NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Guru Misterius

Obsesi Sang Guru Misterius

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: who i am?

Sinopsis / Deskripsi
Adella hanyalah seorang perempuan sederhana yang menjalani hidup dengan ritme yang tenang—mungkin terlalu tenang hingga terasa hampa. Kesehariannya berubah ketika ia bertemu dengan sosok pendidik yang karismatik, seseorang yang menawarkan "kehangatan" dan perhatian yang belum pernah Adella rasakan sebelumnya.
Bagi Adella, guru ini adalah pelindung, tempatnya bersandar dari kerasnya dunia. Namun, di balik tutur kata yang lembut dan tatapan yang menenangkan, tersimpan rahasia gelap yang tersusun rapi di balik dinding rumahnya yang sunyi.
Satu per satu kejanggalan mulai muncul. Perhatian yang semula terasa manis perlahan berubah menjadi obsesi yang menyesakkan. Adella segera menyadari bahwa kehangatan yang ia dambakan bukanlah sebuah pelukan, melainkan sebuah jerat. Di dunia yang penuh intrik ini, Adella harus memilih: tetap terbuai dalam kenyamanan yang semu, atau melarikan diri sebelum ia menjadi bagian dari koleksi rahasia sang guru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Adella berdiri di depan lubang pembuangan sampah berbahan baja tahan karat itu. Bau sisa makanan dan kertas lembap menguar dari sana, sebuah aroma yang sangat kontras dengan kemewahan marmer di lantai-lantai atas Menara Adwan. Namun, baginya, lubang gelap ini adalah satu-satunya celah menuju kebebasan yang tidak dijaga oleh mata-mata elektronik maupun manusia-manusia berseragam safari.

Di luar koridor, suara teriakan tim keamanan semakin mendekat. Viona pasti sudah memberikan instruksi melalui frekuensi radio internal. Mereka tidak lagi mencari siswi yang hilang; mereka sedang memburu penyusup yang baru saja menghapus fondasi kekaisaran mereka.

"Kamu ingin aku menjadi mahakarya, kan, Pak?" bisik Adella sambil memejamkan mata. "Inilah seninya."

Dengan dorongan adrenalin yang mengalahkan rasa mualnya, Adella meluncur masuk ke dalam lubang pembuangan.

Dunia seolah berputar. Adella merasakan tubuhnya menghantam dinding-dinding logam yang dingin saat ia meluncur turun melalui pipa raksasa yang menghubungkan puluhan lantai. Kegelapan total menyelimutinya, hanya diselingi oleh bunyi benturan keras setiap kali ia melewati sambungan pipa. Rasa sakit menjalar di bahu dan pinggangnya, namun ia menahan teriakan. Di titik ini, rasa sakit adalah bukti bahwa ia masih memiliki kendali atas tubuhnya sendiri.

Bruk!

Ia mendarat di atas tumpukan kantong plastik hitam besar di ruang pengumpulan limbah lantai dasar. Udara di sini terasa berat dan menyesakkan, namun Adella segera bangkit. Ia tidak punya waktu untuk memeriksa apakah ada tulangnya yang retak.

Ia merangkak keluar dari tumpukan sampah, bajunya kini kotor oleh debu dan noda cair, sangat jauh dari citra Adella yang rapi dan polos di sekolah. Namun, di balik kekacauan itu, matanya berkilat dengan kecerdasan yang tajam. Ia mengintip melalui celah pintu geser ruang limbah yang menuju ke area pemuatan barang di bagian samping gedung.

Di luar sana, suasana kacau balau. Karyawan-karyawan gedung berlarian keluar karena alarm kebakaran yang terus meraung. Beberapa unit mobil pemadam kebakaran mulai berdatangan, namun mereka tertahan oleh kerumunan orang yang panik.

Adella melihat sedan hitam itu. Pak Adwan masih berdiri di sana, di tengah kepanikan massal, seperti karang yang tak tergoyahkan oleh ombak. Pria itu tidak melihat ke arah pintu keluar utama; ia justru perlahan memutar tubuhnya, menatap ke arah jalur logistik dan pembuangan sampah. Seolah-olah ia memiliki indra keenam yang memberi tahu di mana mangsanya akan muncul.

Adella segera menarik diri kembali ke dalam bayangan. Dia tahu. Pak Adwan tidak sedang mencari secara acak; dia sedang memprediksi setiap langkah logis yang akan diambil oleh otak Adella yang "pandai".

"Kalau begitu, aku harus melakukan sesuatu yang tidak logis," gumam Adella.

