NovelToon NovelToon
Sial! Aku Bereinkarnasi Jadi Penjinak Cacing Terlemah

Sial! Aku Bereinkarnasi Jadi Penjinak Cacing Terlemah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Reinkarnasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Mati karena kelelahan melayani 10 istri cantik? Itu adalah akhir paling konyol dalam hidup Arka. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlahir kembali sebagai Reno, seorang pemuda miskin di desa terpencil dunia Beast Tamer.
Di dunia di mana kekuatan ditentukan oleh hewan kontrak, Reno justru menjadi bahan tertawaan karena hanya mampu menjinakkan seekor cacing tanah kecil yang lemas. Semua orang menghinanya, menganggap masa depannya telah berakhir sebagai petani rendahan.
Tapi mereka tidak tahu... cacing itu bukanlah cacing biasa. Di dalam tubuh kecil itu, bersemayam jiwa Nidhogg, Naga Kuno legendaris yang pernah memusnahkan sebuah negara dalam satu malam!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hadiah Untuk Ayah Dan Ibu

Episode 4

Matahari sudah hampir tenggelam sepenuhnya di ufuk barat, menyisakan semburat warna jingga dan ungu yang memanjakan mata. Reno berjalan memasuki perbatasan Desa Tanah Merah dengan langkah yang terasa lebih ringan. Di bahunya, ia memikul tas kain yang kini terasa lebih berat, namun berat itu justru membuatnya tersenyum.

Di dalam tas itu, selain obat obatan untuk lengannya, tersimpan rahasia yang bisa mengubah hidup keluarganya.

"Manusia, baunya sudah sangat menggoda. Berhenti berjalan dan biarkan aku makan sekarang juga!" Nidhogg meronta ronta di dalam kantong baju Reno. Aroma daging sapi segar yang dibeli Reno di kota tadi benar-benar menyiksa nafsu makan sang naga kuno yang sedang terjebak dalam tubuh cacing itu.

"Sabar, Nidhogg. Kau sudah menunggu seribu tahun untuk bangun, menunggu satu jam lagi tidak akan membunuhmu," bisik Reno pelan sambil melirik ke sekeliling, memastikan tidak ada warga desa yang memperhatikannya. "Kalau aku memberimu makan di sini dan seseorang melihat cacing kecil memakan daging sapi seberat dua kilogram, rahasia kita akan terbongkar dalam semalam."

"Cih! Kau terlalu banyak berhati hati. Tapi baiklah, aku akan menunggu sampai kita di tempat yang aman," balas Nidhogg meski dengan nada yang sangat tidak puas.

Begitu sampai di halaman rumahnya, Reno melihat ibunya sedang duduk di depan pintu, memilah beberapa ikat kangkung liar untuk makan malam. Wajah Siti langsung berbinar saat melihat sosok anaknya muncul dari balik pepohonan.

"Reno! Syukurlah kau sudah pulang. Ibu sudah mulai khawatir karena hari sudah hampir gelap," Siti bangkit dan segera mendekati anaknya.

"Maaf, Bu. Tadi di kota antrean tabibnya agak panjang," Reno berbohong dengan lancar. Ia meletakkan tas kainnya di atas meja kayu di teras rumah. "Oh ya, Bu. Di jalan pulang, Reno bertemu dengan seorang pedagang keliling yang baik hati. Reno membantunya memperbaiki roda keretanya yang terjepit batu, dan sebagai imbalannya, dia memberi Reno beberapa hal ini."

Reno mulai mengeluarkan barang-barang dari tasnya. Pertama, ia mengeluarkan sebungkus roti putih yang empuk dan harum, lalu sebuah toples kecil berisi madu hutan, dan terakhir... sebungkus besar daging sapi segar yang masih berwarna merah cerah.

Mata Siti membelalak. Ia menutup mulutnya dengan tangan, seolah tidak percaya dengan apa yang ia lihat. "Daging? Reno... ini... ini daging sapi? Terakhir kali kita makan daging adalah setahun yang lalu saat hari raya."

"Bukan cuma itu, Bu. Ini ada sedikit uang koin perak yang tersisa dari imbalan pedagang itu. Simpanlah untuk keperluan dapur," Reno menyerahkan tiga keping perak ke tangan ibunya. Ia menyimpan sepuluh keping lainnya di dalam saku rahasia di ikat pinggangnya untuk biaya pendaftaran akademi nantinya.

Siti gemetar memegang koin perak itu. Air mata perlahan mengalir di pipinya yang mulai keriput. "Gusti... kau sangat baik, Nak. Tapi apakah ini tidak berlebihan? Apakah pedagang itu benar-benar memberikan semua ini hanya karena bantuan kecil?"

