Orang yang terlalu penasaran tidak selamanya berakhir indah. Contohnya Kimi Ariana yang kadang dipanggil Kimi Arigato, padahal tidak punya darah Jepang. Saking tak bisa menahan penasaran, Kimi kerap mencoba hal-hal yang di luar nalar.
Dan percobaan paling absurd yang merubah hidupnya?
Mencoba pacaran dengan.. perempuan tampan-ah, bukan, perempuan keren yang justru dijauhi banyak orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Keesokan paginya, Desi datang mengantar sarapan ke kamar Kimi.
Sebenarnya ada larangan membawa makanan ke kamar, tapi kali ini dikecualikan, karena kimi tidak boleh banyak bergerak. Untungnya ini hari Minggu, jadi semua anggota bebas bermalas-malasan sepuasnya.
Kimi rebahan sambil menatap langit-langit. Rasa bersalah sempat menyelinap karena kelompoknya gagal! jalan-jalan hari ini. Tapi ia juga malas bicara dengan Agus. Lagi pula Agus pun belum sempat menemuinya.
"Kenapa aku sial banget sih?" gumamnya putus asa. "Udah terkurung, gak ada sinyal, sekali dapet voucher jalan-jalan, malah kena apes."
Ia menatap kakinya yang diperban dengan wajah masam. Nafasnya keluar panjang, seolah menuduh dunia bersekongkol menjatuhkannya dari tangga.
"Padahal tadi malam tuh kesempatan buat deket-deket. Kali aja abis dipapah sama Uby, tuh anak jadi jinak. Ini semua gara-gara Agus!"
Ia memiringkan badan dengan hati-hati, lalu mengerjap pelan, pura-pura nangis sendiri. "Kapan dia bisa suka aku kalau gini caranya? Eh, tunggu... Uby kan udah punya pacar. Eh, tapi belum tentu si Anela beneran pacarnya. Tapi kalau beneran, berarti aku lagi nyoba deketin pacar orang dong?"
Kimi memukuli kepalanya, tapi pelan-pelan.
"Kenapa sih aku kudu kepo ke Uby! Apa aku tahan aja sampai pelatihan ini kelar, terus cari cewek yang kayak Uby?"
Ia terdiam lagi beberapa detik, menatap dinding dengan ekspresi bingung campur lelah.
"Ya tapi nyarinya di mana? Dari mana juga aku tau kalau cewek itu belok? Dari mana coba? Aku kan bukan cenayang. Si Uby aja kalau bukan mereka yang ngasih tau, aku gak bakal tau! "
Akhirnya kimi menyerah, Ia menarik selimut, membungkus diri sampai kepala, dan beberapa menit kemudian, ia sudah tidur lagi dengan wajah masih cemberut.
~
Saat makan siang, Agus entah kenapa berinisiatif mengantarkan makanan untuk Kimi.
Ia sudah memikirkannya semalaman, dan rasanya tidak enak kalau ada seseorang yang kesal dengannya. Apalagi di tempat terisolasi seperti ini, yang bahkan sinyal pun terasa langka.
Begitu membuka pintu kamar, kimi sempat terkejut. Namun wajahnya segera kembali datar.
Agus meletakkan piring dan minuman di meja lipat, lalu mengangkatnya ke atas tempat tidur.
"Makan dulu," katanya singkat sebelum duduk di ujung kasur.
Kimi menatapnya sekilas, lalu mengambil sendok. "Kamu udah makan?" tanyanya basa-basi.
Agus hanya mengangguk, tidak menatapnya. Ia tetap duduk di sana sampai kimi menghabiskan makanannya.
"Gerak kagak, makan banyak. Bisa-bisa badan aku bengkak," gumam kimi sambil mengusap perut.
"Ya udahlah, sementara ini," balas Agus datar, mengambil meja dan menurunkannya ke lantai.
Ia terdiam sejenak sebelum menatap Kimi lagi. "Gw gak mau minta maaf karena udah ngomong jahat ke Ruby."
Kimi mengernyit. "Kok gitu? Kamu sadar gak udah nyakitin hati orang?"
