Vittorio "The Grim Reaper" Genovese adalah puncak rantai makanan di dunia bawah Italia. Dingin, kejam, dan tak tersentuh—sampai sebuah pengkhianatan bom mobil mengakhiri hidupnya. Namun, maut ternyata punya selera humor yang aneh. Vittorio terbangun di tubuh Arjuna, mahasiswa beasiswa tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi "kesialan". Tubuh kurus, kacamata tebal yang pecah, dan hobi menjadi samsak tinju geng kampus.
Dendam Vittorio membara, tapi tantangan terbesarnya bukan membalas budi pada para pembully, melainkan menghadapi Karin, gadis "semprul" tetangga kostnya yang tidak punya urat takut. Karin adalah perpaduan antara kekacauan dan keceriaan yang sering membuat Vittorio—sang raja mafia yang biasanya hanya bicara lewat peluru—kehilangan kata-kata dan martabatnya karena tingkah konyol gadis itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Lagi Arjuna yang Kalian Kenal
Ruang kelas 402 Fakultas Hukum pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya. Bukan karena pendingin ruangan yang baru saja diperbaiki, melainkan karena kehadiran sosok yang duduk di barisan paling belakang. Pria itu, yang biasanya meringkuk di pojok ruangan dengan kepala tertunduk seolah ingin menyatu dengan debu lantai, kini duduk tegak dengan punggung menyandar sempurna pada kursi kayu yang keras.
Vittorio Genovese, dalam raga Arjuna, masih mengenakan kacamata hitam motif macan tutul pemberian Karin. Penampilannya memang konyol—perpaduan antara mahasiswa kurus yang baru sembuh dari sakit dan gaya nyentrik yang salah alamat—namun tidak ada satu pun mahasiswa di ruangan itu yang berani tertawa. Ada sesuatu yang memancar dari pori-pori kulitnya, sebuah tekanan yang tidak terlihat namun sanggup mencekik keberanian siapa pun yang ingin mengejeknya.
"Psst, Juna! Buka kacamata lu, bego! Pak Bambang udah masuk!" bisik Karin yang duduk di sebelah kanannya. Gadis itu menyikut lengan Vittorio dengan keras, tapi pria itu bahkan tidak bergeming.
"Aku sedang memulihkan penglihatanku," jawab Vittorio datar. "Dan berhenti memanggilku 'bego', atau aku akan mempertimbangkan untuk memasukkan kaus kakimu ke dalam mulutmu sendiri."
Karin melongo. "Wih, galaknya... Ampun, Tuan Besar! Gue cuma nggak mau lu kena semprot Pak Bambang. Dia itu singa kampus, tahu!"
Tepat saat itu, Pak Bambang masuk ke kelas. Beliau adalah pria paruh baya dengan dahi lebar dan kacamata yang selalu bertengger di ujung hidung. Ia dikenal sebagai dosen yang tidak memiliki rasa ampun terhadap ketidaksiplinan. Suasana kelas mendadak hening, kecuali suara langkah kaki Pak Bambang yang menggema di ubin.
"Selamat pagi," suara berat Pak Bambang menggelegar. Matanya langsung menyisir ruangan dan berhenti tepat pada sosok yang duduk di pojok belakang dengan kacamata hitam. "Saudara Arjuna? Apa Anda sedang berada di pantai sekarang? Atau Anda pikir kelas saya adalah klub malam?"
Seluruh kelas menahan napas. Biasanya, Arjuna akan langsung melepas kacamatanya, berdiri, membungkuk berkali-kali sambil meminta maaf dengan suara gemetar. Rico dan gengnya di barisan depan sudah bersiap untuk menertawakan adegan memalukan itu.
Namun, Vittorio tetap duduk. Ia perlahan menurunkan kacamatanya ke ujung hidung, memperlihatkan mata Arjuna yang kini tampak setajam sembilu. "Mohon maaf, Pak. Mata saya mengalami cedera serius akibat... insiden tidak terduga semalam. Cahaya lampu yang terlalu terang membuat syaraf mata saya berdenyut. Saya tetap bisa mengikuti materi Anda dengan sangat baik tanpa harus merusak mata saya lebih jauh."
Satu kelas tertegun. Cara bicara Arjuna berubah total. Tidak ada lagi gagap, tidak ada nada memohon. Kalimatnya tersusun rapi, formal, dan penuh percaya diri.
Pak Bambang menaikkan sebelah alisnya. Ia terkesan dengan keberanian itu, namun egonya sebagai dosen senior tidak bisa menerima begitu saja. "Oh, begitu? Baiklah, Arjuna. Jika memang otak Anda tidak terpengaruh oleh 'cedera' tersebut, silakan jelaskan perbedaan mendasar antara Mens Rea dan Actus Reus dalam hukum pidana, serta berikan contoh kasus nyata yang melibatkan teori kausalitas."
Rico menyeringai. Arjuna memang pintar secara akademis, tapi dalam kondisi tertekan seperti ini, biasanya otak pemuda itu akan membeku.
