Arka Danadyaksa adalah direktur korporat yang melihat dunia hanya sebagai angka dan lahan. Namun, langkahnya terhenti di sebuah kedai tua milik Senja, wanita keras kepala yang memilih bertahan demi sebuah warisan rindu.
Berawal dari rencana penggusuran yang kejam, takdir justru menyeduh rasa yang tak terduga di antara mereka. Di tengah intrik kekuasaan, pengkhianatan keluarga, dan runtuhnya sebuah imperium, Arka harus memilih: tetap menjadi raja di menara yang hampa, atau kehilangan segalanya demi menemukan "rumah" di bawah cahaya senja yang abadi.
Pahitnya kejujuran, manisnya pengampunan, dan rindu yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Genre: Romantis, Drama, Kehidupan Sehari-hari (Slice of Life.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Tamu Tak Diundang di Meja Bundar
Pagi hari berikutnya, udara Jakarta masih terasa lembap oleh sisa hujan semalam. Aku baru saja mengunci pintu kamar kosanku, menenteng helm half-face bututku, dan bersiap memanaskan motor matic untuk berangkat ke kedai.
Namun, langkahku terhenti di teras.
Sebuah mobil sedan mewah berwarna perak mengilap yang lambangnya sering kulihat di majalah otomotif berhenti tepat di depan pagar besi kosanku yang sudah sedikit berkarat. Kontras visualnya begitu jomplang hingga membuat beberapa tetanggaku melongok dari jendela.
Seorang pria paruh baya berseragam sopir yang sangat rapi turun dari mobil. Ia berjalan menghampiriku.
"Nona Senja?" sapa sopir itu dengan nada sangat formal dan sopan. "Saya diutus oleh Nona Clara Beatrice untuk menjemput Anda."
Aku terdiam. Tanganku refleks meremas tali helmku.
Perasaanku mendadak sangat tidak enak. Insting pertamaku adalah menolak dan lari, tapi aku tahu menghindari perempuan seperti Clara hanya akan memperpanjang masalah. Clara bukanlah tipe orang yang akan berhenti atau menerima kata 'tidak' sebelum ia mendapatkan apa yang ia mau. Jika aku lari hari ini, ia mungkin akan datang langsung mengacau di kedaiku.
Dengan perasaan waswas yang membuat perutku mulas, aku menitipkan motorku pada ibu kos dan melangkah masuk ke dalam kursi penumpang sedan mewah tersebut.
Sopir itu tidak membawaku ke kedai kopi atau kafe biasa. Mobil itu membelah jalanan hingga tiba di pelataran sebuah hotel bintang lima di kawasan Jakarta Selatan. Kami naik lift khusus menuju lantai teratas sebuah restoran fine dining super-eksklusif.
Begitu pintu lift terbuka, napasku tertahan.
Restoran itu memiliki konsep open space dengan dinding kaca yang menyajikan pemandangan 360 derajat lanskap kota Jakarta. Namun, yang membuat nyaliku ciut bukanlah pemandangannya, melainkan suasananya.
Lantai restoran ini dilapisi karpet beludru merah marun yang sangat tebal, menelan bunyi langkah sneakers murahan yang kukenakan. Para pelayannya berdiri tegap mengenakan setelan jas yang harganya kutaksir jauh lebih mahal dari seluruh isi lemari bajuku. Alunan musik klasik mengalun sangat pelan, berpadu dengan denting gelas kristal.
Aku merasa luar biasa salah kostum. Aku hanya mengenakan celana bahan hitam pudar dan kemeja flanel kebesaran yang biasa kupakai untuk bersih-bersih pantry. Aku terlihat seperti petugas kebersihan yang tersesat di istana.
Tegakkan kepalamu, Senja. Jangan terlihat menyedihkan, perintah batinku, memaksakan diri melangkah mengikuti hostess restoran.
Clara sudah duduk menunggu di sebuah meja bundar di sudut ruangan yang paling privat, jauh dari tatapan tamu lain. Perempuan itu mengenakan gaun terusan sutra berwarna merah marun. Rambutnya ditata rapi dalam french twist, dan sepasang anting mutiara bertengger manis di telinganya. Ia tampak luar biasa memukau, sangat menyatu dengan kemewahan di sekitarnya. Dia adalah ratu di kastilnya.
"Duduk, Senja. Terima kasih sudah mau datang," sapa Clara tanpa basa-basi, suaranya mengalun tenang.
Ia memberi isyarat ringan dengan jarinya, dan seorang pelayan langsung bergerak cepat menuangkan air mineral ke dalam gelas kristal tinggi di depanku.