"Nyakitin?" Agus mendengus pelan. "Mungkin lo gak paham, tapi sebenernya gw lagi nolongin lo dari dia."
"Oke. Coba jelasin soal 'nolongin' itu, biar aku gak salah paham."
Agus menarik napas panjang. "Lo tau, pas awal kita tau dia belok, meski risih. Tapi kita berusaha biasa aja. Selama dia sopan dan gak aneh-aneh. Tapi sehari setelah itu, lo tau apa yang dia lakuin?"
Kimi menggeleng, menelan ludah tanpa sadar.
"Dia cium Anela."
"Apa?!" Kimi refleks mendelik, hampir menjerit.
"Gw, Okta, Janu, sama Nove yang liat di gudang belakang. Sumpah, gw gak bohong. Tanya aja ke mereka kalau gak percaya. Pas kita nyoba ngomong ke Anela, tuh anak malah belain Ruby sambil marah-marah."
Kimi terdiam beberapa detik. "oke, tapi... Ruby tetap gak salah kan? Bukannya itu artinya Anela juga sama kayak dia? Maksudku, gak ada yang dipaksa."
Agus menghela napas berat. "Gak salah dari mana? Coba lo pikir, ciuman di tempat umum. Di gudang belakang yang bisa dilewatin siapa aja. Kalau ada orang lain yang liat, apa gak bikin geger?"
Kimi terdiam, mau tak mau mengakui ucapan Agus memang ada benarnya.
"kalau udah kayak gitu, wajar kan kalau kita jaga jarak? Lagian bukannya ngomong baik-baik, si Anela malah nyolot."
"Emang kalian ngomongnya gimana?"
Agus menggaruk kepala, agak ragu menjawab. "Kita ada bilang... kalau belok, gak usah dipamerin. Bikin jijik."
Kimi meringis. "Jadi kalau yang normal boleh aja pamer mesra-mesraan gitu?"
"Ya gak gitu juga. Udahlah, pokoknya Ruby itu bahaya. Bisa aja asal nyosor, terus bikin anak orang belok dengan satu ciuman."
"Emang bisa? Mungkin aja Anela dari sananya udah gitu,"
Agus mengangkat bahu. "Entahlah. Yang jelas pas baru banget masuk, Anela dianter sama cowok. Cium pipi, pelukan, pas kenalan terus ditanya siapa, dia bilang pacarnya. Itu sebelum dia ketemu Ruby, soalnya Ruby baru masuk malemnya."
Kimi berkedip bingung. "Maksudnya... Anela tadinya lurus-lurus aja?"
"Jelas lah. Pas mandi di kali aja dia nyantai, gak kayak Ruby yang panas sendiri. Dan asal lo tau, dua hari sebelum lo masuk, Ruby meluk Febi."
"Hah?!" kimi refleks melotot.
"Kaget kan lo? kejadiannya di perpus. Biasalah, buku jatuh dari atas, terus dia meluk Febi sambil dorong ke samping. Cara nolongnya lebay banget. Padahal tinggal didorong aja si Febi-nya. Biarin aja tuh anak nyungsep, dari pada trauma"
Kimi mengusap wajah, rasanya campuran antara syok dan menolak menerima. Ini Ruby kan? Mereka masih membicarakan orang yang sama kan? Ruby yang level juteknya sudah sampai Saturnus.
Melihat kimi cuma diam, Agus akhirnya bicara lagi. "Intinya, kita di sini saling jaga. Jangan marah cuma karena kita peduli sama lo. Inget itu."
Setelah mengatakan itu, Agus berdiri, membawa piring dan gelas kotor keluar kamar.
Kimi masih terdiam. Pikirannya berputar, mencoba mencerna semua yang baru ia dengar. Jadi, mereka menjauhi Ruby dan Anela bukan sekadar karena orientasi, tapi karena ciuman itu?
Ciuman?
"Oh, jadi Uby gitu orangnya ya?" gumam Kimi pelan. "Kenapa ke aku gak nyosor coba? Kalau di sosor sekali, kan aku gak penasaran lagi."