Vittorio berdiri. Gerakannya pelan namun sangat elegan, seolah ia sedang bangkit dari takhtanya untuk memberikan titah. Ia tidak menyentuh buku catatannya sama sekali.
"Hukum pidana mengenal prinsip Actus non facit reum nisi mens sit rea," Vittorio mulai bicara. Suaranya mengisi setiap sudut ruangan, mantap dan berwibawa. "Actus Reus adalah perbuatan lahiriah yang melanggar hukum, sementara Mens Rea adalah niat jahat atau sikap batin dari pelakunya. Seseorang tidak bisa dipidana hanya karena perbuatannya jika tidak ada niat jahat, kecuali dalam kasus strict liability."
Ia menjeda sejenak, menatap Rico yang mulai terlihat gelisah di kursinya.
"Contoh kasusnya? Mari kita ambil contoh sederhana: intimidasi berkelompok di lingkungan kampus. Ketika seseorang melakukan serangan fisik yang mengakibatkan luka berat—itu adalah Actus Reus. Namun, jika tindakan itu dilakukan secara terencana untuk menghancurkan mental korban, itulah Mens Rea yang memperberat hukuman. Dan menurut teori kausalitas Conditio Sine Qua Non, tanpa adanya aksi provokasi dari pelaku, maka kerugian pada korban tidak akan pernah terjadi. Pelaku utama harus memikul tanggung jawab penuh, bukan hanya secara hukum, tapi secara moral... jika mereka masih memilikinya."
Vittorio mengakhiri penjelasannya dengan sebuah seringai tipis yang sangat dingin.
Kelas menjadi sunyi senyap. Pak Bambang terpaku. Penjelasan itu bukan sekadar jawaban dari buku teks; itu adalah penjelasan dari seseorang yang memahami esensi kejahatan dari dalam.
"Jawaban yang... sempurna," gumam Pak Bambang. "Silakan duduk, Arjuna. Dan tetap gunakan kacamata Anda jika memang itu diperlukan."
Vittorio duduk kembali dengan tenang. Karin di sampingnya sampai lupa menutup mulutnya. "Juna... lu kerasukan roh pengacara kondang ya? Gila, tadi keren banget!"
"Dian," desis Vittorio tanpa menoleh.
Setelah kelas berakhir, Vittorio berniat langsung pulang untuk melanjutkan latihan fisiknya. Namun, jalannya di koridor kembali dihadang. Kali ini bukan hanya Rico dan dua centengnya, tapi hampir sepuluh orang anggota 'The Vultures' berkumpul, menutupi jalan keluar.
"Mau lari ke mana lu, pengecut?" Rico berteriak, mencoba mengembalikan harga dirinya yang jatuh di koridor pagi tadi. "Lu pikir karena lu bisa jawab pertanyaan dosen, lu jadi jagoan? Lu tetep si Cupu Arjuna yang nggak punya siapa-siapa!"
Vittorio menghela napas panjang. Ia melepas kacamata macan tutulnya dan menyerahkannya pada Karin. "Pegang ini. Dan menjauhlah sejauh sepuluh meter."
"Juna, jangan gila! Mereka banyak!" Karin mencoba menarik tangan Vittorio.
"Sepuluh meter, Karin. Sekarang," perintah Vittorio dengan nada yang tidak bisa dibantah. Karin, entah mengapa, merasa kakinya bergerak sendiri mengikuti perintah itu.
Vittorio kini berdiri sendirian menghadapi sepuluh orang. Ia tidak mengambil posisi bertarung ala karate atau silat. Ia hanya berdiri santai, tangan di saku celana, namun matanya terus bergerak. Di dunianya, ia sering menghadapi situasi satu lawan banyak. Kuncinya bukan pada kekuatan, melainkan pada kecepatan dan penghancuran mental pemimpinnya.
"Sikat dia!" perintah Rico.
Dua orang maju pertama kali, mencoba memukul wajah Vittorio secara bersamaan. Vittorio tidak mundur. Ia justru maju satu langkah ke depan, masuk ke dalam jarak serang musuh. Dengan gerakan minimalis, ia memiringkan kepalanya, membiarkan tinju lawan lewat beberapa milimeter dari telinganya.
DUAK!
Tanpa mengeluarkan tangan dari saku, Vittorio menggunakan lututnya untuk menghantam ulu hati salah satu penyerang. Saat orang itu membungkuk kesakitan, Vittorio menggunakan sikutnya untuk menekan titik saraf di tengkuk lawan. Satu orang tumbang dalam hitungan detik.
Penyerang kedua mencoba menendang, namun Vittorio menangkap kakinya dan memutarnya sedikit. Suara KREK pelan terdengar, disusul jeritan kesakitan saat sendi pergelangan kaki lawan bergeser.
"Siapa lagi?" tanya Vittorio, suaranya tetap stabil seolah ia hanya sedang memesan kopi.