Aku duduk di ujung kursi, tubuhku setegang papan kayu. "Ada apa lagi, Mbak Clara? Saya punya kedai yang harus diurus dan pelanggan yang harus dilayani," tanyaku to the point, mencoba menutupi kegugupanku dengan bersikap defensif.
Clara tersenyum. Sebuah senyuman elegan yang tidak sedikit pun menyentuh mata almond-nya.
"Saya hanya ingin mengajak kamu makan siang santai. Sekaligus... melihat pemandangan yang biasa Arka lihat setiap hari," ucap Clara.
Ia mengangkat tangannya yang dihiasi cincin berlian, menunjuk ke luar jendela kaca raksasa di samping kami. Dari lantai puluhan ini, gedung-gedung Jakarta terlihat seperti balok-balok mainan Lego. Mobil-mobil di jalan tol tampak seukuran semut.
"Dari sini, Jakarta terlihat sangat kecil, bukan?" lanjut Clara santai. Matanya melirikku tajam. "Begitulah cara Arka melihat dunia, Senja. Bagi dia, segala sesuatu di bawah sana adalah deretan angka, strategi akuisisi, dan pencapaian. Dia berada di puncak rantai makanan."
Dan aku cuma semut yang sedang diinjaknya, batinku menyambung sarkastis. Aku tidak membalas. Aku membiarkan perempuan itu memainkan perannya.
Seorang pelayan datang membawa hidangan pembuka. Piringnya sangat besar, tapi isinya hanya sepotong scallop kecil yang dihias dengan buih-buih aneh dan saus yang dilukis melingkar. Di samping piringku berjejer tiga jenis garpu dan pisau berbeda ukuran.
Aku bahkan tidak tahu harus menggunakan garpu yang mana untuk memakan kerang sekecil itu. Aku memilih untuk melipat tanganku di pangkuan.
"Kamu tahu, Senja? Minggu depan adalah perayaan ulang tahun pernikahan Om Handoko dan Tante Lita," Clara mulai bercerita sambil memotong ujung scallop-nya dengan gestur yang sangat luwes. "Itu akan menjadi acara gala yang sangat besar. Menteri, pejabat, dan semua pemegang saham kakap akan hadir."
Perutku mulai melilit. Aku punya firasat buruk ke mana arah pembicaraan ini.
"Dan di acara itu, mereka berencana mengumumkan secara resmi pertunangan saya dan Arka ke hadapan publik dan media," Clara mengunyah pelan, menelan makanannya sebelum menatap mataku dengan tatapan mematikan. "Ini bukan soal cinta monyet remaja yang sedang dimabuk asmara, Senja. Ini soal penggabungan dua imperium bisnis raksasa. Menyangkut hajat hidup ribuan karyawan di bawah kami."
Aku menggigit bagian dalam bibirku kuat-kuat untuk menahan getaran di rahangku. "Lalu kenapa Mbak kasih tahu saya? Arka bilang dia tidak setuju dengan perjodohan ini."
Clara tertawa pelan. Suara tawanya terdengar sangat merdu, namun di saat yang sama sukses merendahkan seluruh eksistensiku.
"Arka memang idealis. Dia suka memberontak," Clara meletakkan garpunya. "Tapi Arka bukan orang bodoh. Dia tahu persis konsekuensinya. Jika dia bersikeras memilih untuk mempertahankankan perempuan dari... kasta yang berbeda sepertimu, dia akan kehilangan hak warisnya secara otomatis. Om Handoko akan mencabut posisinya di perusahaan, membekukan asetnya, dan mengambil alih semua proyek yang sedang ia kerjakan."
Clara sengaja memberi jeda, membiarkan kalimat berikutnya menggantung di udara sebelum dijatuhkan seperti bom.
"termasuk proyek mall yang saat ini menjadi satu-satunya pelindung bagi kedai kopi kumuhmu itu."
Deg!.
Darahku serasa berhenti mengalir. Mataku membelalak.
"Jika Arka jatuh, kedai kamu adalah hal pertama yang akan diratakan dengan tanah oleh ayahnya sebagai bentuk balas dendam," desis Clara tajam. Tidak ada lagi nada lembut di suaranya.
"Apa kamu sanggup melihat Arka kehilangan segalanya, hancur lebur, hanya demi keegoisanmu, Senja? Apa kamu sanggup melihat warisan nenekmu dihancurkan rata dengan tanah oleh alat berat, karena kamu memaksakan diri masuk ke dunia yang jelas-jelas menolakmu?"