Ia mendengus, geleng-geleng kepala, lalu berusaha bangkit. Perlahan, ia menurunkan kakinya yang masih sakit dan berjalan pincang ke balkon, Udara siang yang lembut menyentuh kulitnya, menenangkan sedikit rasa jengkel di dada.
Meski beitu, satu hal masih mengganjal di benaknya: Ruby mencium seseorang yang baru dikenalnya, lalu memeluk Febi dengan dalih menolong. Jadi... Ruby sebrengsek itu?
Tiga hari ini Kimi istirahat total di kamar. Selama itu pula dua belas bulan silih berganti datang, memastikan kimi tidak kesulitan. kadang mereka. berkumpul sampai tengah malam, sekadar ngobrol atau membahas materi yang Kimi lewatkan.
Ini agak menyebalkan, Ia sudah terlambat seminggu, dan setelah seminggu aktif, ini harus absen lagi. Bagaimana kalau tidak lulus gara-gara ini? Bisa gagal dapat parfum dari si Abang pelit.
Tapi yang paling bikin kesal, Ruby tidak pernah menjenguk. Padahal kamarnya persis di sebelah. Apa Ruby bahkan tak menganggapnya teman?
Kimi memang tidak tahu, tapi sebenarnya tiga hari ini Ruby beberapa kali sempat ingin mampir. Hanya saja, setiap kali berdiri di depan pintu Kimi, ia selalu mundur lagi. Mungkin lebih baik diam, supaya semuanya aman. Ruby malas kalau kimi salah paham, lalu mengira ia ingin membuka 'pintu pertemanan' dan malah ngelunjak.
Anggap saja ini keputusan yang baik untuk mereka berdua. Hidup Ruby jadi tenang, dan kimi tidak dijauhi peserta lain. Win-win kan?
Sayangnya, malam ini Ruby salah kaprah besar.
Saat ia sedang membaca buku dari perpustakaan, terdengar ketukan di pintu kamarnya. Begitu dibuka, Kimi berdiri di sana dengan wajah datar menahan jengkel.
Ruby bergeser sedikit, membiarkannya masuk tanpa membantu. Kalau Kimi bisa jalan ke sini, berarti dia sudah baik-baik saja.
Begitu duduk di tepi kasur, kimi langsung menembak tanpa basa-basi.
"Oh, jadi kamu tuh gitu ya, By. Ngebiarin aku menderita sendirian, Jenguk aja enggak. Minimal nongol dikit kek."
Ruby menutup bukunya, memutar kursi, dan duduk menghadap kimi. "Kenapa gw harus jenguk? Kan udah banyak yang ke sana"
"Cuma gara-gara itu?" mata Kimi menyipit, nadanya berubah tajam. "Aku juga udah tau soal Anela."
Ruby refleks tertegun, Ia menggaruk kepala, bingung darimana Kimi bisa tahu. "Um... itu... gw gak bisa apa - apa. Nela yang mau, masa gw larang," jawabnya pelan.
"Dia yang mau?!" kimi melotot, makin syok. "Terus kamu kasih gitu aja?"
"Ya gw pikir udah lo kasih ke gw."
"Memangnya kapan itu jadi punyaku?"
Ruby mengernyit. "Bukannya dari awal emang punya lo?"
"Masa sih? Aku aja belum nyicip, kok malah kamu kasih ke Anela?"
Ruby makin bingung. Ia menggigit bibir, berusaha memahami arah pembicaraan. "Oke, apa mereknya? Biar gw ganti."
Kimi melongo. "Emang bibir kamu ada mereknya?"
"Bibir? kok jadi bibir gw?" Ruby nyaris tertawa. "Lo ngomongin apa sih?"
"Lah, kamu ngomongin apa?"
"Cookies yang lo bawa waktu itu. Udah semingguan di kamar gw. Pas Nela datang, dia nyicip, terus dibawa karena katanya enak," jelas Ruby. Kini ia mulai sadar ada kesalahpahaman besar di sini. "Lo sendiri ngomongin apaan?"