Anggota geng lainnya ragu-ragu. Mereka melihat dua teman mereka terkapar tanpa sempat memberikan satu pun pukulan. Ini bukan Arjuna. Arjuna tidak tahu cara bertarung seperti ini. Ini adalah teknik efisien seorang pembunuh yang hanya bertujuan untuk melumpuhkan musuh secepat mungkin.
"Maju kalian semua, dasar pengecut!" teriak Rico yang mulai panik.
Empat orang maju sekaligus. Vittorio akhirnya mengeluarkan tangannya dari saku. Ia bergerak seperti bayangan. Ia tidak memukul dengan kepalan tangan, melainkan dengan telapak tangan terbuka dan ujung jari yang menusuk titik-titik lemah: mata, tenggorokan, dan persendian.
Dalam waktu kurang dari tiga menit, koridor itu penuh dengan erangan kesakitan. Delapan orang anggota geng 'The Vultures' tergeletak di lantai, memegangi bagian tubuh yang berbeda. Tidak ada darah yang mengalir banyak, tapi rasa sakit yang mereka rasakan adalah jenis rasa sakit yang melumpuhkan sistem saraf.
Vittorio berjalan perlahan menuju Rico yang kini gemetar di pojokan tembok. Satria dan Budi, dua sahabat setia Rico, sudah lebih dulu melarikan diri entah ke mana.
"Kau ingin bermain, kan?" Vittorio menjulurkan tangannya, mencekik leher Rico dan mengangkatnya sedikit hingga pemuda itu berjinjit. "Dengarkan baik-baik, Rico. Di Italia, orang-orang sepertimu biasanya berakhir di dasar laut dengan kaki terikat beton."
Rico megap-megap, matanya membelalak ketakutan. "A-ampun... Juna... m-maaf..."
"Namaku bukan Arjuna," bisik Vittorio di telinga Rico, suaranya seperti desisan iblis. "Arjuna sudah kau bunuh di gang itu. Dan yang ada di depanmu sekarang adalah sesuatu yang bahkan neraka pun takut untuk menerimanya kembali."
Vittorio melepaskan cengkeramannya, membiarkan Rico merosot jatuh ke lantai. Vittorio mengambil kembali kacamata macan tutulnya dari tangan Karin yang masih berdiri mematung.
"Ayo pergi, Karin. Aku lapar. Aku ingin makan sesuatu yang lebih bergizi daripada mi instan," ucap Vittorio sambil berjalan melewati tubuh-tubuh yang mengerang di lantai tanpa sedikit pun rasa iba.
Karin menyusul dengan langkah seribu, matanya berkaca-kaca antara rasa kagum dan ngeri. "Juna... lu beneran bukan Arjuna yang gue kenal. Lu... lu siapa sebenarnya?"
Vittorio berhenti sejenak, memakai kembali kacamata macan tutulnya, dan menatap langit sore yang mulai berwarna jingga. "Aku adalah orang yang akan memastikan bahwa tidak ada lagi orang yang berani menertawakanmu atau meremehkan apa yang aku miliki. Untuk sekarang, itu saja yang perlu kau tahu."
Karin terdiam. Ia merasakan sebuah perlindungan yang sangat kuat, sebuah rasa aman yang dibalut oleh kegelapan yang pekat. Ia tahu hidupnya tidak akan pernah sama lagi sejak hari ini.
"Oke, Tuan Mafia Halu," Karin mencoba mencairkan suasana dengan candaan khasnya, meski suaranya sedikit bergetar. "Karena lu udah jago berantem, upahnya lu harus gendong gue ke depan gerbang! Capek tahu nungguin lu berantem!"
Vittorio melirik Karin dengan pandangan dingin, namun ada sedikit kilatan geli di matanya. "Dalam mimpimu, wanita semprul."
Mereka berjalan menjauh dari gedung fakultas, meninggalkan legenda baru yang akan meledak di seluruh kampus esok hari. Tentang si Cupu Arjuna yang dalam satu hari berubah menjadi monster yang tak terkalahkan. Dendam pertama telah terbayar, namun bagi Vittorio Genovese, ini hanyalah pemanasan. Karena musuh yang sebenarnya—mereka yang membuat Arjuna menjadi yatim piatu dan mereka yang mengkhianati Vittorio di Italia—masih ada di luar sana, menanti giliran mereka untuk merasakan dinginnya maut.
"Juna! Jangan cepet-cepet jalannya! Kaki gue pendek nih!"
Vittorio tidak melambat, namun ia memastikan Karin tetap berada dalam jangkauan perlindungannya. Hari itu, kampus menyadari satu hal: Arjuna yang mereka kenal telah tiada. Dan predator baru telah mengambil alih wilayah kekuasaan.
lanjut kkk👍
aq ngakak 😄🤣😄🤣😄🤭
lucu bnget cemburu ny si vittrio🤣😄🤣😄🤭 lanjut kk👍
kocak bnget,,,,👍
laen x cukup sederhana tp berkesan saja🤭
karin udh gak malu lg yaa peluk2 vittrio depan orng🤭
mna manja lg
🤣😄🤭
dri pda karin pke daster kuning bikin syilau mata mu😄🤣😄🤣🤭