karena Ayahnya tewas di tangan Arya saat melakukan Pemberontakan Nirmala pergi ke negeri Bharat, guna belajar ilmu kanuragan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Musuh Cinta Juragan Tenzin
Sejak sore itu, ia di suruh menemani latihan Mei Lin. Gadis itu berlatih dengan tekun, namun Tenzin tak mendampingi Mey lin berlatih lagi dan tak ada guru yang mendampinginya, hanya seorang pengawal tua yang sesekali mengawasi dari kejauhan. Membuat kemajuan Mey Lin lambat
Hiaaaaat
Wush
Brugh
Aduuuh
Sore itu saat Mey lin melakukan salah satu jurus yang sulit , ia terjatuh Bintang yang sedang melihat mey Lin berlatih, tanpa sadar mendekat.
“Jika… sudut kakimu sedikit direndahkan, keseimbanganmu akan lebih stabil,” ucapnya pelan.
Mei Lin menoleh cepat, terkejut.
“kak Bintang? Kau mengerti bela diri?” tanyanya dengan mata berbinar, ia sudah menduga jika Bintang bisa beladiri walau tak pernah di perlihatkan.
Bintang segera menunduk. “Sedikit. Ayahku dulu pernah mengajarkan gerakan dasar… sebelum aku di culik.” jawab Bintang sambil menunduk
" Cepat ajari aku kak.” ucap Mey lin cepat
Bintang ragu sejenak, lalu mengambil tongkat kayu pendek yang biasa digunakan untuk mengganjal pintu.
“Ilmu yang kau pelajari mengalir dari bahu ke tangan. Tapi tenaga seharusnya dimulai dari pusat tubuh, bukan lengan,” jelasnya sambil memperagakan gerakan sederhana, sangat sederhana, namun sempurna dalam alur.
Mei Lin mencoba menirukan.
Wuuut
Plak
Mata Mei Lin membelalak.
“ kak Bintang juus ini jadi sangat hebat kak" seru Mey lin senang
Bintang tersenyum tipis. “Karena alirannya tidak terputus.”
Sejak hari itu, Mei Lin sering meminta Bintang mengamatinya berlatih. Bintang tidak pernah menunjukkan jurus tingkat tinggi. Ia hanya membenarkan posisi kaki, arah napas, dan fokus pandangan.
Namun hasilnya luar biasa.
Dalam waktu beberapa bulan, kemajuan Mei Lin melonjak pesat. Bahkan pengawal tua yang biasa mengawasi latihan sampai mengernyit heran.
“Ilmu nona meningkat cepat sekali,” gumamnya.
Bintang berdiri di samping, memegang sapu, sesekali memberi arahan saat mey Lin salah
Sementara di pulau bangau, Arya dan Andini telah sehat kembali, hanya saja luka dalamnya yang parah, menyebabkan tenaga mereka berkurang lebih dari separuh, juga wajah mereka ada luka bakar yang cukup parah
" kak Arya bagaimana dengan Anak kita, Bintang !?" seru Andini yang khawatir akan anaknya
" kita akan mencarinya nanti, saat ini kita terluka dan tak akan mampu melawan para dalai lama itu, kita sembuhkan diri dulu baru kita rencanakan langkah selanjutnya" sahut Arya
" Kak Arya apa wajah dan kepandaian kita akan sembuh?" tanya Andini pelan, sebagai seorang wanita tentu saja ia ingin wajahnya kembali mulus
" seingatku ada, Buah Lin Ce, tapi itu hanya ada di himalaya, dan buah itu hanya matang seratus tahun sekali" jawab Arya pelan
" Jadi kita akan selamanya sepeerti ini?" ucap Andini sedih
" kita obati dulu apa adanya nanti kita cari cara mendapatkan buah Ling Ce " saran Arya pada istrinya, Andini mengangguk
Pagi Itu di rumah besar Juragan Tenzin. keamanan di tambah, Para penjaga dipersenjatai lebih lengkap. Pintu gudang diperiksa berkali-kali. Bahkan wajah Tenzin terlihat jauh lebih tegang dari biasanya.
" apa ada bahaya?" tanya Bintang dalam hati
Sore itu, sebuah rombongan berkuda berhenti di depan gerbang. Debu mengepul. Seorang pria turun dari kuda hitamnya.
Tubuhnya tinggi besar. Janggutnya lebat. Matanya tajam seperti serigala lapar.
Bintang yang sedang mengangkat karung gandum merasakan bulu kuduknya berdiri.
Pria itu melangkah masuk tanpa menunggu izin.
