Semua orang menganggap aku halu. “Mana mungkin, Bima, aktor tampan yang disukai semua perempuan di Indonesia mengajakmu menikah?” kata sahabatku, sambil tertawa terbahak-bahak. Tapi kemudian dia diam melihat pesan yang dikiimkn Bima kepadaku, ingin serius menikah denganku. Aku memang mencintainya, tapi apakah aku layak hidup dengan seorang aktor tampan, padahal aku hanyalah perempuan biasa yang tidak punya apa-apa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 – Naya
Bab 5 – Naya
Kantor WO milik Risa ada di atas sebuah kafe kecil sederhana. Kafe itu milik suaminya Risa, Mas Bayu. Setiap selasa, aku, Risa, dan adikknya Risa yang masih kuliah semester akhir, Shanaz, meeting mingguan untuk merencanakan jadwal kerja. Ya, WO kami cuma tiga orang. Risa yang mengurus keuangan, aku yang mengurus vendor, Shanaz yang mengurus marketing dan medsos. Sedangkan urusan klien, kami semua sepakat sama-sama cari klien, walau klien yang kami dapat kebanyakan dari Risa. Aku belum pernah mendapatkan klien untuk WO kami yang baru berusia 1 tahun. Rencananya WO yang bernama Rinaz ini, akan mengurus pernikahan aku dengan Alfian. Tapi rencana itu buyar.
“Kakak nggak jadi nikah?” Shanaz yang baru tahu kalau aku diputusin Aflian, kaget sampai matanya melotot seperti mau keluar dari kepala.
“Iya,” jawab Risa menggantikan aku bicara.
“SERIUS!” Shanaz menatap Risa dan aku bolak-balik.
Risa mengangguk.
“SERIUS, Kak?”
“Iya, Shanaaaz!”
Akhirnya Shanaz berhenti kaget, “Alasannya apa?”
Risa mengangkat kedua bahunya.
Aku terdiam, karena aku sendiri tidak tahu alasannya.
“Dia mutusin lewat WA?” tanya Shanaz lagi.
“Iya, dia juga minta dibalikin cincin kawin, tapi nggak mau ketemu orang tuanya Naya,” jawab Risa. “Kutu kupret emang tuh orang.”
“Pasti punya selengkian!” Shanaz mengetuk-ngetuk pulpen di atas meja meeting. Ruangan yang dipakai kami meeting adalah ruang kantor kafe itu. Cuma ada tiga meja di sana. Dua meja dengan masih-masing ada laptopnya. Sedangkan di tengahnya ada meja besar untuk meeting atau makan siang bareng.
“Udah, nggak usah dibahas. Berarti jadwal kita lima bulan ke depan, kosong. Kalau ada klien yang mau isi, bisa isi,” Risa memperhatikan laptop yang ada di hadapannya.
“Oke,” sahut Shanaz sambil mencatat di buku catatannya.
“Medsos gimana? Nambah nggak viewersnya?” tanya Risa.
“Engagement naik. Ada beberapa DM dan WA nanyain. Tapi belum ada yang bener-bener serius minat pake WO,” jawab Shanaz.
“Oke. Berarti kita fokus ke acara pernikahannya Ajeng sama Danang, bulan depan ya?” tanya Risa.
“Oke.”
Risa dan Shanaz melihat ke arahku, “Nay!”
Pikiranku entah kemana, aku tidak bisa fokus. Sampai sekarang aku belum bisa percaya kalau seorang Bima, yang biasanya ada lewat di depan wajahku ketika aku duduk di halte nunggu bus – Wajah Bima segede gaban terpampang nyata dalam bentuk iklan minuman kelapa di bus – kini muncul di ponselku. Pesan WA darinya belum berani aku balas. Mau balas apa? Hai, halo, Assalamu'alaikum?
Aku menghela napas, bingung.
“Nay!”
“Kak Nay!”
Risa dan Shanaz teriak secara bersamaan, membuatku melompat kaget dari lamunanku.
“Aku tahu, kamu masih sedih nggak jadi nikah. Tapi kamu bilang ya udah, yang lalu biar berlalu. Tapi kamu sekarang malah nggak fokus kaya gini?” Risa bicara dengan dahi yang berkerut. Aku tahu aku salah.
“Sori.”
“Kalau masih belum bisa kerja, nggak apa-apa. Cuti dulu aja,” kata Risa lagi.
“Sori-sori,” kataku sambil memperbaiki posisi duduk. “Lagi ngomongin apa tadi?”
“Kak Naya liat hape terus, ada masalah apa? Sama mantan kakak?” Shanaz terdengar sangat khawatir.
“Nggak. Ini ada orang, kenalan, aku bingung balesnya,” aku ragu sebetulnya untuk cerita, tapi kalimat itu meluncur begitu saja. Mungkin karena aku merasa nyaman bersama Risa dan adikknya.
“Siapa?” tanya Shanaz polos.
“Bima.”
“Bima siapa?” Shanaz bingung, sementara Risa agak sedikit curiga.
“Bima Dewantara,” jawabku pelan sambil melihat ponselku.
Shanaz melirik Risa, lalu tertawa terbahak-bahak, “Eh, kemaren juga Reza Rahadian ngontak aku tau, Kak!”
