Evelyn Carter tewas dalam kecelakaan mobil di abad ke-21. Namun saat membuka mata, ia tidak berada di rumah sakit, melainkan di sebuah istana kuno.
Ia kini hidup dalam tubuh Ratu Evelyn Lancaster, ratu muda yang terkenal lemah dan sedang menunggu kematian karena racun dari para selir. Di istana, semua orang sudah bersiap menyambut kematiannya.
Selir kesayangan raja ingin merebut tahta ratu. Para menteri diam-diam mengatur kekuasaan baru. Tapi mereka tidak tahu satu hal... Ratu yang bangun hari itu, bukan lagi wanita yang sama. Di dalam tubuh itu hidup jiwa wanita modern yang cerdas dan tidak mudah diinjak.
Selain itu, Ratu memiliki Ruang Ajaib. Tempat rahasia yang menyimpan obat, pengetahuan, dan teknologi masa depan.
Kini, orang-orang yang menunggunya mati akan segera sadar. Ratu yang mereka anggap lemah… justru akan menjadi penguasa sejati di istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 10.
Aula utama dipenuhi menteri, suasana formal tapi tidak sepenuhnya tenang.
Di antara mereka, seorang pria berdiri sedikit di belakang. Perdana Menteri, Lord Vincent. Tatapannya tenang, namun tajam. Ia tidak banyak bicara, tapi hari ini ia tidak fokus pada laporan. Melainkan pada satu orang, Ratu.
Evelyn berdiri di sisi singgasana, tenang. Tidak berusaha menonjol, namun keberadaannya tidak bisa diabaikan.
Vincent menyipitkan mata sedikit, ia sudah melihat beberapa ratu. Banyak wanita di istana, namun Evelyn tidak mengikuti pola.
Raja berbicara.
Para menteri menjawab.
Diskusi berjalan.
Namun beberapa kali, tatapan Lord Vincent kembali ke Evelyn. Dan setiap kali ia menemukan hal yang sama, wanita itu terkendali dan tidak terbaca.
Setelah rapat selesai, Vincent tidak langsung pergi. Ia berdiri menunggu. Dan saat Evelyn berjalan melewatinya, ia sedikit membungkuk.
“Yang Mulia Ratu.”
Evelyn berhenti, menatapnya. “Perdana Menteri.”
“Perubahan Anda… cukup jauh.”
Evelyn tersenyum tipis. “Apakah itu masalah?”
“Itu membuat banyak orang tidak nyaman.” Vincent membalas dengan tenang.
Evelyn menatapnya beberapa detik. “Dan Anda?”
Vincent sedikit tersenyum. “Saya tertarik.”
Evelyn mengangguk pelan, ia melanjutkan langkahnya. Namun sebelum benar-benar pergi, Lord Vincent bicara kembali dengan suara lirih.
“Berhati-hatilah dengan keluarga bangsawan di belakang selir Shopia.”
Langkah Evelyn berhenti sesaat, informasi itu penting. Ia tidak menoleh, namun menjawab Lord Vincent. “Terima kasih.”
Malam itu...
Evelyn duduk bersama Bernard.
“Selir Sophia…”
Bernard mengangguk.
“Didukung oleh keluarga besar di utara.”
“Seberapa kuat?”
“Cukup kuat untuk mempengaruhi pasar, cukup kuat untuk menekan para menteri. Dan cukup kuat… untuk menantang raja secara tidak langsung.”
Hening.
Evelyn mengangguk pelan. “Jadi ini bukan hanya permainan istana.”
“Ya,” jawab Bernard.
Beberapa hari berlalu, satu hal menjadi jelas. Raja tidak lagi pernah mengunjungi paviliun Sophia. Padahal orang-orang di istana selalu yakin, jika Shopia adalah selir kesayangan Raja yang sering dimanjakan. Dan sebagai gantinya, Raja Alexander sering terlihat di paviliun ratu.
Di kamar Sophia, suasana dingin.
Cangkir teh pecah di lantai.
“Kenapa?” Suaranya rendah, penuh emosi yang ditahan. “Kenapa Raja tidak pernah datang lagi setelah Ratu Evelyn siuman dari racun dan menjadi orang berbeda.”
Pelayan gemetar, tidak berani menjawab.
Sophia berdiri. “Dia dulu selalu datang, dan selalu memilihku.”
Tangannya mengepal.
Namun di balik kemarahannya, ada sesuatu yang lebih dalam... kecemburuan. Meskipun dia mempunyai tujuan menjadi selir raja, tapi sebagai seorang wanita dia juga punya perasaan pada Alexander. Namun ia tidak bodoh, raja memang bukan pria yang mudah ditebak. Dan justru itu… yang membuatnya semakin tidak tenang.
Di sisi lain...
Alexander duduk di ruangannya.
Seorang penasihat berdiri di depan. “Yang Mulia tidak lagi mengunjungi Selir Sophia. Apakah ini keputusan… pribadi?”
Alexander tersenyum tipis. “Tidak ada yang benar-benar pribadi di istana. Terkadang… memberi seseorang terlalu banyak perhatian, adalah cara terbaik untuk membuatnya merasa aman.”
Penasihat itu terdiam.
“Dan saat mereka merasa aman…” Tatapan Alexander menjadi lebih dalam. “Mereka akan mulai ceroboh. Lagipula, aku tidak pernah menyentuh satu pun selir. Termasuk… Sophia. Meski semua orang mengira aku memanjakannya, bukankah itu cukup untuk mencari tujuan wanita itu padaku?”
Malam itu, Alexander kembali ke paviliun ratu. Evelyn sudah menunggunya, ia bisa menebaknya.
“Kali ini, Yang Mulia datang tanpa alasan juga?”
Alexander mendekat. “Sudah kubilang, aku tidak suka kehilangan hal menarik.”
Evelyn tersenyum tipis. “Atau Anda tidak ingin membaginya?”
Hening.
Alexander menatap wanita itu lebih lama dari biasanya. “Kau terlalu mengerti.”
Evelyn tidak mundur.
“Karena di depanku, Anda tidak terlalu pintar menyembunyikannya.”
Beberapa detik, tidak ada yang bicara. Namun, jarak mereka kembali menipis.
Di luar, angin malam berhembus pelan. Di dalam, dua orang berdiri dengan tidak saling mempercayai sepenuhnya. Namun juga, tidak bisa menjauh. Dan tanpa disadari, permainan ini tidak lagi hanya tentang kekuasaan. Tapi juga, tentang siapa yang akan jatuh lebih dulu.
Jatuh itu... tak selalu tentang terperosok.
Kadang, ia berarti tenggelam. Pelan, dalam dan tanpa perlawanan. Misalnya seperti, jatuh… cinta.
tapi musuh Evelyn di dunia modern, juga musuh keluarga Evelyn di zaman kuno
Tpi bgus jg sich biar di lihat kala ma wili