“Tenzin,” suaranya berat dan dingin. “Sudah lama kita tak bertemu.”
Juragan Tenzin keluar dari rumah, wajahnya langsung mengeras melihat siapa yang datang.
" Han Zi" desis Juragan tenzin
Mei Lin yang berdiri di balik pintu mencengkeram lengan bajunya sendiri.
Bintang memperhatikan dari kejauhan.
" He he he, " Han zi tertawa pendek. “Aku dengar kau hidup makmur. mempunyai pemasukan yang besar. Istri cantik. Anak perempuan yang manis.” lanjutnya berkata
" Mau apa kau kemari!" bentak Tenzin
Han Zi melangkah lebih dekat.
“Aku datang menagih sesuatu yang dulu kau rampas.” ucapnya penuh ancaman
Rupanya Han zi dulunya adalah sahabat Tenzin. Mereka membangun jalur dagang bersama. Namun keduanya jatuh cinta pada wanita yang sama, Thia eng, ibu Mei Lin.
dan Thia eng memilih Tenzin yang memang wajahnya lebih tampan dari Han Zi, Han Zi merasa sakit hati, karena Thia Eng memilih Tenzin dari pada dirinya, karena sakit hati ia menantang Tenzin Duel, saat duel ia di kalahkan juga, membuat sakit hatinya bertambah besar.
Ia meninggalkan kota dan tak ada kabarnya sama sekali, sepertinya ia berguru pada orang sakti, dan kini ia kembali untuk membalaskan sakit hatinya
" Dulu kau mengalahkanku, sekarang aku menantangmu kembali!" teriak Hanzi
" baik," sahut Tenzin cepat, ia memimpin jalan ke pelataran depan
" ha ha ha, hari ini aku akan membalas sakit hatiku!" teriak Hanzin senang dan mengikuti Tenzin dari belakang, menuju tempat mereka bertarung.
Saat sampai di Pelataran depan rumah Juragan Tenzin, keduanya saling berhadapan, Angin bertiup kencang, menerbangkan debu-debu kering di antara mereka.
Tenzin, berdiri tegak tangan kanannya memegang sebuah pedang panjang.
Di hadapannya Han Zi berdiri dengan tawa mengejek yang meremehkan. Pria bersenjatakan sepasang golok besar yang berkilauan tertimpa cahaya matahari terbenam.
"Tenzin, Hari ini aku akan membalas kekalahan ku yang dulu!?" teriak Han zi sambil bersiap
" Sadarlah Han Zi kau hanya di butakan oleh amarah" Ucap Tenzin berusaha menyadarkan karena bagaimana pun Han Zi dulunya adalah sahabatnya
" Kau telah merebut kekasihku, kini saatnya aku merebutnya kembali!" teriak Hanzi yang semakin murka
"Han Zi Thia Eng tak pernah menjadi kekasihmu. kau hanya di butakan oleh khayalanmu!" balas Tenzin " jika kau datang untuk mengganggu ketenangan keluargaku, aku tidak punya pilihan selain menghadapimu kembali." Lanjutnya sambil memalangkan pedang panjangnya di depan dada
" Kalau begitu terima serangan ku!"
" Hiaaaaaat!"
" Wush"
Dengan gerakan cepat Han Zi mengayunkan kedua goloknya dengan gerakan menggunting
"Heaaaah"
" Swiiing"
" Traaaang"
Tenzin menangkis serangan pertama dengan gerakan pedang yang presisi. Bunga api memercik saat logam bertemu logam.
mereka saling serang , denting suara pedang beradu dengan sepasang golok memenuhi pelataran itu
Mey Lin dan Thia eng menatap cemas ke arah keduanya, Tenzin adalah suaminya , sedangkan Han Zi adalah sahabatnya yang pernah akrab dan sudah di anggap sebagai kakak oleh Eng, namun Thia eng tak menyangka jika kedekatannya dengan Han Zi dulu di salah artikan oleh Han zZi , Han Zi mengira Thia Eng mencintainya
" Traaaang"
" Traaaang"
kedua nya masih bertarung dengan sengit, Namun, kekuatan Han Zi satu tingkat di atas Tenzin, apalagi semenjak menjadi pengusaha , Tenzin hanya berlatih sebentar saja setiap harinya itu juga agar ia tak lupa akan jurus jurus yang di milikinya.
"Hanya segini kemampuanmu?" Han Zi berteriak seraya memutar tubuhnya, mengirimkan tendangan kuat ke arah dada Tenzin.