Kimi mengusap wajah, separuh malu, separuh kesal. Sudah ngomel panjang lebar, malah salah arah.
"Astaga. Yaudahlah." Tapi begitu sadar kata cookies, Kimi malah makin bete. "Itu gak ada mereknya. Mama aku yang bikin sendiri."
Ruby terdiam, mencoba. menyambung potongan-potongan dialog mereka barusan, sementara Kimi sudah kehilangan semangat untuk marah.
"Udah, lupain aja. Emang kapan sih kamu mikirin
aku?" ucap Kimi lirih.
Ruby menatapnya sekilas. kalimat itu kedengarannya terlalu personal untuk seseorang yang katanya cuma teman. Ah, tidak. Mereka bahkan belum berteman.
"Tadi lo ngomongin soal apa? Anela kenapa?" tanya Ruby akhirnya.
"Soal ciuman kalian di gudang belakang." Ruby menatapnya datar.
"Ciuman?" ulangnya, seolah memastikan. Otaknya memutar cepat adegan dua minggu ke belakang. "Emang kenapa? Urusannya apa sama lo?"
Kimi gelagapan. Mulutnya terbuka, tapi tak ada jawaban yang keluar. Ia sendiri bingung kenapa harus peduli. Lah, dia siapa? Tapi rasa kepo-nya sudah keburu membara.
Ruby menahan tawa. melihat ekspresinya. "Terserah deh mau mikir apa, Udah tau kan? Yaudah, gak usah sok asik lagi sama gw. Jauh-jauh sana."
Kimi menatapnya dengan sorot kecewa. Ia sempat berharap Ruby akan menepis tuduhan itu, bilang kalau itu cuma salah paham atau gak sengaja. Tapi ternyata tidak.
Dengan langkah lemas, kimi bangkit, berjalan pincang ke pintu, lalu menutupnya pelan. Tanpa kata. Tanpa pamit. Karena untuk apa pamit, kalau besok pagi mereka masih harus saling dengar suara?
Ruby tetap diam di tempat, menatap pintu yang tertutup.
Ia menyandarkan kepala di kursi, tiba-tiba merasa sedikit menyesal. Harusnya ia jelaskan. Tapi yat, buat apa? Bukannya memang itu yang ia mau? Biar kimi menjauh, biar semuanya tenang.
Sampai akhirnya satu hal baru terlintas di kepalanya.
"Cookies..." Ruby memi jat pelipis. "Argh, sial. Harusnya gw bilang ke Nela kalau itu bukan punya gw. kenapa juga harus bikinan mamanya? Dengan apa gw ganti kalau kayak gini," gumamnya sambil menepuk jidat sendiri.
~
Tiga hari ini harusnya Ruby jadi lebih tenang. Tapi nyatanya? Sama sekali tidak.
Kimi mendiamkan nya. Kalau kebetulan berpapasan di depan kamar pun, cewek itu langsung kabur masuk tanpa sepatah kata-meski gerakannya lambat.
"Kaki masih pincang, tapi sok-sokan cuek," gumam Ruby sore itu, wajahnya masam tapi matanya ngintip ke arah kamar sebelah.
Karena ini hari Sabtu, Ruby memutuskan untuk pergi ke ruang komunikasi. Petugas yang berjaga langsung membukakan pintu begitu melihatnya datang. Ruby menancapkan kabel sinyal ke ponselnya, mengetik sesuatu, lalu menelpon dengan nada cepat tanpa basa- basi.
"Kirim cookies terbaik, semua varian. Besok harus udah sampai."
Begitu yang di seberang menjawab, Ruby langsung menutup telepon. Petugas di luar sampai melongo. Biasanya peserta lain bisa. nelpon sampai setengah jam, tapi Ruby? Cuma butuh tiga puluh detik.
Selesai menelpon, Ruby langsung ke lapangan untuk lari seperti biasa. Di sana sudah ada Kimi dan geng dua belas bulan, Sebagian main basket, sebagian bulu tangkis, ada juga yang mencoba lompat tali, selebihnya club berdoa dan duduk manis. Di sisi lain, Anela menunggu Ruby sambil termenung sendirian. Tadi ia sebenarnya ingin menemani ke ruang komunikasi, tapi Ruby bilang cuma sebentar.