Kalimat Clara menghantam ulu hatiku. Bukan seperti tamparan, melainkan tusukan belati beracun. Perempuan ini sangat pintar. Dia tidak menyerang perasaanku. Dia tidak memohon padaku untuk menjauhi tunangannya. Ia menyerang hal yang paling kubanggakan: rasa tanggung jawabku.
Apa aku sanggup melihat Arka dihancurkan oleh ayahnya sendiri karena aku?
Tidak!. Tentu saja tidak!. Dadaku sesak luar biasa menyadari bahwa pertahananku baru saja dijebol dengan satu serangan logika yang tak terbantahkan.
"Arka mencintai kedai itu karena dia merasa tenang dan bisa lari dari tanggung jawabnya sebentar. Itu wajar. Pria sesekali butuh tempat bermain," lanjut Clara, melihat keputusasaan yang mulai tergambar di mataku. "Tapi Senja, ketenangan dan secangkir kopi pait tidak bisa membayar gaji puluhan ribu karyawan. Tidak bisa membangun gedung pencakar langit."
Clara membuka tas Hermès-nya. Dengan gerakan elegan, ia mengeluarkan selembar kertas kecil dan meletakkannya di atas meja, mendorongnya tepat ke hadapanku.
Itu adalah selembar cek. Angkanya sudah diisi, dengan deretan nol yang membuat mataku pusing. Uang itu lebih dari cukup untuk membuatku hidup nyaman sepuluh turunan.
"Ambil ini. Pergilah dari Jakarta. Buka kedai yang jauh lebih besar dan bagus di Jogja, di Bali, atau di mana pun yang kamu mau," ucap Clara final. "Biarkan Arka kembali ke jalurnya yang seharusnya. Ke tempat di mana dia seharusnya memimpin."
Aku menatap lembaran kertas berharga miliaran rupiah itu. Hati dan harga diriku perih hingga rasanya aku ingin berteriak. Bukan karena aku tergiur oleh angkanya, tapi karena aku akhirnya disadarkan pada satu kenyataan paling pahit: keberadaanku, cintaku pada Arka, memang hanyalah beban dan racun bagi masa depan pria itu.
Namun, Senja tetaplah Senja. Di tengah kehancuran batinku, aku menolak untuk merangkak di bawah kaki perempuan ini.
Aku mengambil cek itu. Kuletakkan kembali di depan piring Clara.
"Simpan uang Mbak," ucapku. Suaraku yang mulai serak, namun aku memaksanya keluar dengan tegas. Aku berdiri dari kursi mewah berlapis beludru itu, mengabaikan hidangan mahal yang tidak kusentuh sama sekali.
"Saya mungkin miskin di mata Mbak. Kedai saya mungkin kumuh. Tapi harga diri saya tidak bisa dibeli dengan cek, sebesar apa pun nol di dalamnya!!." Aku menatap Clara dengan dagu terangkat. "Kalau Arka memang harus kembali ke dunianya, biarkan itu jadi keputusannya sendiri. Bukan karena saya disogok oleh Mbak!!."
Tanpa menunggu balasannya, aku memutar tumit dan berjalan keluar dari restoran itu dengan langkah cepat. Aku memalingkan wajah, pura-pura tidak melihat tatapan sinis dari para tamu dan pelayan yang memperhatikanku.
Aku terus menahan napas, menekan isakanku dalam-dalam hingga akhirnya pintu lift terbuka dan aku melangkah masuk.
Begitu pintu lift tertutup rapat mengisolasiku dari dunia atas awan itu... pertahananku runtuh seketika.
Kakiku lemas. Aku merosot ke lantai lift yang dingin, menutupi wajahku dengan kedua tangan. Air mata yang sejak tadi kutahan meledak dalam isakan yang menyayat dada.
Aku menangis bukan karena aku merasa kalah dari Clara secara fisik atau materi. Aku menangis karena jauh di lubuk hatiku yang terdalam... aku tahu perempuan itu seratus persen benar.
Cintaku pada Arka Danadyaksa bukanlah obat. Cintaku adalah racun yang pada akhirnya akan menghancurkan semua hal yang selama ini kami berdua perjuangkan. Aku tidak bisa membiarkan Arka hancur karena aku.
Cinta perjuangan n pengorbanan ...
Ea.....🤭🤭
emak emak baperan ini jd ikut guling2 saking so sweetnyaaaa....
Tp q rasa perjalananya akan sangat sulit/Whimper//Whimper/
Deg Degkan tp jg sambil senyum senyum gak jelas😍😍