Bukannya lari menjauh dari gedung, Adella justru kembali masuk ke dalam koridor internal lantai dasar menuju ruang kendali mekanik. Ia tahu bahwa di setiap gedung pintar seperti Menara Adwan, ada sistem bypass manual untuk pipa gas dan air yang tidak terhubung dengan jaringan digital pusat. Jika ia telah menghancurkan data, sekarang saatnya ia menghancurkan kendali fisik Pak Adwan atas tempat ini.

Di dalam ruang mekanik, Adella menemukan katup utama untuk sistem fire suppression berbasis gas inert—sistem yang sama yang hampir membunuhnya di perpustakaan. Ia teringat bagaimana Pak Adwan sangat bangga dengan teknologi ini.

"Mari kita lihat bagaimana rasanya terjebak dalam koleksimu sendiri, Pak," Adella memutar katup itu dengan seluruh kekuatannya.

Ia tidak melepaskan gasnya, tapi ia menyabotase sensor tekanan sehingga sistem akan membaca bahwa ada kebocoran besar di seluruh lantai dasar. Dalam hitungan detik, protokol keamanan gedung akan mengunci semua pintu keluar secara otomatis untuk mencegah penyebaran "kebocoran" tersebut—sebuah sistem isolasi yang dirancang untuk melindungi aset, namun kini akan menjadi penjara bagi siapa pun yang ada di dalamnya.

Bzzzt... Clack!

Pintu-pintu kaca tebal di lobi utama mengunci dengan suara dentuman hidrolik yang berat. Orang-orang yang masih terjebak di dalam lobi mulai panik, memukul-mukul kaca. Pak Adwan, yang berada tepat di luar pintu kaca, kini terpisah dari pasukan keamanannya yang masih ada di dalam gedung.

Adella melihat pemandangan itu dari celah jendela ruang mekanik. Untuk pertama kalinya, ia melihat raut kebingungan—atau mungkin amarah yang sangat dalam—di wajah Pak Adwan. Pria itu menempelkan telapak tangannya ke kaca tebal yang kini tidak bisa dibuka bahkan dengan kartu emas sekalipun karena sistem sedang dalam mode Hard Lockdown.

Namun, kemenangan Adella belum lengkap. Di belakangnya, pintu ruang mekanik didobrak paksa.

Viona berdiri di sana, napasnya tersenggal, wajahnya merah padam karena amarah. Di tangannya, ia memegang sebuah alat kejut listrik bertegangan tinggi.

"Kamu benar-benar menghancurkan semuanya, Adella!" teriak Viona. "Kamu tahu apa yang akan dilakukan keluarga Adwan padaku karena membiarkanmu melakukan ini? Aku lebih baik membawamu mati bersamaku daripada melihat mereka menghancurkanku!"

Adella berdiri dengan tenang, tangannya menggenggam kunci inggris besar yang ia ambil dari meja perkakas. "Keluarga Adwan tidak pernah peduli padamu, Viona. Kamu hanya asisten laboratorium yang bisa diganti. Kamu pikir Pak Adwan akan menyelamatkanmu dari dalam sini?"

"Diam! Kamu tidak tahu apa-apa tentang kesetiaan!" Viona menerjang maju.

Perkelahian itu terjadi di ruang sempit yang dipenuhi pipa-pipa panas. Viona menyerang dengan liar, namun Adella bergerak dengan presisi. Setiap gerakan Adella adalah kalkulasi. Ia menghindari sengatan alat kejut itu dengan menggeser tubuhnya hanya beberapa milimeter, membiarkan Viona menghantam pipa uap.

Sssshhhhh!

Uap panas menyembur keluar, mengenai bahu Viona. Gadis itu menjerit kesakitan, menjatuhkan alat kejutnya. Adella tidak membuang kesempatan. Ia tidak memukul Viona; ia justru menggunakan kunci inggrisnya untuk menjepit pergelangan tangan Viona ke struktur pipa baja.

"Dengarkan aku, Viona," bisik Adella tepat di wajah teman sebangkunya itu. "Pak Adwan ada di luar sana. Dia aman. Dan kita di sini, terkunci dalam sistem yang dia banggakan. Apakah kamu masih merasa menjadi bagian dari 'kami' sekarang?"

Viona menangis, bukan karena sakit fisik, tapi karena kenyataan pahit yang baru saja disuarakan oleh Adella. Ia melihat ke arah monitor CCTV yang masih menyala di ruang mekanik. Di sana, di layar yang retak, terlihat Pak Adwan sedang berbicara dengan tenang kepada petugas polisi yang baru sampai, menunjuk ke arah gedung seolah-olah dia adalah korban dari sabotase gila seorang siswi.

"Dia... dia akan membuang kita berdua," isak Viona.

"Tidak jika kita memberikan mereka alasan untuk menangkapnya sekarang juga," Adella melepaskan cengkeramannya pada Viona. Ia mengambil ponsel Viona yang terjatuh. "Viona, kamu punya rekaman bimbingan belajar kita, kan? Rekaman yang tidak ada di server pusat, yang kamu simpan di akun pribadi sebagai 'asuransi' jika Pak Adwan membuangmu?"