"Liat tuh mukanya. Cuek banget. Biasanya juga lirik-lirik. Aneh banget jadi cewek," Gumam Ruby, tapi langkahnya tetap stabil.
Ia menggeleng sendiri, heran kenapa malah kepikiran Kimi. Menurutnya, kimi cuma ngambek gara gara cookies, dan yah, wajar juga sih. Itu kan buatan mamanya.
Padahal bukan itu, Kimi sebenarnya kesal karena Ruby mengusirnya mentah-mentah kalau memang tidak mau menjelaskan, kan bisa bicara baik-baik.
Dan dari semua omongan Ruby waktu itu, Kimi akhirnya menarik kesimpulan: Ruby tidak suka didekati. Bagi kimi, itu jelas karena Ruby sedang menjaga perasaan pacarnya. Sebut saja namanya Anela.
Jadi sejak saat itu, Kimi bertekad menahan rasa penasarannya. Tapi malah makin kesal tiap melihat Ruby. Kayak orang sakau kepo.
"Kim, sesak napas? Butuh napas buatan gak? Perlu kupanggil Pak Mumud?" canda Desi yang duduk di sampingnya.
Kimi memegangi dadanya lebay, "Gak tau deh, kok dada aku kayak ketekan gini. Napas gak plong. Apa ini efek kepo yang ketahan?"
"Kepo? Kepo apaan?"
Kimi cepat-cepat menjawab. "Eh, kepo kapan aku bisa main basket,"
"Yaelah," Desi langsung teriak ke arah lapangan, " Jul! Kimi mau ikut main!"
Juli langsung menoleh sambil ngelap keringat. "ke sini aja!"
Kimi sempat melotot. Tapi karena sudah kadung ngomong, yaudah deh. Akhirnya dia bangkit dengan langkah pincang menghampiri Juli.
Kakinya memang udah tidak bengkak, tapi masih cenat-cenut tiap dipakai berjalan. Setidaknya sekarang dia sudah bisa ikut kelas tanpa ngesot.
"Berdiri di sini," ujar Juli sambil menunjuk dekat ring, lalu menyodorkan bola.
"Bisa. lempar gak?"
Kimi mendengus, "Aku sama basket itu bestie, jangan sepele ya."
Ia langsung melempar bola, dan ajaibnya.. masuk!
"Weh, bisa juga lo! Kalau udah sembuh, masuk tim gw ya!" kata Juli semangat.
"Tim apaan, anjir. Emang ada tim tetap di sini Tiap main aja timnya ganti-ganti," celetuk Janu dari belakang.
Juli cuma ngakak, mengambil bola lagi, dan menyodorkan ke Kimi. Lemparan kedua sampai kelima? Zonk. Tak ada satu bola pun yang masuk.
"Oke. Lo out. Gak diterima di dunia basket," ujar Juli sambil pura-pura mencoret nama Kimi dari daftar khayalan.
Kimi terkekeh geli. Memang sih, dia tidak benar-benar berniat ikut main. Selama ini dia cuma main basket model barbar dengan teman-temannya. Intinya, asal bola masuk ring, beres.
Di sisi lapangan, Ruby melirik sekilas sambil geleng-geleng kepala.
"Kaki sakit aja masih banyak gaya," gumamnya pelan.
" Siapa?" tanya Anela cepat, matanya ikut mengikuti arah pandang Ruby.
"Bukan siapa-siapa," jawab Ruby datar, pura-pura fokus stretching.
Anela tidak bertanya lagi, tapi matanya sempat menyipit curiga. Dari nada Ruby tadi, entah kenapa kesannya ngomongin seseorang yang baru masuk ke lapangan basket. Yang kakinya sakit kan cuma satu orang itu.
Dan yang lebih aneh, sejak kapan Ruby memperhatikan orang lain selain dirinya?