja wkwkwk.
Ryu turun ranjang menuju kamar mandi, repot menjinakkan ularnya yang menegang tuh.
Kebiasaan Ryu tidur bertelanjang dada. Seroja tertegun sejenak melihatnya. Jantungnya mulai tak karuan.
Dalam hati dua insan yang sudah sah sebagai pasabgan suami istri berbeda.
Dalam hati Seroja - apa Ryu bakal minta haknya sebagai suami.
Dalam hati Ryu yang ditanya kenapa tidak pakai baju - apa tubuhku gak bagus. Kenapa dia tidak terpesona sama sekali.
Perbincangan mengalir - mereka mulai tidur.
Semangat Kak Nana.. Up Bab Baru-nya ya Kak 🙏🙏🙏
Bagus Seroja... Lanjutkan lah lagi kuliahmu itu! Sayang loh, kslau nggk di lanjutkan!:😂😂😂