"Dunia ini penuh orang baik, Bu. Jangan khawatir," Reno tersenyum sambil memeluk pundak ibunya. Di dalam hati, ia merasa sedikit bersalah karena terus berbohong, namun ia tahu ini demi keselamatan mereka semua.

Tak lama kemudian, Pak Darman pulang dari sawah. Saat melihat jamuan mewah di atas meja, reaksi sang ayah tidak jauh berbeda dengan Siti. Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun tahun, gubuk kecil mereka dipenuhi oleh aroma harum tumis daging dan tawa bahagia. Reno merasa hatinya hangat. Di kehidupan lamanya, ia bisa membeli restoran bintang lima sekalipun, tapi ia tidak pernah merasakan kehangatan yang sejati seperti ini. Di sana, semua orang mendekatinya karena uang. Di sini, ia dicintai karena ia adalah Reno.

Tengah malam tiba. Suasana desa sudah sangat sunyi. Hanya terdengar suara angin yang sesekali menggoyang dedaunan pohon kelapa di samping rumah.

Reno duduk bersila di atas lantai kayu kamarnya. Di depannya, Nidhogg sudah keluar dari persembunyiannya. Cacing itu menatap sebongkah besar daging sapi mentah yang sengaja Reno sisihkan untuknya.

"Makanlah. Kau bilang kau butuh energi, kan?"

Tanpa menunggu perintah kedua, Nidhogg menerjang daging itu. Pemandangan selanjutnya adalah sesuatu yang sulit dijelaskan dengan logika. Meskipun Nidhogg berukuran sangat kecil, mulutnya terbuka lebar secara tidak wajar, menampakkan deretan gigi halus yang berpendar hitam. Daging sapi itu perlahan lahan menghilang, bukan dikunyah, melainkan seperti disedot ke dalam lubang hitam.

Dalam waktu kurang dari lima menit, daging seberat satu kilogram habis tak berbekas.

Tubuh Nidhogg mulai berpendar. Warna merah tuanya semakin pekat, dan garis hitam di punggungnya kini mulai menonjol ke luar, membentuk gerigi-gerigi kecil yang tajam.

"Akhirnya... rasa lapar yang membakar ini sedikit mereda," Nidhogg mendesah puas. Tubuhnya kini berukuran sedikit lebih panjang, sekitar lima belas sentimeter. "Dengar, Reno. Tahap evolusi pertamaku hampir tiba. Aku bisa merasakannya. Tapi daging hewan ternak biasa tidak akan cukup. Aku butuh 'Batu Evolusi' atau setidaknya sepuluh Inti Binatang Tingkat Perunggu lainnya."

"Tunggu, jangan terlalu cepat," potong Reno. "Kita harus bicara tentang Akademi. Jika aku masuk ke sana, bagaimana caramu menyembunyikan kekuatanmu? Semua orang di sana adalah penjinak berpengalaman. Mereka akan tahu jika seekor cacing memiliki energi naga."

Nidhogg bergerak melingkar, seolah sedang berpikir. "Aku bisa menekan auraku. Selama aku tidak menggunakan teknik Soul Devour, aku akan terlihat seperti cacing tanah biasa di mata mereka. Namun, kau juga harus berlatih. Kontrak kita adalah kontrak jiwa dua arah. Jika tubuhmu lemah, energiku tidak akan bisa tersalurkan dengan maksimal."

"Apa yang harus kulakukan?" tanya Reno serius.

"Meditasi Inti. Aku akan mengalirkan sedikit energi naga ku ke dalam aliran darahmu setiap malam. Rasanya akan sangat sakit, seperti pembuluh darahmu dibakar. Tapi jika kau bisa bertahan, fisikmu akan setara dengan ksatria tingkat tinggi dalam beberapa bulan."

Reno menarik napas panjang. "Sakit, ya? Setelah semua yang ku lalui di kehidupan sebelumnya, aku tidak takut pada rasa sakit fisik. Lakukan saja."

Nidhogg menempelkan tubuhnya ke pergelangan tangan Reno. Seketika, sebuah simbol lingkaran sihir kecil muncul di kulit Reno.

DEG!

Reno membelalak. Matanya memerah dan giginya ber'gemeretak menahan rasa sakit yang luar biasa. Ia merasa seperti ada cairan logam panas yang dipompakan masuk ke dalam jantungnya. Keringat dingin mengucur deras membasahi bajunya.

Satu jam... dua jam...