"Hiaaaaat"
" Wuuut"
"Sreeet"
Tenzin berusaha menghindar, namun ujung golok Han Zi sempat menyayat lengan bajunya, meneteskan darah ke tanah. Mey Lin yang menonton dari balik pilar rumah menjerit tertahan, air matanya mulai mengalir.
Pertarungan berlanjut selama tiga puluh jurus. Tenzin mulai terengah-engah. Usianya dan rutinitasnya sebagai pedagang telah mengikis sedikit kelincahannya. Puncaknya terjadi ketika Han Zi melakukan gerakan tipuan, ia berpura-pura kehilangan keseimbangan, namun saat Tenzin maju untuk menusuk, Han Zi menghantam pangkal pedang Tenzin dengan punggung goloknya.
" Plaaak"
" Klontraaaang"
" Wuut"
" Bugh"
" Argh"
Pedang Tenzin terlepas dan tertancap di tanah beberapa meter jauhnya. Han Zi tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia menghantamkan tinjunya ke perut Tenzin, membuat pria itu jatuh tersungkur dan memuntahkan darah segar. Han Zi mengangkat goloknya tinggi-tinggi, siap untuk mengakhiri nyawa sahabat lamanya itu.
"Ayah!" teriak Mey Lin histeris. Ia hendak lari mendekat, namun para pengawal menahannya karena terlalu berbahaya.
" Hentikan!"
Tepat saat golok itu hendak diayunkan, satu suara keras membentak di sertai sebuah batu sebesar kepalan tangan melesat mengarah dada Han Zi
"Ting!" Han Zi menangkis batu itu dengan goloknya dan menoleh ke asal batu itu "Siapa yang berani mencampuri urusanku?!" serunya geram
Bintang maju dengan tenang.
"Tuan Han Zi, dulu kau di ampuni sekali oleh tuan Tenzin" ucap Bintang dengan suara rendah namun terdengar jelas di seluruh pelataran. " Pertarungan ini anggap saja seri, jika kau tak puas kau bisa bertanding seminggu lagi" lanjut Bintang Berkata
"Tiga hari?" Han Zi menyeringai. " aku akan memberi waktu tiga hari.Tiga hari lagi, saat matahari tepat di atas kepala, aku akan datang. Jika kau melarikan diri, Tenzin, aku akan meratakan rumah ini dengan tanah."
Han Zi berbalik dan pergi bersama anak buahnya, meninggalkan suasana yang penuh ketegangan.
Malam itu, di dalam ruang kerja Tenzin, suasana sangat suram. Tenzin duduk dengan perban di perut dan lengannya. Thia Eng, istrinya, menangis sambil memegangi tangan suaminya.
"Bintang, kenapa kau melakukan itu?" tanya Tenzin lemah. "Tiga hari tidak akan mengubah apa pun. Jurus Golok Kembarnya lebih baik dari ilmu pedangku. Aku hanya akan mengantarkan nyawa." keluh Tenzin
"Tuan, ilmu pedang anda sebenarnya sangat kuat tetapi banyak kelemahan, bagaimana jika tuan menutup kelemahan itu" ucap Bintang pelan
Tenzin dan Thia Eng tertegun melihat perubahan sikap pelayan mereka. "Apa maksudmu?"
Bintang mengambil pit ( pena) "Pedang Naga milik keluarga Anda adalah ilmu pedang tingkat tinggi , hanya saja ada beberapa bagian yang hilang, jadi banyak kelemahannya" Tutur Bintang
" Iya , memang leluhurku dulu saat mendapatkan kitab itu sudah cukup rusak, ada beberapa bagian yang hilang walau sudah di tambahkan gerakan lain tetap saja masih kurang cocok"tuan Tenzin berkata dengan pelan
" Tuan coba kau perhatikan gerakan ini" Ucap Bintang,
Bintang mulai menggerakkan Pit itu. Gerakannya sangat lambat, namun setiap gerakan membelah udara dengan suara wuuut yang berat. Tenzin, yang sudah bertahun-tahun berlatih bela diri, terbelalak. Ia melihat bagaimana tubuh Bintang bergerak seperti air yang mengalir namun sekuat gunung karang. gerakan bintang menutupi semua kekurangan jurus yang di miliki oleh Tenzin
"Tuan Tenzin, selama tiga hari ini, saya yakin tuan bisa menyempurnakan jurus Pedang Naga Anda," ujar Bintang serius.
" Terima kasih Bintang" ucap Tuan Tenzin terharu, jurus pedang keluarganya menjadi hebat dengan tambahan gerakan yang di buat Bintang.