Viona terdiam, matanya beralih antara Adella dan pintu yang terkunci. Ia menyadari bahwa Adella telah membaca motifnya sejak lama. Viona memang mata-mata, tapi dia adalah mata-mata yang cukup cerdas untuk menyimpan rahasia sebagai jaminan nyawanya sendiri.

"Password-nya adalah tanggal menghilangnya Nadia," bisik Viona lemas.

Adella segera mengetikkan kode tersebut. Sebuah folder tersembunyi terbuka. Di dalamnya bukan hanya video Adella, tapi rekaman audio Pak Adwan yang sedang merencanakan "penghilangan" beberapa siswi lain yang dianggapnya gagal. Ini adalah bukti yang tidak bisa dihapus oleh kekuasaan keluarga Adwan, karena ini disimpan di server cloud pihak ketiga yang tidak terafiliasi dengan yayasan.

"Sekarang, kita harus keluar dari sini," Adella membantu Viona berdiri.

"Tapi pintunya terkunci hard lockdown," kata Viona.

Adella menunjuk ke arah peta sirkulasi udara gedung di dinding. "Ada jalur ventilasi yang menuju ke atap. Dari atap, kita bisa menggunakan derek pembersih kaca untuk turun ke sisi belakang gedung yang tidak dijaga."

Mereka berdua mulai memanjat. Di dalam saluran udara yang sempit, Adella merasakan kelelahan yang luar biasa, namun ia terus bergerak. Ia memikirkan ayahnya, pengkhianatan di rumahnya, dan bagaimana Pak Adwan telah mencuri masa mudanya. Segala rasa sakit itu kini menjadi bahan bakar yang tidak akan padam.

Sesampainya di atap gedung, udara malam yang dingin menyapu wajah mereka. Menara Adwan yang biasanya gemerlap kini gelap gulita, berdiri seperti monumen kegagalan di tengah kota.

Adella melihat ke bawah. Pak Adwan masih ada di sana. Kali ini, pria itu sedang menatap ke atas, ke arah atap. Meskipun jarak mereka puluhan meter, Adella bisa merasakan tatapan pria itu. Pak Adwan mengangkat tangannya, melakukan gerakan seperti sedang memegang pulpen dan menulis di udara.

Aku belum selesai denganmu.

Adella tidak membalas. Ia bersama Viona segera mengaktifkan derek pembersih kaca. Saat mereka mulai meluncur turun secara perlahan di sisi gedung yang gelap, Adella menekan tombol "Kirim" pada ponsel Viona.

Pesan itu ditujukan ke seluruh kontak media, aktivis hak asasi manusia, dan akun anonim yang selama ini memantau kasus orang hilang di kota itu. Judul pesannya singkat: "Daftar Koleksi Pak Adwan."

Saat kaki Adella menyentuh tanah di gang belakang gedung, ia mendengar suara gaduh dari arah depan. Sirine polisi semakin banyak, namun kali ini mereka tidak datang untuk menjemput Adella. Mereka datang karena tekanan publik yang mulai meledak di media sosial dalam hitungan detik setelah bukti tersebut tersebar.

Viona menatap Adella dengan bingung. "Kita lari sekarang?"

"Kamu lari, Viona. Pergilah ke tempat yang jauh," kata Adella sambil menyerahkan ponsel itu kembali. "Aku punya satu urusan lagi yang harus diselesaikan."

"Kamu mau ke mana?"

Adella menatap kembali ke puncak menara yang gelap. "Aku akan menemui pria itu di satu-satunya tempat di mana dia tidak bisa menggunakan kuasanya."

Bab 16 berakhir dengan Adella yang berjalan keluar dari gang, menuju kerumunan polisi dan wartawan di depan gedung. Ia tidak bersembunyi. Ia berjalan tepat ke arah Pak Adwan yang sedang dikelilingi oleh para pengacaranya.

Saat Pak Adwan melihat Adella muncul dari balik kegelapan dengan baju yang kotor dan mata yang menantang, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pria itu menurunkan pulpennya.

"Pelajaran selesai, Pak," ujar Adella dengan suara yang tenang, cukup keras untuk didengar oleh mikrofon wartawan yang ada di sana.

Namun, di tengah hiruk pikuk itu, Pak Adwan hanya membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh Adella: "Ini baru babak pendahuluan, Adella. Kamu lupa... aku masih punya kunci ke rumahmu."

Adella membeku. Pengkhianatan ayahnya bukan hanya soal utang, tapi soal akses. Perang ini akan berlanjut ke tempat yang paling sakral: Kamar tidur Adella.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!