Reno terus bertahan dalam posisi bersila meski tubuhnya gemetar hebat. Ia menggunakan tekad bajanya untuk menekan rasa sakit itu. Ia membayangkan sepuluh istrinya dulu yang selalu menuntut stamina darinya, jika ia bisa bertahan menghadapi mereka setiap malam maka ia pasti bisa bertahan menghadapi energi naga ini!

Menjelang subuh, pendaran cahaya itu menghilang. Reno jatuh tersungkur ke lantai, napasnya memburu, namun ada sesuatu yang berbeda. Ia merasa setiap serat ototnya menjadi lebih padat. Indranya menjadi lebih tajam, ia bisa mendengar suara langkah kaki seekor semut di dinding kamarnya.

"Luar biasa..." bisik Reno sambil mengepalkan tangannya. Kekuatannya setidaknya meningkat dua kali lipat hanya dalam satu malam.

Pagi harinya, Reno bersiap siap untuk berangkat ke alun-alun desa. Hari ini adalah hari keberangkatan para calon murid akademi menuju Kota Hijau untuk mengikuti tes seleksi.

"Reno, kau yakin akan pergi sekarang?" Siti menatap anaknya dengan cemas. Ia membawakan bekal roti dan madu yang dibeli Reno kemarin.

"Iya, Bu. Peluang ini tidak datang dua kali. Reno ingin membuktikan bahwa anak petani pun bisa menjadi penjinak yang hebat," jawab Reno sambil mencium tangan ibunya.

Pak Darman memberikan sebuah kantong kain kecil berisi beberapa koin perunggu tabungan terakhirnya. "Bapak tahu ini tidak banyak, tapi gunakanlah untuk biaya penginapan di kota nanti."

Reno menerima koin-koin itu dengan rasa haru. Ia tidak akan mengatakan bahwa ia punya lebih banyak perak di ikat pinggangnya. Bagi ayahnya, koin perunggu ini adalah simbol harapan.

Saat Reno berjalan menuju alun-alun, ia melihat kerumunan orang sudah berkumpul. Di sana, sebuah kereta kuda mewah milik keluarga Kepala Desa sudah bersiap. Bagas, sang bully, duduk di atas kuda dengan gaya angkuh, didampingi oleh serigala abu abunya yang terlihat gagah.

"Hoi, Reno! Kau benar-benar nekat ikut?" teriak Bagas sambil tertawa mengejek. "Kau mau mendaftar dengan cacing itu? Hati-hati, jangan sampai cacing mu ke injak penguji saat tes nanti! Hahaha!"

Para pengikut Bagas ikut tertawa terbahak bahak. Lani, yang juga ada di sana bersama ayahnya, menatap Reno dengan tatapan khawatir. Ia ingin mendekat, namun ayahnya menahan lengannya, seolah tidak ingin anaknya terlalu dekat dengan si pembawa sial dari keluarga miskin itu.

Reno tidak membalas. Ia hanya berjalan melewati mereka dengan tatapan lurus ke depan.

"Reno, biarkan aku menggigit kaki kudanya! Aku ingin melihatnya jatuh tersungkur di lumpur!" Nidhogg berbisik geram.

"Sabar, Nidhogg," balas Reno dingin. "Kita tidak butuh panggung di desa kecil ini. Panggung kita adalah di akademi nanti. Saat waktunya tiba, mereka semua tidak akan hanya tertawa, tapi mereka akan berlutut."

Reno menaiki gerobak kayu komunal yang disediakan desa untuk warga miskin yang ingin ke kota. Perjalanan panjang menuju masa depan yang penuh darah dan ambisi baru saja dimulai. Di dalam kantongnya, sang naga kecil mulai mendengkur, bersiap untuk tantangan yang lebih besar.

Reno menatap ke arah langit yang luas. Arka sudah mati. Sekarang, dunia ini akan mengenal namaku. Reno, sang penjinak cacing yang akan mengguncang langit.

1
Bambang Hartono
lanjutkan
Jack Strom
Tanggung dah... 😁
Jack Strom
Hmmm... 🤔
Jack Strom
Biasa, lawan berlapis... hehehe 😛
Jack Strom
Hajar!!! 😁
Jack Strom
Wow, alasan Raka sangat logis... Tapi, benarkah? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Aneh... 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Mantap.. 😁
Jack Strom
Waduh, Raka mulai mengancam... 🤔
Jack Strom
Sandiwara satu babak kah dengan Bagas? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Ayo, bertarung... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Ayo, berpetualang... 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Aduh, sumber masalah jadi lolos... 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!