Saat menghadiri perayaan kelulusan sang senior, Yurika dengan sengaja pura-pura mabuk dan mengakui perasaannya pada senior yang selama ini ia sukai.
Meski ia tahu bahwa ia harus menahan malu jika senior itu menolaknya, namun setidaknya ia harus menyelesaikan perasaannya.
Lalu.. tanpa di sangka..
"Oke.."
Yurika tak menyangka ia menyetujuinya, namun sesaat kemudian..
"Bisakah kita mengobrol di tempat lain? Ada banyak orang disini.."
Hari itu, saat sang senior mengantarkannya pulang, Yurika akhirnya sadar bahwa ia hanya menjaga martabatnya, tidak mungkin ia menyukai Yurika.
"Sepertinya perasaan ini memang harus berhenti disini.."
Dengan yakin Yurika memblokir seluruh kontak dari pria yang ia sukai.
Namun bagaimana jika ternyata pria itu menyukainya?
"Sial! Apa dia memblokirku setelah menyatakan cinta? Apa ia hanya bercanda?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Austin melepaskan jasnya dan meletakkannya di atas sofa.
"Akhir-akhir ini terlalu sibuk."
"Tidak apa-apa. Hari ini Bibi memasak semua makanan kesukaanmu."
Austin tersenyum ringan.
"Kalau begitu aku harus makan lebih banyak."
Tak lama kemudian terdengar langkah kaki dari lantai atas, menampakkan seorang wanita elegan yang berjalan menuruni tangga.
Wajahnya cantik dan terawat, tetapi sorot matanya tampak dingin dan lelah.
Begitu melihat Austin, wanita itu hanya berkata singkat, "Kau masih ingat jalan pulang rupanya."
Austin mengangkat alis.
"Bagaimana kabar Ibu akhir-akhir ini?"
Wanita itu adalah Sara, dibandingkan beberapa bulan lalu, kondisinya terlihat jauh lebih buruk.
Wajahnya pucat, dan meskipun pakaian yang dikenakannya sangat mahal, tidak ada sedikit pun semangat dalam dirinya.
Tak lama kemudian, ayahnya juga datang menghampiri, ia tersenyum kepada Austin.
"Jangan percaya sikap ibumu. Beberapa hari lalu dia masih menanyakan kabarmu."
Austin tertawa kecil. "Suatu kehormatan besar."
Mereka bertiga kemudian duduk di meja makan.
Di tengah suasana yang tampak tenang, Sara tiba-tiba berkata, "Aku berencana pergi ke luar negeri beberapa hari lagi."
Suaminya yang mendengar itu langsung menoleh dan bertanya, "Untuk urusan pekerjaan?"
"Liburan."
Pria itu berpikir sejenak lalu berkata, "Kondisimu belum benar-benar pulih. Kalau mau pergi, tunggu beberapa waktu lagi. Aku bisa menemanimu."
Mendengar itu, wajah Sara langsung berubah dingin.
"Jadi sekarang aku harus meminta izin untuk semua hal yang ingin kulakukan?"
"Aku tidak bermaksud seperti itu.. Aku hanya mengkhawatirkanmu."
"Aku tidak membutuhkan kekhawatiranmu," Nada suara Sara terdengar tajam. Ia menatap pria itu tanpa ekspresi.
"Aku pergi untuk mencari ketenangan, bukan untuk melihatmu. Kalau kau ikut, suasana hatiku justru akan semakin buruk."
Tuan Roy terdiam beberapa saat. Tatapannya melembut, seolah ingin mengatakan sesuatu yang telah lama ia pendam.
"Itu karena masih ada seseorang yang belum bisa kau lupakan, bukan?"
"Pergi ke sana membuatmu bahagia, bukan?"
Begitu kalimat itu terlontar, ekspresi Sara langsung berubah, matanya membelalak tajam.
Detik berikutnya, piring yang berada di tangannya melayang ke udara.
Brak!
Piring itu menghantam dinding di belakang Roy dan pecah berkeping-keping. Beberapa pecahannya memantul ke segala arah dan melesat menuju wajah pria itu.
Austin yang duduk di dekat mereka bereaksi lebih cepat daripada siapa pun.
Ia segera menarik ayahnya ke belakang dan mengangkat tangan untuk melindunginya.
Sret!
Salah satu pecahan keramik menggores telapak tangannya, darah merah segar langsung mengalir keluar.
Wajah kedua orangtuanya seketika berubah.
"Austin!" seru Sara.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Roy dengan cemas.
Austin menatap luka di tangannya sejenak sebelum menjawab tenang,
"Kalau aku tidak menghentikannya, Ayah yang akan terluka."
Mendengar itu, Sara seolah kehilangan seluruh tenaganya. Tubuhnya merosot lemah ke kursi. Wajahnya terlihat pucat dan putus asa.
Roy memandangnya dengan marah.
"Kau benar-benar semakin tidak terkendali."
Namun saat melihat darah di tangan Austin, amarahnya langsung berganti menjadi kekhawatiran.
"Cepat obati lukamu."
Austin hanya mengangguk. Ia mengambil kotak P3K dari ruang tamu, lalu membersihkan dan membalut lukanya sendiri dengan terampil.
Makan siang keluarga yang seharusnya hangat berakhir dengan suasana yang jauh dari menyenangkan.
Beberapa saat kemudian, Roy masuk ke ruang kerja Austin.
"Lukanya bagaimana?" tanyanya.
"Tidak serius." Austin menjawab santai.
Sejak kecil, ia memang bukan tipe orang yang mengeluh hanya karena luka kecil. Ia menoleh ke arah ayahnya.
"Apakah keadaan Ibu memang seperti ini akhir-akhir ini?"
Roy hanya bisa menghela napas panjang. Austin terdiam beberapa saat sebelum berkata, "Mungkin kalian berdua membutuhkan jarak."
Roy tersenyum pahit dan berkata, "Kau belum pernah benar-benar jatuh cinta pada seseorang. Jadi kau tidak mengerti perasaanku."
Austin terdiam. Beberapa detik kemudian ia berkata perlahan, "Terkadang sesuatu yang kau anggap sebagai cinta bisa berubah menjadi beban bagi orang lain."
Perkataan sang anak membuatnya menatap putranya dengan sedikit terkejut.
Austin melanjutkan, "Berikan dia ruang untuk bernapas."
"Cinta bukanlah ikatan yang memaksa seseorang tetap tinggal."
"Kadang-kadang, justru karena kau bersedia melepaskan, dia akan memiliki kesempatan untuk merindukanmu."
"Kalau terus dipaksa seperti sekarang, hubungan kalian hanya akan semakin memburuk."
Ruangan menjadi hening.
Ini adalah pertama kalinya Austin berbicara sejauh ini tentang hubungan mereka. Selama bertahun-tahun, ia hampir tidak pernah ikut campur.
yg banyak atuhhhh kak othor update babnya 😁😁
lanjuuutttt 💪💪💪💪👍
yg banyaaakkkk banyaaakkkk 😁👍
ada mantan yg lagi sok pamer bang Austin... berasa dia cwo yg paling diminati para kaum hawa🤣🤣🤣🤣
padahal kesuksesan dia karna domplengan cwe dengan status anak manager. baru manager dah berasa CEO 🤣🤣🤣🤣🤣
gemesss liat pasangan ini
aku yg cengengesan 🤣🤣
kok aku loh yg malah jadinya baperan 😁😁😁
modus mu austin😄😄
makanya kali suka yonthe poin aja
gasssssssss
ntar Embay cwo lain murka lagi😁😁😁
🤭
terlalu kaku🙏