NovelToon NovelToon
Mendadak Hamil

Mendadak Hamil

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Rubi Casandra, seorang yatim piatu yang hidup di panti asuhan, mendadak bertransmigrasi ke tubuh wanita lain yang memiliki nama sama dengannya. Ia terkejut saat mengetahui dirinya sedang hamil empat bulan dan telah menjadi istri dari Alexander Dimitri, seorang pengusaha sekaligus mafia paling ditakuti di Eropa.

Terjebak dalam kehidupan yang bukan miliknya, Rubi harus menghadapi berbagai rahasia, intrik, dan bahaya yang mengancam. Di tengah pernikahan yang terpaksa, akankah ia mampu bertahan atau justru jatuh cinta pada sang mafia yang berhati dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangan

Malam setelah percakapan di balkon itu, Rubi tidur jauh lebih nyenyak.

Entah karena kata-kata Alexander yang terus terngiang di kepalanya atau karena bayi dalam kandungannya sedang tidak terlalu aktif, yang jelas untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir ia tidak terbangun berkali-kali di tengah malam.

Saat membuka mata keesokan paginya, sinar matahari sudah memenuhi kamar.

Rubi menguap pelan lalu mengusap perutnya yang semakin besar.

"Selamat pagi."

bisiknya.

Seperti biasa, sebuah gerakan kecil langsung terasa dari dalam.

Membuat senyumnya mengembang.

"Ayahmu pasti sudah bekerja."

lanjutnya sambil tertawa kecil.

Seolah mengerti, bayi itu kembali bergerak.

Rubi perlahan turun dari tempat tidur. Namun baru beberapa langkah, ia merasa sedikit pusing.

Tidak terlalu parah.

Hanya sesaat.

Karena itu ia tidak terlalu memikirkannya.

Mungkin karena bangun terlalu cepat.

---

Di ruang makan, Alexander sudah menunggu.

Belakangan ini pria itu memang lebih sering menyesuaikan jadwalnya dengan Rubi.

Jika dulu ia selalu memulai hari dengan pekerjaan, sekarang ia lebih memilih sarapan bersama terlebih dahulu.

Perubahan yang membuat seluruh penghuni mansion diam-diam terkejut.

Karena Alexander Dimitri yang dulu bahkan sulit ditemukan saat pagi hari.

"Kau terlambat."

ucap Alexander saat melihat Rubi masuk.

Rubi langsung duduk di kursinya.

"Kau bilang itu setiap hari."

balasnya.

"Karena memang setiap hari."

Rubi mendengus pelan.

Membuat sudut bibir Alexander sedikit terangkat.

Sarapan berlangsung seperti biasa.

Rubi bercerita tentang mimpi aneh yang dialaminya semalam.

Sedangkan Alexander mendengarkan sambil sesekali memberi tanggapan singkat.

Bagi orang lain mungkin percakapan mereka terlihat biasa saja.

Namun bagi keduanya, kebiasaan sederhana itu sudah menjadi bagian penting dalam hidup mereka.

---

Setelah sarapan selesai, Alexander harus menghadiri rapat penting dengan beberapa mitra bisnis.

Sebelum pergi, pria itu sempat menghampiri Rubi yang sedang duduk di ruang keluarga.

"Jangan berjalan terlalu jauh."

ucapnya.

Rubi langsung menggeleng.

"Baik, Ayah."

Alexander mengangkat alis.

"Lucu?"

"Sangat."

jawab Rubi.

Pria itu menghela napas pasrah.

Kemudian pergi.

Begitu Alexander menghilang dari pandangan, Rubi langsung tersenyum sendiri.

Kadang ia masih sulit percaya bahwa pria yang ditakuti banyak orang itu bisa menjadi sangat cerewet jika menyangkut dirinya.

---

Menjelang siang, cuaca berubah mendung.

Awan hitam mulai memenuhi langit.

Angin bertiup cukup kencang.

Rubi yang sedang membaca buku di perpustakaan akhirnya memutuskan kembali ke kamar.

Namun saat berjalan di koridor lantai dua, tiba-tiba langkahnya terhenti.

Rasa nyeri yang cukup tajam muncul di bagian bawah perutnya.

"Akh..."

Rubi refleks memegang perutnya.

Rasa sakit itu hanya berlangsung beberapa detik sebelum menghilang.

Namun cukup membuat wajahnya pucat.

"Nyonya muda?"

Seorang pelayan yang kebetulan lewat langsung menghampiri.

"Apa Anda baik-baik saja?"

Rubi berusaha tersenyum.

"Iya."

jawabnya pelan.

"Mungkin hanya kelelahan."

Meski begitu, pelayan tersebut tetap terlihat khawatir.

Dan ternyata firasatnya benar.

Karena tidak lama kemudian rasa nyeri itu kembali muncul.

Kali ini sedikit lebih kuat.

---

Dalam waktu singkat mansion menjadi sibuk.

Dokter keluarga segera dipanggil.

Beberapa pelayan membantu Rubi kembali ke kamar.

Sementara kepala pelayan langsung menghubungi Alexander.

Saat menerima telepon itu, Alexander sedang berada di ruang rapat.

Biasanya pria itu tidak akan membiarkan siapa pun mengganggu pekerjaannya.

Namun begitu mendengar nama Rubi disebut, ia langsung berdiri.

Membuat seluruh peserta rapat terdiam.