Aku manyun dan menghela napas, “Ya memang, seperti nggak mungkin dipercaya sih ya?”
“Nggak, Kak! Bener! Nicholas Saputra juga ngontak aku, ngajak kenalan! Tapi aku kan masih kuliah, belum mau pacaran!” Shanaz terkekeh.
“Mana coba liat,” Risa mengulurkan tangannya. Aku memberikan ponselku pada Risa. Risa memperhatikan nomor telepon yang tertera di ponselku. “Bentar, suamiku punya nomor telepon Bima.”
Risa bergegas turun ke kafe.
“Jadi kakak nggak bohong?” tanya Shanaz melongo melihat ku memainkan sebuah saputangan putih.
“Aku juga pengennya bohong, tapi ini beneran. Makanya, aku bingung. Aku ini emang udah stress banget, apa nggak?”
Risa kembali dari kafe, lalu mengembalikan ponselku, “Iya itu nomor telepon Bima.”
“Kok kakak punya nomor telepon Bima?” Shanaz bertanya heran pada Risa.
“Pernah ketemuan di acara kopi gitu. Bima jadi jurinya,” Risa menjelaskan dengan singkat.
“Berarti pas dia ke acara Nanda minggu lalu, kak Risa kenal Bima?” tanyaku heran.
“Ya nggak lah. Aku nggak kenal, kan yang ketemu Bima cuma Bayu,” Risa menghela napas. “Ya udah, bales lah. Tanya ada apa?”
“Balesnya gimana?” tanyaku bingung.
“Tunggu tunggu tunggu!” Shanaz mengulurkan kedua tangannya di atas meja meeting.
Aku dan Risa menatapnya.
“Berarti kak Naya beneran di kontak Bima?” Shanaz menatapku dengan wajah yang berbeda, sekarang lebih ke histeris dan semangat.
“I… iya?” jawabku sambil melirik Risa.
“OMG!” Shanaz menggenggam tanganku, “Bales, kak! Bales! Kalau ketemuan, ajak aku, plisss! Pengen foto bareng!”
“Gimana ya balesnya?” kataku sambil berusaha melepaskan tanganku yang kesakitan dari cengkraman Shanaz.
“Bales aja, halo, Bima, ada apa ya? Gitu!” Shanaz menjawab dengan spontan, “Eh jangan. Sok kenala banget, langsung manggil nama. Pake Kak! Eh jangan, pake mas!”
“Udah, nggak usah pake apa-apa,” Risa menyela Shanaz yang menggebu-gebu. “Tanya aja ada apa? Siapa tau dia mau pake WO kita?”
“Bener juga!” Aku langsung semangat, selama ini baper banget Bima ngajak kenalan karena emang pedekate, siapa tau cuma pengen pake WO. Aku mengetik pesan secara formal.
Naya : Halo, ada yang bisa saya bantu?
Semua hening. Sama-sama menunggu balasan. Tapi tidak ada balasan.
“Nggak langsung dibales!” Shanaz tampak bete.
“Ya mungkin dia sibuk! Orang kaya dia nggak kaya kamu yang setiap detik hapean terus, nempel sama tangan!” Risa melempar tutup pulpen ke arah Shanaz.
“Yeee, kan aku ngurus medsos, harus pegang hape lah!” Shanaz melempar pulpen balik ke Risa.
“Ya udah, sambil nunggu balesan, kita lanjut meeting,” Risa menatap laptopnya kembali.
“Iya. Sori ya, jadi nggak fokus,” kataku lalu membuka laptopku juga.
Tiba-tiba ada bunyi notifikasi pesan masuk ke ponselku. Sontak, Risa dan Shanaz berpaling ke arahku. Mata mereka menatap tanganku yang mengangkat ponsel dan membuka pesan. Seperti sedang menunggu kelahiran anak pertama, mereka sangat mengharapkan balasan dari Bima.
Bima : Ada. Ada yang bisa kamu bantu.
Naya : Apa?
Risa dan Shanaz bangkit dari duduknya, langsung berdiri di belakangku. Mereka ingin membaca apa yang aku tulis di ponselku.
Bima : Besok ada waktu? Kita bisa ketemu?
“Aaaaaa………!!!” Shanaz teriak kaget. Risa langsung menutup mulut Shanaz.
“Gimana ini?” kataku menatap Risa yang sedang membungkam Shanaz yang kegirangan.
“Ya jawab lah, bisa?”
“Sama kalian ya?”
Shanaz mengangguk, tapi Risa menahannya dan menjawab, “Ya nggak lah!” Risa melepaskan Shanaz. Shanaz duduk sambil manyun dan merapikan rambutnya yang sedikit lebih pendek dari Risa.
Naya : Boleh. Kapan di mana?
Bima : Di tempat kemarin kita ketemu, jam 7 malam?
Naya : Oke.
“Bagus kalau kita dapet klien dia. Bisa naikkin nama WO kita!” Risa dengan semangat mencatat sesuatu di laptopnya.
Shanaz terlihat girang sekali.
Sedangkan aku, bengong. Selain karena takut apa yang akan dibicarakanya, aku tidak tahu apa yang akan aku pakai besok!