"Ada apa?"

tanya Alexander tajam.

Suara kepala pelayan terdengar dari seberang sana.

"Nyonya muda mengalami nyeri di perut."

Hanya itu.

Namun cukup membuat wajah Alexander berubah pucat.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya.

Pria yang tidak pernah takut menghadapi senjata maupun kematian itu merasakan kepanikan.

"Aku pulang sekarang."

ucapnya singkat.

Lalu menutup telepon.

Tanpa menjelaskan apa pun, Alexander meninggalkan rapat.

Dan untuk pertama kalinya, bisnis bukan lagi prioritas utamanya.

---

Saat tiba di mansion, dokter sudah berada di kamar Rubi.

Alexander langsung masuk tanpa mengetuk pintu.

Rubi yang sedang berbaring terlihat terkejut.

"Kau pulang?"

tanyanya.

Alexander tidak menjawab.

Tatapannya langsung tertuju pada dokter.

"Bagaimana kondisinya?"

Dokter tersenyum kecil.

"Menenangkan diri dulu, Tuan Muda."

Alexander tidak terlihat tenang sama sekali.

Dokter akhirnya menjelaskan.

"Tidak ada masalah serius."

Pria itu langsung menghela napas panjang.

Untuk pertama kalinya sejak tiba, ia bisa bernapas normal.

"Hanya kontraksi palsu."

lanjut dokter.

"Karena usia kehamilan sudah mendekati persalinan."

Alexander tetap berdiri di tempatnya.

Seolah masih memastikan bahwa semuanya benar-benar baik-baik saja.

Dokter kemudian melanjutkan pemeriksaan beberapa menit lagi sebelum akhirnya pamit.

Meninggalkan Rubi dan Alexander berdua di dalam kamar.

---

Setelah pintu tertutup, suasana menjadi hening.

Rubi memperhatikan Alexander yang masih berdiri di dekat tempat tidur.

Wajah pria itu terlihat tegang.

Sangat tegang.

Bahkan lebih tegang dibanding saat menghadapi Viktor.

"Kau baik-baik saja?"

tanya Rubi pelan.

Alexander akhirnya duduk di samping tempat tidur.

Lalu mengusap wajahnya perlahan.

"Aku seharusnya yang bertanya."

ucapnya.

Rubi tersenyum kecil.

"Aku baik-baik saja."

Namun Alexander tidak langsung menjawab.

Tatapannya justru tertuju pada perut Rubi.

Kemudian pada wajah wanita itu.

Dan saat itulah Rubi menyadari sesuatu.

Pria itu benar-benar ketakutan tadi.

Bukan sekadar khawatir.

Melainkan takut.

---

"Alexander."

panggil Rubi lembut.

Pria itu mengangkat kepala.

Untuk beberapa saat mereka saling menatap.

Kemudian Rubi berkata,

"Aku tidak apa-apa."

Alexander mengangguk pelan.

Namun ekspresinya tidak berubah.

"Kau tahu apa yang kupikirkan saat menerima telepon tadi?"

tanyanya tiba-tiba.

Rubi menggeleng.

Alexander terdiam cukup lama.

Seolah sedang berusaha memilih kata yang tepat.

Lalu akhirnya berkata,

"Untuk pertama kalinya aku takut."

Jantung Rubi langsung berdegup lebih cepat.

Karena nada suara pria itu terdengar begitu jujur.

Begitu rapuh.

"Aku takut kehilanganmu."

lanjut Alexander pelan.

Kalimat itu membuat dunia Rubi seolah berhenti.

Selama ini Alexander memang menunjukkan perhatian.

Melindunginya.

Menjaganya.

Namun belum pernah sekalipun pria itu mengungkapkan isi hatinya secara langsung.

Dan sekarang...

Kalimat itu terasa lebih berarti daripada seribu kata cinta.

Mata Rubi mulai memanas.

Sementara Alexander masih menatapnya.

"Aku tidak peduli pada bisnis."

ucap pria itu.

"Aku tidak peduli pada apa pun saat mendengar kabar tadi."

Suara Alexander semakin rendah.

"Yang kupikirkan hanya kau."

Air mata langsung menggenang di mata Rubi.

Bukan karena sedih.

Melainkan karena bahagia.

Karena akhirnya ia tahu.

Perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan.

---

Alexander mengulurkan tangannya.

Menggenggam tangan Rubi dengan erat.

Dan untuk pertama kalinya tidak ada lagi jarak di antara mereka.

Tidak ada lagi keraguan.

Tidak ada lagi perasaan yang disembunyikan.

Karena keduanya sudah memahami satu hal.

Bahwa mereka telah menjadi bagian terpenting dalam hidup masing-masing.

Dan saat bayi dalam kandungan Rubi bergerak pelan di antara keheningan itu, keduanya tersenyum.

Seolah anak kecil itu ikut merasakan kebahagiaan mereka.

Namun tanpa mereka sadari, di tempat lain Viktor Romanov sedang menatap foto keluarga kecil itu dengan senyum dingin.

Dan kali ini, targetnya bukan lagi Alexander.

Melainkan orang yang paling dicintai pria itu.

1
Alia Chans
like + 🌹+ komen semangat thor ✍️🤭





kalo sempat mampir ya thor🤭😉
wulaniii
gais jangan lupa like dan komen kalo bisa nonton iklanya 🤭🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!